Minggu, 22 November 2009

Menjawab Syubhat bolehnya Nikah Mut’ah


Pembaca yang budiman, Mungkin sebagian kita pernah mendengar ada seorang muslimah mengidap penyakit kemaluan semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, kita tidak mengatakannya karena terjerumus ke dalam lembah hitam pelacuran, karena hal itu sangat jauh untuk di lakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil, akan tetapi hal ini terjadi di sebabkan praktek nikah mut’ah atau nikah kontrak yang sesungguhnya telah dilarang dalam syariat Islam, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh bergonta ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya.Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemirikan nikah mut’ah, maka marilah kita berdoa semoga melalui pembahasan kali Roddu syubhat kali ini, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita menuju jalan yang lurus.

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa definisi dari Mut’ah itu sendiri berasal dari kata tamattu’, yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah, mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya, jika salah satunya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mu’ah itu.

Pada masa awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya:
Hadits Jabir bin Salamah: “Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).
Namun Pembaca yang budiman, hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah. Adapun mengenai kapan dilarangnya? maka yang lebih rajih-Wallahu a’lam- bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad, kemudian Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari, dan juga Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil
Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya:
Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: “Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari Muslim).

Kemudian Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: “berkata: Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan” (HR. Muslim, dan Ahmad).
Dan juga masih banyak hadits-hadits shahih lainnya yang mengaharamkan nikah mut’ah.
Akan tetapi Pembaca yang budiman, meskipun sudah banyak dalil yang mengharamkan, tetap saja bagi Orang-orang yang berusaha untuk meracuni umat Islam, mereka membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, adapun diantara Syubhat tersebut adalah
Pertama. Mereka berdalil dengan Firman Alloh Ta’ala: “Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka” (QS. An-Nisa: 24).
Pembaca yang budiman, perintah Allah untuk memberikan mahar bagi wanita yang dimut’ah dalam ayat ini, merupakan dalil yang mereka jadikan untuk membolehkan nikah mut’ah.
Adapun Jawaban Atas Syubhat ini adalah:
Memang sebagian ulama’ manafsirkan istamta’tum dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka, maka berikanlah maharnya sebagaimana sebuah kewajiban atas kalian.

Dalam Tafsir Ath-Thabati, Imam Ath Thabari Berkata setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut: Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah: kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka, maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan haramnya nikah mut’ah.
Dan kalau kita menerima bahwa makna dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam tafsir Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir.
Kemudian, syubhat mereka yang lainnya adalah: Mereka mengatakan bahwa Sebagian para sahabat masih melakukan nikah mut’ah sepeninggal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai umar melarangnya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya:
Dari jabir bin Abdullah berkata: Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam juga Abu Bakar sampai umar melarangnya.(HR. Muslim).

Adapun Jawaban dari syubhat ini adalah, bahwa Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Selain itu, Berkata Imam Nawawi: Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan nikah mut’ah pada masa Abu bakar dan Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut. Ini bisa kita lihat dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Fathul bari, dan Zadul Ma’ad.
Selain itu Pembaca yang budiman, terdapat pula syubhat dari salah seorang tokoh Nikah Mut’ah kontermporer: Ia mengatakan bahwa Tidak semua orang mampu untuk menikah untuk selamanya, terutama para pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka banyaknya godaan pada saat ini sangat memungkinkan mereka untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, oleh karena itu nikah mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji itu.

Adapun Jawaban atas Syubhat ini adalah:
Bahwasanya Ucapan ini salah dari pangkal ujungnya, cukup bagi kita untuk mengatakan tiga hal ini :
Pertama: bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah di jadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi. Bahkan mut’ah itu sendiri adalah zina dan boleh jadi lebih parah dari sekedar zina.
Kedua: ucapan ini hanya melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun kepada wanita yang dijadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsu syahwatnya, lalu apa bedanya antara mut’ah ini dengan pelacuran komersil??
Ketiga: islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu pernikahan yang bersifat abadi, dan kalau belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah menikah, karena itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari Muslim).

Demikianlah diantara syubhat-syubhat yang beredar di kalangan kaum muslimin mengenai nikah mut’ah atau kawin kontrak. Dan Alhamdulillah para ulama telah membrikan jawaban atas syubhat-syubhat tersebut, sehingga kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang sesat, sehingga kesimpulannya adalah, bahwa nikah mut’ah itu adalah pernikahan yang haram dan tidak sah, serta pelakunya tidak berbeda dengan orang yang berzina, kita berharap semoga Allah subhanahu Wata'ala selalu memberikan petunjuknya kepada kita, dan melindungi kita dari kesesatan.
Pembaca yang budiman, sampai disini kebersamaan kita di kesempatan kali ini, sampai jumpa kembali pada pertemuan berikutnya. Wallahu a’lam. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh




Menjawab Syubhat Rasionalis Liberalis


Pembaca yang budiman, Alhamdulillah, kita dapat kembali berjumpa denga anda di kesempatan kali ini, dan Insya Allah kita akan bersama-sama mengkaji dan memperdalam pemahaman keislaman kita, agar kita tidak mudah terjebah oleh syubhat dan pemahaman-pemahaman sesat yang menjerumuskan kita dalam kebinasaan dan menyimpangkan kita dari Shirotul Mustaqim.

Sebagai seorang muslim, tentu kita semua berkewajiban untuk beriman kepada Allah subhanahu Wata'ala dan Rasulnya, serta membenarkan dan meyakini apapun yang disampaikan kepada kita, dan ketika kita membaca ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, maka kewajiban kita ialah menerimanya, serta menundukan akal kita dengan wahyu tersebut. Akan tetapi pembaca yang budiman, hal seperti ini tidaklah dimiliki oleh para penentang Al Qur`an dan hadits Nabi dari golongan rasionalis dan liberalis, ini dikarenakan mereka telah memiliki seburuk-buruk pendahulu, yaitu Iblis la`natulloh. Mereka adalah pengusung bendera Iblis dan tentara syaithon. Mereka menolak, mencela, dan merubah ayat-ayat Al Qur`an sesuai dengan akal kosong mereka belaka. Sebagaimana perkataan pendahulu mereka, yaitu Iblis tatkala enggan sujud kepada Nabi Adam:
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah."
(Q.S. Shood: 76)
Selain itu Pembaca yang budiman, para pengikut iblis itu juga berani mengatakan bahwa, ayat Al Qur`an itu sudah tidak relevan lagi, sehingga tidak cocok dipakai di zaman sekarang.
Padahal Al Qur`an adalah mu`jizat Rosululloh sholallohu `alaihi wa sallam, Nabi akhir zaman, yang tetap dipakai hingga hari Kiamat.
Pembaca yang budiman, Lihatlah bagaimana pembangkangan Iblis yang diikuti para penolak Al Qur`an dan hadits Nabi yang mulia! Bahkan mereka menyatakan bahwa Iblis akan masuk surga, karena mereka berpendapat bahwa Iblis bertauhid kepada Allah secara sempurna, dimana ia hanya mau sujud kepada Alloh, dan tidak mau sujud kepada selainNya, termasuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam.

Demikian pula yang dikatakan oleh para misionaris dari golongan Ahli Kitab dalam rangka memurtadkan kaum Muslimin yang lemah agamanya. Mereka mengatakan, Mengapa kalian sujud menghadap Ka`bah? Bukankah Ka`bah itu hanyalah dinding yang berbentuk segi empat yang ditutupi kain? Berarti kalian pun menyembah dinding selain menyembah Alloh! Dan itu SYIRIK!
Inilah yang disebut dengan syubhat, dan ternyata Syubhat itu lebih berbahaya daripada maksiat. Mengapa?
Karena pelaku maksiat, ia secara sadar mengetahui bahwa apa yang ia lakukan adalah perbuatan dosa dan terlarang, yang dengannya ia pun takut akan azab diakhirat nanti. Sehingga ada harapan di hatinya untuk bertaubat di kemudian hari.
Adapun orang yang termakan syubhat ini, maka keimanannya akan digoncang sedahsyat-dahsyatnya sehingga akhirnya ia berpaling dari kebenaran, dan menjalani apa yang diperintahkan dalam syubhat itu. Dan parahnya, ia menganggap apa yang ada di dalam syubhat itu adalah suatu kebenaran (padahal kebalikannya). Sehingga orang-orang yang semacam ini sangat sulit untuk diharapkan taubatnya, kecuali Alloh menunjukinya ke jalan yang lurus. dan biasanya penyakit syubhat hanyalah menimpa orang-orang yang jahil terhadap syari’at.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam pemahaman keislaman kita, agar dapat menangkal syubhat-syubhat tersebut. Dan berikut ini akan kami sampaikan bantahan atas syubhat-syubhat tersebut
Adapun perkataan mereka tentang ketauhidan Iblis karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam, dan persangkaan para misionaris bahwa sujud menghadap Ka`bah adalah syirik, maka sebenarnya hal tersebut membuktikan kebodohan mereka dalam memahami agam Islam yang mulia ini. Mereka menggunakan akal untuk menipu manusia. Pembaca yang budiman, hendaknya kita ketahui bersama bahwa, sujud kepada Alloh adalah dengan cara mengikuti dan mengerjakan perintah-perintah-Nya, bukan malah membantahnya atau menolaknya. Sebagaimana firman Alloh:
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. An Nur: 51)
Perkataan : ”Kami mendengar dan kami patuh”. Itulah sebenarnya jawaban orang-orang mu`min tatkala Alloh memerintahkan mereka untuk sujud menghadap Ka`bah. Dan seyogyanya itu yang dilakukan oleh Iblis tatkala diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam.
Hal ini dikarenakan, ketika ia mengikuti seruan Alloh berarti sujud dan patuh kepada Alloh. Tidak dengan banyak bertanya dan membantah sebagaimana orang-orang rasionalis dan liberalis. Sebagai perumpamaan, jika seorang pemilik toko kain berkata kepada pegawainya, Pergilah kamu ke butik di depan sana!, tanyakan kepadanya jenis kain apa saja yang ia pesan kemarin, lalu catatlah dalam daftar list ini!
Maka pendengar yang mudiman, Tidak mungkin serta merta pegawai itu menolak perintah majikannya seraya berkata, Tidak! Saya tidak akan pergi dari toko ini, karena saya adalah pegawai toko ini, bukan pegawai toko butik itu!

Dan ini merupakan Suatu hal yang aneh, jika seorang pegawai menolak perintah atasannya tanpa dasar yang jelas seperti ini. Bukankah ia bekerja di sana untuk patuh kepada perintah majikannya? Jika dalam hal dunia seperti ini, kita diperintahkan untuk patuh, apalagi jika yang memerintahkan itu adalah Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk kita. Lalu apakah akal manusia bisa menyiasatinya? Tentu jabawannya adalah, tidak akan.
Bahkan Ali rodhiyallohu `anhu pernah berkata:
Seandainya agama ini dengan akal, tentu mengusap khuf atau (sepatu) itu lebih pantas di bagian bawahnya, (tidak sebagaimana sunnah Rosululloh). Namun demikianlah yang aku lihat dari Rosululloh yaitu beliau (mengusap khuf di bagian atasnya).


Kemudian pembaca yang budiman, hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa akal tidak akan mungkin menggapai `ilmu Alloh. Sebagaimana kebodohan Iblis yang sombong yang mengira bahwa api lebih baik dari pada tanah. Padahal api lebih banyak membawa sifat buruk daripada sifat baik sebagaimana ia memiliki sifat membakar lagi merusak. Sedangkan tanah memiliki banyak manfaat daripada bahaya, karena dari tanah muncullah tumbuhan yang menjulang tinggi, yang dimakan oleh hewan dan manusia. Tanah menyerap air untuk diminum manusia dan makhluk lainnya. Tanah disifati suci oleh Alloh serta dapat menghilangkan najis. Tanah dapat menghilangkan jasad bangkai dengan menguraikannya. Dan banyak lagi sifat-sifat tanah yang lebih baik dari pada api. Tapi adakah yang bisa mengambil pelajaran? Ya ada, yaitu orang-orang yang mau berfikir, dan menundukan akalnya dibawah wahyu Ilahi.

Pembaca yang budiman, demikianlah mungkin yang bisa kami sampaikan di kesempatan kali ini, semoga dengan penjelasan ini, pemahaman kita semakin bertambah, sehingga kita tidak mudah tertipu oleh propagandan dan upaya dari para pengikut syaitan yang ingin menyesatkan kita. Akhirnya, kami ucapkan terima kasih atas kesediaan anda membaca artikel ini. Wassalamu ’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



Syubhat Turunnya Allah subhanahu Wata'ala ke Langit Dunia


Sebagian besar kaum muslimin, khususnya yang mempelajari agamanya dan rajin shalat malam, meyakini bahwa shalat malam pada sepertiga malam yang terakhir dan berdo’a saat itu adalah waktu yang sangat baik dan berkah. Hal ini dikarenakan adanya informasi dari Rasulullah yang shahih. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga
malam terakhir. Dia berfirman, Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku,maka akan Aku ampuni. HR. Bukhari Muslim

Namun Pembaca yang budiman, terlepas dari itu, mereka berbeda-beda memahami hadits tersebut. Ada yang berkeyakinan keistimewaan waktu itu karena rahmat Allah, ada yang berkeyakinan bahwa saat itu Allah benar-benar turun ke langit dunia sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali. Perbedaan ini disebabkan adanya syubhat dalam memahami hadits itu. Apa saja syubhat itu dan bagaimana jawabannya? Nah inilah yang Insya Allah akan kami ulas pada kesempatan kali ini.
Adapun diantara Syubhat tersebut adalah:

Mereka mengatakan,
Kalau kita tetapkan bahwa Allah punya sifat turun, itu berarti Allah serupa dengan makhluk, padahal ini bertentangan dengan ayat,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. (QS. Asy-Syura: 11).

Adapun jawabannya adalah:
Bahwasanya Kaidah kita dalam masalah Tauhid asma wa sifat adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, atau Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih tanpa menyerupakan sesuatupun dan mensucikan-Nya tanpa mengingkari sifat-Nya, sebagaimana firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

Firman Allah yang berbunyi, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk

Adapun Firman-Nya yang berbunyi, “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” maka jelas sekali bahwa hal ini, merupakan bantahan terhadap golongan yang merubah makna sifat dan mengingkarinya. Jadi, kewajiban kita adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan meniadakan apa yang Allah subhanahu Wata'ala tiadakan, tanpa tahrif atau (merubah makna) dan ta’thil atau (mengingkarinya).

Pembaca yang budiman, Inilah manhaj atau (metode, cara) selamat yang harus ditempuh oleh setiapmuslim, karena prinsip ini dibangun atas dasar ilmu dan kelurusan dalam keyakinan

Jadi kesimpulannya, kita wajib menetapkan sifat “turun” bagi Allah sebagaimana
dikhabarkan oleh Nabi yang muli,a tanpa menyerupakan-Nya dengan turunnya makhluk. Apabila ada yang mengingkarinya dengan alasan, “Kalau kita tetapkan berarti kita menyerupakannya dengan makhluk” maka ini adalah teori atau pernyataan yang bathil.

Maka sekali lagi, menetapkan sifat turun bagi Allah bukan berarti kita menyerupakan-Nya dengan makhluk, tidak ada seorang ulama ahlussunnahpun yang berpaham demikian, bahkan kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

Apabila seseorang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, seperti mengatakan istiwa’ Allah serupa dengan istiwa’ makhluk-Nya, atau turunnya Allah serupa dengan turunnya makhluk, maka dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah serta akal menjelaskan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk dalam segala segi.

Pembaca yang budiman, inilah jawaban dari syubhat seputar penolakan turunnya Allah subhanahu Wata'ala ke langit dunia, dan mudah-mudahan dengan mengetahui syubhat ini lalu mengetahui bantahannya, maka keimanan kita akan bertambah, dan semoga pemahaman kitapun akan senantiasa Istiqomah diatas pemahaman yang benar.

Mungkin hanya ini yang dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, kurang lebihnya mohon maaf, dan terima kasih atas kebersamaan serta partisipasi anda, sampai jumpa kembali di kesempatan berikutnya. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh



Syubhat Pengingkar Turunnya Al-Masih Isa


Pembaca yang budiman, ketika kita Mengkaji hal-hal yang sifatnya ghaib, seperti turunnya Nabi Isa 'alaihissalam di akhir zaman, tentu tak luput dari pro dan kontra. Karena sebagai bagian dari ranah keimanan, tentu itu semua tak bisa ditelisik hanya dengan mengandalkan indera manusia yang terbatas. Siapa yang tak mampu menundukkan akalnya di bawah kendali keimanan dan dalil yang shahih, niscaya ia akan berada di barisan pasukan pengingkar.

Di antara bentuk penyimpangan aqidah adalah pengingkaran atau tidak mengimani akan turunnya Isa ‘alaihissalam. Pengingkaran ini bisa dilakukan secara individual semacam yang dilakukan oleh Mahmud Syaltut, guru besar Universitas Al-Azhar Mesir, atau secara kelompok seperti sebagian kelompok Mu’tazilah serta orang-orang filsafat dan atheis.

Insya Allah pada rubrik Roddu Syubhat kali ini, kita akan menyebutkan beberapa syubhat berkaitan dengan pengingkaran turunnya Isa alaihissalam di akhir zaman, disertai dengan jawabannya.

Di antara alasan dan syubhat mereka dalam mengingkari turunnya Isa adalah:
Pertama: Bahwa hadits-hadits mengenai turunnya nabi isa itu palsu dan tidak masuk akal.
Adapun Jawabannya adalah: Bahwa hadits-hadits dalam hal ini sangat banyak. Bahkan para ulama menggolongkannya sebagai hadits mutawatir. Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri mengatakan bahwa jumlahnya mencapai lebih dari lima puluh hadits. Mayoritasnya shahih dan sebagian lagi hasan. Adapun anggapan mereka bahwa hadits-hadits ini tidak masuk akal, maka Asy-Syaikh At-Tuwaijiri juga telah menyanggahnya. Beliau mengatakan: “Adapun nalar yang lurus dan akal sehat yang selalu berjalan bersama kebenaran ke mana kebenaran itu mengarah, niscaya tidak akan ragu-ragu dalam menerima kebenaran yang datang dari Kitabullah atau yang secara mutawatir datang dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal turunnya Al-Masih (Isa) di akhir zaman. Tapi nalar yang melenceng serta akal yang rusak, tidak akan segan-segan menolak kebenaran. Sehingga akal yang rusak serta pengusungnya itu tidak perlu diperhitungkan.”

Kemudian Pembaca yang budiman, Syubhat yang kedua adalah: Turunnya Isa itu mustahil, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dengan nash Al-Qur`an.

Adapun Jawabannya adalah: Bahwa turunnya Isa di akhir zaman tidaklah membawa syariat yang baru. Tidak pula berhukum dengan Injil. Namun berhukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ia menjadi salah satu umat ini. Jadi, Turunnya Isa tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Rasul terakhir adalah Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi mengatakan:


إِنَّ الدَّجَّالَ خَارِجٌ -فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَفِيْهِ- ثُمَّ يَجِيْءُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ مُصَدِّقاً بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم وَعَلَى مِلَّتِهِ، فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ ثُمَّ إِنَّمَا هُوَ قِيَامُ السَّاعَةِ


“Bahwa Dajjal pasti keluar –lalu beliau melanjutkan haditsnya, dalam hadits itu–. Lalu datanglah Isa bin Maryam membenarkan Muhammad dan di atas agama Muhammad, kemudian setelah itu tegaklah hari kiamat.” (HR. Ath-Thabarani)

Syubhat yang selanjutnya adalah: Seandainya turunnya Isa itu termasuk prinsip iman, tentu itu akan disebut dalam Al-Qur`an dengan tegas.
Jawabannya yaitu: Semua yang telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu sesuatu yang telah terjadi atau yang akan terjadi adalah wajib kita imani. Dan ini merupakan realisasi dari syahadat Muhammad Rasulullah. Dan realisasi ini termasuk prinsip iman, di mana seseorang tidak menjadi seorang mukmin yang terlindungi darah dan hartanya hingga merealisasikan persaksian kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan sabda beliau:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar kecuali Allah, serta beriman denganku dan dengan apa yang aku bawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Dan hisabnya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberitakan akan munculnya Imam Mahdi di akhir zaman, keluarnya Dajjal, serta turunnya Isa. Sehingga wajib mengimani hal itu sebagai bentuk bukti pembenaran terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya.” (An-Najm: 3-4)

Dan sebagai pengamalan terhadap firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa pada hakikatnya, setiap yang diucapkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam pun termasuk wahyu yang bersumber dari Allah subhanahu Wata'ala. Maka apa pun yang dikabarkan oleh beliau wajib kita Imani, dan ini merupakan salah satu prinsip keimanan dan kebenaran syahadat kita. Maka kesimpulannya adalah: kita wajib mengimani akan turunya Isa alaihissalam di akhir zaman nanti, beliau turun bukan sebagai nabi, akan tetapi sebagai pengikut Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam, serta beliaupun akan mematahkan salib-salib yang disembah oleh kaum nasrani, serta menyeru mereka untuk mengikuti syari’at Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam.

Demikianlah diantara syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan akal mereka dari pada wahyu, dan alhamdulillah, syubhat-syubhat mereka sudah terjawab, dan memang sebenarnya setiap syubhat mudah untuk dipatahkan jika kita memiliki keilmuan yang mendalam, hal ini dikarenakan, syubhat adalah sesuatu yang muncul dikarenakan kurangnya ilmu atau pemahaman terhadap Islam yang benar, Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam ilmu-ilmu agama Islam ini, agar keimanan kita semakin kuat dan tidak mudah diragukan oleh orang-orang memang bertujuan untuk menjauhkan Ummat islam dari agamanya.

Pembaca yang budiman, sampai disini pertemuan kita, semoga pembahasan kali ini bermanfaat, Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.



Menjawab Syubhat Keyakinan Reinkarnasi

Pembaca yang budiman, Dekade terakhir ini banyak bermunculan berita dan desas-desus yang mengabarkan bahwa ada sebagian orang yang bisa bangkit dan kembali ke alam dunia sebelum datangnya hari kiamat; biasa diistilahkan dengan “reinkarnasi” . Maka muncullah gejala adanya ketakutan kepada mayat, takut kepada pocong, takut kepada vanpire atau dracula. Padahal semua ini adalah keyakinan batil yang teradopsi dari keyakinan orang-orang kafir. Keyakinan ini telah dibatalkan oleh Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an !!

Untuk lebih jelasnya, Insya Allah, pada rubric Roddu syubhat kali ini, kami akan mencoba untuk menyampaikan di kesempatan kali ini mengenai bantahan islam terhadap reinkarnasi.
Adapun yang dimaksudkan dengan Reinkarnasi adalah keyakinan bahwa ada sebagian orang bisa bangkit dan kembali ke alam dunia ini sebelum datangnya hari kiamat.
Pembaca yang budiman, Aqidah reinkarnasi ini ternyata juga diyakini dan disokong oleh sekte sesat Syi’ah-Rofidhoh yang kini bermarkas di Iran. Ini bisa kita lihat dari referensi yang ditulis oleh pemimpin-pemimpin mereka yang menetapkan aqidah ini. Sebagai contoh -bukan pembatasan-, adalah sebagai berikut:
Tokoh Syi’ah, yang bernama Al-Hur Al-Amily ketika menukil dalil tentang roj’ah atau (reinkarnasi), ia berkata bahwasannya “Sudah menjadi Kesepakatan seluruh orang-orang Syi’ah Imamiyyah, dan Itsna Asyariyyah tentang meyakini kebenaran roj’ah atau (reinkarnasi). Hal ini bisa kita Lihat dalam Al-Iqozh min Al-Haj'ah oleh Al-Amiliy
Ucapan Al-Amiliy ini amat jelas dalam menyokong pemikiran dan aqidah reinkarnasi, bahkan ia menukil adanya kesepakatan di antara mereka tentang adanya keyakinan reinkarnasi dalam sekte mereka yang menyimpang, yakni Syi’ah-Rofidhoh. Oleh karenanya Pembaca yang budiman, kita seorang muslim, harus berhati-hati dan mewaspadai mereka.
Selanjutnya Pembaca yang budiman, kita akan coba menelusuri Sebab Kemunculan aqidah Reinkarnasi dalam Tubuh Syi’ah-Rofidhoh
Sebagai ummat islam, hendaknya kita menyadari bahwa aqidah reinkarnasi ini menyelusup ke dalam agama Syi’ah-Rofidhoh karena adanya pengaruh dan usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagai bukti, Abdullah bin Saba’, yaitu seorang tokoh Yahudi dan sebagai perintis pertama agama Syi’ah-Rofidhoh awalnya pura-pura masuk Islam. Kemudian Aqidah reinkarnasi ini disusupkan untuk melemahkan aqidah tentang hari akhir.
Selain itu, Perlu diketahui bahwa Abdullah bin Saba’ ini pernah menyatakan akan kembalinya atau terlahirnya kembali Nabi shalallahu'alaihi wa sallam ke alam dunia, demikian pula Ali. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Mas’alah At-Taqrib baina Ahlis Sunnah wa Asy-Syi’ah karya Dr.Nashir bin Abdullah Ali Al-Qifary.
Pembaca yang budiman, selanjutnya kita akan menjelaskan Sisi Kebatilan Aqidah Reinkarnasi
Aqidah reinkarnasi merupakan aqidah batil yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ atau (kesepakatan) para salafushsholih, (yaitu, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, dan pengikutnya) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita.
Mari kita perhatikan firma Allah subhanahu Wata'ala:
“Dia (orang kafir yang sekarat) berkata,” Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya itu adalah perkara yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minun: 99-100).
Pembaca yang budiman, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- saat menafsirkan ayat-ayat ini, beliau membawakan beberapa ayat tentang tidak bisanya seseorang mengalami reinkarnasi atau (kembali) ke dunia. Kemudian beliau berkata, “Jadi, Allah -Ta’ala- telah menyebutkan bahwa mereka meminta kembali ke dunia, maka mereka tak dipenuhi keinginannya ketika sekarat, pada hari kebangkitan, hari mahsyar, ketika dihadapkannya para makhluk kepada Allah Al-Jabbar, dan ketika mereka digiring ke neraka, sedang mereka berada dalam kepungan siksa neraka Jahim”.
Kemudian Pembaca yang budiman, Sudah banyak Pernyataan dan Pengingkaran Ulama terhadap Aqidah Batil ini
Ketika munculnya paham sesat ini, maka para ulama Ahlus Sunnah dari zaman ke zaman memberikan pernyataan dan pengingkaran terhadap aqidah reinkarnasi ini.
Dalam kitab Syarhus Sunnah, Al-Imam Abul Hasan Al-Barbahariy-rahimahullah- berkata dalam menjelaskan batilnya aqidah roj’ah atau (reinkarnasi), “Suatu bid’ah yang telah nampak kekafirannya. Barangsiapa yang menyatakan adanya reinkarnasi, maka ia kafir kepada Allah, tanpa ada keraguan. Barangsiapa yang berkeyakinan reinkarnasi, dan berkata, “Ali bin Abi Tholib masih hidup, dan akan kembali sebelum hari kiamat, dan juga Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, dan Musa bin Ja’far; mereka akan berbicara tentang imamah atau (kepemimpinan), dan bahwa mereka mengetahui perkara ghaib, maka waspadailah orang-orang yang berkeyakinan seperti ini, karena mereka adalah orang-orang kafir kepada Allah Yang Maha Agung”.
Selain itu Pembaca yang budiman, Abul Hasan Muhammad bin Ahmad Al-Malthiy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Demikian pula tentang keyakinan mereka dalam masalah reinkarnasi telah didustakan oleh Al-Qur'an , bahwa Allah subhanahu Wata'ala terlah berfirman:
“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS.Al-Mu’minun : 99-100)

Dalam kitab At-Tanbih wa Ar-Rodd dijelaskan, bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa para penghuni kubur tak akan dibangkitkan (dari kuburnya) sampai hari kebangkitan. Jadi, barangsiapa yang menyelisihi hukum Al-Qur’an ini, maka ia sungguh telah kafir.dan selain mereka, masih banyak lagi ulama yang mengkafirkan aqidah reinkarnasi.

Jadi , reinkarnasi merupakan aqidah yang berbahaya bagi iman seseorang, sebab ia merupakan bentuk pendustaan ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang tidak bisanya seorang kembali ke alam dunia sebelum terjadinya hari kiamat.

Terakhir, kami nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dan mewaspadai mereka , jangan sampai tertipu dengan mereka dan takjub kepada mereka sehingga menjadikan mereka sebagai teman atau guru. Begitupun anak-anak kita harus diawasi dan diberikan pengarahan, hal ini dikarenakan saat ini sudah sangat banyak tayangan-tayangan televise, terutama film-film kartun yang mengandung akidah reinkarnasi yang kufur ini, diantaranya adalah film Avatar, Dragon ball, dan lain-lain.





Menjawab Syubhat Teori Relativisme Kebenaran

Pembaca yang budiman, Insya Allah kita akan mengupas mengenasi syubhat faham relativisme kebenaran.

Paham paham relativisme kebenaran telah menjadi tren dan sering kali dijadikan senjata yang dihunus oleh para aktivis liberal dalam membantah metode pe-mahaman terhadap ajaran Islam dari para ulama terdahulu atau (salafush shalih) yang telah mereka anggap kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. sehingga Sudah tidak mengherankan apabila dalam ajang diskusi dan perdebatan, para aktivis liberal sering menolak penjelasan dan penafsiran ayat al-Qur’an maupun al-Hadits dari lawan debat mereka dengan lontaran kalimat : ‘itukan menurut pema-haman anda’, atau ‘yang saya pahami tidak seperti apa yang anda katakan’, dan kalimat lain sejenis yang menggambarkan bahwa menurut mereka penafsiran agama yang dilakukan oleh para ulama tidaklah identik dengan klaim kebenaran yang harus diikuti, karena menurut mereka kebenaran itu sendiri adalah sesuatu yang relatif, tidak mutlak atau absolut. Sehingga setiap orang berhak untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan logika dan alur fikirannya masing-masing. Dalam teori relativisme ini, Setiap orang bebas memilih bentuk, atau bahkan membentuk sendiri, bahkan membaut cara beragama masing-masing. Bagi penganut faham relativisme ini tidak penting bagaimana dan dengan cara apa seseorang melaksanakan ajaran agama yang diyakininya, karena menurut mereka kebenaran itu relatif, sehinnga jika ada seseorang menganggap bahwa Syirik itu dilarang, maka merekapun langsung mengatakan : itu kan menurut dia, menurut orang lain belum tentu...

Pendengar yang budiman, dampak pemahaman seperti ini Pada akhirnya setiap orang dianggap sah-sah saja mem-buat tata aturan sendiri, termasuk dalam semua aspek beragama sekalipun, dengan membuat pola yang dia yakini se-bagai kebenaran. Mereka merasa tidak perlu lagi terikat pada syariat yang di-ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadilah mereka –dengan demikian- se-bagai syari’ atau (penentu dan pembuat sya-riat), yang tidak terikat pada syariat apapun, kecuali syariat yang mereka buat dan ramu itu. Maka dengan demikian merekapun sering mengatakan bahwa : Jalan boleh berbeda yang penting tujuannya sama.

Pendengar yang budiman, dalam menghadapi fenomena seperti ini, maka semestinya kita terus waspada dan mengambil langkah antisipatif dalam meng-counternya. Apalagi ketika konsep pemikiran relativisme ini di-sebarluaskan kepada lapisan grass root atau masyarakat luas, dida’wahkan dengan sangat masif atau kuat, dengan berbagai pola yang sangat destruktif atau (sangat menghancurkan dan merusak), selain itu usaha mereka pun didukung oleh puluhan media cetak dan elektronik serta suntikan dana besar-besaran dengan membangun lem-baga-lembaga propaganda, merekapun banyak menerbitkan buku-buku dan segenap upaya yang sangat sistematis. Ironisnya pula, para pengusung faham relativisme ini bukanlah ‘orang sem-barangan’, tetapi mereka adalah para tokoh kunci dan pimpinan perguruan tinggi atau institusi Islam yang dihormati dan dianggap me-miliki kredibilitas dalam masalah agama.

Pendengar yang budiman, tentunya tidak cukup jika kita hanya mengetahui bahwa faham relativisme ini adalah suatu faham yang sesat, kitapun hendaknya bisa menjelaskan kepada kaum muslimin mengenai bagaimana prinsip-prinsip dan tolok ukur yang tepat untuk menilai suatu perkara, apakah itu benar atau salah.

Dan berikut ini kita akan jelaskan bahwasannya Hanya Islamlah yang benar, hal ini dikarenakan Islam adalah Agama yang telah Allah sesuaikan dengan kebutuhan makhluknya. Karena sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Allah telah menciptakan alam se-mesta beserta isinya dengan sangat sem-purna dan teratur. Seluruh makhluk cip-taan-Nya juga tersusun dengan pola dan sistem yang sangat sempurna, oleh karena itu, maka hanya aturan dan syari’at Allah sajalah yang pantas dijadikan pedoman hidup bagi setiap ciptaanNya, dan syari’at Allah ini tiada lain adalah syari’at Islam.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran: 19).

Dan di ayat lainnya Allah pun berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).
Pendengar yang budiman, Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Dan Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau mencari agama diluar islam, atau membuat pola dan aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, maka pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.

Dan untuk menyampaikan agamaNya yang lurus ini kepada manusia, maka Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap zaman, dan rasul terakhir adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pendengar yang budiman, Allah telah meng-utus Rasul-Nya sebagai basyir atau (pemberi kabar gembira) juga sekaligus sebagai nadzir atau (pemberi peringatan). Kabar gem-bira berupa jannah dan kenikmatannya –di akhirat kelak- bagi mereka yang me-ngikuti jalan-Nya, dan peringatan akan neraka dan siksaannya bagi para penyim-pang dan pembangkang yang menyelisihi JalanNya.

Adapun Untuk mengetahui Jalan kebenaran yang harus diikuti dan jalan kebathilan yang harus dijauhi itu telah dengan jelas diterangkan Allah melalui wahyu-Nya, baik beruupa al-Qur’an maupun hadits Rasulullah.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, dimana ia berkata:
“Rasulullah telah wafat meninggalkan kami, dan tidak seekorpun burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara, beliau pasti telah mene-rangkan ilmunya kepada kami. Abu Dzar berkata: Beliaupun telah bersabda: “Tidak tersisa sedikitpun sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga, dan men-jauhkan kalian dari neraka, sungguh pasti telah dijelaskan kepada kalian”. (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani)

Pendengar yang budiman, Dari penjelasan ayat dan hadits yang tadi telah kita sampaikan menunjukan dengan sangat jelas bahwa pemahaman para pengusung liberalisme dan pluralisme sangatlah menyesatkan. Mereka meyakini adanya nilai-nilai kebenaran diluar Islam, bahkan agama berada di jalan yang benar.

Pendengar yang budiman, Mereka, para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya, pasti akan senantiasa berada dalam kesempitan hidup, akibat berpaling dari hidayah-Nya. Mereka tidak pernah sampai pada keimanan, karena senantiasa diliputi keraguan akan kebenaran Islam, dan ini merupakan akibat dari Sikap Skeptis atau sikap kurang percaya mereka kepada dalil sehingga menjadikan mereka selalu terombang ambing, mengejar fatamorgana kebenaran yang tak akan pernah mereka dapatkan. Sehingga telah hilanglah dari diri mereka keimanan kepada wahyu Allah dan syariat Rasul-Nya, dan yang ada pada diri para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya hanyalah penghambaan kepada akal dan hawa nafsu mereka.

Pendengar yang budiman, demikianlah yang mungkin dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, semoga penjelasan ini dapat memberikan pencerahan dan membuka cakrawala khazanah keilmuan kita, sehingga kita tidak mudah tertipu dengan propaganda dan teori-teori sesat yang senantiasa dilontarkan oleh orang-orang yang memiliki kebencian dalam hatinya terhadap islam. Sampai disini kebersamaan kita kali ini. Terima kasih atas kebersamaan dan partisipasi anda. wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



Menjawab Syubhat Tanzhim atau Organisasi dalam dakwah adalah bid’ah

Pembaca yang budiman, Salah satu dakwaan aneh dari para tokoh kaum Zhahiriyyah atau tekstualis dari ummat ini, di antaranya adalah bahwa Islam tidak membenarkan tanzhim atau (struktur organisasi) dalam berdakwah, membuat tanzhim menurut mereka adalah hal bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi As-Salafus Shalih, sehingga menurut mereka tanzhim atau membuat organisasi dalam dakwah harus ditolak sejauh-jauhnya & para pelakunya yang menggunakan tanzhim dalam dakwah mereka dianggap Ahli Bid’ah sehingga harus di-tahdzir. Inna liLLAAHi wa inna ilaihi raaji’uun..

Tentunya dakwaan ini keluar tiada lain karena penyakit syubhat yang disebabkan oleh minimnya ilmu dan pemahaman, dan pernyakit syubhat ini hanya bisa diobati dengan memperbanyak belajar ilmu syar’Insya Allah. dan Insya Allah di pertemuan kali ini, kita akan mencoba untuk membantah syubhat tersebut.

Suatu hal yang hendaknya kita fahami bahwa Tanzhim dalam aktifitas dakwah adalah merupakan sebuah hal yang bersifat dharuriy atau (tidak bisa tidak) dalam fiqh, berdasarkan kaidah ushul-fiqh:
Maa laa yatimmul waajib illa bihi fahuwa waajib, yang artinya (suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka yang lain itu menjadi wajib pula hukumnya).

Selain itu Pembaca yang budiman, jika kita cermati secara logika, jangankan untuk berdakwah, untuk memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut kita saja, tidak mungkin tercapai tanpa adanya tanzhim, coba anda bayangkan jika tidak ada pabrik pupuk, perusahaan cangkul, perusahaan pestisida, pasar, dan sebagainya. Apakah mungkin nasi itu bisa mencukupi untuk seluruh bangsa Indonesia ini?!
Nah…Jika sekedar untuk urusan perut saja membutuhkan sebuah tanzhim atau system yang terorganisir, maka apatah lagi dalam urusan Iqamatuddin??

Ikhwah wa akhwat rahimakumuLLAAH, membuat tanzhim dalam gerakan dakwah merupakan sebuah (hatmiyyah) atau kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar & ditunda-tunda lagi, baik berdasarkan dharuriyyah-fiqhiyyah tadi, dan juga berdasarkan sunnah-kauniyyah (yaitu bahwa alam semesta ini merupakan sebuah nizham-’alamiyy atau keteraturan, yang semuanya menempati posisi & fungsi yang berbeda-beda.

Sebenarnya logika sehat sederhana tadi sudah cukup bagi orang yang berakal untuk menunjukkan urgensi atau pentingnya organisasi dalam dakwah di era modern ini. Namun sebagaimana biasanya, maka kelompok zhahiriyyun-ghullat atau (tekstualis-ekstrem) itu tidak akan mau menerima kecuali bil-lughati qawmihim yaitu (hanya dengan bahasa kaumnya), maka Pembaca yang budiman, supaya kita tidak dituduh ‘aqlaniyyin atau (kelompok yang menuhankan akal), maka kita juga akan menunjukkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih tentang Masyru’iyyatu Tanzhim fid-Dakwah Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, yaitu (Dalil-Dalil disyariatkannya tanzhim dalam Dakwah di Era Modern).

Di antara dalil disyari’atkannya tanzhim dalam dakwah adalah sebagai berikut:
Pertama, Hendaknya kita fahami, bahwa Tanzhim atau Amal jama’i adalah suatu amal yang telah diterapkan oleh Rosululloh Shallallohu `Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya dalam berda`wah. Mereka bergerak berda`wah di bawah komando Rosulullah Shallallohu `Alaihi wa Sallam.

Rosulullahlah yang mengirim mereka ke Habasyah, beliau pulalah yang mengangkat para naqib untuk Anshar dan mengirim utusan-utusan da`wah yang banyak sekali, baik sebelum maupun sesudah hijrah. Rosu-lullah Shallallohu `Alaihi wa Sallam telah menda`wahkan para kabilah sambil meminta mereka untuk mengawal da`wah dan masih banyak lagi praktek-praktek amal jama’I dengan keteraturannya yang dikerjakan oleh beliau.

Kemudian Pembaca yang budiman, alasan kedua, bahwasannya Da`wah adalah suatu amal kebajikan dan ketaqwaan bahkan amal keba-jikan yang terbesar, oleh karena itu da`wah termasuk pada perintah yang terkandung di dalam ayat berikut:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (Mengerjakan) kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.Dan bertaqwalah kalian pada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksanya”. (QS. Al Maidah (5): 2)

Pembaca yang budiman, dalam Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan” hal 182 disebutkan bahwa, Dalam rangka memaksimalkan pelaksanaan perintah ta’awun di ayat ini, kita dapati ta’awwun yang terorganisir dan terpimpin adalah bentuk yang terbaik. itulah yang dimaksud dengan amal jama’i dalam berda`wah.

Selanjutnya Pembaca yang budiman, Da`wah adalah amal nushroh atau (membela agama Alloh Subhanahu wa Ta`ala) karena tujuan da`wah adalah menegakkan hak-hak Alloh Subhanahu wa Ta`ala.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Alloh sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikut-pengikutnya yang setia: ”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (Untuk menegakkan Agama) Alloh? Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ”Kamilah penolong-penolong agama Alloh!”. Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir maka kami dukung orang-orang yang beriman atas musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. As Shaf (61): 14)


Pembaca yang budiman, di kitab Al Jami` Li Ahkam Al Qur`an dijelaskan bahwa, Pelaksanaan nushroh atau menolong agama Allah yang terdapat dalam ayat tersebut, pasti akan mempunyai musuh yang menghadang. Bagai-mana kita harus menghadapi mereka tanpa amal jama’i sedangkan mereka bersatu dalam amal-amal jama’I yang terorganisir?. Kemudian Pembaca yang budiman, Di ayat yang berikutnya Alloh Subhanahu wa Ta`ala telah memuji hamba-hamba-Nya yang bersatu teguh dalam perjuangan dengan menggambarkan mereka seolah-olah bangunan yang kokoh.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. As Shaf (61): 4)

Demikianlah Para pembaca rohimakumulloh, sehingga berdasarkan dalil-dalil tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tegaknya Al-Jama’ah merupakan dharurah-syar’iyyah dalam menggapai tujuan dakwah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak hanya dengan kerja sendiri-sendiri dan hanya mengharapkan dari tarbiyyah & tashfiyyah saja, melainkan memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka semua- tidak membuat tanzhim, maka kita jawab bahwa dimasa mereka sudah ada Al-Jama’ah & Al-Khilafah, maka tidak perlu dan tidak boleh hukumnya membuat kelompok baru yang berbeda dari Jama’ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada Khilafah, tidak ada Al-Jama’ah & tidak ada Al-Hukumah atau ahlul hal wal ‘aqd, maka tiada jalan lain kecuali membentuk & mendirikan jama’ah-jama’ah dakwah.




Benarkah Mustafa Kamal adalah Pembaharu Tuurki

Pembaca yang budiman, Setiap buku pelajaan sejarah di negara kita selalu dituliskan bahwa Mustafa Kemal Attaturk adalah bapak dari bangsa Turki, benarkah demikian? Nah, Insya Allah pada rubric Roddu syubhat kali ini, kita akan coba untuk meluruskan pandangan tersebut, dan juga mengungkap siapa sebenarnya Mustafa Kemal Attaturk ? apakah dia seorang yahudi atau bukan, lalu apakah dia berjasa bagi bangsa Turki sehingga oleh beberapa buku sejarah ditulis sebagai bapak bangsa Turki atau bapak pembangunan Turki?

Pembaca yang budiman, Sejarah resmi yang kita kenal dan diajarkan di sekolah-sekolah memang sangat subyektif dan sangat didominasi oleh pandangan sekuler-Barat, yang banyak diantaranya Islamophobia atau membenci islam. Kita tentu masih ingat bagaimana ketika duduk di sekolah dasar, buku-buku sejarah menyatakan kepada kita jika Islam baru masuk ke Nusantara di abad ke-14 Masehi lewat para pedagang India dari Gujarat. Padahal pandangan ini berasal dari Snouck Hurgronje dan ternyata salah besar. Bukti-bukti otentik menyatakan jika Islam sudah ditemukan di pesisir barat pulau Sumatera di saat Rasulullah Saw masih hidup! Bahkan Barus, nama kota kecil di pesisir barat Sumatera itu sudah memiliki hubungan dagang dengan Mesir di saat Nabi Musa a..s masih hidup. Ini fakta sejarah yang sengaja dikaburkan tangan-tangan kekuasaan yang anti Islam. Untuk lengkapnya, silakan baca Eramuslim Digest yang berjudul The Untold History, dan di buku tersebut dijelaskan tentang kepalsuan sejarah Islam Indonesia.
Nah, Mustafa Kemal memang seorang Yahudi dari sebuah kota di Turki bernama Tesalonika atau (Yahudi Dumamah). Mustafa merupakan seorang agen atau kaki tangan Yahudi Internasional yang disusupkan ke dalam militer Turki sehingga dia menjadi seorang jenderal untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah yang menolak menyerahkan Al-Quds kepada Zionis-Yahudi. Lewat konspirasi Yahui Internasional inilah, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah akhirnya hancur pada tanggal 3 Maret 1924, kira-kira hanya 27 tahun setelah Kongres Zionis Internasional pertama.

Pembaca yang budiman, Mustafa Kemal naik menjadi penguasa dan menghancurkan seluruh kehidupan beragama di Turki dan menggantinya dengan paham sekuler, dimana ia memisahkan antara kehidupan beragama dengan masalah dunia, bahkan lafadz adzanpun ia ganti dengan bahasa Turki. Mustafa Kamal Ataturk merupakan seorang Freemason dari Lodge Nidana. Selama berkuasa, Mustafa Kamal memperlihatkan watak seorang Yahudi asli yang sangat membenci agama Islam.
Pembaca yang budiman, Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah ia melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu dengan kekuasaannya.

Kemudian Pembaca yang budiman, sumber yang lain mengatakan, bahwa ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya.
Pembaca yang budiman, Deislamisasi dan juga terhadap agama lainnya di Turki selama kekuasaan Mustafa Kamal ini benar-benar keterlaluan. Nah jika pendengar ingin mengetahui lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan orang yang oleh Barat disebut sebagai ‘Bapak Turki Modern’ ini, ada dua buku karya Dr. Abdullah ‘Azzam yang kami rekomendasikan yakni ‘Al Manaratul Mafqudah’ dan ‘Hidmul Khilafah wa bina-uha’ .

Pembaca yang budiman, Di dalam buku pertama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Abdullah ‘Azam memaparkan kejadian sakitnya Mustafa Kamal menjelang sakaratul mautnya yang sungguh-sungguh mengerikan. Abdullah ‘Azzam menulis, “…Mustafa Kamal terserang penyakit dalam atau (sirrosis hepatitis) disebabkan alkohol yang terkandung dalam khamr. Cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin akibat amat sering berbuat maksiat. Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya, akhirnya dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.”
Pembaca yang budiman, Selama sakit Mustafa berteriak-teriak sedemikian keras sehingga teriakannya menerobos sampai ke teras istana yang ditempatinya. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Beratnya hanya 48 kilogram. Giginya banyak yang tanggal hingga mulutnya hampir bertemu dengan kedua alis matanya. Badannya menderita demam yang sangat sehingga ia tidak bisa tidur. Tubuhnya juga mengeluarkan bau bagaikan bau bangkai. Walau demikian Pembaca yang budiman, Mustafa masih saja berwasiat, jika dia meninggal maka jenazahnya tidak perlu dishalati.
Akhirnya “Pada hari Kamis, 10 November 1938 jam sembilan lebih lima menit pagi, pergilah Mustafa Kamal dari alam dunia dalam keadaan dilaknat di langit dan di bumi…,” tulis Abdullah ‘Azzam. Naudzubilahi min dzalik!

Kemudian Pembaca yang budiman, Majalah Al Mujtama’ Kuwait pada tanggal 25 Desember 1978 edisi 425-426 memuat sebuah dokumen rahasia tentang peranan dan konspirasi kaum Yahudi di dalam menumbangkan kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Dokumen ini berasal dari sebuah surat yang ditulis Dutabesar Inggris di Konstantinopel, Sir Gebrar Lother, kepada Menteri Luar Negeri Inggris Sir C Harving pada tanggal 29 Mei 1910. Dalam dokumen tersebut dipaparkan secara rinci bagaimana kaum Freemason melakukan penyusupan ke berbagai sektor vital pemerintahan Turki untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Abdul Hamid II dan mengangkat Mustafa Kamal Ataturk, untuk menghapuskan kekhalifahan Islam di Turki. Bahkan kaum Mason atau freemason Turki ini berhasil masuk dalam lingkaran pertama Sultan Abdul Hamid II, sehingga banyak kebijakan-kebijakannya yang disalahgunakan. yang akhirnya adalah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani yang kemudian Turki menjadi Negara yang sangat sekuler.

Pembaca yang budiman, Mungkin demikian yang bisa kami sampaikan mengenai Mustafa Kamal, yang oleh sejarah resmi disebut sebagai “Bapak Turki” atau (Attaturk), padahal seharusnya dia disebut sebagai “Penghancur Turki”. Dan juga Pembaca yang budiman, hendaknya kita sebagai kaum muslimin mulai selektif dalam menerima berita atau kabar dari sumber yang tidak jelas, sehingga kita tidak terjebak dalam konspirasi dan tipu daya yahudi freemason yang sengaja ingin meliberalkan atau mensekulerkan kaum muslimin, dan hendaknya kita sadari bahwa inilah salah satu strategi mereka dalam perang pemikiran, disamping itu juga masih banyak strategi yang sudah mereka rencanakan untuk memuluskan tujuan mereka. dan juga kita berharap agar buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah negri ini bebas dari buku-buku sekuler yang lebih condong dan membanggakan barat.
Pembaca yang budiman, sampai disini kebersamaan kita dalam rubric roddu syubhat kali ini, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan, akhirnya saya undur diri dari ruang dengar anda. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh



Rabu, 28 Oktober 2009

Google Sumbangkan Dana untuk Organisasi Yahudi



Seorang Miliarder Yahudi dari etnis Rusia, Sergei Brin yang disebut-sebut sebagai salah satu dari pendiri utama Google, search engine nomor wahid di dunia internet, telah menyumbangkan satu juta dolar AS ke lembaga sosial untuk imigran Yahudi "Hiace".

Lembaga sosial "Hiace" diketahui milik organisasi imigran Yahudi Amerika yang membantu para imigran Yahudi di dunia dan terkhusus pendudukan Zionis Israel dan juga imigran Yahudi di Amerika Serikat. Organisasi ini dikabarkan berpusat di New York. Brin menyerahkan bantuannya ini dalam rangka memperingati 30 tahun keluarnya ia dan keluarga dari Uni Soviet dan menetap di Amerika Serikat.

Ketua lembaga itu dalam sambutannya dengan bangga mengatakan, “Tanpa adanya lembaga penyantun imigran Yahudi, Brein tentu tak akan sehebat sekarang, dan kita tidak akan mendapati Google sehebat ini”. Ia kemudian menceritakan, bagaimana keluarga Brein mendapatkan bantuan dari Hiace, ketika usianya menginkak enam tahun dan meninggalkan Uni Soviet menghindari gerakan anti-semit di sana. Brein dan keluarganya kemudian menjadi imigran di Amerika dan tumbuh serta sukses di sini.

Organisasi Yahudi ini pun mengaku membantu nasib 4,5 juta imigran Yahudi di dunia. Orang-orang Yahudi memang dikenal memiliki rasa solidaritas yang tinggi, kebanyakan dari mereka yang sukses dalam bidang bisnis, tak sungkan-sungkan menyumbangkan jutaan dolar keuntungan pribadinya demi kemaslahatan kaumnya.
sumber:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/google-sumbangkan-dana-untuk-organisasi-yahudi.htm

Selasa, 27 Oktober 2009

Syubhat Kiamat 2012

Pembaca yang budiman, senang sekali kita bisa menyapa anda di kesempatan kali ini, dan Insya Allah seperti biasa, rubrik Roddu syubhat ini, kita akan menjawab mengenai syubhat-syubhat yang beredar di masyarakat. Adapun yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah berkenaan dengan adanya pandangan atau ramalan bahwa Kiamat akan terjadi pada tahun 2012.

Pembaca yang budiman, Ada sebuah kontroversi besar di dalam dunia astronomi dan juga geofisika belakangan ini menyangkut tahun 2012. Konon, sejumlah peristiwa besar yang disebabkan oleh alam akan menyebabkan bumi tempat kita hidup akan mengalami kehancuran luar biasa, bahkan disebutkan jika peristiwa tersebut adalah kiamat atau Hari akhir. Penulis buku ‘Apocalypse 2012’ berdarah Lebanon memaparkan dengan sangat jelas dan juga ilmiah tentang kemungkinan terjadinya bencana alam di tahun tersebut.

Adapun Pembaca yang budiman, Bencana itu antara lain: siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.

Kemudian Pembaca yang budiman, Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung.

Kemudian, Tata surya kita tengah memasuki medan awan energi antar bintang. Awan itu mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer planet-planet. Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 2012 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya.

Kemudian Pembaca yang budiman, Di Perancis juga terdapat ramalan ilmiyah yang dibuat oleh seorang astrolog yang bernama Nostradamus bahwa planet-planet di angkasa akan berantakan pada akhir tahun 2000 yang akan mengakibatkan hancurnya kehidupan setelah 12 tahun. diantara para ahli astronomi modern lainnya yang mendukung ramalan kiamat tahun 2012 ini adalah :

Pertama:. Seorang ilmuwan matematika Jepang yang bernama Haido Itakawa pada tahun 1980 mengatakan bahwa, planet-planet matahari akan tersusun didalam satu garis dibelakang matahari/ dan kenyataan ini akan mengakibatkan kejadian di angkasa raya yang luar biasa, dan juga dapat menghentikan kehidupan yang ada diatas permukaan bumi pada Agustus 2012.



Kedua. Perihal kiamat tahun 2012 ini juga diberitakan oleh berbagai Jurnal Ilmiah Amerika yang bersumber dari NASA pada beberapa tahun terakhir, bahwasannya teleskop yang diletakkan oleh NASA di ruang angkasa telah menemukan sebuah planet lain yang besarnya hampir sama dengan matahari yang dinamakan dengan plenet Nibiru.

Kemudian Pembaca yang budiman, NASA juga memberitakan bahwa planet Nibiru ini memiliki kekuatan magnet yang sangat besar, dan kuatnya hampir sama dengan yang dimiliki matahari, sehingga akan terjadi hal yang sangat membahayakan apabila planet ini mendekati orbit peredaran bumi. Dan diperkirakan bahwa planet Nibiru akan memasuki orbit bumi pada tahun 2011, dan seluruh penduduk bumi akan dapat menyaksikannya sehingga ia bagaikan sebuah matahari yang lain.(http://forums.al3almi.net)

Pembaca yang budiman, Semua itu merupakan ramalan-ramalan para pakar di bidangnya masing-masing.Menurut Islam, kiamat adalah hal yang tidak bias dihindarkan. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Bisa dua jam lagi, bisa besok, atau entah kapan. Umat Islam adalah umat akhir zaman.

Lalu Pembaca yang budiman, bagaimanakan Islam menyikapi fenomena, dan teori tersebut:
Sebagai Ummat Islam Hendaknya kita fahami terlebih dahulu bahwa, Kiamat merupakan hal ghaib yang harus diimani oleh setiap muslim, dan kita harus yakin bahwa kitamat itu hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala saja, sebagaimana hal ini banyak disebutkan didalam Kitab-Nya maupun Sunnah Nabi saw, diantaranya adalah firman Allah subhanahu Wata'ala :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي لاَ يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلاَّ هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لاَ تَأْتِيكُمْ إِلاَّ بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
Artinya : “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu Amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui". (QS. Al A’raf : 187)
Kemudan Pembaca yang budiman, dalam menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa firman Allah,”Katakanlah:’Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.” Maka ini Adalah perintah Allah swt kepada nabi-Nya saw, yang mana apabila beliau saw ditanya tentang waktu terjadinya kiamat maka hendaklah beliau saw mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah subhanahu Wata'ala lah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan perkara itu dan kapan kepastian waktunya.

Pembaca yang budiman, selain itu, terdapat sebuah hadits yang Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Kunci-kunci ghaib itu lima,’Sesungguhnya hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada didalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (HR. Bukhori)

Al Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci-kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus. Maka barangsiapa yang menganggap bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua maka orang itu telah mengingkari Al Qur’an dikarenakan ia telah menyalahinya.

Dan juga Pembaca yang budiman, kita bisa mengambil faidah dari jawaban Rasulullah saw ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang kapan terjadinya kiamat, maka beliau saw besabda,”Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.” (HR. Muslim) Hadits tersebut menjelaskan bahwa diri Rasulullah saw dan juga orang yang bertanya (Jibril) tidaklah mengetahui tentang waktu terjadinya kiamat.

Kemudian Pembaca yang budiman, Syeikh Yusuf al Qaradhawi pernah ditanya tentang akan hancurnya alam ini pada tahun 2012 ?! Beliau menjawab bahwa ini termasuk pembicaraan tentang sesuatu yang akan datang, menerobos tabir masa yang akan datang, menyingkap apa-apa yang mungkin terjadi pada anda besok atau lusa, dan itu semua tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt.
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا
Artinya : “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.” (QS. Luqman : 34)
Jadi Pembaca yang budiman, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah, bahwa hanya Allah lah yang mengetahui kebenaran terjadinya hari kiamat, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, sepertihalnya teori ledakan besar, teori ini dan itu, maka sikap kita adalah tetap memperlakukan hal itu sebagai teori dan tak lebih dari itu, sebagaimana dalam sebuah ungkapan dikatakan bahwa, jika ada sebuah teori maka ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya.

Pembaca yang budiman, demikianlah penjelasan yang bisa kami sampaikan di kesempatan kali ini, semoga apa yang tadi kita sampaikan dapat memberikan pencerahan kepada kita, dapat menambah iman kita dan tentunya dapat menghilangkan syubhat diantara kita. Sampai di sini kebersamaan kita kali ini, terima kasih atas kebersamaan anda. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh
referensi: http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/kiamat-tahun-2012.htm


Senin, 26 Oktober 2009

Bahas Seks di TV, Wanita Saudi Dihukum Cambuk


RIYADH--Seorang wartawati Arab Saudi dijatuhi hukuman cambuk 60 kali karena perannya dalam program televisi yang membahas seks di luar nikah. Wartawan ini menjadi produser televisi dimana seorang pria menggambarkan kehidupan seksnya di luar nikah.

Menurut wartawan BBC, Sebastian Usher, program ini menimbulkan skandal besar ketika ditayangkan beberapa bulan lalu. Laki-laki yang mengaku mencari wanita Saudi untuk melakukan hubungan badan sudah terlebih dulu dihukum.

Peristiwa ini merupakan salah satu skandal terbesar di Arab Saudi selama bertahun-tahun terakhir. Program yang membuat heboh ini merupakan bagian dari seri televisi bernama Red Lines yang dibuat perusahaan televisi satelit Libanon yang terkenal, LBC.

Program ini membahas persoalan-persoalan tabu di dunia Arab. Misalnya soal sex di luar nikah yang dilakukan warga Arab Saudi di negara mereka.

Laki-laki Saudi yang tampil dalam program ini, Mazen Abdul Jawad, membuat marah banyak orang karena dia bercerita tentang tekniknya dalam mencari wanita Saudi untuk berhubungan badan dengan mereka.

Dengan berlinang air mata dia meminta maaf, tetapi dia kemudian tetap dihukum lima tahun dan dicambuk seribu kali. Tiga temannya yang tampil di acara yang sama, masing-masing mendapat hukuman dua tahun.

Abdul Jawad mengatakan dia ditipu oleh produser acara televisi itu. Perwakilan stasiun televisi ini di Arab Saudi sekarang ditutup, dan produser acara ini, yang dua-duanya wanita, diajukan ke pengadilan.

Satu orang sudah dinyatakan bersalah dan dicambuk 60 kali. Bisa jadi dia adalah wartawan perempuan Saudi pertama yang mendapat hukuman semacam ini. lihat: Republika

Inilah kemuliaan hukum Islam yang sebagiannya sudah diterapkan di saudi, dan jika Indonesia menerapkan Hukum Islam seperti di Saudi ini, maka insya Allah kasus hamil di luar nikah maupun kasus pemerkosaan akan berkurang. Dan kita semua berharap agar indonesia kedepannya menjadi negara yang menerapkan Hukum Allah, dan hanya hukum Allah yang cocok bagi manusia, karena Allah adalah yang menciptakan manusia dan paling tahu apa yang terbaik bagi manusia.


Sabtu, 24 Oktober 2009

Kekuatan Tersembunyi Petir


Satu kilatan petir menghasilkan listrik lebih besar daripada yang dihasilkan Amerika.
Di malam hari, saat hujan deras, langit tiba-tiba menyala, tak lama kemudian disusul oleh suara menggelegar. Tahukah Anda bagaimanakah petir luar biasa yang menerangi langit muncul? Tahukah Anda seberapa banyak cahaya yang dipancarkannya? Atau seberapa besar panas yang dilepaskannya?

Satu kilatan petir adalah cahaya terang yang terbentuk selama pelepasan listrik di atmosfer saat hujan badai. Petir dapat terjadi ketika tegangan listrik pada dua titik terpisah di atmosfer – masih dalam satu awan, atau antara awan dan permukaan tanah, atau antara dua permukaan tanah – mencapai tingkat tinggi.


Sebuah sambaran petir berukuran rata-rata memiliki energi yang dapat menyalakan sebuah bola lampu 100 watt selama lebih dari 3 bulan. Sebuah sambaran kilat berukuran rata-rata mengandung kekuatan listrik sebesar 20.000 amp. Sebuah las menggunakan 250-400 amp untuk mengelas baja. Kilat bergerak dengan kecepatan 150.000 km/detik, atau setengah kecepatan cahaya, dan 100.000 kali lipat lebih cepat daripada suara.

Kilat petir terjadi dalam bentuk setidaknya dua sambaran. Pada sambaran pertama muatan negatif (-) mengalir dari awan ke permukaan tanah. Ini bukanlah kilatan yang sangat terang. Sejumlah kilat percabangan biasanya dapat terlihat menyebar keluar dari jalur kilat utama. Ketika sambaran pertama ini mencapai permukaan tanah, sebuah muatan berlawanan terbentuk pada titik yang akan disambarnya dan arus kilat kedua yang bermuatan positif terbentuk dari dalam jalur kilat utama tersebut langsung menuju awan. Dua kilat tersebut biasanya beradu sekitar 50 meter di atas permukaan tanah. Arus pendek terbentuk di titik pertemuan antara awan dan permukaan tanah tersebut, dan hasilnya sebuah arus listrik yang sangat kuat dan terang mengalir dari dalam jalur kilat utama itu menuju awan. Perbedaan tegangan pada aliran listrik antara awan dan permukaan tanah ini melebihi beberapa juta volt.

Energi yang dilepaskan oleh satu sambaran petir lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seluruh pusat pembangkit tenaga listrik di Amerika. Suhu pada jalur di mana petir terbentuk dapat mencapai 10.000 derajat Celcius. Suhu di dalam tanur untuk meleburkan besi adalah antara 1.050 dan 1.100 derajat Celcius. Panas yang dihasilkan oleh sambaran petir terkecil dapat mencapai 10 kali lipatnya. Panas yang luar biasa ini berarti bahwa petir dapat dengan mudah membakar dan menghancurkan seluruh unsur yang ada di muka bumi. Perbandingan lainnya, suhu permukaan matahari tingginya 700.000 derajat Celcius. Dengan kata lain, suhu petir adalah 1/70 dari suhu permukaan matahari. Cahaya yang dikeluarkan oleh petir lebih terang daripada cahaya 10 juta bola lampu pijar berdaya 100 watt. Sebagai pembanding, satu kilatan petir menyinari sekelilinginya secara lebih terang dibandingkan ketika satu lampu pijar dinyalakan di setiap rumah di Istanbul. Allah mengarahkan perhatian pada kilauan luar biasa dari petir ini dalam Qur'an,
"...Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS. An Nuur, 24:43)

Kilatan yang terbentuk turun sangat cepat ke bumi dengan kecepatan 96.000 km/jam. Sambaran pertama mencapai titik pertemuan atau permukaan bumi dalam waktu 20 milidetik, dan sambaran dengan arah berlawanan menuju ke awan dalam tempo 70 mikrodetik. Secara keseluruhan petir berlangsung dalam waktu hingga setengah detik. Suara guruh yang mengikutinya disebabkan oleh pemanasan mendadak dari udara di sekitar jalur petir. Akibatnya, udara tersebut memuai dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, meskipun gelombang kejutnya kembali ke gelombang suara normal dalam rentang beberapa meter. Gelombang suara terbentuk mengikuti udara atmosfer dan bentuk permukaan setelahnya. Itulah alasan terjadinya guntur dan petir yang susul-menyusul.
Saat kita merenungi semua perihal petir ini, kita dapat memahami bahwa peristiwa alam ini adalah sesuatu yang menakjubkan. Bagaimana sebuah kekuatan luar biasa semacam itu muncul dari partikel bermuatan positif dan negatif, yang tak terlihat oleh mata telanjang, menunjukkan bahwa petir diciptakan dengan sengaja. Lebih jauh lagi, kenyataan bahwa molekul-molekul nitrogen, yang sangat penting untuk tumbuhan, muncul dari kekuatan ini, sekali lagi membuktikan bahwa petir diciptakan dengan kearifan khusus.
Allah secara khusus menarik perhatian kita pada petir ini dalam Al Qur'an. Arti surat Ar Ra’d, salah satu surat Al Qur'an, sesungguhnya adalah "Guruh". Dalam ayat-ayat tentang petir Allah berfirman bahwa Dia menghadirkan petir pada manusia sebagai sumber rasa takut dan harapan. Allah juga berfirman bahwa guruh yang muncul saat petir menyambar bertasbih memujiNya. Allah telah menciptakan sejumlah tanda-tanda bagi kita pada petir. Kita wajib berpikir dan bersyukur bahwa guruh, yang mungkin belum pernah dipikirkan banyak orang seteliti ini dan yang menimbulkan perasaan takut dan pengharapan dalam diri manusia, adalah sebuah sarana yang dengannya rasa takut kepada Allah semakin bertambah dan yang dikirim olehNya untuk tujuan tertentu sebagaimana yang Dia kehendaki.
Sumber: www.harunyahya.com/indo/artikel/019.htm


‘I f f a h, Sebuah Kesucian Diri


Pembaca yang budiman, Secara bahasa, ‘iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; ‘Iffah adalah menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang ‘afif adalah orang yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya dengan bersabar untuk tidak melakukan perkara-perkara yang diharamkan Allah, walaupun sesungguhnya jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya. hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta'ala firmankan:
وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
yang artinya “Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33)
Pembaca yang budiman, Termasuk dalam makna ‘iffah adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia).” (Al-Baqarah: 273)
Kemudian, terdapat pula riwayat dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu 'anhu, ia mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun dari mereka yang minta kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melainkan beliau berikan hingga habislah apa yang ada pada beliau. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka ketika itu:
“Apa yang ada padaku dari kebaikan berupa (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian. Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selain-Nya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 6470 dan Muslim no. 1053 )
Pembaca yang budiman, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam syarah shahih muslim: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk ta’affuf yaitu (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah atau (merasa cukup) dan bersabar atas kesempitan hidup dan selainnya dari kesulitan-kesulitan di dunia.”
Pembaca yang budiman, demikanlah seharusnya sifat seorang muslim. Akan tetapi untuk menjadi seorang ‘afif tidaklah mudah, akan tetapi hal ini bukan tidak mungkin, dan berikut ini akan kita sampaikan mengenai Hal-hal yang dapat menumbuhkan iffah, antara lain :
Pertama: Iman dan Taqwa
Pembaca yang budiman, Inilah asas yang paling fundamental di dalam memelihara diri dari segala hal yang tercela. Jiwa yang terpateri oleh iman dan taqwa merupakan modal yang paling utama untuk membentengi diri dari hal-hal yang dibenci oleh Allah dan RasulNya. Allah membrikan jaminan kepada orang-orang yang amal solehnya didasari oleh iman dengan kehidupan yang baik, Allah subhanahu Wata'ala berfirman: "Barang siapa mengerjakan amal soleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia orang beriman, maka sesungguhnya kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan" (An Nahl: 97)
Pembaca yang budiman, ayat ini menjelaskan kepada kita mengenai peranan iman dan amal sholeh dalam kehidupan kita, yang mana iman itu akan menjaga kita dari perbuatan hina. Dan manakala iman dan taqwa dalam jiwa seorang muslim telah rapuh, maka itulah pertanda mudahnya dirinya terjebak dalam kesesatan dan perbuatan tercela. Maka memelihara dan memupuk iman ini merupakan kewajiban yang harus mendapatkan prioritas utama.
2. Nikah
Pembaca yang budiman, Inilah salah satu rambu jalan yang jelas menuju kesucian diri. Bahkan nikah adalah sarana yang paling baik dan paling afdhol untuk menumbuhkan sikap iffah pada diri seorang muslim. Nikah adalah sesuatu yang fithri pada diri seorang muslim, di mana padanya Allah menjadikan rasa cinta serta kasih sayang dan kedamaian. "Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang." (Ar Rum: 21).
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda: "Hai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena hal itu lebih (dapat) menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena itu dapat mengobatinya." (Muttafaq Alaih)
Pembaca yang budiman, Ayat dan hadits tadi merupakan nash-nash yang jelas mendorong para pemuda dan pemudi untuk nikah, karena dengan menikah, maka ketenteraman hati, cinta dan kasih sayang dapat diraih oleh seorang muslim. Dan yang lebih utama lagi adalah bahwa nikah merupakan sarana yang dapat memelihara pandangan dan kehormatan diri setiap muslim.
3. Rasa Malu
Pembaca yang budiman, Malu adalah akhlak indah dan terpuji. Malu adalah sifat yang sempurna dan perhiasan yang anggun. Terlebih indah jika malu ini menghiasi seorang muslimah. Sifat malu selalu tumbuh dalam sikap yang baik dan memadamkan keinginan untuk berbuat tercela. Allah telah mentakdirkan sifat malu ini hanya ada pada manusia untuk membedakannya dengan hewan. Malu adalah potret pribadi yang agung dan terpuji.
Pembaca yang budiman, Tentang keutamaan malu ini Rasulullah Shallalhu Alaihi wa Sallam bersabda:
"Malu dan iman adalah bersaudara, maka jika salah satu dari keduanya itu dicabut, tercabut pulalah yang lainnya." (HR. Al Hakim, shohih)
"Sesungguhnya setiap agama itu mempunyai akhlak, dan akhlak Islam adalah rasa malu." (HR. Malik, Ibnu Majah, Al Hakim, shohih)
Pembaca yang budiman, demikianlah hadits-hadits Nabi shalallahu'alaihi wa sallam yang menjelaskan mengenai pentingnya sifat malu, dan keutamaannya. Namun sayangnya, masih banyak disekitar kita, terutama para muslimah yang kurang memperhatikan rasa malunya, mereka dengan bangganya berpakaian yang membuka aurat, berjalan dengan laki-laki asing yang bukan mahrom dan lain sebagainya, maka dari itu Pembaca yang budiman, kita memohon kepada Allah subhanahu Wata'ala agar memberikan hidayahnya kepada mereka, dan kitapun berharap agar diri kita, keluarga kita dan juga masyarakatpun senantiasa berada dalam bimbingan hidayahNya hingga akhir hayat, Amin.

Pembaca yang budiman, sampai disini pembahasan kita kali ini, semoga dengan mengetahui hal ini, maka iman kita menjadi bertambah, dan bertambah pula ketaatan kita kepada Allah subhanahu Wata'ala. Akhirnya saya ucapkan terima kasih atas kebersamaan dan partisipasi anda. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.

Syarat Sahnya Sholat


Pembaca yang budiman... yang dinamakan dengan Syarat merupakan salah satu unsur di mana ia menjadi pijakan sah dan tidaknya suatu ibadah. Dari sini maka ilmu tentang syarat sah shalat termasuk ilmu yang penting karena ilmu ini termasuk ukuran yang dengannya kita bisa mengetahui sah dan tidaknya shalat.
Dan Pembaca yang budiman... berikut ini kita akan sampaikan hal-hal yang menjadi syarat sahnya sholat.

A. Bersuci atau thaharah baik dari hadas maupun dari najis.
Pembaca yang budiman... Bersuci sebagai syarat sah shalat tidak diperdebatkan oleh para ulama.
Hal ini berdasarkan Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Maidah: 6).

Sabda Nabi saw,

لاَ يَقْبَلُ اللهَ صَلاَةَ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ .

“Allah tidak menerima shalat orang yang berhadas sehingga dia berwudhu.” (Muttafaq alaihi dari Abu Hurairah).

Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya : “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari penggelapan harta rampasan perang.” (HR. Jama’ah selain al-Bukhari).

Pembaca yang budiman... Ayat dan hadits-hadits ini menunjukan wajibnya bersuci sebelum sholat: yaitu bersuci hadats dan bersuci najis sebagai syarat sahnya shalat. Jika kedua hal tersebut tidak terpenuhi, maka sholatnya tidak sah.

B. Sudah Masuk Waktu sholat
Pembaca yang budiman... sholat adalah ibadah yang harus dikerjakan sesuai dengan waktunya, dan jika shalat sebelum waktu maka shalatnya harus diulang karena shalat sebelum waktu tidak sesuai dengan perintah, demikan pula dengan sholat yang sudah lewat waktu, maka hal inipun tidak sah.
Hal ini berdasarkan Firman Allah subhanahu Wata'ala :

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa`: 103).

akan tetapi pembaca yang budiman... jika terlewatnya karena lupa, maka dalam hal ini ia dimaafkan dan sholatnya tetap sah. hal ini berdasarkan Sabda Nabi shalallahu'alaihi wa sallam

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Barangsiapa lupa shalat maka hendaknya dia shalat jika dia mengingatnya, tidak ada kafarat selain itu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas).

C. Menghadap Kiblat
Pembaca yang budiman... Kiblat sebagai syarat sah shalat tidak diperdebatkan oleh para ulama karena dalil dari al-Qur`an dan sunnah yang menganggapnya sebagai syarat sah shalat jelas dan shahih, jadi…tidak sah shalat seseorang yang dengan sengaja mengambil arah selain arah kiblat atau membelakangi kiblat.
sebagaimana tercantum dalam Firman Allah subhanahu wa ta'ala, yang artinya: “Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai, palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144).

Adapun kiblat kita adalah ka’bah sebagaimana Imam al-Bukhari meriwayatkan dari al-Barra` bin Azib berkata, “Rasulullah saw shalat ke Baitul Maqdis selama enam atau tujuh belas bulan, beliau menyukai dihadapkan ke Ka’bah, maka Allah menurunkan, ‘Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit.’ Lalu beliau menghadap ke Ka’bah.”

Akan tetapi Pembaca yang budiman... menghadap kiblat tidak menjadi syarat sah, dalam keadaan-keadaan tertentu, diantaranya adalah:

1. Shalat sunnah musafir di atas kendaraan. Shalat ini boleh dilakukan oleh musafir dengan menghadap ke arah berjalannya kendaraan yang dikendarainya, ke arah kiblat atau tidak. Keringanan ini hanya untuk shalat sunnah bagi musafir saja. Adapun shalat wajib maka yang bersangkutan harus turun dari kendaraannya dan menghadap ke kiblat.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah saw shalat di atas kendaraannya ke arah manapun ia berjalan dan ketika beliau hendak shalat fardhu maka beliau turun dan menghadap kiblat.”

2. Dalam keadaan tidak mampu menghadap kiblat karena takut atau lainnya, maka shalat dilakukan dengan menghadap atau tanpa menghadap kiblat baik shalat fardhu maupun shalat sunnah.

Firman Allah, “Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (Al-Baqarah: 239).

3. Dalam keadaan tidak mengetahui arah kiblat. Seperti di tengah hutan, di tengah laut, dan sebagainya.
Pembaca yang budiman... inilah tiga kondisi yang menyebabkan seseorang boleh sholat tanpa harus menghadap kiblat.

D. Menutup aurat
Pembaca yang budiman... Menutup aurat termasuk syarat sah shalat, tidak sah shalat dengan aurat terbuka karena tidak terpenuhinya salah satu syaratnya.
Firman Allah, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf: 31).

E. Niat
Pembaca yang budiman... dalil bahwa niat itu sebagai syarat sah shalat adalah sabda Nabi saw yang berbunyi:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ – وَفِي رِوَايَةٍ : بِالنِّيَّاتِ – وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى .

“Sesungguhnya amal-amal itu dengan niat –dalam sebuah riwayat, dengan niat-niat- dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Pembaca yang budiman... hadits ini menegaskan bahwa setiap amal harus ada niatnya, dan Salah satu fungsi niat adalah sebagai pembeda antara satu shalat dengan sholat lainnya, contohnya: orang yang sholat di waktu shubuh tentu ia berniat melakukan sholat shubuh, bukan berniat sholat dhuha atau sholat tahajud. Dan perlu di tegskan juga, bahwa niat itu adalah amalan hati, sehingga tidak perlu diucapkan dengan lisan, seperti ungkapan usholli dan seterusnya, karena memang hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam.

Pembaca yang budiman... demikianlah syarat-syarat sholat yang harus kita penuhi sebelum kita melakukan atau mengerjakan ibadah Sholat, dan syarat ini berjumlah lima, jika satu saja tidak terpenuhi, maka secara otomatis sholat kitapun tidak sah, dan harus diulangi.

Pembaca yang budiman... mungkin hanya ini yang dapat kita sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga pembahasan ini dapat menambah pemahaman kita seputar masalah sholat, semoga semakin hari, sholat kita semakin baik. Dan tentunya kita berdoa agar ibadah sholat kita maupun ibadah kita yang lainnya diterima di sisi Allah subhanahu Wata'ala sebagai bekal pahala kita di akhirat nanti. Amin. Sekitan perjumpaan kita pada kesempatan kali ini, terima kasih atas kebersamaan anda, Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.




Jumat, 23 Oktober 2009

Kedudukan Shalat dalam Islam


Pembaca yang budiman.., Alhamdulillah kita dapat kembali berjumpa di kesempatan kali ini, dan Insya Allah kita akan kembali membahas masalah-masalah yang berkaitan fiqh, pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kita telah membahas masalah Thoharoh, dan Insya Allah kita akan lanjutkan di kesempatan kali ini untuk membahas kedudukan sholat dalam Islam.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.” (An-Nisaa’ :103)
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda,
“Islam dibangun atas 5 hal: Syahadat bahwa tidak ada ilah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah kemudian mendirikan shalat, menunai-kan zakat, melaksanakan hajji ke Tanah Haram (Makkah) dan shaum di Bulan Ramadhan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Pembaca yang budiman.., Ayat-ayat dan hadits ini menunjukkan tingginya posisi shalat dalam Islam dan sebagai salah satu rukunnya yang terpenting setelah syahadatain. Shalat juga merupakan amal yang paling afdhal setelah syahadatain, hal ini dikarenakan shalat adalah satu-satunya ibadah yang paling lengkap dan paling indah yang mengumpulkan berbagai macam bentuk ibadah. Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali diperintahkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam kepada seorang muslim.

A. Hukum Sholat
Shalat lima waktu hukumnya fardhu ‘ain berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’. Allah memfardhukan shalat di malam mi’raj dari langit ketujuh. Hal ini menunjukkan tingginya kedudukan dan kewajiban shalat.
Hadits-hadits yang menjelaskan tentang shalat 5 waktu beserta bilangan roka’atnya dan semua sifat gerakannya, telah mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Dan segala sesuatu yang dinukil secara mutawatir itu harus diterima oleh setiap muslim dan siapa pun yang menentang atau menolaknya, maka ia kafir. Inilah betapa pentingnya kedudukan sholat dalam islam.

B. Hukum Orang Meninggalkan Shalat Di Tinjau Dari Penyebabnya
1. Hukum meninggalkan sholat Karena Udzur, seperti tertidur , pingsan dan lupa termasuk mabuk.
Pembaca yang budiman.., Para ulama sepakat tentang udzur-nya orang yang ketiduran, sehingga lupa tidak mengerjakan shalat, atau dalam keadaan sadar, namun lupa mengerja-kannya, maka dalam kedua keadaan tersebut, ia wajib mengqadha’nya bila ingat, berdasarkan hadits nabi shalallahu'alaihi wa sallam ,
“Barangsiapa tertidur sehingga tidak mengerjakan shalat atau lupa, maka ia wajib mengqadha’nya ketika dia ingat. “ (H.R. Muslim)
Adapun orang yang pingsan, maka Menurut jumhur ulama berpendapat bahwa:
Orang pingsan Tidak wajib mengqadha’ berdasarkan hadits Ibnu Umar bahwa beliau pernah pingsan selama sehari semalam dan tidak mengqadha’ shalat-shalat yang ditinggalkannya. (H.R. Malik)
Dan Menurut syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah bahwa pendapat yang benar adalah tidak perlu mengqadha’nya bagi orang yang pingsan, adapun orang yang hilang akalnya karena bius maka dia harus mengqadha’ shalat yang ditinggalkannya karena pembiusan itu atas pilihannya pribadi.
2. Meniggalkan karena sengaja, dalam hal ini terbagi menjadi beberapa golongan yaitu;
Pertama: Orang yang meninggalkannya karena tidak tahu bahwa shalat itu wajib dikerjakan. Maka Orang tersebut tidak dihukumi sebagai kafir yang keluar dari Islam namun ia harus diberitahu tentang hukum meninggalkan shalat tersebut sampai menjadi jelas baginya.
Kedua: Orang yang menentang wajibnya shalat atas dirinya (yaitu shalat 5 waktu dan shalat jum’at), baik dia mengerjakan atau meninggalkannya, maka orang tersebut dihukumi sebagai kafir yang keluar dari Islam karena dia menentang sesuatu yang telah disepakati oleh al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’ kaum muslimin.
Para ulama mengecualikan orang-orang yang baru masuk Islam yang menentang wajibnya shalat, namun orang itu harus diberitahu sejelas mungkin, sehingga apabila setelah itu dia masih menentang, selanjutnya dia dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari agama Islam.
3. Orang yang meninggalkan sholat secara mutlak atau meninggalkan mayoritas sholatnya karena malas, namun tidak mengingkari kewajibannya. Maka orang seperti inipun dihukumi kafir Oleh para ulama.
Pembaca yang budiman, Dalil-dalil yang dipergunakan oleh para ulama dalam hal ini ialah sebagai berikut;
Firman Allah dalam surat at-Taubah : 11
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menuaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (Q.S.9:11)
Kemudian Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam ,
Dari Jabir bin Abdillah Radhiallaahu anhu Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “ Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah dengan meninggalkan shalat” (H.R. Muslim)
dalam hadits lain disebutkan “Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya sungguh dia telah kafir.” (H.R. Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa’i dan yang lainnya)
Pembaca yang budiman, Allah mensyaratkan dalam ayat ini bahwa taubatnya orang kafir yang ingin diterima oleh Allah harus disertai dengan mendirikan shalat dan menunai-kan zakat. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka orang tersebut tidak dianggap sebagai muslim.
Dan juga Pembaca yang budiman.., dalam hadits tersebut, Rasulullah menyebut kata-kata kufur dengan lafadh ma’rifah yang menunjukkan, bahwa kufur tersebut adalah kufur yang hakiki dan bukannya kufur duuna kufrin atau (kufur kecil).
Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut adalah kufur akbar yang mengeluarkan pelakunya dari (Islam). Demikianlah yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Adapun Pembaca yang budiman.., dalil dari perkataan para shahabat adalah banyak sekali, bahkan diriwayatkan dari 16 sahabat, di antaranya Umar bin Khaththab Radhiallaahu anhu , bahwa beliau berkata,
“Tidak ada bagian sedikit pun dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat’
Salah seorang tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq meriwayatkan pendapat para shahabat Nabi secara umum tentang orang yang meninggalkan shalat, beliau berkata,
“Para sahabat Nabi tidak pernah memandang suatu amalan pun yang bila ditinggalkan akan menyebabkan pelakunya menjadi kafir kecuali shalat.” (H.R. At-Turmudzi 2624)
Tetapi Pembaca yang budiman, perlu ditekankan lagi bahwa yang kafir dalam pembahasan ini adalah orang yang tidak sholat sama sekali, atau mayoritas sholatnya ditinggalkan. Sedangkan orang yang meninggalkan sholat hanya terkadang dan sesekali saja, maka ia tidak lantas dikatakan kafir, namun tetap ia mendapatkan dosa yang besar, hal ini sebagaimana dibahas panjang lebar dalam kitab Shahih Fiqh Sunnah.

Pembaca yang budiman.., Demikianlah pembahasan sepintas mengenai hukum orang yang meninggakkan shalat. Oleh karena itu, sebagai penutup, kita ingin berpesan kepada pembaca yang budiman, hendaklah kita perhatikan betul-betul ibadah yang satu ini dan kita peringatkan orang -orang yang meremehkan atau bahkan meninggalkannya karena dalih apa pun, sebab perbuatannya tersebut akan dapat membawanya kepada kekafiran yang nyata. Wallaahu a’lam.
Sumber: Shahih Fiqih Sunnah jil. 1





Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru