Senin, 30 Agustus 2010

Haram Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis


Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahrom seolah sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang mendarah daging di negri ini terlebih lagi di waktu lebaran, mereka dengan tanpa merasa berdosa menyentuh tangan wanita, menggenggamnya dan merasakan kelembutan serta kehalusan kulitnya dengan dalih untuk saling bermaafan. Kebiasaan seperti ini merupakan hal berbahaya yang dapat mengotori hati kita setelah selama bulan romadhon kita bersusah payah menjaga hati, mata, lisan, dan aggota badan lainnya dari maksiat. Dimana menjaga diri dari maksiat tidak hanya dilakukan di bulan romadhon, justru bulan romadhon itu hendaknya kita jadikan latihan untuk menahan diri dari syahwat pada sebelas bulan berikutnya. Namun sungguh disayangkan ketika memasuki hari Iedul fitri seolah ibadah yang kita lakukan selama bulan romadhon tidak menghasilkan perubahan jiwa dan prilaku, dimana hati, mata, tangan, dan lisan kita yang terjaga dari kemaksiatan selama bulan romadhon, kini hal itu tidak lagi terjadi, mata kita dengan bebas tanpa berdosa menatap wanita yang berhias dengan pakaian barunya, tangan kitapun dengan bebas menjabat tangan mereka dengan dalih menjalin keakraban dan saling bermaafan, padahan semua itu dilarang oleh syari’at, dan menjalin keakraban atau bermaafan tidaklah harus dengan memandangi wajah mereka atau menjabat tangna mereka. Mungkin hal ini disebabkan oleh syubhat dan kejahilan alias kebodohan kita terhadap perintah dan larangan Allah, atau bisa juga disebabkan karena syahwat. Maka dari itu mari kita pelajari kembali syari’at yang mulia ini, semoga kita menjadi hamba Allah yang bertakwa.
Dalil Yang Melarang Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahramnya. Berikut ini kami akan bawakan Dalil Yang Melarang Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahramnya.

Adapun dalil yang mengharamkan jabat tangan dengan selain mahram adalah sebagai berikut :

1.Rosululloh bersabda :

لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

Sungguh apabila kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebih baik dari pada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Al-Albani mengomentari : Dalam hadits ini ada ancaman keras terhadap siapa saja yang menyentuh wanita bukan mahramnya. Di dalamnya terdapat dalil akan haramnya menjabat tangan kaum wanita, karena hal itu termasuk menyentuh tanpa ada keraguan. Dewasa ini banyak kaum muslimin yang melanggarnya, di antara mereka ada yang sekaliber ulama, seandainya mereka melanggarnya, akan tetapi hati mereka, maka permasalahannya menjadi lebih ringan. Akan tetapi yang jadi masalah mereka menghalalkanya dengan berbagai jalan dan penafsiran.( Idem.)

2.Rosululloh bersabda :

كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا, مدرك ذلك لا محا لة. فالعينان زناهما النظر, والأذنان زناهما الاستماع, واللسان زناه الكلام, واليد زناها البطش, والرجل زناها الخطا, والقلب يهوي ويتمنى, ويصدق ذلك الفرج ويكذبه

Telah pasti untuk anak Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan menjumpainya. Kedua mata berzina melalui pandangan. Kedua telinga berzina melalui pendengaran. Lisan berzina melalui pembicaraan. Tangan berzina dengan memegang. Kaki berzina dengan melangkah. Hati berzina dalam bentuk hasrat dan berangan-angan. Kemudian kemaluan akan membenarkannya atau mendustakannya. HR. Al-Bukhori dan Muslim, ini adalah lafadz Muslim.

An-Nawawi berkomentar : Hadits ini menjelaskan bahwa anak Adam telah ditakdirkan bagiannya dari zina, di antara mereka ada yang benar-benar berzina dengan cara memasukkan kemaluan kepada kemaluan yang tidak halal. Di antara mereka ada yang berzina secara kiasan, sepertidengan cara memandang sesuatu yang diharamkan, mendengarkan hal-hal yang menjerumuskan kepada perzinaan serta yang berhubungan dengannya, menyentuh dengan tangan dalam bentuk menyentuh tangan atau mencium wanita yang bukan mahramnya, berjalan kaki menuju perzinaan, melihat, menyentuh, atau bercengkerama dengan wanita yang mahramnya, serta semisalnya, dan termasuk juga memikirkannya dengan hati. (Lihat al-Minhaj karya an-Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas)

3.Rosululloh bersabda :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.) (Lihat ash-Shohihah no. 226)

4.’Aisyah menyatakan :

ما مست يد رسول الله يد امرأة إلا يملكها

Tangan Rosululloh tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun, kecuali yang beliau miliki (nikahi dll). HR. Al-Bukhori dan at-Turmudzi.

5.Abdulloh bin ‘Amr bin al-’Ash menyatakan :

كان لا يصافح النساء في البيعة

Adalah Rosululloh tidak menjabat tangan wanita (yang bukan mahramnya) ketika bai’at. Lihat Shohihul Jami’ (4732).

Al-‘Allamah Muhammad al-Amiin asy-Syinqithi mengatakan : Telah tetap Rosululloh bersabda:

إني لا أمس أيدي النساء

Saya tidak menyentuh tangan-tangan kaum wanita. (Lihat Shohihul Jami’ no.(7054))

Juga sabda Beliau :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). Lihat ash-Shohihah no. 226.

Alloh berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. [QS. Al-Ahzab : 21]

Maka wajib bagi kita untuk tidak berjabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya, sebagai perwujudan sikap peneladanan kita kepada Rosululloh. Bahkan tindakan Beliau yang tidak menjabat tangan kaum wanita ketika baiat, merupakan dalil yang begitu jelas tentang tidak bolehnya seorang lelaki berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, dan tidak boleh bagian tubuh seorang lelaki menyentuh bagian tubuh wanita bukan mahramnya, karena jenis sentuhan yang paling ringan adalah berjabatan tangan. Apabila Beliau tidak mau melakukannya di saat yang sebenarnya diperlukan jabat tangan (yakni: ketika bai’at), maka hal itu merupakan bukti bahwa perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan. Dan tidak seorang pun yang berhak menyelisihi Beliau, karena Beliaulah yang membuat aturan bagi umatnya, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. (Adhwaaul Bayaan (6/ 603))

6.Seandainya tidak ada dalil-dalil di atas, maka di dalam kaedah :”Menutup pintu-pintu kemungkaran” tersimpan dalil yang amat kuat untuk melarang jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. : 19.)

7.Ibnu ‘Athiyyah dan ats-Tsa’labi menukilkan ijma’ para ulama bahwa tangan Nabi tidak pernah sekali pun menyentuh tangan wanita bukanmahramnya. (Al-Muharror al-Wajiiz (4/ 30), al-Jawaahir al-Hisaan (10/ 260-269), dinukil dari Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam hal. : 67.)

Pendapat Para Ulama.

Mayoritas ulama sepakat akan tidak bolehnya berjabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya, berikut ini uraian pendapat-pendapat mereka :

Madzhab Hanafi.

Al-Kaasaani menjelaskan : Adapun hukum menyentuh dua anggota badan ini (tapak tangan dan wajah wanita yang bukan mahramnya), adalah tidak halal. Karena hukum bolehnya melihat dua anggota badan tadi adalah karena keadaan darurat yang telah kami uraikan. Sedangkan dalam hal ini tidak ada sikon darurat untuk menyentuh (wanita yang bukan mahramnya). Padahal, menyentuh lebih berpotensi untuk membangkitkan nafsu syahwat dari pada sekedar melihat. Pembolehan perkara yang lebih ringan dari dua perkara, tidak menyebabkan perkara yang lebih berat menjadi boleh. (Lihat Badai’ush Shonaai’ (6/ 2959).)

Madzhab Maliki.

Abul Barokaat, Ahmad bin Muhammad bin Ahmad ad-Dardiir menjelaskan : Dan tidak boleh berjabat tangan dengan wanita (bukan mahramnya-pent.), meskipun kaum lelaki sudah tidak berselera kepadanya. (Asy-Syarhush Shoghiir (4/ 760) dengan perantaraan buku Adillah Tahriimi Mushofahah al-Ajnabiyyah, hal. 23.)

Ibnu ‘Abdil Baar berkata : Sabda Beliau “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.)” adalah dalil akan tidak bolehnya seorang lelaki menyentuh wanita bukan mahramnya baik dengan tangannya maupun dengan berjabat tangan dengannya. (At-Tamhiid (12/ 312).)

Madzhab Syafi’i.

An-Nawawi menyatakan : Dikarenakan memandang (wanita yang bukan mahramnya-pent.) diharamkan, maka menyentuhnya lebih pantas untuk diharamkan, karena terasa lebih nikmat. (Lihat Roudhotuth Thoolibiin (7/ 28).)

Ibnu Hajar menjelaskan : Di dalam hadits ini, ada larangan menyentuh kulit wanita yang bukan mahramnya tanpa ada sikon darurat yang membolehkannya. (Lihat Fathul Bari (13/ 133).)

Madzhab Hambali.

Al-Imam Ishaq bin Manshuur al-Maruzi menceritakan : Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hambal : Apakah anda membenci jabat tangan dengan kaum wanita (bukan mahram-pent.)? Ahmad menjawab : Aku membencinya. (Masail Ahmad wa Ishaq (211/1) dinukil dari ash-Shohihah hadits no.(529).)

Syekh Al-Albani menyatakan :

Kesimpulannya, tidak ada satu hadits shohih pun yang menyebutkan bahwa Nabi pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, bahkan ketika membaiat mereka, apalagi ketika hanya sekedar bertemu.

Adapun sebagian orang yang berdalil dengan hadits Ummu ‘Athiyyah untuk membolehkan jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya (padahal didalamnya tidak disebutkan jabat tangan), kemudian mereka berpaling dari hadits-hadits shohih yang menyebutkan sucinya beliau dari berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, maka pasti hal ini bukan muncul dari seorang beriman dengan ikhlas, terlebih lagi ada ancaman yang keras terhadap siapa saja yang menyentuh wanita bukan mahramnya, sebagimana hadits (Maksudnya hadits Ma’qil Ibnu Yasaar yang merupakan dalil pertama dalam pembahsan ini.) terdahulu (Ash-Shohihah (3/ 65-66).)

Syekh Abdul Aziz bin Baaz berkata :

Jabat tangan kaum lelaki dengan kaum perempuan yang bukan mahramnya tidak boleh, karena ketika membaiat, Nabi bersabda : Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Aisyah pernah menyatakan : Tangan Rosululloh tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun ketika membaiat, kecuali dengan perkataan saja. (HR. Al-Bukhori dan Muslim dan selainnya)

Alloh berfirman : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab :21)

Dikarenakan juga bahwa jabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya merupakan sarana pembawa fitnah bagi kedua belah fihak, maka wajib ditinggalkan. Adapun jabat tangannya seorang wanita dengan kaum wanita, laki-laki mahramnya, seperti bapak, paman dan lainnya, maka tidak ada masalah. (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram hal. : 575.)

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA.

Uraian singkat ini akan kami tutup dengan pembahasan sebagian syubhat seputarnya, meskipun masih banyak syubhat selain yang kita sebutkan, antara lain:

Syubhat 1 :
Sabda Nabi :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Hal ini tidaklah memberikan pengertian larangan mutlak atas hukum jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, karena hal itu diucapkan berkenaan dengan baiat saja.

Jawab:
Ini adalah persangkaan yang lemah, karena kaidah para ulama menyatakan, bahwa sebab khusus (suatu dalil) tidak diperhitungkan, selama lafadznya bersifat umum, dan inilah keadaan sabda Nabi tersebut di atas, maka keharaman jabat tangan dengan wanita (bukan mahramnya) berlaku mutlak.

Bahkan dalil-dalil yang melarang jabat tangan ketika baiat memberikan pengertian lain yang lebih kuat, yaitu : Kalau saja ketika baiat Beliau tidak menjabat tangan kaum wanita padahal secara asal, baiat itu dengan tangan dan berjabat tangan, maka jabat tangan dengan wanita di luar itu lebih pantas untuk dilarang. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. :36)

Syubhat 2 :

Jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya sekarang ini telah menjadi sesuatu yang darurat, karena adat ini begitu tersebar luas di masyarakat..

Jawab :
Tersebarluasnya jabat tangan dengan wanita bukan mahram, bukan keadaan darurat sebagaimana persangkaan sebagian orang. Karena kebiasaan masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk merubah hukum yang telah tetap berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Hukum yang bisa dirubah oleh kebiasaan masyarakat adalah hukum yang dasarnya adalah adat istiadat masyarakat, sehingga akan berubah sesuai dengan adat istiadat masyarakat. (ibid, hal. 37)

Syubhat 3 :
Jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya boleh, jika dilandasi oleh niatan yang bersih dan hati yang suci.

Jawab :
Syariat yang suci melarang suatu perbuatan yang bisa menimbulkan kerusakan tanpa memperhitungkan niat pelakunya, karena yang dinilai adalah akibat perbuatan tersebut. Selama akibatnya buruk, maka perbuatan yang menyebabkannya dilarang (karena dinilai buruk juga). Hal ini sebagai upaya menutup pintu kerusakan, meskipun pelakunya tidak bermaskud melakukan kerusakan tersebut.

Apabila telah diketahui bahwa tujuan dan niat itu tersembunyi, maka yang tepat adalah tidak memperhitungkannya, karena niat tidak ada standartnya, dan yang diperhitungkan hanyalah yang jelas standartnya. Karena syariat ini berlaku bagi semua manusia, bukan hanya bagi segolongan tertentu saja.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawa al-Kubro III/139 menjelaskan :

Sebab-sebab ini, apabila secara umum akan menimbulkan perbuatan haram, maka syariat mengharamkannya secara mutlak. Demikian juga apabila terkadang menimbulkan perbuatan haram dan terkadang tidak, akan tetapi tabiat manusia cenderung terjerumus didalamnya. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. : 18-19.)

Syubhat 4 :
Larangan berjabat tangan tidak berlaku apabila sang wanita adalah seorang yang tua renta, berdasarkan riwayat Abu Bakar yang menyatakan :

أن رسول الله كان يصافح العجائز

Bahwa Rosululloh dahulu berjabat tangan dengan wanita-wanita tua.

Jawab :
Riwayat ini tidak bisa dijadikan dalil, karena sumbernya tidak jelas, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam az-Zaila’i dalam Nashbur Rooyah (4/ 240) : Ghorib (yakni : tidak ada sumbernya).

Dengan demikian larangan berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya berlaku umum. Wallohu a’laam. (Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam hal. : 45-46.)

Demikianlah tulisan ini kami susun seringkas mungkin agar mudah difahami dan dipraktekkan, sehingga pahala ibadah Romadhon kita senantiasa murni dan bersih dengan permulaan yang baik ini. Amien.

[Disarikan dari buku Adillah Tahriimi Mushoofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam karya Muhammad bin Abduh Alu Muhammad al-Abyadhi, Kifayatul Akhyaar karya Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini (2/ 63-65) Dicuplik dari Majalah adz-Dzakhirah al-Islamiyah edisi Syawwal 1428 H.]
Sumber:http://abusalma.net dengan beberapa tambahan dan perubahan gaya tulisan

Ikhlas, Syarat Diterimanya Amal


Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi para prajuritnya. Semua bekerja berdasar perintahnya. Tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah istiqomah dan penyelewengan itu ada. Hati adalah raja, seluruh tubuh adalah pelaksana titah-titahnya. Hati yang selamat dikategorikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat dan syubhat sedangkan hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robb-Nya. Hati seperti ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi sehingga amal perbuatannya mengaharapkan pujian dan perhatian orang lain.

Ikhlas merupakan sifat terpuji dalam hati seseorang yang akan menghiasi prilaku seorang muslim. Segalanya karena Alloh dan untuk Alloh ta’ala. Ikhlas adalah perhiasan hati yang akan menyelamatkan seseorang dari kerugian akhirat, tanpa ikhlas amal perbuatan akan sia-sia tiada guna.

Ikhlas artinya memurnikan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya; menjadikan Alloh ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam segala amal perbuatan dan perkataan baik dzohir maupun batin.


URGENSI IKHLAS

Amal perbuatan hati yang terpenting
Ikhlas merupakan amalan hati yang sangat penting. Dasar dan syarat diterimanya amal perbutan. Tanpa ikhlas manusia akan tersesat dan menjadi orang-orang yang merugi. Dengan ikhlas amal perbuatan akan menjadi agung sekalipun amal itu sepele menurut pandangan manusia. Imam ibnu qoyyim rohimahulloh berkata:” Amal perbuatan hati adalah dasar,dan perbuatan anggota badan merupakan pengikut dan penyempurna saja, dan sesungguhnya niat sebagai ruh sedangkan amal perbuatan bagaikan jasad.”

Dari abu hurairoh radhiallohu anhu berkata, Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda :”seseungguhnya Alloh tidak memandang kepada jasad-jasad dan rupa-rupa kamu, akan tetapi dia memandang kepada hati dan amal-amal kamu.” (HR. Muslim 6543)

Syarat diterimannya ibadah.
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah yang di kerjakan sesuai dengan tuntunan Rosulullohsholallohu alaihi wassalam. Alloh ta’ala telah memerintahkan kita untuk itu dalam firmannya:

Artinya:" Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah hanya kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus." (Albayinah 5)

Imam Al-Izz bin Abdissalam berkata:” Ikhlas dalam beribadah adalah syarat.” Dan Sidiq hasan khon juga berkata:”Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya ikhlas syarat sah dan diterimanya amal perbuatan.”

Benteng dari bujukan setan.
Ikhlas bukan hanya amalan hati yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Alloh ta’ala dan paling utama, selain itu ikhlas juga sebagai benteng seorang mukmin dari bujuk rayu syetan dan fitnah orang-orang yang sesat menyesatkan, ketahuilah bahwa syetan tifdak akan mampu membobol benteng seorang mukmin yang beribadah dengan ikhlas, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

Artinya :"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya.Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka." (QS. Shod 83)

Akhlak orang-orang mulia.
Para salafus sholih sangat memperhatikan niat ikhlas mereka dan saling memberikan wasiat antara satu dan yang lainnya untuk senantiasa mengikhlaskan niat dalam hidup, sebagaimana apa yang pernah di tulis oleh umar bin khotob untuk abu musa al-as’ary, ‘Barangsiapa yang niatnya ikhlas karena Alloh ta’ala niscaya Alloh ta’ala akan mencukupkan dirinya dari apa-apa yang terdapat di antara manusia “ Dan juga sebagaimana yang sudah mashur bahwa para salafuf sholih memulai tulisannya dengan hadits “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya” hal ini sebagai bentuk pengingatan kepada para penulis kitab khususnya untuk mengikhlaskan niat. Imam Abdurrahman bin mahdi mengatakan, “Barangsiapa yang ingin mengarang suatau kitab maka hendaknya memulai tulisannya dengan hadis ini!”


PENOPANG-PENOPANG IKHLAS
Ilmu yang mantap.
Berteman dengan orang yang ikhlas dan mengambilo manfaat dari do'anya.
Membaca kisah orang yang ikhlas.
Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.
Berdo'a dan memohon pertolongan Alloh.

PENGARUH IKHLAS TERHADAP AMAL PERBUATAN
Kelanggengan amal perbuatan.
Amanah.
Ilmu yang benar.
Tekad yang kuat melakukan amal perbuatan.

SIFAT ORANG-ORANG IKHLAS
Hanya mengharapkan wajah Alloh ta'ala.
Sembunyi-sembunyi dalam beramal jauh labih disukai.
Takut amalnya tidak diterima.

METHODE MERAIH IKHLAS.
Mengetahui macam-macam riya, factor-faktor pendorong, dan penyebabnya, kemudian beruhasa memutus dan mencabut akar-akarnya.

Mengetahui keagungan Alloh ta'ala, yaitu dengan cara mengetahui nama-nama dan sifat-Nya, serta perbuatan-Nya dengan pengetahuan yang benar.

Mengetahui sesuatu yang telah disiapkan Alloh di akherat berupa nikmat dan adzab. Jika sang hamba telah mengetahui hal itu niscaya dia akan lari dan menghindarkan diri dari riya menuju ikhlas.

Takut kepada riya yang merusak amal, sesunguhnya orang yang takut kepada suatu perkara ia akan tetap waspada terhadapnya, hingga ia selamat darinya.
Memperbanyak amal kebaikan dan melakukan ibadah-ibadah yang tersembunyi dan berusaha menyembunyikan.

Tidak pengaruh oleh celaan manusia dan pujian mereka, sebab yang demikian itu sangat tidak bermanfaat dan tidak juga membahayakannya. Tetapi hendaknya takut kepada Alloh ta'ala dengan mengikhlaskan amal.

Selalu mengingat kematian dan memangkas angan-angan.

Takut akan su'ul khotimah (akhir hayat yang buruk), dan rasa takut ini maka seorang hamba akan berusaha mengikhlaskan semua amalnya dan juga perkataannya.
Bergaul dan berteman dengan orang-orang yang ikhlas dalam beramal dan bertaqwa.

Berdo'a dan kembali kepada alloh ta'ala agar mengenugrahi keikhlasan kepadanya.

Menghapus sifat tamak terhadap sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain ataupun duniawi lainnya.

Mengetahui buah ikhlas, faidah-faidahnya dan akibat kebaikan yang ditinggalkannya baik di dunia dan di akherat.



BUAH-BUAH IKHLAS

1. Ketenangan Jiwa.
Ikhlas memberikan ketenangan jiwa dan memberikan kedamaian hati kepada pelakunya, sehingga membuatnya lapang dada dan tenang hatinya. Hatinya tertimpun pada satu tujuan, yaitu ketenangan dan keridhaan Allah ta'ala. Hasratnya terhimpun dalam satu wadah, yaitu meniti jalan yang membawanya kepada keridhaan Allah ta'ala. Tidak dapat diragukan, kejelasan tujuan dan kelurusan jalan ke arah itu mampu membuat manusia menjadi tenang menghadapi guncangan karena adanya berbagai trend, kecenderungan dan jalan yang bisa ditempuh. Rasulullah sholallohu alaihi wassalam bersabda:

))مَنْ جَعَلَ اْلهُـمُوْمَ هَـمًّاوَاحِدًا, كَفَاهُ اللهُ هَـمَّ دُنْـيَاهُ وَمَنْ تَشَعََبَتْهُ اْلـهُمُوْمَ, لَـمْ يُـبَالِ اللهُ فيِ أَيِّ اَوْدِيَةِ الـدُّ نْـيَا هَلَكَ.((

"Barangsiapa menjadikan berbagai hasrat sebagai satu hasrat, maka Allah mencukupkannya dari hasrat dunia, dan barangsiapa hasratnya bercabang-cabang, Allah tidak mempedulikannya di penjuru dunia manapun dia mengalami kehancuran dan kebinasaan."(Diriwayatkan Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Yang di maksud hasratnya bercabang-cabang dalam hadits di atas: terbagi-bagi, tertuju kepada harta, kedudukan, nafsu dan lain-lainnya. Berbeda dengan orang mukmin, yang hasratnya hanya tertuju kepada keridhaan Alloh ta'ala. Beliau juga bersabda:

"Barangsiapa dunia merupakan tujuannya, maka Allah memecah-mecah urusannya dan menjadikan kemiskinan ada didepan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan, barangsiapa akhirat merupakan niatnya, maka Allah menghimpun urusannya, menjadikan kecukupan ada di dalam hatinya dan dunia menghampirinya, dan dunia itu adalah sesuatu yang hina."(Diriwayatkan Ibnu Majah. Isnadnya shahih dan rawinya tsiqah. Lihat Az-Zawv'id, nomor 4105).


2. Kekuatan Rohani.
Ikhlas memberikan kekuatan rohani kepada orang yang mukhlis, karena keunggulan tujuan ikhlas di dalam dirinya dan kehendaknya yang menyatu, yaitu keridhaan dan pahala Allah.

Orang yang gila harta, kedudukan, ketenaran atau gelar adalah orang yang amat lemah, yaitu tatkala tiba-tiba menyembul suatu harapan mewujudkan kerakusannya terhadap dunia. Dia orang lemah di hadapan orang-orang yang seharusnya dia beri. Dia orang lemah jika dia takut kehilangan keuntungan yang di harapkannya. Sedangkan orang yang menjual dunia karena Allah, maka dia bisa memperoleh kekuatandan tidak akan melemah, mendapat kemampuan yang tidak mengendor. Maka dengan kebebasannya dari dunia dan ikhlasnya jauh lebih kuat daripada segala kekuatan materiil yang di tangkap mata manusia.

Orang yang mukhlis karena Alloh tidak akan melemah dari janji-janji yang di obral, tidak bergeming karena ancaman, tidak menjadi hina karena kerakusan dan tidak bisa di cegah karena rasa takut. Teladannya dalam masalah ini adalah Nabi sholallohu alaihi wassalam, yang pernah ditawari kekuasaan, kedudukan yang terhormat, harta dan segala kenikmatan dunia, agar beliau menghentikan dakwahnya.

Menghadapi tawaran ini beliau menjawab dengan nada yang keras dan tegas:

((وَاللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فيِ يَـمِيْنيِ وَاْلقَمَرَ فيِ شِـمَاليِ عَلىَ اَنْ اَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ مَاتَرَكْتُـهُ, حَتىَّ يَظْهَرَهُ اللهُ اَوْ اَهْلَكَ دُوْنَهُ.((

"Demi Alloh, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah menegakkannya atau membinasakan yang lainnya. (Yang serupa dengan hadits ini diriwayatkan Ibnu Ishaq di dalam Al-Maghazy, 1/170. kisah ini juga di sebutkan Ath-Thabary secara ringkas di dalam Al-Ausath, dari hadits Uqail bin Abu Thalib, dengan lafadz yang lain).

Andaikata Nabi sholallohu alaihi wassalammempunyai nafsu yang tersembunyi terhadap harta, kekuasaan dan kedudukan, tentu ketegarannya menghadaoi tawaran yang menarik dari para pemimpin Quraisy tersebut akan melemah. Tetapi beliau tahu tujuannya, sehingga beliau pun ikhlas. Beliau tahu Rabb-nya sehingga tidak mau menyekutukan sesuatu dengan-Nya.


3. Amal yang Berkesinambungan.
Ikhlas bisa memberi kekuataan untuk beramal secara berkesinambungan kepada orang yang ikhlas. Seseorang yang beramal karena menyombong di hadapan orang lain, yang beramal karena nafsu perut dan kemaluan, akan menghentikan amalnya jika dia tidak mendapatkan sesuatu yang mengenyangkan nafsunya. Orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan, tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin tersebut di pecat atau mati.

Sedangkan orang yang beramal karena Allah, tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab alasan yang melatarbelakangi amalnya tidak pernah sirna. Wajah Allah tetap abadi jika wajah manusia sirna atau semua makhluk binasa. Firman-Nya,

Artinya: "Dan tidaklah segala sesauatu kecuali pasti binasa kecuali Alloh. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan".(QS. Al-Qashash: 88).

Maka dari itu orang-orang sholih berkata, "Segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan abadi dan berkesinambungan, sedangkan yang dilakukan karena selain Alloh akn terputus dan bercerai". Hal ini seringkali dikuatkan berbagai kejadian, bahkan kita bisa melihatnya sendiri dan setiap saat kita bisa melihatnya.


4. Merubah yang Mubah dan Kebiasaan Menjadi Ibadah.

Ikhlas adalah penyegar amal, yang jika diletakkan di amal manapun, sekalipun amal-amal mubah dan kebiasaan, bisa merubahnya menjadi ibadah dan qurbah (jenis aktifitas yang dapat mendekatkan diri) kepoada Allah. Dalam sebuah hadits Nabi sholallohu alaihi wassalam, beliau pernah bersabda kepada Sa'ad:

"Sesungguhnya tidaklah engkau mengeluarkan nafkah seraya mencari keridhaan Allah melainkan engkau akan di beri pahala karenanya, termasuk pula satu suapan yang engkau letakkan dimulut istrimu". (HR. Bukhori dan Muslim).


5. Tetap memperoleh Pahala Amal Sekalipun Belum Menyempurnakan Amal Itu atau Bahkan Belum Mengamalkannya.
Di antara barakah ikhlas karena Allah, bahwa orang yang mukhlis dapat memperoleh pahal amal secara sempurna, sekalipun dia tidak mampu melaksanakannya secara sempurna. Kita perhatikan firman Allah berikut ini,

Artinya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS. An-Nisa: 100).

Bahkan dengan niatnya yang tulus karena Allah seorang Muslim bisa mendapatkan pahala amal secara sempurna, sekalipun dia tidak melakukan amal itu dan tidak pula ditetapkan dalam syariat. Banyak contoh tentang hal ini yang disebutkan dalam berbagai hadits.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, "Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi sholallohu alaihi wassalam, lalu beliau bersabda:"sesungguhnya ada beberapa orang yang tertinggal di belakang kita di Madinah. Tidaklah kita melewati suatu wilayah dan lembah melainkan mereka senantiasa bersama kita. Mereka terhalang oleh satu alasan".


6. Pertolongan dan Perlindungan Allah.
Orang yang mukhlis mendapat pertolongan dan perlindungan dari Alloh, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?". (QS. Az-Zumar: 36).

Seberapa jauh ikhlasnya seseorang karena Alloh dan kemurniannya, sejauh itu pula pertolongan dan perlindungan yang diberikan Alloh. Uluran berdasarkan latar belakang ini bisa berupa uluran pertolongan, penguatan, taufiq maupun perlindungan, tergantung kepada kemurnian niat di dalam hati dan kebersihan sanubarinya. Allah ta'ala berfirman:

Artinya: "Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Alloh mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu". dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Anfal: 70).

Artinya: "Sesungguhnya Alloh Telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". (QS. Al-Fath: 18).


7. Peneguhan dan Pertolongan Tatkala Menghadapi Keulitan dan Krisis.
Di antara buah ikhlas ialah, bahwa Alloh mengulurkan bantuan kepada orang yang mukhlis, menjaganya dengan mata-Nya yang tidak pernah terpejam dan tidak berpaling darinya tatkala dia berada ditempat yang dilanda bencana, di kepung kesusahan dan kesulitan. Alloh senantiasa mengabulkan doanya, memenuhi panggilannya dan menyibak mendung yang mengelilinginya.

Di antara hal yang aneh dalam masalah ini seperti yang telah di sebutkan al-Qur'an, adalah pengabulan Alloh terhadap dua orang-orang musyrik, tatkala mereka berada di atas perahu yang mengarungi lautan, lalu ada badai yang menerjang dan gelombang yang datang dari segala penjuru. Mereka berdoa kepada Allah dalam situasi yang kritis itu dengan sungguh-sungguh dan tulus. Lalu Allah mengabulkan doa mereka, sekalipun setelah itu kesungguhan dan ketulusan mereka berubah. Alloh berfirman:

Artinya:"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Alloh dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, Kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu kami kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (QS. Yunus: 22-23)


8. Masyarakat Aman dari Kejahatan dan Tercipta Stabilitas Kehidupan.
Tidak ketinggalan kita sebutkan dari peringatan di atas, bahwa hasil ikhlas tidak hanya terbatas di akhirat saja. Dengan kata lain, kita tidak mencari ikhlas agar amal-amal kita diterima disisi Alloh, kita bisa mendapatkan keberuntungan di akhirat dan masuk surga, atau kita bisa selamat dari neraka, tetapi lebih dari itu, bahwa ikhlas di tuntut agar segala urusan diduniabisa berjalan lancer, untuk membenarkan yang benar, meluruskan yang lurus, membatilkan yang batil, memasyarakatkan kebaikan, mengakkan keadilan, mengenyahkan kedzaliman dan membebaskan masyarakat dari berbagai dampak kerusakan.

Kehidupan menjadi kacau dan lepas kendalinya, jika tidak ada ikhlas, kemunafikan ada dimana-mana. Orang-orang munafik merajai dan dagangan mereka juga laku. Karena sudah ditunggangi hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri untuk mendapatkan keduniaan dan materi, mereka tidak peduli jika ada orang kerdil menjadi raksasa, setan menjadi malaikat, pencoleng menjadi orang terpandang. Mereka bisa menuduh orang-orang yang mulia, mengkhianati orang-orang yang terpercaya, mendustakan orang-orang baik. Mereka tidak peduli jika fatamorgana menjadi air dan rekan menjadi lawan. Kita bisa merasakan yang demikian ini dalam syair-syair lama atau dalam tulisan sebagian para wartawan pada zaman sekarang.

Banyak hal yang dimunculkan dari keikhlasan disamping yang tersebut diatas. Ikhlas dapat membuahkan kemenangan bagi umat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah sholallohu alaihi wassalam: "Allah akan menolong umat ini Karena orang lemah diantara mereka, doa, sholat, dan ikhlas mereka". (Shahih At-Targhib wa Tarhib jilid: 1).

Demikianlah pembahasan ikhlas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin umumnya dan bagi yang membaca secara khusus.
sumber: HASMI.org

Rabu, 25 Agustus 2010

Meraih derajat mulia dengan menguasai Ilmu Agama


Saat ini, orang yang mau belajar dan menekuni ilmu syar'i sudah sangat langka, yang banyak adalah belajar ilmu syar'i sekedarnya. Misalnya, sekali seminggu menghadiri pengajian, mengikuti kursus-kursus singkat, membaca buku terjemahan, atau sekedar mengikuti mata pelajaran agama di sekolah yang porsinya sangat kurang. Akibatnya, banyak umat Islam yang buta akan ajaran agamanya. Jangankan pengetahuan ilmu syar'i secara umum, hal-hal yang wajib diketahui dalam uru-san agama pun banyak yang tidak tahu.

Pertama, Yang dimaksud ilmu syar'i (agama) di sini, bukanlah sembarang ilmu agama, namun ilmu syar'i yang benar-benar shahih berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan manhaj (pemahaman dan pengamalan) para ulama Salaf.

Kedua, yang dimaksud ilmu syar'i di sini adalah yang menghantarkan seseorang kepada takwa (Lihat QS. Fathir: 28), sehingga ia selalu menjaga keta'atan kepada Allah, baik ketika sendiri maupun di tengah banyak orang.

Ketiga, ilmu syar'i yang kita maksud di sini adalah yang mendorong pemiliknya untuk mengamalkannya. Ia tidak sekedar wacana, teori atau sekedar pengetahuan.

Sebab Kurangnya Motivasi
Ada banyak sebab sehingga seseorang kurang atau tidak termotivasi belajar ilmu syar'i. Di antara yang terpenting adalah:

Pertama, Tidak Mengetahui Tingginya Kedudukan Ilmu Syar'i.
Padahal Nabi Shallallaahu alaihi wasalam menyatakan, artinya: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan untuknya, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agamanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bukti Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba adalah dengan menganugerahinya pemahaman ilmu syar'i. Mereka itulah ulama, pewaris para nabi, penjaga syari'ah dan kemurnian agama Allah (Lihat QS. At-Taubah: 122). Ibnu Qayyim Rahimahullaah berkata: "Barangsiapa mencari ilmu untuk menghidupkan Islam, maka ia termasuk orang-orang shiddiqin, yang derajatnya setelah derajat para nabi ‘alaihimus salam."

Kedua, Tidak Mengetahui Kewajiban Mencari Ilmu Syar'i.
Memang, tidak semua ilmu syar'i wajib kita ketahui secara luas dan mendalam. Misalnya harus memahami ilmu tafsir, hadits, aqidah, fiqh, faraidh dsb, sebab yang demikian itu adalah tugas para ulama (Lihat QS. At-Taubah: 122). Tetapi di dalam Islam, ada ilmu yang hukum mempelajarinya adalah fardhu ain (wajib bagi setiap individu muslim). Yaitu ilmu syar'i yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah yang dikerjakan seseorang. Seperti syahadat, shalat, puasa, zakat, haji bagi yang mampu, dsb. Artinya, orang yang mengerjakan shalat misalnya, harus terlebih dahulu belajar tentang shalat secara benar sesuai tuntunan RasulAllah . Bila tidak belajar tentang tata cara shalat, maka dia berdosa sebab berakibat pada berbagai kesalahan dalam shalatnya, demikian juga dengan amalan yang lain.

Ketiga, Terjangkit Penyakit Cinta Dunia dan Takut Mati.
Kini mayoritas umat Islam memandang sesuatu dengan kaca mata duniawi. Artinya, sejauh mana sesuatu itu bisa mendatangkan manfaat materiil dan bisa menjamin kesejahteraannya di dunia. Karena dalam pandangan mereka ilmu syar'i tidak menjanjikan kekayaan, jabatan dan popularitas maka mereka enggan mempelajarinya. Padahal bila manusia hidup sekedar untuk memenuhi kebutuhan jasmani (materi), maka tidak ada bedanya dengan binatang. (Lihat QS. Muham-mad:12) Pemenuhan kebutuhan jasmani tidak menjamin kebahagiaan dan ketenangan. Kebahagiaan letaknya di hati, sedangkan hati makanannya adalah ilmu syar'i yang mendekatkannya kepada Allah Maha Pemberi, yang memberikan kebahagiaan hakiki, di dunia maupun di akhirat.

Agar TermotivasiI Belajar Ilmu Syar'i
1. Ikhlas Karena Allah.
Sarana terbesar untuk memotivasi seseorang belajar ilmu syar'i adalah niat yang ikhlas dan jujur kepada Allah. Orang yang belajar karena Allah semata, akan mendapatkan pertolongan Allah, sehingga semangatnya terus berkobar. Imam Ibnu Jamaah rahima-hullah menegaskan tentang ikhlas: "Hendaknya dalam belajar ia memaksudkan hanya untuk mengharapkan ridha Allah, mengamalkannya, meng-hidupkan syari'ah-Nya, menerangi hatinya, menghiasi batinnya dan untuk mendapatkan janji Allah bagi para ahli ilmu. Sebaliknya, tidak untuk mendapatkan hal-hal duniawi, seperti kepemimpinan, jabatan, harta, dan pujian manusia !
Jika seseorang merasa kurang ikhlas, maka jangan lantas berhenti menuntut ilmu, tetapi wajib memaksa dirinya untuk ikhlas karena Allah, berusaha terus memperbaiki niat dan membersihkannya. Bila dia benar-benar jujur kepada Allah untuk mencapai keikhlasan, insya Allah ia akan dimudahkan Allah.

2. Mengenal Perjuangan Ulama Salaf Dalam Menuntut Ilmu.
Imam Syafi'i rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana hasrat tuan ter-hadap ilmu?”Beliau manjawab, “Saya seperti mendengar kata-kata yang tidak pernah saya dengar. Saya bahkan ingin agar saya punya banyak pendengaran, supaya bisa menikmati seperti yang dinikmati oleh kedua telinga saya”. “Bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?” Beliau menjawab,“Seperti rakusnya pencari harta yang mencapai puncak kenikmatan karena hartanya.' 'Bagaimana tuan mencari ilmu?' beliau menjawab 'Seperti seorang ibu yang bingung mencari anaknya, yang semata wayang'. Ibnu Asakir dalam menceritakan Abu Manshur Muhammad bin Husain An-Naisaburi berkata, 'Beliau terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, meski dalam kondisi fakir. Bahkan beliau meng-ulangi dan menulis pelajarannya di bawah sinar rembulan, karena tidak mampu membeli minyak lampu.'

Ibnu Katsir berkata, 'Ilmu tidak bisa diperoleh dengan leha-leha.' Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi berkata, 'Untuk menuntut ilmu hadits, saya mengalami kencing darah dua kali, pertama di Baghdad dan kedua di Makkah. Hal itu karena saya berjalan dengan kaki telanjang di tengah sengatan terik matahari. Saya tidak pernah naik kendaraan saat mencari hadits kecuali sekali, dan saya selalu membawa kitab-kitab di punggung saya.' Sementara Imam Baqi bin Mukhallad Al-Andalusi pada tahun 221H berjalan kaki dari Andalus (Spanyol) ke Baghdad untuk menemui dan belajar kepada Imam Ahmad.

3.Mengetahui Penyesalan Ulama Salaf Atas Hilangnya Kesempatan Menuntut Ilmu.
Ahmad bin Ibrahim Al-Abbas berkata, 'Ketika sampai berita wafatnya Imam Muhammad Ar-Razi, saya masuk kamar dan menangis. Keluargaku mengerumuniku dan bertanya, 'Apa yang menimpamu?' 'Imam Muhammad Ar-Razi telah wafat, kalian melarangku ke sana untuk menuntut ilmu,' jawab-ku. Akhirnya mereka mengizinkanku mencari ilmu kepada Syaikh Hasan bin Sinan.' Abu Ali Al-Farisi berkata: 'Terjadi kebakaran besar di Baghdad, semua kitabku terbakar, padahal saya menulisnya dengan kedua tanganku. Selama dua bulan saya tidak kuasa berbicara dengan seorang pun, karena kesedihan dan duka yang dalam, bahkan beberapa saat saya dalam keadaan linglung.' Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj berkata, 'Saya ingat, saya pernah ketinggalan tidak mendengar satu hadits dari Syaikh saya, sehingga saya sakit (karena sangat menyesal dan sedih akibat ketinggalan tersebut).

4. Mengetahui Bagaimana Para Ulama Salaf Tidak Tidur Untuk Menuntut Ilmu.
Dikisahkan, Imam Asad bin Al-Furat melakukan perjalanan ke Iraq un-tuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullaah. Imam Asad berkata, “Saya orang asing dan bekalku hanya sedikit, bagaimana agar saya bisa belajar lebih dari sekedar mengikuti kajian tuan?” Syaikh Asy-Syaibani menjawab, “Tetaplah ikut kajian pada siang hari, dan saya khususkan waktu malam untuk mengajarimu sendirian. Menginaplah di rumahku dan kamu akan saya ajari ilmu'. Imam Asad berkata, "Maka saya pun menginap di rumah beliau, beliau mendatangiku dengan membawa seember air. Beliau lalu membacakan ilmu untukku, jika malam telah larut dan aku mengantuk, beliau mengambil air dan memercikkannya ke mukaku, sehingga saya bersemangat lagi. Demikian terus berlalu, sehingga saya selesai belajar ilmu apa saja yang saya inginkan."

Abul Qasim Al-Muqri' berkata, Imam Al-Hazimi senantiasa menelaah kitab dan mengarang hingga terbit fajar. Seseorang kemudian berkata kepada pembantunya, 'Jangan kamu berikan minyak untuk pelitanya, barangkali beliau istirahat malam itu.' Ketika malam tiba, Imam Al-Hazimi meminta minyak kepada pembantunya. Lalu dijawab, minyaknya telah habis. Imam Al-Hazimi lalu masuk ke rumahnya dan shalat di dalam kegelapan malam sampai terbit fajar.'

5. Menjauhi Teman-Teman Yang Malas.
Di antara pembunuh semangat belajar ilmu syar'i adalah berteman dengan orang-orang ahli maksiat. Tidak kalah bahayanya adalah bergaul dengan orang-orang yang malas serta enggan melakukan kegiatan positif dan bermanfaat. Abu Hurairahzberkata, Rasulullah Shallallaahu alaihi wasalam bersabda: "Seseorang itu tergantung agama kawannya. Karena itu, hendaknya salah seorang dari kamu melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

6. Merasakan Bahwa Anda Terus Berperang dengan Setan.
Setan adalah musuh bebuyutan anak cucu Adam. Mereka menghalangi setiap muslim dari menjalankan kebaikan, termasuk mencari ilmu. Di antara cara setan dalam menghalangi manusia dari mencari ilmu syar'i adalah:

Pertama, menunda-nunda belajar.

Setiap kali seseorang ingin mempelajari ilmu dan membaca, setan membisikinya dengan mengatakan, tunda saja besok pagi, sekarang waktunya tidak tepat. Demikian dilakukan setan setiap saat, sampai orang itu menjadi tua, dan tidak berkesempatan mempelajari agamanya.

Kedua, dibisiki bahwa ilmu syar'i tidak akan bisa mengubah sesuatu pun bagi kondisinya sekarang. Argumen ini dapat kita bantah dengan melihat keadaan para pembaharu dan ulama Salaf. Seperti yang terjadi pada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Senjata mereka dalam memperbaiki keadaan adalah hujjah (dalil) dan ilmu.

Ketiga, membisiki bahwa dirinya tidak akan mampu belajar ilmu syar'i. Apalagi jika yang bersangkutan adalah orang awam yang baru saja bertaubat kepada Allah. Ia merasa tidak bisa menuntut ilmu agama karena terbiasa dengan kemaksiatan dan kemalasan. Ia merasa sulit menghilangkan masa lalunya, sehingga sulit pula belajar ilmu syar'i.

Untuk mengobati penyakit ini ada dua hal penting yang harus diingat, pertama, merubah kebiasaan masa lalu yang buruk menjadi kebiasaan yang terpuji dengan terus melawan hawa nafsu dan membiasakan kebaikan, dan kedua, hendaknya ia merenungkan keadaan para penuntut ilmu. Di antara mereka dahulunya ada orang-orang yang sesat, kemudian Allah menganugerahkan hidayah dan istiqamah kepada mereka, maka mereka menjadi giat menuntut ilmu. Mengapa ia tidak berusaha seperti mereka?
dari: alsofwah.or.id

Kami Berjuang Demi Membela Hak-Hak Manusia!


Seruan semacam ini sering kita dengar. Terutama bagi para pengusung HAM. Dan banyak sekali kalangan yang tertipu dan terbius dengannya, sampai-sampai sebagian aktifis gerakan dakwah pun termakan oleh slogan ini. Padahal, di balik slogan -yang terdengar merdu ini- tersimpan rencana jahat Iblis dan bala tentaranya untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah ta’ala, yaitu jalan tauhid. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Inilah jalanku, aku menyeru menuju Allah, di atas landasan bashirah/ilmu, inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku…” (QS. Yusuf: 108).

Hak-hak manusia sedemikian agung dalam pandangan mereka. Mereka benci dan murka apabila hak-hak manusia dihinakan dan diinjak-injak oleh sesamanya. Mereka pun bangkit dengan mengatasnamakan pejuang hak azasi manusia, pembela rakyat kecil, pembela kaum tertindas, dan gelaran-gelaran ‘keren’ lainnya. Orang-orang pun merasa tertuntut untuk mendukung mereka, karena mereka khawatir disebut tidak punya kepedulian terhadap sesama. Dan yang lebih busuk lagi, kalau ada yang menjadikannya sebagai sarana untuk meraih ambisi kekuasaan belaka!

Padahal, hak-hak manusia -sebesar apapun jasanya, semulia apapun kedudukannya- tetap saja masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan hak Allah ta’ala, Rabb yang menciptakan dan mengatur jagad raya. Apa lagi yang sering disuarakan oleh mereka adalah Hak-hak manusia yang bertentangan dengan hak Allah subhanahu wata’ala. Seperti pornografi dan pornoaksi, seolah-olah hak manusia dipertuhankan dan hak Allah dimanusiakan.Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan agar dakwah tauhid didahulukan sebelum ajakan-ajakan yang lainnya. Beliau bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka yaitu supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma). Demikian pula beliau mengajarkan kepada kita, “Hak Allah atas hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu). Namun, jangan disalahpahami bahwa ini berarti kita meremehkan hak-hak manusia, sama sekali tidak!

Jangan Bicara Masalah Bid’ah!


Ungkapan semacam ini pun sering terlontar. Dalam persepsi mereka (orang jahil), bid’ah itu adalah masalah sensitif yang tidak perlu diungkit-ungkit. Mengapa demikian? Karena dengan memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan menjelaskan amalan-amalan serta keyakinan-keyakinan yang bid’ah akan menyebabkan timbulnya konflik internal di dalam tubuh kaum muslimin, dan menurut ‘hemat mereka’ hal itu akan melemahkan kekuatan kaum muslimin dan memecah belah persatuan mereka. Sepintas, sepertinya ini adalah alasan yang masuk akal dan bisa diterima… Namun, jangan terburu-buru! Karena ternyata cara berpikir semacam ini tidak dibenarkan oleh agama.

Sebelumnya, kita yakini bersama bahwa bid’ah adalah tercela dan sesat. Allah tidak menerima ibadah yang dilakukan namun tidak ada tuntunannya alias diada-adakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha). Sebagian ulama salaf juga berkata, “Bid’ah lebih disukai Iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih ada kemungkinan diharapkan taubat darinya. Adapun bid’ah, maka sulit diharapkan taubat darinya.” Selain itu, sebagaimana kita yakini pula bahwa dalam berdakwah kita harus bersikap bijak, tidak boleh serampangan atau asal-asalan. Bahkan, sikap bijak/hikmah merupakan pilar dalam dakwah. Namun, bersikap bijak bukan dengan cara membiarkan kemungkaran merajalela tanpa pengingkaran kepadanya.

Tatkala bid’ah menjadi penghalang diterimanya amalan, bahkan ia termasuk kategori dosa dan kemungkaran, maka sudah sewajarnya seorang da’i memperingatkan bahayanya dan menjelaskannya kepada umat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di setiap khutbah Jum’at beliau selalu memperingatkan umat dari bahaya bid’ah dan mengingatkan mereka bahwa setiap bid’ah adalah kesesatan yang berujung kepada kehancuran, sebagaimana yang tertera di dalam khutbatul hajah di setiap awal ceramah. Oleh sebab itu para ulama menganggap bahwa orang yang membantah ahlul bid’ah adalah termasuk golongan mujahid!

Tidakkah anda ingat bagaimana sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma dengan ilmu sunnah yang dimilikinya dengan tegas membantah dan berlepas diri dari bid’ah Qadariyah yang muncul di masanya? Demikian pula para ulama salaf lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang dengan tegar mempertahankan aqidah al-Qur’an kalamullah dan bukan makhluk, dan masih banyak ulama lain yang melakukan perjuangan serupa seperti mereka berdua dengan segala resiko yang harus mereka tanggung di jalan dakwah ini. Maka apabila kita telah mengetahui itu semua, jelaslah bagi kita bahwa seorang da’i yang tidak menempuh jalan ini -memperingatkan umat dari bahaya bid’ah- itu maknanya dia telah berkhianat terhadap amanah dakwah. Karena ‘pengkhianatannya’ itulah statusnya akan berubah dari seorang da’i ilallah -orang yang mengajak kepada Allah- menjadi da’i ila ghairillah -orang yang mengajak kepada selain Allah-! Nas’alullahas salamah

Lalu bagaimana menurut anda?

Selasa, 24 Agustus 2010

Wahai Shobat Muda.. Ngaji Yuk..!!


Wahai shobat muda, ada Info bagus buat kalian.. Terlebih lagi bagi yang tingal di Bogor..

Kalian bisa mengisi bulan Romadhon ini dengan kegiatan yang super POSITIF.
Ikutilah Acara FORKIP (Forum Kajian Islam Untuk Pelajar).

Tema:
Membangun Generasi Robbani di Bulan Suci

Tempat:
SDIT Al-Hidayah-Cibinong. Tepatnya disamping RSUD Cibinong-Bogor

Waktunya:
Hari Sabtu sampe Ahad, 28-29 Agustus 2010, dimulai dari pukul 14.00-13.45.

Fasilitas yang kalian dapatkan:
1. Ilmu yang bermanfaat.
2. Tempat yang nyaman.
3. Paket berbuka puasa dan makan sahur.
4. Snack.
5. Buku Tafsir sepersepuluh al-Qur’an.
6. Dorprize Menarik.

Infaq:
Rp. 5.000 doank

Persyaratan
:
1. Khusus Laki-laki.
2. Pelajar SMA/sederajat.
3. Membawa mushaf al-Qur’an.
4. Membawa Alat tulis.
5. Membawa perlengkapan pribadi.

Buruan Daftar..!! Caranya mudah, Kalian bisa sms dengan format:
Ketik FORKIP (Spasi) Nama (Spasi) Asal sekolah. Lalu kirim ke: 0857 8256 7334
Contoh: FORKIP Ahmad SMAN 2 Bogor

Jangan sampai ketinggalan..!!
, Peserta dibatasi hanya 80 Orang
CP: Wahyu 0857 8256 7334
Thoriq 0878 0624 269

Senin, 23 Agustus 2010

Menggapai Pahala Lailatul Qodar dengan I'tikaf


Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.



Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan
Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.

Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha- berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah malah mengisi hari-hari terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah dan lain sebagainya. Renungkanlah hal ini!

Keutamaan Lailatul Qadar
Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat malam Lailatul Qadar, suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97]: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

Catatan: Perhatikanlah bahwa malam keberkahan tersebut adalah lailatul qadar. Dan Al Qur’an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيهِ القرآن

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Maka sungguh sangat keliru yang beranggapan bahwasanya Al Qur’an itu turun pada pertengahan bulan Sya’ban atau pada 17 Ramadhan lalu diperingati dengan hari NUZULUL QUR’AN. Padahal Al Qur’an itu turun pada lailatul qadar. Dan lailatul qadar -sebagaimana pada penjelasan selanjutnya- terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Renungkanlah hal ini!

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi ?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)

Catatan: Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini. Amin Ya Sami’ad Da’awat.

Do’a di Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita -Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat Ash Shohihah)

Tanda Lailatul Qadar
[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)

I’tikaf dan Pensyari’atannya
Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan) untuk melakukan i’tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada setiap Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari)

Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf? Dalam kitab Lisanul Arab, i’tikaf bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/150)

Dan paling utama adalah beri’tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah beri’tikaf di 10 hari terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim)

I’tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja
I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”.

Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, “Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”, hadits ini masih dipersilisihkan apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151)

Wanita Juga Boleh Beri’tikaf
Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR. Bukhari & Muslim)

Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] Diizinkan oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/151-152)

Waktu Minimal Lamanya I’tikaf
I’tikaf tidak disyaratkan dengan puasa. Karena Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, aku dulu pernah bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tunaikan nadzarmu.” Kemudian Umar beri’tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika beri’tikaf pada malam hari, tentu tidak puasa. Jadi puasa bukanlah syarat untuk i’tikaf. Maka dari hadits ini boleh bagi seseorang beri’tikaf hanya semalam, wallahu a’lam.

Yang Membatalkan I’tikaf
Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), [2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/155-156)

Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber Rujukan:

1. Shohih Fiqh Sunnah II
2. Majalis Syahri Ramadhan
3. Adwa’ul Bayan
Disalin dari:Muslim.or.id

Minggu, 22 Agustus 2010

Puasa Mata= Menahan Pandangan/Ghodul bashor


Saudaraku yang mudah-mudahan dirahmati Allah…Sebagaimana yang sering kita dengar bahwa Puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar, walaupun puasa seperti itu tetap sah, namun sungguh disayangkan kesempatan untuk mendapat pahala besar akan terlewatkan begitu saja jika kita hanya puas dengan hasil seperti itu. Rasulullah SAW bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroni).

Salah satu yang menyebabkan hilangnya pahala puasa kita adalah dikarenakan pandangan mata, mata memang anugrah dari Allah SWT, dan Allah memberikan kecenderungan kepada setiap laki-laki untuk tertarik kepda lawan jenis. Maka tak heran jika mata ini akan selalu tertarik dan tergoda untuk melihat pemandangan yang diharamkan untuk dilihat, terlebih lagi di zaman ini mayoritas wanita sudah kehilangan rasa malunya, mereka keluar rumah dengan mengenakan pakaian yang membuka aurat. Mereka ada dimana-mana, di TV, di Internet, Koran, Majalah, di kendaraan umum, sekolah, kampus, terlebih lagi di jalanan atau pusat perbelanjaan (mall). Seolah-olah tak ada tempat di dunia ini yang tidak terdapat wanita yang membuka aurat, bahkan di masjid sekalipun ada saja wanita yang masih menampakkan kecantikannya, dengan jilbab modis dan parfumnya yang semerbak. Tentu seorang Ikhwan atau laki-laki yang bijak tidak lantas hanya menyalahkan wanita yang membuatnya tergoda untuk memandang mereka, sebab sudah jelas bahwa para wanita yang membuka auratnya itu telah berdosa besar. Maka tak heran jika Rasulullah bersabda: “Aku melihat kedalam surga, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang faqir dan aku menengok ke neraka maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” HR. Muslim

Oleh karena itu, seorang laki-laki dituntut untuk bisa menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan kepala ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan di samping tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar. Pandangan yang terpelihara adalah apabila seseorang memandang sesuatu yang bukan aurat orang lain lalu ia tidak mengamat-amati kecantikan/kegantengannya, tidak berlama-lama memandangnya, dan tidak memelototi apa yang dilihatnya.

Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk menahan pandangan dan larangan untuk mengumbarnya. Diantaranya adalah firman Allah dalam Al-Quran yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur [24]: 30-31)
Dalam ayat tersebut, Larangan menahan pandangan didahulukan dari menjaga kemaluan karena pandangan yang haram adalah awal dari terjadinya perbuatan zina.
Disamping itu Rasulullah SAW juga bersabda,
Diantaranya adalah dalam hadits yang diriwayatkan Dari Jabir bin Abdillah ra berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang pandangan tiba-tiba atau tanpa sengaja, lalu beliau memerintahkanku untuk memalingkannya. (HR. Muslim).
Maksudnya jangan meneruskan pandanganmu, karena pandangan tiba-tiba tanpa sengaja itu dimaafkan, tapi bila diteruskan berarti disengaja.

Dalam hadits lainnya beliau juga bersabda:
Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain. Seorang laki-laki tidak boleh bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan seorang perempuan tidak boleh bercampur dengan perempuan lain dalam satu pakaian. (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud & Tirmidzi).

Pembaca yang budiman, inilah diantara dalil yang menunjukan bahwa menahan pandangan adalah kewajiban bagi laki-laki terhadap wanita atau sebaliknya wanita terhadap laki-laki. Dan seperti yang kami sampaikan di awal tadi, bahwasanya untuk menahan pandangan di zaman ini tidak mudah, terutama bagi laki-laki, maka di bulan romadhon inilah saat yang tepat untuk melatih mata kita agar terbiasa untuk mengalihkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah swt. Dan berikut ini kami akan sampaikan beberapa dampak negative dari mengumbar pandangan, semoga dengan mengetahui dampak negative ini kita semakin waspada terhadap pandangan yang liar, adapun diantara Akibat Negatif tersebut adalah:

1. Rusaknya hati.
Pandangan yang haram dapat mematikan hati seperti anak panah mematikan seseorang atau minimal melukainya. Seorang penyair berkata: Segala peristiwa bermula dari pandangan, dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang kecil.

2. Terancam jatuh kepada zina.
Ibnul Qayyim berkata bahwa pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, lintasan pikiran melahirkan ide, sedangkan ide memunculkan nafsu, lalu nafsu melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan zina. Salah seorang Penyair berkata: Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam,..Lantas bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu.

3. Lupa ilmu.
Imam Syafi’i berkata: Kuadukan kepada Waki’, guruku, tentang buruknya hafalanku..
Sang guru mengarahkan dengan berkata: “Tinggalkanlah maksiat..!!.”
Diberitahukannya kepada sang murid bahwa ilmu itu cahaya,
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

4. Pandangan yang liar Merusak sebagian amal. hal ini sebagaimana Hudzaifah ra berkata: “Barangsiapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya berarti ia telah membatalkan puasanya.” Pembaca yang budiman, Tentu saja yang dimaksud membatalkan puasa di sini bukanlah batal secara hakikat, namun maksudnya adalah merusak pahala puasa.
Inilah beberapa hal yang akan kita dapatkan jika membiarkan pandangan ini melihat hal-hal yang diharamkan Allah swt. Dan berikut ini juga kami akan coba berikan beberapa tips agar kita semua bisa menjaga pandangan ini. Diantaranya adalah:

1.Menghadirkan pengawasan Allah dan rasa takut akan siksa-Nya di dalam hati.
2.Menjauhkan diri dari semua penyebab mengumbar pandangan seperti yang telah disebutkan, diantaranya adalah jangan berkunjung ke tempat yang didalamnya banyak wanita pembuka aurat seperti pusat-pusat perbelanjaan, dan jangan menonton tv
3.Selalu mengingat akibat-akibat negative dari mengumbar pandangan seperti yang sudah kami sebutkan tadi.
4.menginat pahala dari Allah bahwa dengan menjauhi larangan Allah, kita akan mendapat kesempatan untuk masuk surga, dan disana terdapat bidadari yang cantik jelita.
5.Segera memalingkan pandangan ketika tanpa disengaja melihat yang haram.
6.Menyalurkan keinginan melalui jalan yang halal, yaitu pernikahan.
7.Bergaul dengan orang-orang shalih dan Selalu merasa takut dengan su’ul khatimah ketika meninggal dunia.

Inilah diantara hal-hal yang dapat membantu kita agar dapat menahan pandangan, terutama saat menjalankan ibadah shoum romadhon. Dan mungkin ini saja yang dapat kami sampaikan di kesempatan kali ini, semoga apa yang kami sampaikan bermanfaat. Dan semoga Allah meneripa ibadah puasa kita.
Oleh: Yusuf Supriadi (Admin)

Sumber Inspirasi:
http://www.dakwatuna.com/2010/ghadh-dhul-bashar-menahan-pandangan-bagian-ke-1/
http://lomba.kompasiana.com/group/puasa-dulu-baru-lebaran/2010/08/10/puasa-mataitu-yang-paling-sulit/
http://alhannan.ft.ugm.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=17:mayoritas-penghuni-neraka-adalah-wanita&catid=9:niswah&Itemid=11




Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru