Minggu, 22 November 2009

Menjawab Syubhat bolehnya Nikah Mut’ah


Pembaca yang budiman, Mungkin sebagian kita pernah mendengar ada seorang muslimah mengidap penyakit kemaluan semacam spilis atau lainnya. Itu bukan sesuatu yang mustahil terjadi, kita tidak mengatakannya karena terjerumus ke dalam lembah hitam pelacuran, karena hal itu sangat jauh untuk di lakukan oleh mereka meskipun tidak mustahil, akan tetapi hal ini terjadi di sebabkan praktek nikah mut’ah atau nikah kontrak yang sesungguhnya telah dilarang dalam syariat Islam, yang mana nikah model ini membuat seorang wanita boleh bergonta ganti pasangan dalam nikah mut’ahnya.Mencermati fenomena yang sebenarnya sudah lama terjadi ini terutama di dunia kampus yang sudah kerasukan virus pemirikan nikah mut’ah, maka marilah kita berdoa semoga melalui pembahasan kali Roddu syubhat kali ini, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada kita menuju jalan yang lurus.

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan bahwa definisi dari Mut’ah itu sendiri berasal dari kata tamattu’, yang berarti bersenang-senang atau menikmati. Adapun secara istilah, mut’ah berarti seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah di tentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya, jika salah satunya meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mu’ah itu.

Pada masa awal perjalanan Islam, nikah mut’ah memang dihalalkan, sebagaimana yang tercantum dalam banyak hadits diantaranya:
Hadits Jabir bin Salamah: “Dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin ‘Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: Telah diizinkan bagi kalian nikah mut’ah maka sekarang mut’ahlah”. (HR. Bukhari 5117).
Namun Pembaca yang budiman, hukum ini telah dimansukh dengan larangan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menikah mut’ah. Adapun mengenai kapan dilarangnya? maka yang lebih rajih-Wallahu a’lam- bahwa nikah mut’ah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. Ini adalah tahqiq Imam Ibnul Qoyyim dalam zadul Ma’ad, kemudian Al-Hafidl Ibnu Hajar dalam fathul bari, dan juga Syaikh Al-Albani dalam irwaul Ghalil
Telah datang dalil yang amat jelas tentang haramnya nikah mut’ah, diantaranya:
Hadits Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu: “Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari Muslim).

Kemudian Hadits Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani Radiyallahu ‘anhu: “berkata: Rasululloh Shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah mut’ah pada waktu fathu makkah saat kami masuk Makkah kemudian beliau melarang kami sebelum kami keluar dari makkah. Dan dalam riwayat lain: Rasululloh bersabda: Wahai sekalian manusia, sesunggunya dahulu saya telah mengizinkan kalian nikah mut’ah dengan wanita. Sekarang Alloh telah mengharamkannya sampai hari kiamat, maka barangsiapa yang memiliki istri dari mut’ah maka hendaklah diceraikan” (HR. Muslim, dan Ahmad).
Dan juga masih banyak hadits-hadits shahih lainnya yang mengaharamkan nikah mut’ah.
Akan tetapi Pembaca yang budiman, meskipun sudah banyak dalil yang mengharamkan, tetap saja bagi Orang-orang yang berusaha untuk meracuni umat Islam, mereka membawa beberapa syubhat untuk menjadi tameng dalam mempertahankan tindakan keji mereka, adapun diantara Syubhat tersebut adalah
Pertama. Mereka berdalil dengan Firman Alloh Ta’ala: “Maka apabila kalian menikahi mut’ah diantara mereka (para wanita) maka berikanlah mahar mereka” (QS. An-Nisa: 24).
Pembaca yang budiman, perintah Allah untuk memberikan mahar bagi wanita yang dimut’ah dalam ayat ini, merupakan dalil yang mereka jadikan untuk membolehkan nikah mut’ah.
Adapun Jawaban Atas Syubhat ini adalah:
Memang sebagian ulama’ manafsirkan istamta’tum dengan nikah mut’ah, akan tetapi tafsir yang benar dari ayat ini apabila kalian telah menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka, maka berikanlah maharnya sebagaimana sebuah kewajiban atas kalian.

Dalam Tafsir Ath-Thabati, Imam Ath Thabari Berkata setelah memaparkan dua tafsir ayat tersebut: Tafsir yang paling benar dari ayat tersebut adalah: kalau kalian menikahi wanita lalu kalian berjima’ dengan mereka, maka berikanlah maharnya, karena telah datang dalil dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan haramnya nikah mut’ah.
Dan kalau kita menerima bahwa makna dari ayat tersebut adalah nikah mut’ah maka hal itu berlaku di awal Islam sebelum diharamkan. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam tafsir Al-Qurtubi dan Ibnu Katsir.
Kemudian, syubhat mereka yang lainnya adalah: Mereka mengatakan bahwa Sebagian para sahabat masih melakukan nikah mut’ah sepeninggal Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai umar melarangnya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, diantaranya:
Dari jabir bin Abdullah berkata: Dahulu kita nikah mut’ah dengan mahar segenggam kurma atau tepung pada masa Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa sallam juga Abu Bakar sampai umar melarangnya.(HR. Muslim).

Adapun Jawaban dari syubhat ini adalah, bahwa Riwayat Jabir ini menunjukkan bahwa beliau belum mengetahui terhapusnya kebolehan mut’ah. Selain itu, Berkata Imam Nawawi: Riwayat ini menunjukkan bahwa orang yang masih melakukan nikah mut’ah pada masa Abu bakar dan Umar belum mengetahui terhapusnya hukum tersebut. Ini bisa kita lihat dalam kitab Syarah Shahih Muslim, Fathul bari, dan Zadul Ma’ad.
Selain itu Pembaca yang budiman, terdapat pula syubhat dari salah seorang tokoh Nikah Mut’ah kontermporer: Ia mengatakan bahwa Tidak semua orang mampu untuk menikah untuk selamanya, terutama para pemuda karena berbagai sebab, padahal mereka sedang mengalami masa puber dalam hal seksualnya, maka banyaknya godaan pada saat ini sangat memungkinkan mereka untuk terjerumus ke dalam perbuatan zina, oleh karena itu nikah mut’ah adalah solusi agar terhindar dari perbuatan keji itu.

Adapun Jawaban atas Syubhat ini adalah:
Bahwasanya Ucapan ini salah dari pangkal ujungnya, cukup bagi kita untuk mengatakan tiga hal ini :
Pertama: bahwa mut’ah telah jelas keharamannya, dan sesuatu yang haram tidak pernah di jadikan oleh Allah sebagai obat dan solusi. Bahkan mut’ah itu sendiri adalah zina dan boleh jadi lebih parah dari sekedar zina.
Kedua: ucapan ini hanya melihat solusi dari sisi laki-laki yang sedang menggejolak nafsunya dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun kepada wanita yang dijadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsu syahwatnya, lalu apa bedanya antara mut’ah ini dengan pelacuran komersil??
Ketiga: islam telah memberikan solusi tanpa efek samping pada siapapun yaitu pernikahan yang bersifat abadi, dan kalau belum mampu maka dengan puasa yang bisa menahan nafsunya, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yang artinya: “Wahai para pemuda, barang siapa yang mampu menikah maka hendaklah menikah, karena itu lebih bisa menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, dan barangsiapa yang tidak mampu maka hendaklah dia berpuasa karena itu bisa menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari Muslim).

Demikianlah diantara syubhat-syubhat yang beredar di kalangan kaum muslimin mengenai nikah mut’ah atau kawin kontrak. Dan Alhamdulillah para ulama telah membrikan jawaban atas syubhat-syubhat tersebut, sehingga kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang sesat, sehingga kesimpulannya adalah, bahwa nikah mut’ah itu adalah pernikahan yang haram dan tidak sah, serta pelakunya tidak berbeda dengan orang yang berzina, kita berharap semoga Allah subhanahu Wata'ala selalu memberikan petunjuknya kepada kita, dan melindungi kita dari kesesatan.
Pembaca yang budiman, sampai disini kebersamaan kita di kesempatan kali ini, sampai jumpa kembali pada pertemuan berikutnya. Wallahu a’lam. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh




Menjawab Syubhat Rasionalis Liberalis


Pembaca yang budiman, Alhamdulillah, kita dapat kembali berjumpa denga anda di kesempatan kali ini, dan Insya Allah kita akan bersama-sama mengkaji dan memperdalam pemahaman keislaman kita, agar kita tidak mudah terjebah oleh syubhat dan pemahaman-pemahaman sesat yang menjerumuskan kita dalam kebinasaan dan menyimpangkan kita dari Shirotul Mustaqim.

Sebagai seorang muslim, tentu kita semua berkewajiban untuk beriman kepada Allah subhanahu Wata'ala dan Rasulnya, serta membenarkan dan meyakini apapun yang disampaikan kepada kita, dan ketika kita membaca ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, maka kewajiban kita ialah menerimanya, serta menundukan akal kita dengan wahyu tersebut. Akan tetapi pembaca yang budiman, hal seperti ini tidaklah dimiliki oleh para penentang Al Qur`an dan hadits Nabi dari golongan rasionalis dan liberalis, ini dikarenakan mereka telah memiliki seburuk-buruk pendahulu, yaitu Iblis la`natulloh. Mereka adalah pengusung bendera Iblis dan tentara syaithon. Mereka menolak, mencela, dan merubah ayat-ayat Al Qur`an sesuai dengan akal kosong mereka belaka. Sebagaimana perkataan pendahulu mereka, yaitu Iblis tatkala enggan sujud kepada Nabi Adam:
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah."
(Q.S. Shood: 76)
Selain itu Pembaca yang budiman, para pengikut iblis itu juga berani mengatakan bahwa, ayat Al Qur`an itu sudah tidak relevan lagi, sehingga tidak cocok dipakai di zaman sekarang.
Padahal Al Qur`an adalah mu`jizat Rosululloh sholallohu `alaihi wa sallam, Nabi akhir zaman, yang tetap dipakai hingga hari Kiamat.
Pembaca yang budiman, Lihatlah bagaimana pembangkangan Iblis yang diikuti para penolak Al Qur`an dan hadits Nabi yang mulia! Bahkan mereka menyatakan bahwa Iblis akan masuk surga, karena mereka berpendapat bahwa Iblis bertauhid kepada Allah secara sempurna, dimana ia hanya mau sujud kepada Alloh, dan tidak mau sujud kepada selainNya, termasuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam.

Demikian pula yang dikatakan oleh para misionaris dari golongan Ahli Kitab dalam rangka memurtadkan kaum Muslimin yang lemah agamanya. Mereka mengatakan, Mengapa kalian sujud menghadap Ka`bah? Bukankah Ka`bah itu hanyalah dinding yang berbentuk segi empat yang ditutupi kain? Berarti kalian pun menyembah dinding selain menyembah Alloh! Dan itu SYIRIK!
Inilah yang disebut dengan syubhat, dan ternyata Syubhat itu lebih berbahaya daripada maksiat. Mengapa?
Karena pelaku maksiat, ia secara sadar mengetahui bahwa apa yang ia lakukan adalah perbuatan dosa dan terlarang, yang dengannya ia pun takut akan azab diakhirat nanti. Sehingga ada harapan di hatinya untuk bertaubat di kemudian hari.
Adapun orang yang termakan syubhat ini, maka keimanannya akan digoncang sedahsyat-dahsyatnya sehingga akhirnya ia berpaling dari kebenaran, dan menjalani apa yang diperintahkan dalam syubhat itu. Dan parahnya, ia menganggap apa yang ada di dalam syubhat itu adalah suatu kebenaran (padahal kebalikannya). Sehingga orang-orang yang semacam ini sangat sulit untuk diharapkan taubatnya, kecuali Alloh menunjukinya ke jalan yang lurus. dan biasanya penyakit syubhat hanyalah menimpa orang-orang yang jahil terhadap syari’at.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam pemahaman keislaman kita, agar dapat menangkal syubhat-syubhat tersebut. Dan berikut ini akan kami sampaikan bantahan atas syubhat-syubhat tersebut
Adapun perkataan mereka tentang ketauhidan Iblis karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam, dan persangkaan para misionaris bahwa sujud menghadap Ka`bah adalah syirik, maka sebenarnya hal tersebut membuktikan kebodohan mereka dalam memahami agam Islam yang mulia ini. Mereka menggunakan akal untuk menipu manusia. Pembaca yang budiman, hendaknya kita ketahui bersama bahwa, sujud kepada Alloh adalah dengan cara mengikuti dan mengerjakan perintah-perintah-Nya, bukan malah membantahnya atau menolaknya. Sebagaimana firman Alloh:
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. An Nur: 51)
Perkataan : ”Kami mendengar dan kami patuh”. Itulah sebenarnya jawaban orang-orang mu`min tatkala Alloh memerintahkan mereka untuk sujud menghadap Ka`bah. Dan seyogyanya itu yang dilakukan oleh Iblis tatkala diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam.
Hal ini dikarenakan, ketika ia mengikuti seruan Alloh berarti sujud dan patuh kepada Alloh. Tidak dengan banyak bertanya dan membantah sebagaimana orang-orang rasionalis dan liberalis. Sebagai perumpamaan, jika seorang pemilik toko kain berkata kepada pegawainya, Pergilah kamu ke butik di depan sana!, tanyakan kepadanya jenis kain apa saja yang ia pesan kemarin, lalu catatlah dalam daftar list ini!
Maka pendengar yang mudiman, Tidak mungkin serta merta pegawai itu menolak perintah majikannya seraya berkata, Tidak! Saya tidak akan pergi dari toko ini, karena saya adalah pegawai toko ini, bukan pegawai toko butik itu!

Dan ini merupakan Suatu hal yang aneh, jika seorang pegawai menolak perintah atasannya tanpa dasar yang jelas seperti ini. Bukankah ia bekerja di sana untuk patuh kepada perintah majikannya? Jika dalam hal dunia seperti ini, kita diperintahkan untuk patuh, apalagi jika yang memerintahkan itu adalah Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk kita. Lalu apakah akal manusia bisa menyiasatinya? Tentu jabawannya adalah, tidak akan.
Bahkan Ali rodhiyallohu `anhu pernah berkata:
Seandainya agama ini dengan akal, tentu mengusap khuf atau (sepatu) itu lebih pantas di bagian bawahnya, (tidak sebagaimana sunnah Rosululloh). Namun demikianlah yang aku lihat dari Rosululloh yaitu beliau (mengusap khuf di bagian atasnya).


Kemudian pembaca yang budiman, hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa akal tidak akan mungkin menggapai `ilmu Alloh. Sebagaimana kebodohan Iblis yang sombong yang mengira bahwa api lebih baik dari pada tanah. Padahal api lebih banyak membawa sifat buruk daripada sifat baik sebagaimana ia memiliki sifat membakar lagi merusak. Sedangkan tanah memiliki banyak manfaat daripada bahaya, karena dari tanah muncullah tumbuhan yang menjulang tinggi, yang dimakan oleh hewan dan manusia. Tanah menyerap air untuk diminum manusia dan makhluk lainnya. Tanah disifati suci oleh Alloh serta dapat menghilangkan najis. Tanah dapat menghilangkan jasad bangkai dengan menguraikannya. Dan banyak lagi sifat-sifat tanah yang lebih baik dari pada api. Tapi adakah yang bisa mengambil pelajaran? Ya ada, yaitu orang-orang yang mau berfikir, dan menundukan akalnya dibawah wahyu Ilahi.

Pembaca yang budiman, demikianlah mungkin yang bisa kami sampaikan di kesempatan kali ini, semoga dengan penjelasan ini, pemahaman kita semakin bertambah, sehingga kita tidak mudah tertipu oleh propagandan dan upaya dari para pengikut syaitan yang ingin menyesatkan kita. Akhirnya, kami ucapkan terima kasih atas kesediaan anda membaca artikel ini. Wassalamu ’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



Syubhat Turunnya Allah subhanahu Wata'ala ke Langit Dunia


Sebagian besar kaum muslimin, khususnya yang mempelajari agamanya dan rajin shalat malam, meyakini bahwa shalat malam pada sepertiga malam yang terakhir dan berdo’a saat itu adalah waktu yang sangat baik dan berkah. Hal ini dikarenakan adanya informasi dari Rasulullah yang shahih. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga
malam terakhir. Dia berfirman, Siapa yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku,maka akan Aku ampuni. HR. Bukhari Muslim

Namun Pembaca yang budiman, terlepas dari itu, mereka berbeda-beda memahami hadits tersebut. Ada yang berkeyakinan keistimewaan waktu itu karena rahmat Allah, ada yang berkeyakinan bahwa saat itu Allah benar-benar turun ke langit dunia sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan-Nya, bahkan ada yang tidak percaya sama sekali. Perbedaan ini disebabkan adanya syubhat dalam memahami hadits itu. Apa saja syubhat itu dan bagaimana jawabannya? Nah inilah yang Insya Allah akan kami ulas pada kesempatan kali ini.
Adapun diantara Syubhat tersebut adalah:

Mereka mengatakan,
Kalau kita tetapkan bahwa Allah punya sifat turun, itu berarti Allah serupa dengan makhluk, padahal ini bertentangan dengan ayat,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah. (QS. Asy-Syura: 11).

Adapun jawabannya adalah:
Bahwasanya Kaidah kita dalam masalah Tauhid asma wa sifat adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, atau Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam dalam haditsnya yang shahih tanpa menyerupakan sesuatupun dan mensucikan-Nya tanpa mengingkari sifat-Nya, sebagaimana firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha
Mendengar dan Melihat. (QS. Asy-Syura: 11).

Firman Allah yang berbunyi, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk

Adapun Firman-Nya yang berbunyi, “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” maka jelas sekali bahwa hal ini, merupakan bantahan terhadap golongan yang merubah makna sifat dan mengingkarinya. Jadi, kewajiban kita adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan meniadakan apa yang Allah subhanahu Wata'ala tiadakan, tanpa tahrif atau (merubah makna) dan ta’thil atau (mengingkarinya).

Pembaca yang budiman, Inilah manhaj atau (metode, cara) selamat yang harus ditempuh oleh setiapmuslim, karena prinsip ini dibangun atas dasar ilmu dan kelurusan dalam keyakinan

Jadi kesimpulannya, kita wajib menetapkan sifat “turun” bagi Allah sebagaimana
dikhabarkan oleh Nabi yang muli,a tanpa menyerupakan-Nya dengan turunnya makhluk. Apabila ada yang mengingkarinya dengan alasan, “Kalau kita tetapkan berarti kita menyerupakannya dengan makhluk” maka ini adalah teori atau pernyataan yang bathil.

Maka sekali lagi, menetapkan sifat turun bagi Allah bukan berarti kita menyerupakan-Nya dengan makhluk, tidak ada seorang ulama ahlussunnahpun yang berpaham demikian, bahkan kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

Apabila seseorang menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya, seperti mengatakan istiwa’ Allah serupa dengan istiwa’ makhluk-Nya, atau turunnya Allah serupa dengan turunnya makhluk, maka dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), sesat dan menyesatkan, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah serta akal menjelaskan bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk dalam segala segi.

Pembaca yang budiman, inilah jawaban dari syubhat seputar penolakan turunnya Allah subhanahu Wata'ala ke langit dunia, dan mudah-mudahan dengan mengetahui syubhat ini lalu mengetahui bantahannya, maka keimanan kita akan bertambah, dan semoga pemahaman kitapun akan senantiasa Istiqomah diatas pemahaman yang benar.

Mungkin hanya ini yang dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, kurang lebihnya mohon maaf, dan terima kasih atas kebersamaan serta partisipasi anda, sampai jumpa kembali di kesempatan berikutnya. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh



Syubhat Pengingkar Turunnya Al-Masih Isa


Pembaca yang budiman, ketika kita Mengkaji hal-hal yang sifatnya ghaib, seperti turunnya Nabi Isa 'alaihissalam di akhir zaman, tentu tak luput dari pro dan kontra. Karena sebagai bagian dari ranah keimanan, tentu itu semua tak bisa ditelisik hanya dengan mengandalkan indera manusia yang terbatas. Siapa yang tak mampu menundukkan akalnya di bawah kendali keimanan dan dalil yang shahih, niscaya ia akan berada di barisan pasukan pengingkar.

Di antara bentuk penyimpangan aqidah adalah pengingkaran atau tidak mengimani akan turunnya Isa ‘alaihissalam. Pengingkaran ini bisa dilakukan secara individual semacam yang dilakukan oleh Mahmud Syaltut, guru besar Universitas Al-Azhar Mesir, atau secara kelompok seperti sebagian kelompok Mu’tazilah serta orang-orang filsafat dan atheis.

Insya Allah pada rubrik Roddu Syubhat kali ini, kita akan menyebutkan beberapa syubhat berkaitan dengan pengingkaran turunnya Isa alaihissalam di akhir zaman, disertai dengan jawabannya.

Di antara alasan dan syubhat mereka dalam mengingkari turunnya Isa adalah:
Pertama: Bahwa hadits-hadits mengenai turunnya nabi isa itu palsu dan tidak masuk akal.
Adapun Jawabannya adalah: Bahwa hadits-hadits dalam hal ini sangat banyak. Bahkan para ulama menggolongkannya sebagai hadits mutawatir. Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri mengatakan bahwa jumlahnya mencapai lebih dari lima puluh hadits. Mayoritasnya shahih dan sebagian lagi hasan. Adapun anggapan mereka bahwa hadits-hadits ini tidak masuk akal, maka Asy-Syaikh At-Tuwaijiri juga telah menyanggahnya. Beliau mengatakan: “Adapun nalar yang lurus dan akal sehat yang selalu berjalan bersama kebenaran ke mana kebenaran itu mengarah, niscaya tidak akan ragu-ragu dalam menerima kebenaran yang datang dari Kitabullah atau yang secara mutawatir datang dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal turunnya Al-Masih (Isa) di akhir zaman. Tapi nalar yang melenceng serta akal yang rusak, tidak akan segan-segan menolak kebenaran. Sehingga akal yang rusak serta pengusungnya itu tidak perlu diperhitungkan.”

Kemudian Pembaca yang budiman, Syubhat yang kedua adalah: Turunnya Isa itu mustahil, karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi dengan nash Al-Qur`an.

Adapun Jawabannya adalah: Bahwa turunnya Isa di akhir zaman tidaklah membawa syariat yang baru. Tidak pula berhukum dengan Injil. Namun berhukum dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ia menjadi salah satu umat ini. Jadi, Turunnya Isa tidak bertentangan dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Rasul terakhir adalah Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam. Hal ini sebagaimana Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dengan sanad yang shahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi mengatakan:


إِنَّ الدَّجَّالَ خَارِجٌ -فَذَكَرَ الْحَدِيْثَ وَفِيْهِ- ثُمَّ يَجِيْءُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ مُصَدِّقاً بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّم وَعَلَى مِلَّتِهِ، فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ ثُمَّ إِنَّمَا هُوَ قِيَامُ السَّاعَةِ


“Bahwa Dajjal pasti keluar –lalu beliau melanjutkan haditsnya, dalam hadits itu–. Lalu datanglah Isa bin Maryam membenarkan Muhammad dan di atas agama Muhammad, kemudian setelah itu tegaklah hari kiamat.” (HR. Ath-Thabarani)

Syubhat yang selanjutnya adalah: Seandainya turunnya Isa itu termasuk prinsip iman, tentu itu akan disebut dalam Al-Qur`an dengan tegas.
Jawabannya yaitu: Semua yang telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu sesuatu yang telah terjadi atau yang akan terjadi adalah wajib kita imani. Dan ini merupakan realisasi dari syahadat Muhammad Rasulullah. Dan realisasi ini termasuk prinsip iman, di mana seseorang tidak menjadi seorang mukmin yang terlindungi darah dan hartanya hingga merealisasikan persaksian kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan sabda beliau:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيُؤْمِنُوا بِي وَبِمَا جِئْتُ بِهِ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang benar kecuali Allah, serta beriman denganku dan dengan apa yang aku bawa. Bila mereka melakukan itu maka mereka telah melindungi dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya. Dan hisabnya diserahkan kepada Allah.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dan telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau memberitakan akan munculnya Imam Mahdi di akhir zaman, keluarnya Dajjal, serta turunnya Isa. Sehingga wajib mengimani hal itu sebagai bentuk bukti pembenaran terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut kemauan hawa nafsunya.” (An-Najm: 3-4)

Dan sebagai pengamalan terhadap firman-Nya:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, maka sangat jelas bahwa pada hakikatnya, setiap yang diucapkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam pun termasuk wahyu yang bersumber dari Allah subhanahu Wata'ala. Maka apa pun yang dikabarkan oleh beliau wajib kita Imani, dan ini merupakan salah satu prinsip keimanan dan kebenaran syahadat kita. Maka kesimpulannya adalah: kita wajib mengimani akan turunya Isa alaihissalam di akhir zaman nanti, beliau turun bukan sebagai nabi, akan tetapi sebagai pengikut Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam, serta beliaupun akan mematahkan salib-salib yang disembah oleh kaum nasrani, serta menyeru mereka untuk mengikuti syari’at Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam.

Demikianlah diantara syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh orang-orang yang lebih mengedepankan akal mereka dari pada wahyu, dan alhamdulillah, syubhat-syubhat mereka sudah terjawab, dan memang sebenarnya setiap syubhat mudah untuk dipatahkan jika kita memiliki keilmuan yang mendalam, hal ini dikarenakan, syubhat adalah sesuatu yang muncul dikarenakan kurangnya ilmu atau pemahaman terhadap Islam yang benar, Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam ilmu-ilmu agama Islam ini, agar keimanan kita semakin kuat dan tidak mudah diragukan oleh orang-orang memang bertujuan untuk menjauhkan Ummat islam dari agamanya.

Pembaca yang budiman, sampai disini pertemuan kita, semoga pembahasan kali ini bermanfaat, Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.



Menjawab Syubhat Keyakinan Reinkarnasi

Pembaca yang budiman, Dekade terakhir ini banyak bermunculan berita dan desas-desus yang mengabarkan bahwa ada sebagian orang yang bisa bangkit dan kembali ke alam dunia sebelum datangnya hari kiamat; biasa diistilahkan dengan “reinkarnasi” . Maka muncullah gejala adanya ketakutan kepada mayat, takut kepada pocong, takut kepada vanpire atau dracula. Padahal semua ini adalah keyakinan batil yang teradopsi dari keyakinan orang-orang kafir. Keyakinan ini telah dibatalkan oleh Allah -Azza wa Jalla- di dalam Al-Qur’an !!

Untuk lebih jelasnya, Insya Allah, pada rubric Roddu syubhat kali ini, kami akan mencoba untuk menyampaikan di kesempatan kali ini mengenai bantahan islam terhadap reinkarnasi.
Adapun yang dimaksudkan dengan Reinkarnasi adalah keyakinan bahwa ada sebagian orang bisa bangkit dan kembali ke alam dunia ini sebelum datangnya hari kiamat.
Pembaca yang budiman, Aqidah reinkarnasi ini ternyata juga diyakini dan disokong oleh sekte sesat Syi’ah-Rofidhoh yang kini bermarkas di Iran. Ini bisa kita lihat dari referensi yang ditulis oleh pemimpin-pemimpin mereka yang menetapkan aqidah ini. Sebagai contoh -bukan pembatasan-, adalah sebagai berikut:
Tokoh Syi’ah, yang bernama Al-Hur Al-Amily ketika menukil dalil tentang roj’ah atau (reinkarnasi), ia berkata bahwasannya “Sudah menjadi Kesepakatan seluruh orang-orang Syi’ah Imamiyyah, dan Itsna Asyariyyah tentang meyakini kebenaran roj’ah atau (reinkarnasi). Hal ini bisa kita Lihat dalam Al-Iqozh min Al-Haj'ah oleh Al-Amiliy
Ucapan Al-Amiliy ini amat jelas dalam menyokong pemikiran dan aqidah reinkarnasi, bahkan ia menukil adanya kesepakatan di antara mereka tentang adanya keyakinan reinkarnasi dalam sekte mereka yang menyimpang, yakni Syi’ah-Rofidhoh. Oleh karenanya Pembaca yang budiman, kita seorang muslim, harus berhati-hati dan mewaspadai mereka.
Selanjutnya Pembaca yang budiman, kita akan coba menelusuri Sebab Kemunculan aqidah Reinkarnasi dalam Tubuh Syi’ah-Rofidhoh
Sebagai ummat islam, hendaknya kita menyadari bahwa aqidah reinkarnasi ini menyelusup ke dalam agama Syi’ah-Rofidhoh karena adanya pengaruh dan usaha yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagai bukti, Abdullah bin Saba’, yaitu seorang tokoh Yahudi dan sebagai perintis pertama agama Syi’ah-Rofidhoh awalnya pura-pura masuk Islam. Kemudian Aqidah reinkarnasi ini disusupkan untuk melemahkan aqidah tentang hari akhir.
Selain itu, Perlu diketahui bahwa Abdullah bin Saba’ ini pernah menyatakan akan kembalinya atau terlahirnya kembali Nabi shalallahu'alaihi wa sallam ke alam dunia, demikian pula Ali. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam Mas’alah At-Taqrib baina Ahlis Sunnah wa Asy-Syi’ah karya Dr.Nashir bin Abdullah Ali Al-Qifary.
Pembaca yang budiman, selanjutnya kita akan menjelaskan Sisi Kebatilan Aqidah Reinkarnasi
Aqidah reinkarnasi merupakan aqidah batil yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ atau (kesepakatan) para salafushsholih, (yaitu, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, para sahabat, dan pengikutnya) sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita.
Mari kita perhatikan firma Allah subhanahu Wata'ala:
“Dia (orang kafir yang sekarat) berkata,” Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya itu adalah perkara yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mu’minun: 99-100).
Pembaca yang budiman, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- saat menafsirkan ayat-ayat ini, beliau membawakan beberapa ayat tentang tidak bisanya seseorang mengalami reinkarnasi atau (kembali) ke dunia. Kemudian beliau berkata, “Jadi, Allah -Ta’ala- telah menyebutkan bahwa mereka meminta kembali ke dunia, maka mereka tak dipenuhi keinginannya ketika sekarat, pada hari kebangkitan, hari mahsyar, ketika dihadapkannya para makhluk kepada Allah Al-Jabbar, dan ketika mereka digiring ke neraka, sedang mereka berada dalam kepungan siksa neraka Jahim”.
Kemudian Pembaca yang budiman, Sudah banyak Pernyataan dan Pengingkaran Ulama terhadap Aqidah Batil ini
Ketika munculnya paham sesat ini, maka para ulama Ahlus Sunnah dari zaman ke zaman memberikan pernyataan dan pengingkaran terhadap aqidah reinkarnasi ini.
Dalam kitab Syarhus Sunnah, Al-Imam Abul Hasan Al-Barbahariy-rahimahullah- berkata dalam menjelaskan batilnya aqidah roj’ah atau (reinkarnasi), “Suatu bid’ah yang telah nampak kekafirannya. Barangsiapa yang menyatakan adanya reinkarnasi, maka ia kafir kepada Allah, tanpa ada keraguan. Barangsiapa yang berkeyakinan reinkarnasi, dan berkata, “Ali bin Abi Tholib masih hidup, dan akan kembali sebelum hari kiamat, dan juga Muhammad bin Ali, Ja’far bin Muhammad, dan Musa bin Ja’far; mereka akan berbicara tentang imamah atau (kepemimpinan), dan bahwa mereka mengetahui perkara ghaib, maka waspadailah orang-orang yang berkeyakinan seperti ini, karena mereka adalah orang-orang kafir kepada Allah Yang Maha Agung”.
Selain itu Pembaca yang budiman, Abul Hasan Muhammad bin Ahmad Al-Malthiy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata, “Demikian pula tentang keyakinan mereka dalam masalah reinkarnasi telah didustakan oleh Al-Qur'an , bahwa Allah subhanahu Wata'ala terlah berfirman:
“Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS.Al-Mu’minun : 99-100)

Dalam kitab At-Tanbih wa Ar-Rodd dijelaskan, bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa para penghuni kubur tak akan dibangkitkan (dari kuburnya) sampai hari kebangkitan. Jadi, barangsiapa yang menyelisihi hukum Al-Qur’an ini, maka ia sungguh telah kafir.dan selain mereka, masih banyak lagi ulama yang mengkafirkan aqidah reinkarnasi.

Jadi , reinkarnasi merupakan aqidah yang berbahaya bagi iman seseorang, sebab ia merupakan bentuk pendustaan ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang tidak bisanya seorang kembali ke alam dunia sebelum terjadinya hari kiamat.

Terakhir, kami nasihatkan kepada seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dan mewaspadai mereka , jangan sampai tertipu dengan mereka dan takjub kepada mereka sehingga menjadikan mereka sebagai teman atau guru. Begitupun anak-anak kita harus diawasi dan diberikan pengarahan, hal ini dikarenakan saat ini sudah sangat banyak tayangan-tayangan televise, terutama film-film kartun yang mengandung akidah reinkarnasi yang kufur ini, diantaranya adalah film Avatar, Dragon ball, dan lain-lain.





Menjawab Syubhat Teori Relativisme Kebenaran

Pembaca yang budiman, Insya Allah kita akan mengupas mengenasi syubhat faham relativisme kebenaran.

Paham paham relativisme kebenaran telah menjadi tren dan sering kali dijadikan senjata yang dihunus oleh para aktivis liberal dalam membantah metode pe-mahaman terhadap ajaran Islam dari para ulama terdahulu atau (salafush shalih) yang telah mereka anggap kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. sehingga Sudah tidak mengherankan apabila dalam ajang diskusi dan perdebatan, para aktivis liberal sering menolak penjelasan dan penafsiran ayat al-Qur’an maupun al-Hadits dari lawan debat mereka dengan lontaran kalimat : ‘itukan menurut pema-haman anda’, atau ‘yang saya pahami tidak seperti apa yang anda katakan’, dan kalimat lain sejenis yang menggambarkan bahwa menurut mereka penafsiran agama yang dilakukan oleh para ulama tidaklah identik dengan klaim kebenaran yang harus diikuti, karena menurut mereka kebenaran itu sendiri adalah sesuatu yang relatif, tidak mutlak atau absolut. Sehingga setiap orang berhak untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan logika dan alur fikirannya masing-masing. Dalam teori relativisme ini, Setiap orang bebas memilih bentuk, atau bahkan membentuk sendiri, bahkan membaut cara beragama masing-masing. Bagi penganut faham relativisme ini tidak penting bagaimana dan dengan cara apa seseorang melaksanakan ajaran agama yang diyakininya, karena menurut mereka kebenaran itu relatif, sehinnga jika ada seseorang menganggap bahwa Syirik itu dilarang, maka merekapun langsung mengatakan : itu kan menurut dia, menurut orang lain belum tentu...

Pendengar yang budiman, dampak pemahaman seperti ini Pada akhirnya setiap orang dianggap sah-sah saja mem-buat tata aturan sendiri, termasuk dalam semua aspek beragama sekalipun, dengan membuat pola yang dia yakini se-bagai kebenaran. Mereka merasa tidak perlu lagi terikat pada syariat yang di-ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadilah mereka –dengan demikian- se-bagai syari’ atau (penentu dan pembuat sya-riat), yang tidak terikat pada syariat apapun, kecuali syariat yang mereka buat dan ramu itu. Maka dengan demikian merekapun sering mengatakan bahwa : Jalan boleh berbeda yang penting tujuannya sama.

Pendengar yang budiman, dalam menghadapi fenomena seperti ini, maka semestinya kita terus waspada dan mengambil langkah antisipatif dalam meng-counternya. Apalagi ketika konsep pemikiran relativisme ini di-sebarluaskan kepada lapisan grass root atau masyarakat luas, dida’wahkan dengan sangat masif atau kuat, dengan berbagai pola yang sangat destruktif atau (sangat menghancurkan dan merusak), selain itu usaha mereka pun didukung oleh puluhan media cetak dan elektronik serta suntikan dana besar-besaran dengan membangun lem-baga-lembaga propaganda, merekapun banyak menerbitkan buku-buku dan segenap upaya yang sangat sistematis. Ironisnya pula, para pengusung faham relativisme ini bukanlah ‘orang sem-barangan’, tetapi mereka adalah para tokoh kunci dan pimpinan perguruan tinggi atau institusi Islam yang dihormati dan dianggap me-miliki kredibilitas dalam masalah agama.

Pendengar yang budiman, tentunya tidak cukup jika kita hanya mengetahui bahwa faham relativisme ini adalah suatu faham yang sesat, kitapun hendaknya bisa menjelaskan kepada kaum muslimin mengenai bagaimana prinsip-prinsip dan tolok ukur yang tepat untuk menilai suatu perkara, apakah itu benar atau salah.

Dan berikut ini kita akan jelaskan bahwasannya Hanya Islamlah yang benar, hal ini dikarenakan Islam adalah Agama yang telah Allah sesuaikan dengan kebutuhan makhluknya. Karena sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Allah telah menciptakan alam se-mesta beserta isinya dengan sangat sem-purna dan teratur. Seluruh makhluk cip-taan-Nya juga tersusun dengan pola dan sistem yang sangat sempurna, oleh karena itu, maka hanya aturan dan syari’at Allah sajalah yang pantas dijadikan pedoman hidup bagi setiap ciptaanNya, dan syari’at Allah ini tiada lain adalah syari’at Islam.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran: 19).

Dan di ayat lainnya Allah pun berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).
Pendengar yang budiman, Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Dan Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau mencari agama diluar islam, atau membuat pola dan aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, maka pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.

Dan untuk menyampaikan agamaNya yang lurus ini kepada manusia, maka Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap zaman, dan rasul terakhir adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pendengar yang budiman, Allah telah meng-utus Rasul-Nya sebagai basyir atau (pemberi kabar gembira) juga sekaligus sebagai nadzir atau (pemberi peringatan). Kabar gem-bira berupa jannah dan kenikmatannya –di akhirat kelak- bagi mereka yang me-ngikuti jalan-Nya, dan peringatan akan neraka dan siksaannya bagi para penyim-pang dan pembangkang yang menyelisihi JalanNya.

Adapun Untuk mengetahui Jalan kebenaran yang harus diikuti dan jalan kebathilan yang harus dijauhi itu telah dengan jelas diterangkan Allah melalui wahyu-Nya, baik beruupa al-Qur’an maupun hadits Rasulullah.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, dimana ia berkata:
“Rasulullah telah wafat meninggalkan kami, dan tidak seekorpun burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara, beliau pasti telah mene-rangkan ilmunya kepada kami. Abu Dzar berkata: Beliaupun telah bersabda: “Tidak tersisa sedikitpun sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga, dan men-jauhkan kalian dari neraka, sungguh pasti telah dijelaskan kepada kalian”. (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani)

Pendengar yang budiman, Dari penjelasan ayat dan hadits yang tadi telah kita sampaikan menunjukan dengan sangat jelas bahwa pemahaman para pengusung liberalisme dan pluralisme sangatlah menyesatkan. Mereka meyakini adanya nilai-nilai kebenaran diluar Islam, bahkan agama berada di jalan yang benar.

Pendengar yang budiman, Mereka, para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya, pasti akan senantiasa berada dalam kesempitan hidup, akibat berpaling dari hidayah-Nya. Mereka tidak pernah sampai pada keimanan, karena senantiasa diliputi keraguan akan kebenaran Islam, dan ini merupakan akibat dari Sikap Skeptis atau sikap kurang percaya mereka kepada dalil sehingga menjadikan mereka selalu terombang ambing, mengejar fatamorgana kebenaran yang tak akan pernah mereka dapatkan. Sehingga telah hilanglah dari diri mereka keimanan kepada wahyu Allah dan syariat Rasul-Nya, dan yang ada pada diri para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya hanyalah penghambaan kepada akal dan hawa nafsu mereka.

Pendengar yang budiman, demikianlah yang mungkin dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, semoga penjelasan ini dapat memberikan pencerahan dan membuka cakrawala khazanah keilmuan kita, sehingga kita tidak mudah tertipu dengan propaganda dan teori-teori sesat yang senantiasa dilontarkan oleh orang-orang yang memiliki kebencian dalam hatinya terhadap islam. Sampai disini kebersamaan kita kali ini. Terima kasih atas kebersamaan dan partisipasi anda. wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



Menjawab Syubhat Tanzhim atau Organisasi dalam dakwah adalah bid’ah

Pembaca yang budiman, Salah satu dakwaan aneh dari para tokoh kaum Zhahiriyyah atau tekstualis dari ummat ini, di antaranya adalah bahwa Islam tidak membenarkan tanzhim atau (struktur organisasi) dalam berdakwah, membuat tanzhim menurut mereka adalah hal bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi As-Salafus Shalih, sehingga menurut mereka tanzhim atau membuat organisasi dalam dakwah harus ditolak sejauh-jauhnya & para pelakunya yang menggunakan tanzhim dalam dakwah mereka dianggap Ahli Bid’ah sehingga harus di-tahdzir. Inna liLLAAHi wa inna ilaihi raaji’uun..

Tentunya dakwaan ini keluar tiada lain karena penyakit syubhat yang disebabkan oleh minimnya ilmu dan pemahaman, dan pernyakit syubhat ini hanya bisa diobati dengan memperbanyak belajar ilmu syar’Insya Allah. dan Insya Allah di pertemuan kali ini, kita akan mencoba untuk membantah syubhat tersebut.

Suatu hal yang hendaknya kita fahami bahwa Tanzhim dalam aktifitas dakwah adalah merupakan sebuah hal yang bersifat dharuriy atau (tidak bisa tidak) dalam fiqh, berdasarkan kaidah ushul-fiqh:
Maa laa yatimmul waajib illa bihi fahuwa waajib, yang artinya (suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka yang lain itu menjadi wajib pula hukumnya).

Selain itu Pembaca yang budiman, jika kita cermati secara logika, jangankan untuk berdakwah, untuk memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut kita saja, tidak mungkin tercapai tanpa adanya tanzhim, coba anda bayangkan jika tidak ada pabrik pupuk, perusahaan cangkul, perusahaan pestisida, pasar, dan sebagainya. Apakah mungkin nasi itu bisa mencukupi untuk seluruh bangsa Indonesia ini?!
Nah…Jika sekedar untuk urusan perut saja membutuhkan sebuah tanzhim atau system yang terorganisir, maka apatah lagi dalam urusan Iqamatuddin??

Ikhwah wa akhwat rahimakumuLLAAH, membuat tanzhim dalam gerakan dakwah merupakan sebuah (hatmiyyah) atau kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar & ditunda-tunda lagi, baik berdasarkan dharuriyyah-fiqhiyyah tadi, dan juga berdasarkan sunnah-kauniyyah (yaitu bahwa alam semesta ini merupakan sebuah nizham-’alamiyy atau keteraturan, yang semuanya menempati posisi & fungsi yang berbeda-beda.

Sebenarnya logika sehat sederhana tadi sudah cukup bagi orang yang berakal untuk menunjukkan urgensi atau pentingnya organisasi dalam dakwah di era modern ini. Namun sebagaimana biasanya, maka kelompok zhahiriyyun-ghullat atau (tekstualis-ekstrem) itu tidak akan mau menerima kecuali bil-lughati qawmihim yaitu (hanya dengan bahasa kaumnya), maka Pembaca yang budiman, supaya kita tidak dituduh ‘aqlaniyyin atau (kelompok yang menuhankan akal), maka kita juga akan menunjukkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih tentang Masyru’iyyatu Tanzhim fid-Dakwah Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah, yaitu (Dalil-Dalil disyariatkannya tanzhim dalam Dakwah di Era Modern).

Di antara dalil disyari’atkannya tanzhim dalam dakwah adalah sebagai berikut:
Pertama, Hendaknya kita fahami, bahwa Tanzhim atau Amal jama’i adalah suatu amal yang telah diterapkan oleh Rosululloh Shallallohu `Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya dalam berda`wah. Mereka bergerak berda`wah di bawah komando Rosulullah Shallallohu `Alaihi wa Sallam.

Rosulullahlah yang mengirim mereka ke Habasyah, beliau pulalah yang mengangkat para naqib untuk Anshar dan mengirim utusan-utusan da`wah yang banyak sekali, baik sebelum maupun sesudah hijrah. Rosu-lullah Shallallohu `Alaihi wa Sallam telah menda`wahkan para kabilah sambil meminta mereka untuk mengawal da`wah dan masih banyak lagi praktek-praktek amal jama’I dengan keteraturannya yang dikerjakan oleh beliau.

Kemudian Pembaca yang budiman, alasan kedua, bahwasannya Da`wah adalah suatu amal kebajikan dan ketaqwaan bahkan amal keba-jikan yang terbesar, oleh karena itu da`wah termasuk pada perintah yang terkandung di dalam ayat berikut:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (Mengerjakan) kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.Dan bertaqwalah kalian pada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksanya”. (QS. Al Maidah (5): 2)

Pembaca yang budiman, dalam Taisir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan” hal 182 disebutkan bahwa, Dalam rangka memaksimalkan pelaksanaan perintah ta’awun di ayat ini, kita dapati ta’awwun yang terorganisir dan terpimpin adalah bentuk yang terbaik. itulah yang dimaksud dengan amal jama’i dalam berda`wah.

Selanjutnya Pembaca yang budiman, Da`wah adalah amal nushroh atau (membela agama Alloh Subhanahu wa Ta`ala) karena tujuan da`wah adalah menegakkan hak-hak Alloh Subhanahu wa Ta`ala.
Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Alloh sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikut-pengikutnya yang setia: ”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (Untuk menegakkan Agama) Alloh? Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ”Kamilah penolong-penolong agama Alloh!”. Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir maka kami dukung orang-orang yang beriman atas musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. As Shaf (61): 14)


Pembaca yang budiman, di kitab Al Jami` Li Ahkam Al Qur`an dijelaskan bahwa, Pelaksanaan nushroh atau menolong agama Allah yang terdapat dalam ayat tersebut, pasti akan mempunyai musuh yang menghadang. Bagai-mana kita harus menghadapi mereka tanpa amal jama’i sedangkan mereka bersatu dalam amal-amal jama’I yang terorganisir?. Kemudian Pembaca yang budiman, Di ayat yang berikutnya Alloh Subhanahu wa Ta`ala telah memuji hamba-hamba-Nya yang bersatu teguh dalam perjuangan dengan menggambarkan mereka seolah-olah bangunan yang kokoh.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. As Shaf (61): 4)

Demikianlah Para pembaca rohimakumulloh, sehingga berdasarkan dalil-dalil tersebut, dapat kita simpulkan bahwa tegaknya Al-Jama’ah merupakan dharurah-syar’iyyah dalam menggapai tujuan dakwah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak hanya dengan kerja sendiri-sendiri dan hanya mengharapkan dari tarbiyyah & tashfiyyah saja, melainkan memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa As-Salafus Shalih pasca generasi sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka semua- tidak membuat tanzhim, maka kita jawab bahwa dimasa mereka sudah ada Al-Jama’ah & Al-Khilafah, maka tidak perlu dan tidak boleh hukumnya membuat kelompok baru yang berbeda dari Jama’ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak ada Khilafah, tidak ada Al-Jama’ah & tidak ada Al-Hukumah atau ahlul hal wal ‘aqd, maka tiada jalan lain kecuali membentuk & mendirikan jama’ah-jama’ah dakwah.




Benarkah Mustafa Kamal adalah Pembaharu Tuurki

Pembaca yang budiman, Setiap buku pelajaan sejarah di negara kita selalu dituliskan bahwa Mustafa Kemal Attaturk adalah bapak dari bangsa Turki, benarkah demikian? Nah, Insya Allah pada rubric Roddu syubhat kali ini, kita akan coba untuk meluruskan pandangan tersebut, dan juga mengungkap siapa sebenarnya Mustafa Kemal Attaturk ? apakah dia seorang yahudi atau bukan, lalu apakah dia berjasa bagi bangsa Turki sehingga oleh beberapa buku sejarah ditulis sebagai bapak bangsa Turki atau bapak pembangunan Turki?

Pembaca yang budiman, Sejarah resmi yang kita kenal dan diajarkan di sekolah-sekolah memang sangat subyektif dan sangat didominasi oleh pandangan sekuler-Barat, yang banyak diantaranya Islamophobia atau membenci islam. Kita tentu masih ingat bagaimana ketika duduk di sekolah dasar, buku-buku sejarah menyatakan kepada kita jika Islam baru masuk ke Nusantara di abad ke-14 Masehi lewat para pedagang India dari Gujarat. Padahal pandangan ini berasal dari Snouck Hurgronje dan ternyata salah besar. Bukti-bukti otentik menyatakan jika Islam sudah ditemukan di pesisir barat pulau Sumatera di saat Rasulullah Saw masih hidup! Bahkan Barus, nama kota kecil di pesisir barat Sumatera itu sudah memiliki hubungan dagang dengan Mesir di saat Nabi Musa a..s masih hidup. Ini fakta sejarah yang sengaja dikaburkan tangan-tangan kekuasaan yang anti Islam. Untuk lengkapnya, silakan baca Eramuslim Digest yang berjudul The Untold History, dan di buku tersebut dijelaskan tentang kepalsuan sejarah Islam Indonesia.
Nah, Mustafa Kemal memang seorang Yahudi dari sebuah kota di Turki bernama Tesalonika atau (Yahudi Dumamah). Mustafa merupakan seorang agen atau kaki tangan Yahudi Internasional yang disusupkan ke dalam militer Turki sehingga dia menjadi seorang jenderal untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmaniyah yang menolak menyerahkan Al-Quds kepada Zionis-Yahudi. Lewat konspirasi Yahui Internasional inilah, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah akhirnya hancur pada tanggal 3 Maret 1924, kira-kira hanya 27 tahun setelah Kongres Zionis Internasional pertama.

Pembaca yang budiman, Mustafa Kemal naik menjadi penguasa dan menghancurkan seluruh kehidupan beragama di Turki dan menggantinya dengan paham sekuler, dimana ia memisahkan antara kehidupan beragama dengan masalah dunia, bahkan lafadz adzanpun ia ganti dengan bahasa Turki. Mustafa Kamal Ataturk merupakan seorang Freemason dari Lodge Nidana. Selama berkuasa, Mustafa Kamal memperlihatkan watak seorang Yahudi asli yang sangat membenci agama Islam.
Pembaca yang budiman, Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah ia melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu dengan kekuasaannya.

Kemudian Pembaca yang budiman, sumber yang lain mengatakan, bahwa ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya.
Pembaca yang budiman, Deislamisasi dan juga terhadap agama lainnya di Turki selama kekuasaan Mustafa Kamal ini benar-benar keterlaluan. Nah jika pendengar ingin mengetahui lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan orang yang oleh Barat disebut sebagai ‘Bapak Turki Modern’ ini, ada dua buku karya Dr. Abdullah ‘Azzam yang kami rekomendasikan yakni ‘Al Manaratul Mafqudah’ dan ‘Hidmul Khilafah wa bina-uha’ .

Pembaca yang budiman, Di dalam buku pertama yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Abdullah ‘Azam memaparkan kejadian sakitnya Mustafa Kamal menjelang sakaratul mautnya yang sungguh-sungguh mengerikan. Abdullah ‘Azzam menulis, “…Mustafa Kamal terserang penyakit dalam atau (sirrosis hepatitis) disebabkan alkohol yang terkandung dalam khamr. Cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin akibat amat sering berbuat maksiat. Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya, akhirnya dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.”
Pembaca yang budiman, Selama sakit Mustafa berteriak-teriak sedemikian keras sehingga teriakannya menerobos sampai ke teras istana yang ditempatinya. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Beratnya hanya 48 kilogram. Giginya banyak yang tanggal hingga mulutnya hampir bertemu dengan kedua alis matanya. Badannya menderita demam yang sangat sehingga ia tidak bisa tidur. Tubuhnya juga mengeluarkan bau bagaikan bau bangkai. Walau demikian Pembaca yang budiman, Mustafa masih saja berwasiat, jika dia meninggal maka jenazahnya tidak perlu dishalati.
Akhirnya “Pada hari Kamis, 10 November 1938 jam sembilan lebih lima menit pagi, pergilah Mustafa Kamal dari alam dunia dalam keadaan dilaknat di langit dan di bumi…,” tulis Abdullah ‘Azzam. Naudzubilahi min dzalik!

Kemudian Pembaca yang budiman, Majalah Al Mujtama’ Kuwait pada tanggal 25 Desember 1978 edisi 425-426 memuat sebuah dokumen rahasia tentang peranan dan konspirasi kaum Yahudi di dalam menumbangkan kekhalifahan Turki Utsmaniyyah. Dokumen ini berasal dari sebuah surat yang ditulis Dutabesar Inggris di Konstantinopel, Sir Gebrar Lother, kepada Menteri Luar Negeri Inggris Sir C Harving pada tanggal 29 Mei 1910. Dalam dokumen tersebut dipaparkan secara rinci bagaimana kaum Freemason melakukan penyusupan ke berbagai sektor vital pemerintahan Turki untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Abdul Hamid II dan mengangkat Mustafa Kamal Ataturk, untuk menghapuskan kekhalifahan Islam di Turki. Bahkan kaum Mason atau freemason Turki ini berhasil masuk dalam lingkaran pertama Sultan Abdul Hamid II, sehingga banyak kebijakan-kebijakannya yang disalahgunakan. yang akhirnya adalah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani yang kemudian Turki menjadi Negara yang sangat sekuler.

Pembaca yang budiman, Mungkin demikian yang bisa kami sampaikan mengenai Mustafa Kamal, yang oleh sejarah resmi disebut sebagai “Bapak Turki” atau (Attaturk), padahal seharusnya dia disebut sebagai “Penghancur Turki”. Dan juga Pembaca yang budiman, hendaknya kita sebagai kaum muslimin mulai selektif dalam menerima berita atau kabar dari sumber yang tidak jelas, sehingga kita tidak terjebak dalam konspirasi dan tipu daya yahudi freemason yang sengaja ingin meliberalkan atau mensekulerkan kaum muslimin, dan hendaknya kita sadari bahwa inilah salah satu strategi mereka dalam perang pemikiran, disamping itu juga masih banyak strategi yang sudah mereka rencanakan untuk memuluskan tujuan mereka. dan juga kita berharap agar buku-buku pelajaran di sekolah-sekolah negri ini bebas dari buku-buku sekuler yang lebih condong dan membanggakan barat.
Pembaca yang budiman, sampai disini kebersamaan kita dalam rubric roddu syubhat kali ini, semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan dapat memberikan pencerahan, akhirnya saya undur diri dari ruang dengar anda. Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh



Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru