Rabu, 28 Juli 2010

Tablig Akbar Targhib Ramadhan


BOGOR.

Tablig Akbar
Mengetuk Pintu Surga di Bulan Mulia

Bersama :
Ust. DR. Muhammad Sarbini, M.H.I & Ust Rahendra Maya, S.Th.I
( Ketua DPP HASMI & Ketua LSSI )
Tempat :
Masjid Raya Bogor
Jl. Pajajaran no. 10 komplek PPIB
Waktu :
Ahad, 01 Agustus 2010
08.00 – 11.30 WIB
Informasi Hubungi :
0813-1730-6075

BEKASI.

Targhib Ramadhon
Ramadhon Bersama Rasululloh Sholallahu 'alaihi wa Sallam

Bersama :
Ust. Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I
( Ketua DPP HASMI )
Tempat :
Masjid Nurul Islam (Islmic Centre Bekasi)
Jl. Ahmad Yani No. 22 Bekasi
Waktu :
Ahad, 08 Agustus 2010
08.30 - 11.30 WIB
Informasi Hubungi :
0852-8462-2773

Selasa, 27 Juli 2010

Bepata cantiknya Bidadari surga



Wahai teman-temanku para pemuda.. janganlah engkau tertipu oleh wanita-wanita dunia, jangan korbankan kebahagiaan akhiratmu hanya untuk bersenang-senang dengan wanita yang tidak halal bagimu. Aku tahu engkau memang suka dengan wanita, Aku tahu engkau adalah pemuda yang normal..

Tapi.. Jangan sampai setan memperdayaimu.. Sadarilah.., bahwa setan sedang mengincarmu untuk menjerumuskanmu ke dalam neraka. Tahanlah syahwatmu hingga tiba waktunya nanti.. hingga engkau menikah dengan wanita muslimah dengan cara yang benar. Engkau akan merasakan kenikmatan tiada tara di dunia dan di surga yang kekal abadi. Allah telah mempersiapkan bidadari surga yang cantik mempesona bagi orang-orang yang mampu menjaga kesucian dirinya dari perbuatan dosa di dunia.

Tahukah engkau seperti apa bidadari itu? Tidak tau.. ya itulah jawaban yang tepat. Memang tak ada yang mampu membayangkan seperti apa kenikmatan surga. Meskipun demikian Rasulullah telah memberikan gambaran global seputar bidadari surga. Mari kita tengok sedikit betapa indahnya bidadari surga yang Insya Allah akan menjadi milik kita nanti..

Harumnya Bidadari

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sekiranya salah seorang bidadari surga datang ke dunia, pasti ia akan menyinari langit dan bumi dan memenuhi antara langit dan bumi dengan aroma yang harum semerbak. Sungguh tutup kepala salah seorang wanita syurga itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kecantikan Fizikal

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan yg pertama masuk syurga adalah dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya adalah dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkilauan di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam syurga nanti tidak ada yg bujang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ

“Demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.” (Qs. Ad-Dukhan: 54)

Abu Shuhaib al-Karami mengatakan, “Yang dimaksud dengan hur adalah bentuk jamak dari haura, yaitu wanita muda yang cantik jelita dengan kulit yang putih dan dengan mata yg sangat hitam. Sedangkan arti ‘ain adalah wanita yang memiliki mata yang indah.

Al-Hasan berpendapat bahawa haura adalah wanita yang memiliki mata dengan putih mata yang sangat putih dan hitam mata yang sangat hitam.

Sopan dan Pemalu

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati bidadari dengan “menundukkan pandangan” pada tiga tempat di Al-Qur’an, yaitu:

“Di dalam syurga, terdapat bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. Ar-Rahman: 56-58)

“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Qs. Ash-Shaffat: 48)

“Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.”

Seluruh ahli tafsir sepakat bahawa pandangan para bidadari syurgawi hanya tertuju untuk suami mereka, sehingga mereka tidak pernah melirik lelaki lain.

Putihnya Bidadari


Allah Ta’ala berfirman, “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (Qs. ar-Rahman: 58)

al-Hasan dan mayoritas ahli tafsir lainnya mengatakan bahawa yang dimaksudkan adalah bidadari-bidadari syurga itu sebening yaqut dan seputih marjan.

Allah juga menyatakan,“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam kemah.” (Qs. Ar-Rahman: 72)

Maksudnya mereka itu dipingit hanya diperuntukkan bagi para suami mereka, sedangkan orang lain tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu. Mereka berada di dalam kemah.

Baiklah…ini adalah sedikit gambaran yang Allah berikan tentang bidadari di syurga. Kerana bagaimanapun gambaran itu, maka manusia tidak akan boleh membayangkan sesuai rupa asli bidadari, kerana sesuatu yg berada di syurga adalah sesuatu yang tidak/belum pernah kita lihat di dunia ini.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, mengatakan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman, “Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas oleh fikiran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah, tunggu apa lagi? Marilah kita beramal dan berdoa kepda Allah sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Agar kita dicintai Allah dan mendapatkan syurganya.

Sumber Inspirasi:
http://mujahidahpemburusyahid.blogspot.com/2010/03/cantiknya-bidadari.html



Hubungan sesama Jenis, HARAM atau HAM?


Islam adalah agama yang fitrah. Salah satu dari fitrah manusia dan makhluk hidup lain yaitu suka kepada lawan jenisnya. Belum pernah ada dalam sejarah jika ayam jago kawin dengan ayam jago. Seekor buaya jantan mengawini buaya jantan lain. Entah kalau diantara anda sudah ada yang pernah melihatnya langsung, padahal manusia sudah jelas2 lebih tinggi derajatnya dari binatang.

Karenanya Islam sudah pasti melarang keras (HARAM) hubungan sesama jenis. Dan Islam tidak melarang hubungan seks dengan lawan jenis, asalkan melalui cara dan syarat yang telah ditentukan, pernikahan.

Ingatkah dulu sejarah kaum nabi Luth as yang dibinasakan Allah SWT? Karena mereka begitu merestui hubungan sejenis. Hingga istri nabi Luth pun ikut mendapat azab Nya. Tapi lagi2 sekarang masalah cinta sejenis dibenturkan kepada alasan HAM.

“Hak dia, donk! Emang sukanya sama cowo mau gimana?”

Atau, “Ini kan jalan hidup saya, kenapa anda yang pusing?”

Dan bebagai argumen lain yang ‘membela’ cinta terlarang itu. seolah HAM menjadi Tuhan tandingan selain Allah. Akankah kita mendiamkan kondisi ini, padahal bila laknat Allah turun bukan untuk mereka saja, tetapi juga akan menimpa kita yang cuma membiarkannya dan masa bodoh.

Setidaknya, mulai dari keluarga sendiri semua itu bisa dihindari. Punya anak perempuan yang tomboy, jangan dianggap sesuatu yang lucu. Punya anak lelaki yang kemayu, cepat tanggap menyikapinya.

selagi anak-anak kita masih bisa dirubah. Kalau dibiarkan dan cuek, bisa saja bila mereka besar nanti hanya menambah sederetan lagi manusia2 cinta sejenis yang baru.
Setiap bayi yang terlahir pasti dalam keadaan fitrah/Lurus (Islam), tinggal bagaimana orang tuanya mau membuat dia (anak) seperti apa. Semoga kita semua terlindung dari azab Nya.



Minggu, 25 Juli 2010

Kongres bejat Bertema “Virgin Gak Oke” Digelar kalangan Pelajar amoral Bandung


Pergaulan bebas di Bandung ternyata sangat mengkhawatirkan, tren "virgin gak oke" rupanya menjadi salah satu pemicu kekerasan terhadap anak. Dalam sebuah kongres anak di Hotel Trio Bandung 28-29 Juni lalu, sekelompok pelajar SMA bahkan berani menyebutkan istilah “virgin gak oke” di kalangan mereka.

Artinya, mereka sudah terkontaminasi pergaulan bebas yang merupakan usaha masif dari barat. Hal tersebut sebagaimana dikatakan Manajer Program Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jabar Dianawati.

Di Indramayu bahkan ada daerah yang warganya terbiasa mendengar seorang anak gadisnya dijual. Itu terjadi karena mereka merupakan keluarga miskin.

Hal ini juga berakibat bertambahnya kasus-kasus kekerasan. Untuk tahun ini LPA Jabar sudah menerima 50 pengaduan kasus kekerasan terhadap anak. Sebagian besar, merupakan kasus penelantaran anak yang disebabkan oleh perceraian orang tuanya.

Selama dua tahun berturut-turut dari pada tahun 2007 dan 2008, Kota Bandung menyandang predikat tertinggi dalam kasus kekerasan terhadap anak.

Pada tahun 2008, 789 anak di Jawa Barat menjadi korban kekerasan. Sebagian besar berusia 15 sampai 18 tahun. Jumlah paling tinggi tingkat kekerasan terhadap anaknya ada di Kota Bandung, urutan kedua Kota Tasikmalaya, dan ketiga Kabupaten Bandung.

Anehnya, pergaulan bebas yang ditelurkan dari kebudayaan barat ini langsung diadopsi oleh kalangan pelajar bandung dengan mengadakan Kongres amoral bertema ‘virgin gak oke’. (voa-islam.com)

STGH (Stadium General Islam HASMI)

Segera Daftarkan Diri Anda dan Keluarga..!!

JAKARTA




BANDUNG



Detak waktu berlalu…
Entah sampai kapan kondisi umat tertawan dalam keterpurukan
Kemurnian sebagai denyut nadi Kebangkitan sejati…
Semakin melemah dan denyutnya hampir terhenti…
Cahaya Kemurnian timbul dan tenggelam di zaman kegelapan yang semakin menghitam
...Akankah umat abadi dalam keterpurukan ini?
Tak adakah jiwa-jiwa yang mencerahkan?
Hidupkan cahaya dalam kabut kelam nan menghitam?

Lalu…
Kapankah kebangkitan Islam muncul dan menampakkan eksistensinya?
Dengan sebab dan faktor apa ia akan bangkit?
Metode seperti apakah yang dapat mempercepat kebangkitan tersebut?

Sirotulmustaqim Solution
Training Ruhani untuk Kebangkitan Islam yang sejati
Solusi Total menuju Kemurnian Islam

DAFTARKAN DIRI ANDA!!

Dalam Acara
STADIUM GENERAL HASMI (SGH)
“Sirotulmustaqim Solution”
Seminar dan training ke Islaman yang akan membentuk karakter dan jiwa-jiwa
yang tercerahkan oleh Kemurnian Islam.

JAKARTA
Ahad, 15 Agustus 2010
Waktu :13.00 s/d Ifthar Jama’i
Tempat: Gedung Langen Palikrama Auditorium Pegadaian Pusat
Jl. Kramat Raya 162 Jakarta Pusat (Samping Gedung PBNU Pusat)
Pemateri: Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I

Fasilitas:
- Buku Sirotolmustaqim - Ballpoint
- Book Note - Hidangan Berbuka Puasa
- Bag Paper - Sertifikat
- Free Konsultasi

Pendaftaran: Sampai dengan 14 Agustus 2010
Investasi Rp. 250.000,-

Informasi Lebih lanjut hub:
Mobile : 0813 9420 2665 (Kang Gun)
Phone : 0251 8389 788

BANDUNG
Ahad, 22 Agustus 2010
Waktu : 13.00 s/d Ifthar Jama’i
Tempat : Jl. Dipenogoro No. 63 Ged. Multimedia PUSDAI Jabar
Pemateri: Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I

Fasilitas:

- Buku Sirotolmustaqim - Ballpoint
- Book Note - Hidangan Berbuka Puasa
- Bag Paper - Sertifikat
- Free Konsultasi

Pendaftaran:Sampai dengan 20 Agustus 2010
Investasi Rp. 300.000,-

Informasi Lebih lanjut hub:
Mobile : 0813 9420 2665 (Kang Gun)
Phone : 0251 8389 788

Rabu, 21 Juli 2010

Sya'ban yang terlupa


Dinamakan bulan sya’ban karena bangsa arab pada bulan tersebut berpencar untuk mencari air, atau karena ia muncul diantara bulan rajab dan ramadhan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu’anha bahwa: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam banyak berpuasa (pada bulan sya’ban) sehingga kita mengatakan; beliau tidak pernah berbuka, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berpuasa sebulan penuh kecuali puasa dibulan ramadhan, dan aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam banyak berpuasa melebihi puasa dibulan sya’ban (muttafaq ‘alaih).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ditanya oleh Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu kenapa beliau banyak berpuasa dibulan sa’ban beliau menjawab: “Karena bulan ini banyak dilalaikan oleh manusia padahal pada bulan tersebut akan diangkat amalan-amalan seorang hamba kepada Allah ta’ala , dan saya ingin amalanku diangkat dan saya sedang berbuasa” (HR. Abu Dawud dan An Nasai, lihat shahih targhib wat tarhib 425 dan shahih abu Dawud 2/461)

Ibnu Rajab berkata: “Puasa dibulan sya’ban lebih utama daripada puasa dibulan-bulan haram, dan sebaik-baik amalan sunnah adalah yang dilakukan ketika dekat dengan bulan suci ramadhan baik sebelum maupun sesudahnya, maka puasa pada bulan ini kedudukannya seperti sunnah-sunnah rawatib sebelum atau sesudah fardhu dan berfungsi untuk melengkapi jika ada kekukarang pada amalan fardhu tersebut. Demikian pula puasa sebelum dan sesudah ramadhan memiliki keutamaan lebih dibanding puasa-puasa lain yang bersifat mutlak atau umum. Oleh karena itu puasa yang dilakukan ketika sudah mendekati ramdhan lebih utama disbanding puasa-puasa yang dilakukan jauh dari bulan suci ini”.

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang menyebutkan bahwa bulan sya’ban ini banyak dilalaikan oleh manusia menunjukan akan dianjurkannya kita untuk menggunakan waktu untuk ketaatan disaat manusia banyak melalaikannya, sebagaimana kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dipasar diamana kebanyakan orang ditempat tesebut lalai akan akhirat dan disibukkan dengan urusan duniawi, diantara faidah yang bisa kita petik dari hal ini, diantaranya:

* ibadah pada waktu orang sedang lalai lebih membantu kita untuk berbuat ikhlas karena kita mengamalkan sesuatu yang tidak diketahui oleh banyak orang, apalagi puasa yang merupakan rahasia antara Allah dan hamba-Nya.

* demikian juga beramal pada saat manusia lalai terasa lebih berat disbanding jika kita melakukan amalan secara beramai-ramai.

Para ulama berbeda pendapat tentang sebab kenapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam banyak berpuasa dibulan sya’ban, diantara pendapat mereka antara lain:

1. Beliau terkadang meninggalkan puasa tiga hari disetiap bulannya karena safar atau karena hal lain, oleh karena itu beliau menggumpulkannya dan menggantinya dibulan sya’ban, sebab apabila beliau melakukan suatu amalan beliau akan selalu melakukannya dan jika ada yang tertinggal maka beliau mengqadhanya.
2. Disebutkan bahwa beliau banyak puasa pada bulan sya’ban karena manusia banyak melalaikannya, dan barangkali ini adalah yang paling tepat sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Usamah bin Zaid diatas.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terbiasa jika beliau belum sempat mengqadha puasa-puasa sunnah maka meliau menggantinya dibulan sya’ban sebelum datangnya bulan ramadhan, demikian pula jika ada shalat-shalat sunnah yang pernah terlewatkan maka beliau mengqadhanya pada waktu yang lain. Disamping itu puasa sunnah dibulan sya’ban juga merupaka latihan agar terbiasa melakukan puasa sehingga puasa ramadhan akan terasa ringan karena ia sudah terbiasa berpuasa sebelumnya.

Dikarenakan puasa sya’ban merupaka mukaddimah untuk memasuki puasa ramadhan, maka dianjurkan pula untuk banyak membaca al quran dan bersedekah serta memperbanyak amalan-amalan shalih lainnya. Hanya saja kita dilarang untuk melakukan puasa ketika sudah mendekati akhir sya’ban kecuali jika kita sudah terbiasa berpuasa sebelumnya, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melarang kita untuk mendahului bulan ramadhan dengan puasa sunnah satu atau dua hari sebelumnya hal ini supaya kita tidak menambah ramadhan dengan puasa lain yang bukan termasuk darinya, kita juga dilarang berpuasa pada hari syak (ragu-ragu antara akhir sya’ban atau awal ramadhan),

beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari syak maka ia telah berbuat maksiat terhadap Abu Qashim (Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam)”.

Itu semua dimaksudkan supaya ada pembatas antara puasa sunnah dan puasa wajib karena kita diperintahkan untuk membedakan antara keduanya, sebagaimana kita juga dilarang untuk berpuasa pada hari raya.
Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melihat sesorang yang melakukan shalat sunnah fajar setelah iqamat dikumandangkan lalu beliau menegur:”Apakah shalat subuh empat rakaat” (HR. Bukhari). Hadits ini juga dijadikan dalil sebagai larangan untuk melakukan shalat sunnah setelah iqamat dikumandangkan kecuali jika ia sudah terlanjur melakukannya maka ia boleh memilih antara meneruskan atau membatalkannya.

Bid’ah-bid’ah dibulan sya’ban

Allah ta’ala berfirman:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3)

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah (QS. 42:21)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam perkara kami (agama islam) yang tidak termasuk darinya maka hal itu pasti tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ayat dan hadits diatas menunjukan bahwa syariat islam sudah sempurna dan tidaklah Allah mewafatkan nabi-Nya kecuali setelah ia menyampaikan semua syariat agama dengan jelas dan sempurna, maka siapa saja yang menambah sesuatu dalam syari’at islam pasti tertolak dan tidak akan diterima.
Ada beberapa amalan yang sering dilakukan dibulan sya’ban akan tetapi hal itu tidak ada contohnya sama sekali dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan juga para shahabatnya serta para ulama yang mu’tabar, diantara amal-amalan tersebut diantaranya:

* Shalat alfiyah yaitu shalat yang terdiri dari 100 rakaat yang dilakukan pada pertengahan sya’ban dengan berjamaah, pada setiap rakaatnya imam membaca surat al ikhlas 10 kali, shalat ini didasarkan pada sebuah hadits palsu yang tidak ada asalnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

* Mengkhususkan malam nisfu sa’ban (pertengahan sya’ban) untuk melakukan shalat dan siangnya untuk berpuasa berdasarkan hadits palsu yang berbunyi: (فقوموا ليلها وصوموا نهارها ..) “shalatlah kalian dimalam harinya dan berpuasalah pada siang harinya”

* Shalat tolak bala dan supaya panjang umur, yaitu shalat 6 rakaat yang dilakukan pada malam nisfusya’ban, demikian pula membaca surat yasin pada malam tersebut.

Imam Al Ghazali rahimahullah mengatakan: “shalat-shalat ini sangat masyhur dikalangan mutaakhirin penganut aliran sufi yang saya tidak tahu bahwa shalat maupun doa-doanya berdasarkan dalil yang shahih, akan tetapi itu semua tidak lain adalah bid’ah. Sahabat-sahabat kami telah membenci untuk berkumpul-kumpul pada malam nisfu sya’ban baik dimasjid maupun ditempat lainnya“.

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “shalat rajab (raghaib) dan shalat nisfu sya’ban adalah merupakan dua bid’ah yang mungkar serta sangat buruk”.
Wajib bagi kita semua supaya beribadah sesuai dengan dalil dan contoh dari Rasululllah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya yang mulia serta menjauhi segala bentuk ibadah yang diada-adakan dalam agama, karena semua hal baru dalam agama ini adalah bid’ah dan semua kebid’ahan adalah tempatnya di neraka wal’iyadzu billah.
Semoga Allah ta’ala selalu membimbing kita semua ke jalan-Nya yang lurus dan dijauhkan dari semua bentuk kesesatan dan dosa, amin ya rabbbal ‘alamin.

Oleh: Abu Ziyad (islamhouse.com)
Sumber:
- website islam soal jawab.
- Majmu’ fatawa Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah (2/882)

Upacara Peringatan Malam Nisfi Sya’ban


Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa rahmat.

Amma ba’du:

Sesungguhnya Allah telah berfirman:

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.” [Al-Maidah :3]

“Artinya : Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhoi Allah? Sekirannya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih.” [Asy-Syura' : 21]

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.”

Dalam lafazh Muslim: “Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak.”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi pernah bersabda dalam khutbah Jum’at: Amma ba’du, sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat.”

Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat- Nya bagi mereka; Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid’ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para shahabat dan ulama’ mengetahui hal ini, maka mengingkari perbuatan-perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita darinya. Hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid’ah, seperti Ibnu Wadhdhoh Ath Tharthusyi dan Abu Syaamah dan lain sebagainya.

Di antara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya’ban dan mengkhususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits tentang fadhilah malam tersebut tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu’. Dalam hal ini, banyak di antara para ‘ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan fadhilah shalat pada hari Nisfu Sya’ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka. Pendapat para ahli Syam di antaranya Hafizh Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam Nisfu Sya’ban adalah bid’ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah. Hadits-hadits lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits-hadits shahih, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya’ban tidak ada dasar hadits yang shahih sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits- hadits dhaif. Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini dan kami akan menukil pendapat para ahli ilmu kepada sidang pembaca sehingga masalahnya menjadi jelas; para ulama’ telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnan Rasul (Al-Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu daripadanya, maka wajib diikuti dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan adalah bid’ah; tidak boleh dikerjakan apabila mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa’:

“Artinya : Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisaa': 59]

“Artinya : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Tuhanku. Kepada-Nyala aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” [Asy-Syuraa: 10]

“Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya.” [An-Nisaa' : 65]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang semakna dengan ayat- ayat di atas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah-masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya (Al-Qur’an dan Hadits).

Demikianlah yang dikehendaki oleh Islam, dan merupakan perbuatan baik bagi seorang hamba terhadap Tuhannya, baik di dunia atau di akherat nanti, sehingga pastilah ia akan menerima balasan yang setimpal.

Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya’ban Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathaiful Ma’arif”, “Para Tabi’in dari ahli Syam (Syiria, sekarang) seperti Khalid bin Ma’daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfu Sya’ban kemudian orang- orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka.

Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, tatkala masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin; ada yang menerima dan menyetujuinya ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah Ahli Bashrah dan lainnya sedang golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas ulama Hijaz (Saudi Arabia, sekarang), seperti Atha’ dan Ibnu Abi Malikah dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bi Aslam dari fuqaha’ Madinah, yaitu ucapan Ashhabu Malik dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid’ah. Adapun pendapat ulama’ ahli Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan dua pendapat:

[1]. Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya’ban dalam masjid dengan berjamah adalah mustahab (disukai Allah). Dahulu Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar menyan, memakai celak dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid. Ini disetujui

oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata: “Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara jamaah tidak bid’ah.” Hal ini dicuplik oleh Harbu Al-Kirmany.

[2]. Berkumpulnya manusia pada malam Nisfu Sya’ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdo’a adalah makruh hukumnya, tetapi boleh jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri. Ini pendapat Auza’iy Imam Ahlu Syam, sebagai ahli fiqh dan cendekiawan mereka. Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkanpendapat Imam Ahmad tentang malam tentang malam Nisfu Sya’ban ini,tidak diketahui.”

Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi’in, begitu pula tentang malam Nisfu Sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya

ketetapan dari golongan tabi’in ahli fiqih Syam. Demikian maksud dari Al-Hafizh Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).

Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfu Sya’ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para shahabat. Adapun pendapat Imam Auza’iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan shalat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dhaif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil-dalil syar’iy, tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada- adakannya dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang- terangan, sebab keumuman hadits Nabi:

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.”

Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.

Imam Abubakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, “Al-Hawadits wal Bida”, “Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan malam Nisfu Sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Malikah bahwasanya Ziad An Numairiy berkata: Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya’ban menyamai pahala Lailatul Qadar. Ibnu Malikah menjawab: Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang penceramah. Al-’Allaamah Syaukani menulis dalam bukunya, Al-Fawaaidul Majmu’ah, sebagai berikut: Hadits:

“Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya… dan seterusnya.”

Hadits ini adalah maudhu’, pada lafazh-lafazhnya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu’ dan perawi-perawinya majhul.

Dalam kitab “Al Mukhtashar” Syaukani melanjutkan : Hadits yang menerangkan shalat Nisfu Sya’ban adalah batil. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali radhiallahu ‘anhu: Jika datang malam Nisfu Sya’ban bershalat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dhaif. Dalam buku Allaali’ diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya’ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy,

hadits ini maudhu’ tetapi mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul dan dhaif (leman). Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu’. Dan hadits empat belas rakaat … dan seterusnya adalah maudhu’ (tidakbisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).

Para fuqaha’ banyak tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti pengarang Ihya’ Ulumuddin dan lainnya juga sebagian dari mufassirin. Telah diriwayatkan bahwa, shalat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya’ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia itu, semuanya adalah bathil/tidak benar dan haditsnya adalah maudhu’.

Anggapan itu tidak bertentangan dengan riwayat Tirmidzi dari hadits Aisyah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing. Sesungguhnya perkataan tersebut berkisar tentang shalat pada malam itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqathi’ (terputus) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan di atas mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa shalat malam itu juga lemah dasarnya.

Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat Nisfu Sya’ban maudhu’ dan pembohongan atas diri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kitab Al Majmu’, Imam Nawawi berkata: Shalat yang sering kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas raka’at dikerjakan antara Maghrib dan Isya’ pada malam Jum’at pertama bulan Rajab; dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban. Dua shalat itu adalah bid’ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya’ Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut batil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits, yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian berarti salah kaprah.

Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadaasiy telah mengarang sebuah buku yang berharga; Beliau menolak (menganggap batil) kedua hadits (tentang malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin. Dalam hal ini telah banyak pengapat para ahli ilmu; maka jika kita hendak memindahkan pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.

Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan pengkhususan shalat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa; itu semua adalah bid’ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya dalam syariat ini (Islam), bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa hidupnya

para shahabat radhiallahu ‘anhu. Marilah kita hayati ayat Al-Qur’an di bawah:

“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.”[Al-Maidah : 3]

Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas.

Selanjutnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama (sepeninggalku), yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah pernah bersabda:

“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum’at daripada malam-malam lainnya dengan suatu shalat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang hariny autk berpuasa daripada hari-hari lainnya, kecuali jika (sebelumnya) hari itu telah berpuasa seseorang di antara kamu.” [Hadits Riwayat. Muslim]

Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum’at itu lebih baik daripada malam-malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari? Hal ini berdasarkan hadits-haditsRasulullah yang shahih. Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk mengkhususkan shalat pada malam hari itu daripada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lain pun lebih tidak boleh dikhususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang mengkhususkannya/menunjukkan atas kekhususannya. Menakala malam Lailatul Qadar dan malam-malam blan puasa itu disyariatkan supaya shalat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu. Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

“Artinya : Barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada bulan Ramadhan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat.” [Muttafaqun 'alaih]

Jika seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama pada bulan Rajab, serta malam Isra’ Mi’raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tentang, pastilah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankannya sendiri. Jika memang hal itu pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak memberi nasehat setelah para nabi.

Dari pendapat-pendapat ulama’ tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah ataupun dari para shahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab. Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid’ah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tentang adalah bid’ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dikhususkan dengan ibadah- ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan ibadah-ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.

Demikianlah, maka jika anda sekalian sudah mengetahui, bagaimana sekarang pendapat anda? Yang benar adalah pendapat para ulama’ yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra’ dan Mi’raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra dan Mi’raj itu jatuh pada tanggal 27 Rajab adalah batil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits shahih. Maka benar orang yang mengatakan;

“Dan sebaik-baik suatu perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para salaf, yang telah mendapat petunjuk. Dan sehina-hina perkara (dalam agama), yaitu perkara yang diada-adakan berupa bid’ah-bid’ah.”

Allahlah yang bertanggung jawab untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten di atasnya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah yang terbaik dan termulia.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan Rasul-Nya Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam begitu pula atas keluarga dan para shahabat beliau. Amiin.

[Disalin dari kitab Waspada Terhadap Bid’ah Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Farid Ahmad Oqbah, Riyadh: Ar-Raisah Al-'Ammah li-IdaratiAl-Buhuts Al-'Ilmiah wa Al-Ifta' wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyad, 1413 H]

Senin, 19 Juli 2010

Mengenal HASMI


HASMI adalah singkatan dari Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islami, adalah sebuah gerakan Islam yang bercita-cita dan bertujuan: mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia, yaitu masyarakat yang dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam.

HASMI adalah organisasi Islam yang murni kelahiran Indonesia, berpusat di Indonesia dan bukan sekali-kali organisasi lintas negara seperti halnya Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dan lain-lainnya. (..Maaf..Ini hanya untuk mengenalkan, dan Kami tidak menganggap masalah lintas negara sebagai suatu cacat bagi harokah-harokah yang ada, karena Islam tidak didasarkan atas kebangsaan tertentu).

Berikut ini kami mencoba membuka sisi-sisi dari jati diri HASMI, agar anda lebih mengenalnya:

1. Dasar keseluruhan HASMI adalah manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, manhaj kebenaran sesuai dengan kemurnian Islam. Manhaj wahyu Ilahi, Al-Qur’an dan Sunnah serta mengikuti pemahaman dan penerapan Salafus Solih. HASMI mengusung dan mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah serta memandang tidak ada-nya pencanangan yang jelas tentang hal ini pada suatu gerakan, merupakan keaiban pada gerakan tersebut apalagi jika gerakan tersebut memang benar-benar tidak mendahwakan manhaj ini, maka hal itu merupakan bencana untuk umat.

2. Tujuan HASMI adalah “Berdirinya masyarakat Islami di Indonesia” yaitu masyarakat yang secara kolektif atau perorangan dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Islam yang suci. Jalan menuju tujuan ini harus melalui pengentasan keter-purukan ruhani dengan memfokuskan usaha-usaha kepada pensyi’aran ajaran Islam yang benar, manhaj golongan yang selamat, Ahlussunnah wal Jama’ah.

3. Strategi HASMI memilih strategi dakwah atas dasar-dasar berikut:

a. Dakwah yang pada dasarnya merupakan strategi para nabi dalam misi penyelamatan mereka terhadap umat manusia. Sedangkan jihad bersenjata adalah salah satu jalan dari jalan-jalan dakwah yang dilakukan hanya pada kondisi-kondisi tertentu.

b. Al-Qur’an telah menyatakan dengan tegas bahwa Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka merubah apa-apa yang ada pada jiwa-jiwa mereka. Maka kita harus merubah keterpurukan ruhani menjadi ketakwaan dengan mendakwahi umat.

c. Alloh swt menjanjikan kepada kaum yang lurus imannya bahwa Dia akan memberikan mereka kehidupan yang baik. (lihat QS. An-Nahl: 97).

d. Kita berada di tengah-tengah umat Islam yang sangat membutuhkan penerangan dan di waktu yang sama kesempatan serta pintu-pintu dakwah sangat terbuka lebar di negeri ini.

e. Rosululloh saw telah memulai misinya dengan strategi dakwah sampai berhasil mendirikan negara Islam pertama di Madinah tanpa kekerasan sedikit pun juga dan itulah manhaj Rosululloh saw di periode pranegara (periode harokah). Kita wajib mengikutinya!

4. HASMI tidak memilih strategi mengejar tampuk kekuasaan bukan karena berpendapat bahwa kekuasaan tidak diperlukan untuk menyelamatkan umat dari keterpurukan, tetapi HASMI menolak jalur parlemen karena hal-hal berikut :

a. Banyak sekali hal-hal syar’i yang terlanggar bila kita masuk ke gelanggang parlemen, sebab sistem ini bukanlah sistem Islam. Sistem ini adalah sistem yang mengedepan-kan suara terbanyak daripada syari’at Alloh swt serta men-daulat manusia bukan mendaulat Alloh swt .

b. Fakta telah menunjukkan bahwa para aktifis partai Islam terpacu untuk mengejar suara sebanyak-banyak-nya yang mana hal ini mengakibatkan:

· Tertinggalnya dakwah kepada agama Alloh swt, karena sibuk dengan “dakwah mencari suara”. Akibatnya banyak sekali orang yang mati dalam kesesatan karena keko-songan dakwah.

· Tertinggalnya pengawalan terhadap kemurnian Islam, karena harus basa-basi kepada banyak pihak penoda kemurnian. Jika kemurnian agama dikorbankan demi mendapatkan kemenangan, apalah arti sebuah keme-nangan?! Itupun kalau menang…!

· Fakta sejarah kontemporer di banyak negeri juga dengan gamblang menunjukkan kepada kita kegagalan jalan ini dalam mewujudkan cita-cita umat.

HASMI juga menolak jalur kekerasan dengan segala bentuk-nya dalam mengadakan perubahan menuju masyarakat Islami. Hal itu didasarkan atas hal-hal berikut:

a. Kekerasan seharusnya hanya digunakan untuk para penghalang dakwah, sedangkan negeri ini masih memberi peluang dakwah yang sangat luas.

b. Umat berada di marhalah tarbiyah dan ta’lim dan keke-rasan tidak bisa membuka hati manusia.

c. Mayoritas orang di negeri ini adalah umat Islam dan tidak terjadi agresi dari negara kaum kafir.

d. Menempuh jalan kekerasan di kondisi zaman dan tempat yang tidak tepat akan menimbulkan banyak kerusakan dan pertumpahan darah yang tidak dibenarkan oleh Islam.

e. Yang terpenting dan sangat jauh lebih penting adalah strategi yang dijalankan oleh Rosululloh pada periode sebelum hijrah (periode harokah/periode sebelum negara) adalah strategi dakwah dan kita wajib mengikuti strategi beliau .

Tetapi perlu diingat dengan jelas, kami sama sekali tidak anti jihad yang benar!! Bahkan kami percaya barangsiapa yang anti syari’at jihad, berarti dia telah keluar dari Islam! Kami juga percaya barangsiapa yang membenci mujahidin, maka orang itu sudah terjangkiti penyakit nifaq! Barang-siapa yang membantu kaum kafir dalam memerangi umat ini, maka dia pun telah kafir! Kami mendukung sepenuh-nya jihad di banyak negeri Islam dalam mengusir para agressor yahudi, salibis, hindu dan komunis.

Yang kami maksudkan dalam penolakan cara kekerasan adalah penggunaannya di negeri seperti Indonesia ini di mana dakwah masih mendapat kebebasan mutlak, tidak ada agressor dan umat sangat membutuhkan pembelajaran.

Catatan:
Syubhat yang muncul pada banyak aktifis ketika tidak mengerti penjelasan di atas atau bahkan tidak menyetujui-nya, adalah karena mereka mencampuradukkan tiga masalah di bawah ini:

a. Hukum jihad secara umum.

b. Jihad yang sedang berlangsung di beberapa negeri Islam dewasa ini, seperti Afghanistan, Irak, Palestina, Chech-nya dan lain-lain.

c. Jihad di Indonesia dan negeri-negeri Islam semisalnya.

Hukum jihad secara umum ada empat menurut ayat-ayat al Qur’an dan penafsiran para ulama mu’tabar, yaitu: terlarang, diizinkan melawan atau membalas serangan, diperintahkan memerangi kaum kuffar di negeri-negeri tetangga dan diperintahkan memerangi seluruh manusia sampai mereka beriman. Masing-masing hukum dari keempat hukum itu diterapkan pada kondisi-kondisi tertentu.

Ketika sekelompok kaum muslimin (khususnya yang masih lemah) berada di bawah kekuasaan “kekafiran total”, tanpa syubhat (seperti waktu Rosululloh di Mekkah) periode ini bisa kita namakan periode harokah (periode pranegara) dan hukum jihad yang diterapkan adalah hukum yang pertama, seperti Rosululloh sendiri menerapkannya.

Kondisi Indonesia masih jauh kurang dari kondisi seperti di atas dari segala sisinya. Maka di Indonesia lebih harus diterapkan hukum pertama (terlarang). Apalagi kalau kita tambahkan banyaknya syubhat-syubhat, mayoritas rakyat Indonesia adalah kaum muslimin, bahkan hujjah kepada para pelindung sistem non Islam yang berjalan belum ditegakkan dan para aktifis sendiri belum mempunyai ilmu Islam yang cukup untuk mengendalikan masyarakat Islami.

Jihad adalah masalah besar yang berakibat besar pula. Dengan melupakan realita ini seseorang dengan mudah melontarkan pertanyaan kecil di sebuah ceramah yang tidak bertema jihad, lalu mengharapkan jawaban luas yang memuaskan, sementara sang penanya sudah terisi oleh masukan-masukan yang mencampuradukkan ketiga masalah yang kita sebutkan tadi.

5. HASMI merangkul seluruh personel umat yang siap meniti sirotul mustaqim, dan menerima mereka baik pria atau wanita, tua atau muda, sebagai anggota tanpa mensyaratkan tingkatan minimal pendidikan atau persyaratan lainnya.
Islam untuk kita semua..!!

6. Keanggotaan HASMI berarti :

* Ikut dalam usaha penyelamatan umat dari makar-makar musuh Islam dan dari jebakan-jebakan kesesatan dalam satu barisan yang berjalan di jalan yang lurus menuju terbentuknya masyarakat Islami.

* Mengikuti program-program ta’lim dan tarbiyyah manhaj ahlussunnah wal jama’ah.

* Mendapat bimbingan-bimbingan Islami yang benar dalam menyikapi fenomena-fenomena yang membi-ngungkan di masyarakat.

Sudah mendapatkan pendukung yang terpercaya dalam mendidik keluarga baik selagi hidup maupun setelah kematian.

Tujuh Keajaiban Dunia yang Benar-benar Ajaib


Menara Pisa, Tembok Cina, Candi Borobudur, Taaj Mahal, Ka’bah, Menara Eiffel, dan Piramida di mesir, inilah semua keajaiban dunia yang kita enal. Namun sebenarnya semua itu belum terlalu ajaib, karena di sana masih ada tujuh keajaiban dunia yang lebih ajaib lagi. Mungkin para pembaca bertanya-tanya, keajaiban apakah itu?

Memang tujuh keajaiban lain yang kami akan sajikan di hadapan pembaca sekalian belum pernah ditayangkan di TV, tidak pernah disiarkan di radio-radio dan belum pernah dimuat di media cetak. Tujuh keajaiban dunia itu adalah:

1) Hewan Berbicara di Akhir Zaman

Maha suci Allah yang telah membuat segala sesuatunya berbicara sesuai dengan yang Ia kehendaki. Termasuk dari tanda-tanda kekuasaanya adalah ketika terjadi hari kiamat akan muncul hewan melata yang akan berbicara kepada manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,

“Dan apabila perkataan Telah jatuh atas mereka, kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami”.

Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy berkomentar tentang ayat di atas, “Hewan ini akan keluar diakhir zaman ketika rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan perintah-perintah Allah, dan ketika mereka telah mengganti agama Allah. Maka Allah mengeluarkan ke hadapan mereka hewan bumi. Konon kabarnya, dari Makkah, atau yang lainnya sebagaimana akan datang perinciannya. Hewan ini akan berbicara dengan manusia tentang hal itu”. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (3/498)]

Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir zaman sebagai tanda akan datangnya kiamat dalam waktu yang dekat. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Sesungguhnya tak akan tegak hari kiamat, sehingga kalian akan melihat sebelumnya 10 tanda-tanda kiamat: Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di Jazirah Arab, Asap, Dajjal, hewan bumi, Ya’juj & Ma’juj, terbitnya matahari dari arah barat, dan api yang keluar dari jurang Aden, akan menggiring manusia”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2901),
Abu Dawud dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2183), dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4041)]

2) Pohon Kurma yang Menangis

Adanya pohon kurma yang menangis ini terjadi di zaman Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam-, mengapa sampai pohon ini menangis? Kisahnya, Jabir bin Abdillah-radhiyalla hu `anhu- bertutur,

“Jabir bin Abdillah -radhiyallahu `anhu- berkata: “Adalah dahulu Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- berdiri (berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka tatkala diletakkan mimbar baginya, kami mendengar sebuah suara seperti suara unta dari pohon kurma tersebut hingga Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- turun kemudian beliau meletakkan tangannya di atas batang pohon kurma tersebut”.[HR.Al-Bukhariy dalam Shohih-nya (876)]

Ibnu Umar-radhiyallahu `anhu- berkata,

“Dulu Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- berkhuthbah pada batang kurma. Tatkala beliau telah membuat mimbar, maka beliau berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu pun merintih. Maka Nabi -Shollallahu `alaihi wasallam- mendatanginya sambil mengeluskan tangannya pada batang korma itu (untuk menenangkannya) “. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3390), dan At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]

3) Untaian Salam Batu Aneh

Mungkin kalau seekor burung yang pandai mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita jumpai. Tapi bagaimana jika sebuah batu yang mengucapkan salam. Sebagai seorang hamba Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia akan membenarkan seluruh apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, seperti pemberitahuan beliau kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam kepada beliau sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah batu di Mekah yang mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus, sesungguhnya aku mengetahuinya sekarang”.[HR. Muslim dalam Shohih-nya (1782)].

4) Pengaduan Seekor Onta

Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan. Dari perasaan itu timbullah rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan tetapi ketahuilah, bukan hanya manusia saja yang memiliki perasaan, bahkan hewan pun memilikinya. Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia yang tidak memiliki perasaan yang membuat dirinya lebih rendah daripada hewan. Pernah ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- mengungkapkan perasaannya.

Abdullah bin Ja’far-radhiyallahu `anhu- berkata, “Pada suatu hari Rasulullah -Shallallahu `alaihi wasallam- pernah memboncengku
dibelakangnya, kemudian beliau membisikkan tentang sesuatu yang tidak akan kuceritakan kepada seseorang di antara manusia. Sesuatu yang paling beliau senangi untuk dijadikan pelindung untuk buang hajatnya adalah gundukan tanah atau kumpulan batang kurma. lalu beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu `alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu `alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda,
“Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai
Rasulullah”.

Maka Nabi -Shallallahu `alaihi wasallam- bersabda,

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (1/400), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad dalam Al-Musnad (1/204-205), Abu Ya'la dalam Al-Musnad (3/8/1), Al-Baihaqiy dalam Ad-Dala'il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa (9/28/1). Lihat Ash-Shahihah (20)]

5) Kesaksian Kambing Panggang

Kalau binatang yang masih hidup bisa berbicara adalah perkara yang ajaib, maka tentunya lebih ajaib lagi kalau ada seekor kambing
panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan tetapi nyata. Kisah kambing panggang yang berbicara ini terdapat dalam hadits berikut:

Abu Hurairah-radhiyalla hu `anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam- menerima hadiah, dan tak mau makan shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi di Khoibar yang menghadiahkan kepada beliau kambing panggang yang telah diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu `alaihi wa sallam- pun memakan sebagian kambing itu, dan kaum (sahabat) juga makan. Maka Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda, “Angkatlah tangan kalian, karena kambing panggang ini mengabarkan kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu meninggallah Bisyr bin Al-Baro’ bin MA’rur Al-Anshoriy. Maka Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- mengirim (utusan membawa surat), “Apa yang mendorongmu untuk melakukan hal itu?” Wanita itu menjawab, “Jika engkau adalah seorang nabi, maka apa yang aku telah lakukan tak akan membahayakan dirimu. Jika engkau adalah seorang raja, maka aku telah melepaskan manusia darimu”. Kemudian Rasulullah -Shallallahu `alaihi wa sallam- memerintahkan untuk membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh. Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda ketika beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau,”Senantiasa aku merasakan sakit akibat makanan yang telah aku makan ketika di Khoibar. Inilah saatnya urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4512). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih Sunan Abi Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur Hasan Salman]

6) Batu yang Berbicara

Setelah kita mengetahu adanya batu yang mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya adalah adanya batu yang berbicara di akhir zaman. Jika kita pikirkan, maka terasa aneh, tapi demikianlah seorang muslim harus mengimani seluruh berita yang disampaikan oleh Rasulullah -Shollallahu `alaihi wasallam-, baik yang masuk akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- tidaklah pernah berbicara sesuai hawa nafsunya, bahkan beliau berbicara sesuai tuntunan wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara ghaib.

Rasulullah -Shallallahu `alaihi wa sallam- bersabda,

“Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi sehingga seorang diantara mereka bersembunyi di balik batu. Maka batu itu berkata, “Wahai hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku, maka bunuhlah ia”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (2767), dan Muslim dalam Shohih-nya (2922)]

Al-Hafizh Ibnu Hajar-rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat tanda-tanda dekatnya hari kiamat, berupa berbicaranya benda-benda mati, pohon, dan batu. Lahiriahnya hadits ini (menunjukkan) bahwa benda-benda itu berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul Bari (6/610)]

7) Semut Memberi Komando

Mungkin kita pernah mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan yang berbicara dengan hewan yang lain. Semua itu hanyalah cerita fiktif belaka alias omong kosong. Tapi ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya adanya hewan yang berbicara kepada hewan yang lain, bahkan memberi komando, layaknya seorang komandan pasukan yang memberikan perintah. Hewan yang memberi komando tersebut adalah semut.
Kisah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an,

“Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.Maka dia (Sulaiman) tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba- Mu yang saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).

Inilah beberapa perkara yang lebih layak dijadikan “Tujuh Keajaiban Dunia” yang menghebohkan, dan mencengangkan seluruh manusia. Orang-orang beriman telah lama meyakini dan mengimani perkara-perkara ini sejak zaman Nabi -Shallallahu `alaihi wa sallam- sampai sekarang. Namun memang kebanyakan manusia tidak mengetahui perkara-perkara itu. Oleh karena itu, kami mengangkat hal itu untuk mengingatkan kembali, dan menanamkan aqidah yang kokoh di hati kaum muslimin

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 46 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Gowa-Susel

http://referensiislam.wordpress.com/2008/02/10/7-keajaiban-dunia-yang-lain/

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru