Kamis, 07 Januari 2010

Cukupkah kita hanya menjadi orang shalih?


Dalam sebuah hadits beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik manusia diantaramu adl yg paling banyak manfaat bagi orang lain” {H.R. Bukhari}. Dan mungkin Kita sering menyaksikan atau memiliki seorang teman yang sudah mulai rutin mengikuti sebuah pengajian, yang mana dengan itu ia jadi berubah. Tak hanya dari penampilan fisik, tapi juga sikap. musik dan hura-hura yang dulunya ia sukai kini sudah ditinggalkan. Aktivitasnya kini hanya berkisar antara rumah, kampus dan masjid. Ibadahnya pun sangat rajin.

Tak hanya ibadah wajib, tapi juga sunnah. bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al-Qur’an atau buku yang akhir-akhir ini mulai memenuhi kamarnya. akan tetapi di samping hal positif tersebut, ternyata Ia Jarang bergaul dengan orang-orang sekitarnya. yang akhirnya sifat Ini mengundang tanda tanya besar bagi tetangga bahkan keluarganya.

Perilaku tersebut merupakan salah satu gambaran sosok muslim yang tidak berguna. Ia shalih bagi dirinya, tapi keshalihannya itu tak berpengaruh apa-apa bagi orang lain. Sosok seperti ini tidak sedikit. Mereka merasa dengan menjaga keshalihan pribadi saja sudah cukup. Masa bodoh dengan orang lain. Padahal Islam tentu saja tak menghendaki hal ini. Seorang Muslim hendaknya tak hanya shalih bagi dirinya, tapi juga mushlih bagi orang lain.
Ada tiga tipe manusia terkait dengan keshalihannya dengan orang lain. Tipe pertama, orang yang shalih tapi merusak. Tipe seperti ini tercermin pada mereka yang rajin melaksanakan ibadah ritual, tapi perilakunya merusak.
Misalnya, melakukan korupsi, menggasak uang rakyat, menyelundupkan harta negara, menumpuk kekayaan untuk pribadi. Dalam segala tindak tanduknya itu, ia tak pernah peduli dengan kesengsaraan orang lain. Tak heran kalau di samping rumahnya yang mewah, juga berdiri gubuk reot.

Lalu, bagaimana sifat-sifat ini bisa muncul? Ada beberapa hal yang melatarinya. Pertama, hubbud dunya wa karahiyatul maut, artinya (cinta dunia dan takut mati). Sikap seperti ini akan melahirkan manusia-manusia rakus. Ia menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Akibatnya, ia tak peduli dengan segala yang dilakukan, apakah menerjang rambu-rambu agama atau tidak. Segala aktivitas ibadahnya tidak berorientasi pada ridha Allah. Tapi lebih pada sekedar menggugurkan kewajiban dan mencari legitimasi sebagai orang baik di mata manusia.

Sikap seperti ini tak ubahnya dengan perilaku orang munafik. Mereka senantiasa menampilkan kebaikan di depan orang banyak, padahal mereka adalah perusak. Berkenaan dengan hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 11-12).

Kemudian Tipe manusia yang kedua yaitu orang shalih yang pasif. Tipe orang seperti ini adalah mereka yang rajin beribadah, dan tidak melakukan kerusakan. Tapi, mereka tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Keshalihan baru sebatas untuk dirinya sendiri. Ia tak mau peduli dengan sesamanya. Jangankan mau mengubah keadaan umat dengan mengabdikan dirinya dalam aktivitas dakwah, memikirkannya pun tidak. Pembantaian atas umat Islam di berbagai negeri tidak menyentuh hatinya untuk sekadar prihatin. Gencarnya usaha-usaha pemurtadan, tidak menggerakkan hatinya untuk berbuat. Ia asyik dengan dirinya sendiri.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Di antaranya, mudah puas dengan melakukan kebaikan yang sedikit. Orang yang salah memahami agama dan menempatkannya hanya untuk keshalihan pribadi, akan mudah puas dengan kebaikan yang ia lakukan. Padahal, dalam Islam, ibadah ritual hanyalah sebagian kecil dari ajaran Islam, dan bukan segalanya.

Orang yang menganggap Islam hanya sebatas pada ibadah ritual semata, akan mudah puas dan merasa sudah berada pada puncak pengabdian pada Allah hanya karena tak pernah meninggalkan tahajud. Akibatnya, ia tidak melakukan ibadah sosial lainnya.
Hal lain yang menyebabkan orang shalih ini pasif adalah tidak memiliki semangat keagamaan yang baik. Akibat pemahaman yang parsial, maka baginya tak ada permasalahan besar selain ibadah ritual. Ia akan menggangap permasalah di luar itu bukan wilayahnya. Bahkan negerinya sedang dikepung oleh kejahilan dan kesesatan serta dijajah secara ideologi oleh pihak asing pun tidak menjadi beban pikirannya. Menurutnya, ribuan kaum Muslimin yang dibantai Zionis Israel di Palestina, hancurnya tempat-tempat ibadah kaum Muslimin di negeri Irak, dan berlangsungnya diskrminasi terhadap umat Islam di berbagai negara, tak ada hubungan dengan ibadahnya.
inilah dua tipe manusia yang hanya sholih tetapi tidak berdaya guna, semoga kita terhindar dari sifat-sifat seperti itu, lalu bagaimana sebenarnya sikap muslim yang baik?

Muslim yang baik adalah muslim yang shalih dan berguna. Inilah tipe ideal seorang Muslim. Selain melaksanakan ibadah ritual, ia juga memberikan manfaat bagi orang banyak. Ia ibarat lampu yang menerangi sekitarnya. Rasulullah saw mengibaratkan mereka ini seperti lebah. Beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda ” Perumpamaan orang beriman itu ibarat lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapinya” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Bazzar). Dan tipe mukmin seperti inipun digambarkan Allah melalui firman-Nya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kepada rabb kalian, dan lakukanlah kebajikan agar kalian beruntung,” (QS al-Hajj: 77).

Dalam ayat di atas, Selain mengandung perintah sujud dan rukuk serta beribadah, Allah juga memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Ini menggambarkan bahwa ibadah mahdhah saja belum cukup, tapi harus diiringi dengan melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, dan sebaik-baik manfaat bagi orang lain adalah dengan membantu mereka untuk mendapatkan hidayah Allah subhanahu Wata'ala, yakni dengan mendakwahi mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah subhanahu Wata'ala dan menjauhi segala maksiat, dan inilah Orang shalih yang ideal, yaitu yang mau melakukan perbaikan. Ia shalihun li nafsihi wa mushlihun li ghairihi, Baik bagi dirinya dan mampu juga memperbaiki orang lain, dan semoga kita semua termasuk golongan manusia yang seperti ini.

Oleh: Yusuf Supriadi
Sumber Inspirasi: Sabili Cyber News


Bolehkan Mengamalkan Sholawat Nariyah?


Salah Seorang kiyai Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta menulis sebuah artikel tentang sholawat Nariyah, yang mana jika seorang muslim tidak memiliki pemahaman Ilmu yang benar, maka bisa jadi ia akan terpengaruh oleh syubhat yang dilontarkannya, dimana ia mengatakan bahwa “shalawat Nariyah”, adalah salah satu bacaan yang sangat popular di kalangan kaum muslimin, baik di desa maupun di kota, Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan, maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan Shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Berikut ini adalah bacaan shalawat Nariyah:
اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
yang artinya adalah, Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Dalam kitab Khozinatul Asror halaman 179 dijelaskan, bahwa “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah, karena jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai, maka mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, kemudian tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah.”
Selain itu, imam Dainuri mengatakan bahwa : Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat Fardhu sebanyak 11 kali, serta digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping itu, ia akan mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

Demikianlah apa yang difahami oleh sebagian besar kaum muslimin di negri ini, dan mungkin diantara kita pun ada yang pernah membaca shoalwat ini. Dan sebenarnya membaca sholawat adalah hal yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah, akan tetapi kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak begitu saja seta merta meyakini apa yang diucapkan oleh seseorang, sekalipun yang berkata adalah seorang Kiyai. Kita harus mencari tahu mengenai kebenaran perkataan tersebut.
Nah untuk mengetahui apakah benar Shalawat Nariyah yang dibaca sebanyak 4444 kali itu dapat mendatangkan rizki dan solusi atas problem hidup yang sulit dipecahkan?
Berikut ini akan kami ulas secara tuntas.

Menurut Kiyai Mahrus Ali, ternyata sumber dan asal-usul shalawat Nariyah ini tidak diketahui, padahal beliau telah menelaah buku dan kitab hadits, fiqih, dan tasawuf. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sholawat Nariyah adalah sholawat bid’ah yang jika dilakukan maka pelakunya akan diancam dengan Nar alias neraka.
Selain itu, jika kita perhatikan Dari segi isi shalawat, maka akan kita temukan banyak sekali kekeliruannya, terutama pada lafadz-lafadz yang artinya: “.. Yang dengannya, maksudnya dengan (Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) maka segala ikatan menjadi lepas, dengannya segala kesulitan akan lenyap, dan dengannya segala keinginan akan tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi.”.
Dengan demikian jelaslah bahwa Menurut shalawat tersebut, yang melepaskan ikatan, kesulitan dan mengabulkan segala keinginan adalah Rasulullah, bukan Allah.

Hal ini jelas mengandung kesyirikan dan bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana Allah subhanahu Wata'ala berfirman dalam surat Yunus ayat 31, yang artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”
Kemudian dalam ayat yang lainnya, Allah subhanahu Wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra’d ayat14, yang artinya:
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.”

Demikianlah ayat-ayat yang sangat jelas, bahwasanya hanya Allah subhanahu Wata'ala lah yang berhak dan mampu melepaskan berbagai kesulitan dan mengabulkan permohonan, bukan Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, sebab beliau shalallahu'alaihi wa sallam hanyalah manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Allah subhanahu Wata'ala dibanding manusia lainnya.
Namun bukan berarti kita anti-shalawat. Kita tetap harus bershalawat pada Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 56, yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
Selain itu, di dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.”

Inilah dalil-dalil yang sangat kuat, yang menunjukan bahwa kita diperintahkan untuk bersholawat kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, Akan tetapi hendaknya kitapun mengilmui bagaimana Cara ber-shalawat yang benar kepada Rasulullah, yakni harus sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya. Dan salah satu bentuk bacaan sholawat yang paling singkat adalah dengan mengucapkan “Shalallahu ‘Alaihi Wassalam”.
Oleh: Yusuf Supriadi
Sumber Referensi: 1. http://muza36.wordpress.com/2008/09/10/shalawat-nariyah/
2. http://majelismunajat.com/2009/10/amalan-sholawat-nariyah/



Menjawab Syubhat Bahwa Nabi Maniak seks (Astagfirullah)


Di sebuah Situs, tepatnya yang beralamat di http://www.indonesia.faithfreedom.org (Alhamdulillah situs tersebut telah ditutup), terdapat suatu hinaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamyang akan sangat menyakitkan apabila dibaca oleh seorang muslim. Dalam sebuah tulisannya, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang maniak seks karena menikah dengan banyak perempuan dan juga mereka menyebut bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang yang tidak bermoral karena menikahi `Aa'isyah pada usia 7 atau 6 tahun dan menggaulinya pada usia 9 tahun, Alhamdulillah situs itu kini sudah ditutup. Dan mereka yang berani menuduh seperti ini tidak lain adalah orang-orang kafir.
Sebenarnya bukan hanya kali ini saja penghinaan itu terjadi, akan tetapi Penghinaan atas diri pribadi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terjadi sejak lama, bahkan saat beliau masih hidup, berulang kali hinaan, cacian, makian dan sumpah serapah telah beliau terima.
Terkadang masih ditambah lagi dengan tekanan pisik yang amat pedih. Pukulan, hantaman, lemparan batu bahkan percobaan pembunuhan oleh konspirasi perwakilan semua kabilah Quraisy.
Kalau kita perhatikan, semua bentuk penghinaan dan tekanan itu terjadi pada saat orang-orang kafir gagal membantah kebenaran agama Islam. Tuduhan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu gila yang pernah mereka lontarkan, tidak terbukti. Sebab semua orang tahu bahwa beliau tidak gila. Tuduhan bahwa beliau penyihir, juga tidak terbukti, sebab sama sekali tidak ada kemiripan dengan penyihir.
Tuduhan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyair, lagi-lagi tidak bisa terbukti. Sebab beliau bukan ahli syi'ir dan Al-Quran sangat berbeda dengan semua bentuk syi'ir arab.
Akhirnya, karena secara ilmiyah tidak bisa membantah kebenaran agama Islam dan kenabian beliau, orang-orang kafir itu mulai melakukan apa saja dengan segala cara, asalkan bisa membuat orang berpaling dari agama Islam.
Maka mulailah pelecehan mereka berpindah kepada hal-hal yang bersifat pribadi. Tapi karena ciri fisik beliau terlalu sempurna, maka dicari lagi sisi-sisi negatif lainnya. Syetan lalu membisikkan hati orang-orang kafir dan memberi ide segar, yaitu lewat pernikahan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa wanita.
Celah sempit inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang hatinya penuh penyakit. Tidak peduli dengan fakta sejarah, buat mereka, apapun karangan, asalkan bisa memojokkan dan membuat berpandangan negatif terhadap pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadilah.
Padahal semua wanita yang beliau nikahi tidak lain adalah para janda, yang tidak bisa dikatakan muda, apalagi cantik. Satu-satunya isteri yang dinikahi dalam keadaan perawan hanyalah Aisyah ra. Meski pada usia yang masih muda, tapi ukuran usia nikah di semua peradaban dunia ini tidak bisa disamakan.
Misalnya, di Yaman kita sering mendengar pernikahan antara suami yang berusia 10 tahun dan isteri yang berusia 8 tahun. Ini adalah tradisi dan kebiasaan yang berkembang di suatu tempat. Mungkin berbeda dengan yang ada di tempat lain. Tetapi tidak bisa dijadika sebagai bahan untuk melecehkan pribadi orang yang dilahirkan dan dibesarkan di tempat tersebut.
Adapun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beristri banyak, bukan hal yang aneh. Kalau kita membaca sejarah para raja dan orang di masa lalu, tidak perlu jauh-jauh, seratusan tahun yang lalu pun, kita masih sering mendapati poligami. Bahkan tidak jarang mereka punya isteri sampai seratus.
Hanya di masa sekarang ini saja poligami menjadi tidak lazim, akibat penetrasi kebudayaan barat yang mengindung kepada kebudayaan Romawi kuno, yang konon kurang menyukai poligami.
Tentunya, amat tidak logis menghina nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hinaan-hinaan yang demikian, padahal umat manusia di masa lalu melakukannya, bahkan menjadikannya bagian dari kelaziman kehidupan.
Kalau nabi Muhammad umpamanya pernah melakukan pencurian, pemerkosaan, atau pembunuhan massal, ini hanya umpama, mungkin bolehlah dihina. Tapi kalau belaiu melakukan hal yang lazim di tengah suatu peradaban, bahan mayoritas bangsa-bangsa melakukannya, tidak mungkin kita menghinanya. Dan atas dasar apa?
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal-hal yang universal ditentang oleh etika kemanusiaan. Beliau hanya melakukan hal-hal yang di masanya sangat lazim. Karena itu para pemuka Quraisy tidak pernah menghina nabi dengan tuduhan seksmaniak hanya lantaran beliau beristri lebih dari satu. Mengapa? Karena poligami di masa itu merupakan suatu kelaziman.
Mengapa orang-orang kafir di masa sekarang ini tidak menghina Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Syu'bah dan lainnya? Padahal mereka pun seks maniak juga karena punya isteri lebih dari satu?
Mengapa tidak menghina para raja dari Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda dan lainnya yang juga berpoligami? Mengapa hanya Muhammad yang dihina?
Semua menunjukkan bahwa intinya mereka hanya tidak suka pada agama Islam, tapi kesulitan mencari titik lemahnya. Maka jadilah apapun bentuk penghinaan dilontarkan, meski salah alamat.
Oleh karena itu marilah kita senantiasa semangat dalam memperdalam ilmu agama, supaya kita tidak mudah terombang ambing dengan syubhat-syubhat murahan yang dilontarkan oleh orang-orang orientalis. Dan juga kami ingatkan, bahwa di dalam internet terdapat banyak sekali tulisan-tulisan yang menghina Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, bahkan akhir-akhir ini, situs jejaring social seperti face book pun tak lepas dari peran penghinaan terhadap Nabi shalallahu'alaihi wa sallam. Dan kita berdoa semoga Allah subhanahu Wata'ala memberikan hidayah kepada mereka.




Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?


Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka, dan memang ini tak bisa dipungkiri! Begitupula dalam masalah memilih pasangan hidup, tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur, dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, dan tidak membosankan. Tetapi terkadang bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik, maka ia akan dicela dan disalahkan. Maka dari itu, kami akan nasihati kepada kaum muslimah, sebaiknya anda jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan melanggengkan hubungan pernikahan dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya, maka Islam tidaklah melarangnya untuk memilih calon istri yang cantik. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1
Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits tersebut:
Dalam hadits yang kami sebutkan tadi, Rasulullah menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan atau (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya, kecantikannya, dan yang terakhir karena agama si wanita tersebut. Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu pilihlah yang beragama.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:
Misalnya ada seorang laki-laki melihat dan mengincar wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia memperhatikan, apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’ (artinya wanita yang cantik tersebut ternyata tidak sholihah), maka laki-laki tersebut dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya, berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan. dan jika sang lelaki itu membatalkan pilihannya, berarti dia telah mendahulukan keshalihan agama dari kecantikan. Dan sikap kedua inilah yang hendaknya menjadi sikap seorang muslim, dimana ia tidak mementingkan kecantikan semata dalam memilih wanita yang ingin dinikahinya.
Sehingga, tidak salah jika ada ikhwan yang mengatakan bahwa “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya. Karena memang hal yang demikian berjalan dengan fitrah manusia, terlebih lagi jika hal itu akan membuat kehidupan rumah tangga semakin harmonis, Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”
Akan tetapi kita harus ingat! tetap saja penentuan akhirnya adalah terletak pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: “Maka pilihlah yang beragama!” Maksudnya janganlah kita kalahkan agama dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. karena sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihan kita jatuh pada wanita shalihah berarti kita telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Jadi, sekalipun kita melihat wanita tersebut cantik, namun agamanya tidak baik, maka sebaiknya kita jangan memilihnya meskipun kita tidak dilarang untuk memilihnya, karena pada hakikatnya, kecantikan itu akan hilang seiring berjalannya waktu, dan factor penentu terbesar dari kebahagiaan rumah tangga bukanlah kecantikan, akan tetapi factor tersebut adalah baik atau tidaknya agama seseorang.
Setelah kita mengetahui penjelasan hadits tersebut, tentu kita melihat betapa Indahnya Islam yang sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah, yang mana tujuan hal itu tidak lain adalah untuk melanggengkan hubungan mereka. Karena itulah, Islampun menganjurkan agar para lelaki melihat atau (nazhar) terlebih dahulu, dimana nadzor ini bertujuan untuk melihat hal-hal yang dapat membuat lelaki tertarik untuk segera menikah, dan salah satunya adalah faktor kecantikan, yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Sehingga suatu pemahaman yang salah jika seorang ikhwan memaksakan diri menikah tanpa nadzor terlebih dahulu, disamping hal ini tidak sesuai dengan sunnah nabi, terkadang proses pernikahan yang seperti itu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Oleh karena itu marilah kita senantiasa mencontoh nabi shalallahu'alaihi wa sallam dalam segala amal ibadah maupun mu’amalah, sebab beliaulah sebaik-baik contoh dan teladan bagi kita semua.






Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru