Senin, 30 Agustus 2010

Haram Jabat Tangan Dengan Lawan Jenis


Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahrom seolah sudah menjadi kebiasaan atau tradisi yang mendarah daging di negri ini terlebih lagi di waktu lebaran, mereka dengan tanpa merasa berdosa menyentuh tangan wanita, menggenggamnya dan merasakan kelembutan serta kehalusan kulitnya dengan dalih untuk saling bermaafan. Kebiasaan seperti ini merupakan hal berbahaya yang dapat mengotori hati kita setelah selama bulan romadhon kita bersusah payah menjaga hati, mata, lisan, dan aggota badan lainnya dari maksiat. Dimana menjaga diri dari maksiat tidak hanya dilakukan di bulan romadhon, justru bulan romadhon itu hendaknya kita jadikan latihan untuk menahan diri dari syahwat pada sebelas bulan berikutnya. Namun sungguh disayangkan ketika memasuki hari Iedul fitri seolah ibadah yang kita lakukan selama bulan romadhon tidak menghasilkan perubahan jiwa dan prilaku, dimana hati, mata, tangan, dan lisan kita yang terjaga dari kemaksiatan selama bulan romadhon, kini hal itu tidak lagi terjadi, mata kita dengan bebas tanpa berdosa menatap wanita yang berhias dengan pakaian barunya, tangan kitapun dengan bebas menjabat tangan mereka dengan dalih menjalin keakraban dan saling bermaafan, padahan semua itu dilarang oleh syari’at, dan menjalin keakraban atau bermaafan tidaklah harus dengan memandangi wajah mereka atau menjabat tangna mereka. Mungkin hal ini disebabkan oleh syubhat dan kejahilan alias kebodohan kita terhadap perintah dan larangan Allah, atau bisa juga disebabkan karena syahwat. Maka dari itu mari kita pelajari kembali syari’at yang mulia ini, semoga kita menjadi hamba Allah yang bertakwa.
Dalil Yang Melarang Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahramnya. Berikut ini kami akan bawakan Dalil Yang Melarang Jabat Tangan Dengan Wanita Bukan Mahramnya.

Adapun dalil yang mengharamkan jabat tangan dengan selain mahram adalah sebagai berikut :

1.Rosululloh bersabda :

لأن يطعن في رأس أحدكم بمخيط من حديد خير له من أن يمس امرأة لا تحل له

Sungguh apabila kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebih baik dari pada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya. (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Al-Albani mengomentari : Dalam hadits ini ada ancaman keras terhadap siapa saja yang menyentuh wanita bukan mahramnya. Di dalamnya terdapat dalil akan haramnya menjabat tangan kaum wanita, karena hal itu termasuk menyentuh tanpa ada keraguan. Dewasa ini banyak kaum muslimin yang melanggarnya, di antara mereka ada yang sekaliber ulama, seandainya mereka melanggarnya, akan tetapi hati mereka, maka permasalahannya menjadi lebih ringan. Akan tetapi yang jadi masalah mereka menghalalkanya dengan berbagai jalan dan penafsiran.( Idem.)

2.Rosululloh bersabda :

كتب على ابن آدم نصيبه من الزنا, مدرك ذلك لا محا لة. فالعينان زناهما النظر, والأذنان زناهما الاستماع, واللسان زناه الكلام, واليد زناها البطش, والرجل زناها الخطا, والقلب يهوي ويتمنى, ويصدق ذلك الفرج ويكذبه

Telah pasti untuk anak Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan menjumpainya. Kedua mata berzina melalui pandangan. Kedua telinga berzina melalui pendengaran. Lisan berzina melalui pembicaraan. Tangan berzina dengan memegang. Kaki berzina dengan melangkah. Hati berzina dalam bentuk hasrat dan berangan-angan. Kemudian kemaluan akan membenarkannya atau mendustakannya. HR. Al-Bukhori dan Muslim, ini adalah lafadz Muslim.

An-Nawawi berkomentar : Hadits ini menjelaskan bahwa anak Adam telah ditakdirkan bagiannya dari zina, di antara mereka ada yang benar-benar berzina dengan cara memasukkan kemaluan kepada kemaluan yang tidak halal. Di antara mereka ada yang berzina secara kiasan, sepertidengan cara memandang sesuatu yang diharamkan, mendengarkan hal-hal yang menjerumuskan kepada perzinaan serta yang berhubungan dengannya, menyentuh dengan tangan dalam bentuk menyentuh tangan atau mencium wanita yang bukan mahramnya, berjalan kaki menuju perzinaan, melihat, menyentuh, atau bercengkerama dengan wanita yang mahramnya, serta semisalnya, dan termasuk juga memikirkannya dengan hati. (Lihat al-Minhaj karya an-Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas)

3.Rosululloh bersabda :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.) (Lihat ash-Shohihah no. 226)

4.’Aisyah menyatakan :

ما مست يد رسول الله يد امرأة إلا يملكها

Tangan Rosululloh tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun, kecuali yang beliau miliki (nikahi dll). HR. Al-Bukhori dan at-Turmudzi.

5.Abdulloh bin ‘Amr bin al-’Ash menyatakan :

كان لا يصافح النساء في البيعة

Adalah Rosululloh tidak menjabat tangan wanita (yang bukan mahramnya) ketika bai’at. Lihat Shohihul Jami’ (4732).

Al-‘Allamah Muhammad al-Amiin asy-Syinqithi mengatakan : Telah tetap Rosululloh bersabda:

إني لا أمس أيدي النساء

Saya tidak menyentuh tangan-tangan kaum wanita. (Lihat Shohihul Jami’ no.(7054))

Juga sabda Beliau :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). Lihat ash-Shohihah no. 226.

Alloh berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. [QS. Al-Ahzab : 21]

Maka wajib bagi kita untuk tidak berjabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya, sebagai perwujudan sikap peneladanan kita kepada Rosululloh. Bahkan tindakan Beliau yang tidak menjabat tangan kaum wanita ketika baiat, merupakan dalil yang begitu jelas tentang tidak bolehnya seorang lelaki berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, dan tidak boleh bagian tubuh seorang lelaki menyentuh bagian tubuh wanita bukan mahramnya, karena jenis sentuhan yang paling ringan adalah berjabatan tangan. Apabila Beliau tidak mau melakukannya di saat yang sebenarnya diperlukan jabat tangan (yakni: ketika bai’at), maka hal itu merupakan bukti bahwa perbuatan tersebut tidak boleh dilakukan. Dan tidak seorang pun yang berhak menyelisihi Beliau, karena Beliaulah yang membuat aturan bagi umatnya, baik berupa perkataan, perbuatan maupun ketetapan. (Adhwaaul Bayaan (6/ 603))

6.Seandainya tidak ada dalil-dalil di atas, maka di dalam kaedah :”Menutup pintu-pintu kemungkaran” tersimpan dalil yang amat kuat untuk melarang jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. : 19.)

7.Ibnu ‘Athiyyah dan ats-Tsa’labi menukilkan ijma’ para ulama bahwa tangan Nabi tidak pernah sekali pun menyentuh tangan wanita bukanmahramnya. (Al-Muharror al-Wajiiz (4/ 30), al-Jawaahir al-Hisaan (10/ 260-269), dinukil dari Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam hal. : 67.)

Pendapat Para Ulama.

Mayoritas ulama sepakat akan tidak bolehnya berjabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya, berikut ini uraian pendapat-pendapat mereka :

Madzhab Hanafi.

Al-Kaasaani menjelaskan : Adapun hukum menyentuh dua anggota badan ini (tapak tangan dan wajah wanita yang bukan mahramnya), adalah tidak halal. Karena hukum bolehnya melihat dua anggota badan tadi adalah karena keadaan darurat yang telah kami uraikan. Sedangkan dalam hal ini tidak ada sikon darurat untuk menyentuh (wanita yang bukan mahramnya). Padahal, menyentuh lebih berpotensi untuk membangkitkan nafsu syahwat dari pada sekedar melihat. Pembolehan perkara yang lebih ringan dari dua perkara, tidak menyebabkan perkara yang lebih berat menjadi boleh. (Lihat Badai’ush Shonaai’ (6/ 2959).)

Madzhab Maliki.

Abul Barokaat, Ahmad bin Muhammad bin Ahmad ad-Dardiir menjelaskan : Dan tidak boleh berjabat tangan dengan wanita (bukan mahramnya-pent.), meskipun kaum lelaki sudah tidak berselera kepadanya. (Asy-Syarhush Shoghiir (4/ 760) dengan perantaraan buku Adillah Tahriimi Mushofahah al-Ajnabiyyah, hal. 23.)

Ibnu ‘Abdil Baar berkata : Sabda Beliau “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.)” adalah dalil akan tidak bolehnya seorang lelaki menyentuh wanita bukan mahramnya baik dengan tangannya maupun dengan berjabat tangan dengannya. (At-Tamhiid (12/ 312).)

Madzhab Syafi’i.

An-Nawawi menyatakan : Dikarenakan memandang (wanita yang bukan mahramnya-pent.) diharamkan, maka menyentuhnya lebih pantas untuk diharamkan, karena terasa lebih nikmat. (Lihat Roudhotuth Thoolibiin (7/ 28).)

Ibnu Hajar menjelaskan : Di dalam hadits ini, ada larangan menyentuh kulit wanita yang bukan mahramnya tanpa ada sikon darurat yang membolehkannya. (Lihat Fathul Bari (13/ 133).)

Madzhab Hambali.

Al-Imam Ishaq bin Manshuur al-Maruzi menceritakan : Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hambal : Apakah anda membenci jabat tangan dengan kaum wanita (bukan mahram-pent.)? Ahmad menjawab : Aku membencinya. (Masail Ahmad wa Ishaq (211/1) dinukil dari ash-Shohihah hadits no.(529).)

Syekh Al-Albani menyatakan :

Kesimpulannya, tidak ada satu hadits shohih pun yang menyebutkan bahwa Nabi pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, bahkan ketika membaiat mereka, apalagi ketika hanya sekedar bertemu.

Adapun sebagian orang yang berdalil dengan hadits Ummu ‘Athiyyah untuk membolehkan jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya (padahal didalamnya tidak disebutkan jabat tangan), kemudian mereka berpaling dari hadits-hadits shohih yang menyebutkan sucinya beliau dari berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, maka pasti hal ini bukan muncul dari seorang beriman dengan ikhlas, terlebih lagi ada ancaman yang keras terhadap siapa saja yang menyentuh wanita bukan mahramnya, sebagimana hadits (Maksudnya hadits Ma’qil Ibnu Yasaar yang merupakan dalil pertama dalam pembahsan ini.) terdahulu (Ash-Shohihah (3/ 65-66).)

Syekh Abdul Aziz bin Baaz berkata :

Jabat tangan kaum lelaki dengan kaum perempuan yang bukan mahramnya tidak boleh, karena ketika membaiat, Nabi bersabda : Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Aisyah pernah menyatakan : Tangan Rosululloh tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun ketika membaiat, kecuali dengan perkataan saja. (HR. Al-Bukhori dan Muslim dan selainnya)

Alloh berfirman : Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab :21)

Dikarenakan juga bahwa jabat tangan dengan kaum wanita bukan mahramnya merupakan sarana pembawa fitnah bagi kedua belah fihak, maka wajib ditinggalkan. Adapun jabat tangannya seorang wanita dengan kaum wanita, laki-laki mahramnya, seperti bapak, paman dan lainnya, maka tidak ada masalah. (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram hal. : 575.)

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA.

Uraian singkat ini akan kami tutup dengan pembahasan sebagian syubhat seputarnya, meskipun masih banyak syubhat selain yang kita sebutkan, antara lain:

Syubhat 1 :
Sabda Nabi :

إني لا أصافح النساء

Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram-pent.). (Lihat ash-Shohihah no. 226.)

Hal ini tidaklah memberikan pengertian larangan mutlak atas hukum jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya, karena hal itu diucapkan berkenaan dengan baiat saja.

Jawab:
Ini adalah persangkaan yang lemah, karena kaidah para ulama menyatakan, bahwa sebab khusus (suatu dalil) tidak diperhitungkan, selama lafadznya bersifat umum, dan inilah keadaan sabda Nabi tersebut di atas, maka keharaman jabat tangan dengan wanita (bukan mahramnya) berlaku mutlak.

Bahkan dalil-dalil yang melarang jabat tangan ketika baiat memberikan pengertian lain yang lebih kuat, yaitu : Kalau saja ketika baiat Beliau tidak menjabat tangan kaum wanita padahal secara asal, baiat itu dengan tangan dan berjabat tangan, maka jabat tangan dengan wanita di luar itu lebih pantas untuk dilarang. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. :36)

Syubhat 2 :

Jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya sekarang ini telah menjadi sesuatu yang darurat, karena adat ini begitu tersebar luas di masyarakat..

Jawab :
Tersebarluasnya jabat tangan dengan wanita bukan mahram, bukan keadaan darurat sebagaimana persangkaan sebagian orang. Karena kebiasaan masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk merubah hukum yang telah tetap berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Hukum yang bisa dirubah oleh kebiasaan masyarakat adalah hukum yang dasarnya adalah adat istiadat masyarakat, sehingga akan berubah sesuai dengan adat istiadat masyarakat. (ibid, hal. 37)

Syubhat 3 :
Jabat tangan dengan wanita bukan mahramnya boleh, jika dilandasi oleh niatan yang bersih dan hati yang suci.

Jawab :
Syariat yang suci melarang suatu perbuatan yang bisa menimbulkan kerusakan tanpa memperhitungkan niat pelakunya, karena yang dinilai adalah akibat perbuatan tersebut. Selama akibatnya buruk, maka perbuatan yang menyebabkannya dilarang (karena dinilai buruk juga). Hal ini sebagai upaya menutup pintu kerusakan, meskipun pelakunya tidak bermaskud melakukan kerusakan tersebut.

Apabila telah diketahui bahwa tujuan dan niat itu tersembunyi, maka yang tepat adalah tidak memperhitungkannya, karena niat tidak ada standartnya, dan yang diperhitungkan hanyalah yang jelas standartnya. Karena syariat ini berlaku bagi semua manusia, bukan hanya bagi segolongan tertentu saja.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Fatawa al-Kubro III/139 menjelaskan :

Sebab-sebab ini, apabila secara umum akan menimbulkan perbuatan haram, maka syariat mengharamkannya secara mutlak. Demikian juga apabila terkadang menimbulkan perbuatan haram dan terkadang tidak, akan tetapi tabiat manusia cenderung terjerumus didalamnya. (Adillah Tahrimi Mushofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, hal. : 18-19.)

Syubhat 4 :
Larangan berjabat tangan tidak berlaku apabila sang wanita adalah seorang yang tua renta, berdasarkan riwayat Abu Bakar yang menyatakan :

أن رسول الله كان يصافح العجائز

Bahwa Rosululloh dahulu berjabat tangan dengan wanita-wanita tua.

Jawab :
Riwayat ini tidak bisa dijadikan dalil, karena sumbernya tidak jelas, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam az-Zaila’i dalam Nashbur Rooyah (4/ 240) : Ghorib (yakni : tidak ada sumbernya).

Dengan demikian larangan berjabat tangan dengan wanita bukan mahramnya berlaku umum. Wallohu a’laam. (Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam hal. : 45-46.)

Demikianlah tulisan ini kami susun seringkas mungkin agar mudah difahami dan dipraktekkan, sehingga pahala ibadah Romadhon kita senantiasa murni dan bersih dengan permulaan yang baik ini. Amien.

[Disarikan dari buku Adillah Tahriimi Mushoofahah al-Ajnabiyyah karya Muhammad Ahmad Ismail al-Muqoddam, Mushoofahah al-Ajnabiyyah fii Miizaanil Islam karya Muhammad bin Abduh Alu Muhammad al-Abyadhi, Kifayatul Akhyaar karya Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini (2/ 63-65) Dicuplik dari Majalah adz-Dzakhirah al-Islamiyah edisi Syawwal 1428 H.]
Sumber:http://abusalma.net dengan beberapa tambahan dan perubahan gaya tulisan

Ikhlas, Syarat Diterimanya Amal


Peran hati bagi seluruh anggota badan ibarat raja bagi para prajuritnya. Semua bekerja berdasar perintahnya. Tunduk kepadanya. Karena perintah hatilah istiqomah dan penyelewengan itu ada. Hati adalah raja, seluruh tubuh adalah pelaksana titah-titahnya. Hati yang selamat dikategorikan sebagai hati yang terbebas dari setiap syahwat dan syubhat sedangkan hati yang mati adalah hati yang tidak mengenal siapa Robb-Nya. Hati seperti ini selalu berjalan bersama hawa nafsu dan kenikmatan duniawi sehingga amal perbuatannya mengaharapkan pujian dan perhatian orang lain.

Ikhlas merupakan sifat terpuji dalam hati seseorang yang akan menghiasi prilaku seorang muslim. Segalanya karena Alloh dan untuk Alloh ta’ala. Ikhlas adalah perhiasan hati yang akan menyelamatkan seseorang dari kerugian akhirat, tanpa ikhlas amal perbuatan akan sia-sia tiada guna.

Ikhlas artinya memurnikan tujuan mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala dari hal-hal yang mengotorinya. Arti lainnya; menjadikan Alloh ta’ala sebagai satu-satunya tujuan dalam segala amal perbuatan dan perkataan baik dzohir maupun batin.


URGENSI IKHLAS

Amal perbuatan hati yang terpenting
Ikhlas merupakan amalan hati yang sangat penting. Dasar dan syarat diterimanya amal perbutan. Tanpa ikhlas manusia akan tersesat dan menjadi orang-orang yang merugi. Dengan ikhlas amal perbuatan akan menjadi agung sekalipun amal itu sepele menurut pandangan manusia. Imam ibnu qoyyim rohimahulloh berkata:” Amal perbuatan hati adalah dasar,dan perbuatan anggota badan merupakan pengikut dan penyempurna saja, dan sesungguhnya niat sebagai ruh sedangkan amal perbuatan bagaikan jasad.”

Dari abu hurairoh radhiallohu anhu berkata, Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda :”seseungguhnya Alloh tidak memandang kepada jasad-jasad dan rupa-rupa kamu, akan tetapi dia memandang kepada hati dan amal-amal kamu.” (HR. Muslim 6543)

Syarat diterimannya ibadah.
Ikhlas adalah syarat diterimanya amal ibadah yang di kerjakan sesuai dengan tuntunan Rosulullohsholallohu alaihi wassalam. Alloh ta’ala telah memerintahkan kita untuk itu dalam firmannya:

Artinya:" Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah hanya kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus." (Albayinah 5)

Imam Al-Izz bin Abdissalam berkata:” Ikhlas dalam beribadah adalah syarat.” Dan Sidiq hasan khon juga berkata:”Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya ikhlas syarat sah dan diterimanya amal perbuatan.”

Benteng dari bujukan setan.
Ikhlas bukan hanya amalan hati yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Alloh ta’ala dan paling utama, selain itu ikhlas juga sebagai benteng seorang mukmin dari bujuk rayu syetan dan fitnah orang-orang yang sesat menyesatkan, ketahuilah bahwa syetan tifdak akan mampu membobol benteng seorang mukmin yang beribadah dengan ikhlas, sebagaimana firman Alloh ta’ala:

Artinya :"Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya.Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka." (QS. Shod 83)

Akhlak orang-orang mulia.
Para salafus sholih sangat memperhatikan niat ikhlas mereka dan saling memberikan wasiat antara satu dan yang lainnya untuk senantiasa mengikhlaskan niat dalam hidup, sebagaimana apa yang pernah di tulis oleh umar bin khotob untuk abu musa al-as’ary, ‘Barangsiapa yang niatnya ikhlas karena Alloh ta’ala niscaya Alloh ta’ala akan mencukupkan dirinya dari apa-apa yang terdapat di antara manusia “ Dan juga sebagaimana yang sudah mashur bahwa para salafuf sholih memulai tulisannya dengan hadits “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung niatnya” hal ini sebagai bentuk pengingatan kepada para penulis kitab khususnya untuk mengikhlaskan niat. Imam Abdurrahman bin mahdi mengatakan, “Barangsiapa yang ingin mengarang suatau kitab maka hendaknya memulai tulisannya dengan hadis ini!”


PENOPANG-PENOPANG IKHLAS
Ilmu yang mantap.
Berteman dengan orang yang ikhlas dan mengambilo manfaat dari do'anya.
Membaca kisah orang yang ikhlas.
Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.
Berdo'a dan memohon pertolongan Alloh.

PENGARUH IKHLAS TERHADAP AMAL PERBUATAN
Kelanggengan amal perbuatan.
Amanah.
Ilmu yang benar.
Tekad yang kuat melakukan amal perbuatan.

SIFAT ORANG-ORANG IKHLAS
Hanya mengharapkan wajah Alloh ta'ala.
Sembunyi-sembunyi dalam beramal jauh labih disukai.
Takut amalnya tidak diterima.

METHODE MERAIH IKHLAS.
Mengetahui macam-macam riya, factor-faktor pendorong, dan penyebabnya, kemudian beruhasa memutus dan mencabut akar-akarnya.

Mengetahui keagungan Alloh ta'ala, yaitu dengan cara mengetahui nama-nama dan sifat-Nya, serta perbuatan-Nya dengan pengetahuan yang benar.

Mengetahui sesuatu yang telah disiapkan Alloh di akherat berupa nikmat dan adzab. Jika sang hamba telah mengetahui hal itu niscaya dia akan lari dan menghindarkan diri dari riya menuju ikhlas.

Takut kepada riya yang merusak amal, sesunguhnya orang yang takut kepada suatu perkara ia akan tetap waspada terhadapnya, hingga ia selamat darinya.
Memperbanyak amal kebaikan dan melakukan ibadah-ibadah yang tersembunyi dan berusaha menyembunyikan.

Tidak pengaruh oleh celaan manusia dan pujian mereka, sebab yang demikian itu sangat tidak bermanfaat dan tidak juga membahayakannya. Tetapi hendaknya takut kepada Alloh ta'ala dengan mengikhlaskan amal.

Selalu mengingat kematian dan memangkas angan-angan.

Takut akan su'ul khotimah (akhir hayat yang buruk), dan rasa takut ini maka seorang hamba akan berusaha mengikhlaskan semua amalnya dan juga perkataannya.
Bergaul dan berteman dengan orang-orang yang ikhlas dalam beramal dan bertaqwa.

Berdo'a dan kembali kepada alloh ta'ala agar mengenugrahi keikhlasan kepadanya.

Menghapus sifat tamak terhadap sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain ataupun duniawi lainnya.

Mengetahui buah ikhlas, faidah-faidahnya dan akibat kebaikan yang ditinggalkannya baik di dunia dan di akherat.



BUAH-BUAH IKHLAS

1. Ketenangan Jiwa.
Ikhlas memberikan ketenangan jiwa dan memberikan kedamaian hati kepada pelakunya, sehingga membuatnya lapang dada dan tenang hatinya. Hatinya tertimpun pada satu tujuan, yaitu ketenangan dan keridhaan Allah ta'ala. Hasratnya terhimpun dalam satu wadah, yaitu meniti jalan yang membawanya kepada keridhaan Allah ta'ala. Tidak dapat diragukan, kejelasan tujuan dan kelurusan jalan ke arah itu mampu membuat manusia menjadi tenang menghadapi guncangan karena adanya berbagai trend, kecenderungan dan jalan yang bisa ditempuh. Rasulullah sholallohu alaihi wassalam bersabda:

))مَنْ جَعَلَ اْلهُـمُوْمَ هَـمًّاوَاحِدًا, كَفَاهُ اللهُ هَـمَّ دُنْـيَاهُ وَمَنْ تَشَعََبَتْهُ اْلـهُمُوْمَ, لَـمْ يُـبَالِ اللهُ فيِ أَيِّ اَوْدِيَةِ الـدُّ نْـيَا هَلَكَ.((

"Barangsiapa menjadikan berbagai hasrat sebagai satu hasrat, maka Allah mencukupkannya dari hasrat dunia, dan barangsiapa hasratnya bercabang-cabang, Allah tidak mempedulikannya di penjuru dunia manapun dia mengalami kehancuran dan kebinasaan."(Diriwayatkan Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Yang di maksud hasratnya bercabang-cabang dalam hadits di atas: terbagi-bagi, tertuju kepada harta, kedudukan, nafsu dan lain-lainnya. Berbeda dengan orang mukmin, yang hasratnya hanya tertuju kepada keridhaan Alloh ta'ala. Beliau juga bersabda:

"Barangsiapa dunia merupakan tujuannya, maka Allah memecah-mecah urusannya dan menjadikan kemiskinan ada didepan matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan, barangsiapa akhirat merupakan niatnya, maka Allah menghimpun urusannya, menjadikan kecukupan ada di dalam hatinya dan dunia menghampirinya, dan dunia itu adalah sesuatu yang hina."(Diriwayatkan Ibnu Majah. Isnadnya shahih dan rawinya tsiqah. Lihat Az-Zawv'id, nomor 4105).


2. Kekuatan Rohani.
Ikhlas memberikan kekuatan rohani kepada orang yang mukhlis, karena keunggulan tujuan ikhlas di dalam dirinya dan kehendaknya yang menyatu, yaitu keridhaan dan pahala Allah.

Orang yang gila harta, kedudukan, ketenaran atau gelar adalah orang yang amat lemah, yaitu tatkala tiba-tiba menyembul suatu harapan mewujudkan kerakusannya terhadap dunia. Dia orang lemah di hadapan orang-orang yang seharusnya dia beri. Dia orang lemah jika dia takut kehilangan keuntungan yang di harapkannya. Sedangkan orang yang menjual dunia karena Allah, maka dia bisa memperoleh kekuatandan tidak akan melemah, mendapat kemampuan yang tidak mengendor. Maka dengan kebebasannya dari dunia dan ikhlasnya jauh lebih kuat daripada segala kekuatan materiil yang di tangkap mata manusia.

Orang yang mukhlis karena Alloh tidak akan melemah dari janji-janji yang di obral, tidak bergeming karena ancaman, tidak menjadi hina karena kerakusan dan tidak bisa di cegah karena rasa takut. Teladannya dalam masalah ini adalah Nabi sholallohu alaihi wassalam, yang pernah ditawari kekuasaan, kedudukan yang terhormat, harta dan segala kenikmatan dunia, agar beliau menghentikan dakwahnya.

Menghadapi tawaran ini beliau menjawab dengan nada yang keras dan tegas:

((وَاللهِ لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فيِ يَـمِيْنيِ وَاْلقَمَرَ فيِ شِـمَاليِ عَلىَ اَنْ اَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ مَاتَرَكْتُـهُ, حَتىَّ يَظْهَرَهُ اللهُ اَوْ اَهْلَكَ دُوْنَهُ.((

"Demi Alloh, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, niscaya aku tidak akan meninggalkannya, hingga Allah menegakkannya atau membinasakan yang lainnya. (Yang serupa dengan hadits ini diriwayatkan Ibnu Ishaq di dalam Al-Maghazy, 1/170. kisah ini juga di sebutkan Ath-Thabary secara ringkas di dalam Al-Ausath, dari hadits Uqail bin Abu Thalib, dengan lafadz yang lain).

Andaikata Nabi sholallohu alaihi wassalammempunyai nafsu yang tersembunyi terhadap harta, kekuasaan dan kedudukan, tentu ketegarannya menghadaoi tawaran yang menarik dari para pemimpin Quraisy tersebut akan melemah. Tetapi beliau tahu tujuannya, sehingga beliau pun ikhlas. Beliau tahu Rabb-nya sehingga tidak mau menyekutukan sesuatu dengan-Nya.


3. Amal yang Berkesinambungan.
Ikhlas bisa memberi kekuataan untuk beramal secara berkesinambungan kepada orang yang ikhlas. Seseorang yang beramal karena menyombong di hadapan orang lain, yang beramal karena nafsu perut dan kemaluan, akan menghentikan amalnya jika dia tidak mendapatkan sesuatu yang mengenyangkan nafsunya. Orang yang beramal karena mengharap ketenaran dan kedudukan, tentu akan bermalas-malasan atau merasa berat jika ada pertanda harapannya akan kandas. Orang yang beramal karena mencari muka di hadapan pemimpin tersebut di pecat atau mati.

Sedangkan orang yang beramal karena Allah, tidak akan memutuskan amalnya, tidak mundur dan tidak malas-malasan sama sekali. Sebab alasan yang melatarbelakangi amalnya tidak pernah sirna. Wajah Allah tetap abadi jika wajah manusia sirna atau semua makhluk binasa. Firman-Nya,

Artinya: "Dan tidaklah segala sesauatu kecuali pasti binasa kecuali Alloh. bagi-Nyalah segala penentuan, dan Hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan".(QS. Al-Qashash: 88).

Maka dari itu orang-orang sholih berkata, "Segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan abadi dan berkesinambungan, sedangkan yang dilakukan karena selain Alloh akn terputus dan bercerai". Hal ini seringkali dikuatkan berbagai kejadian, bahkan kita bisa melihatnya sendiri dan setiap saat kita bisa melihatnya.


4. Merubah yang Mubah dan Kebiasaan Menjadi Ibadah.

Ikhlas adalah penyegar amal, yang jika diletakkan di amal manapun, sekalipun amal-amal mubah dan kebiasaan, bisa merubahnya menjadi ibadah dan qurbah (jenis aktifitas yang dapat mendekatkan diri) kepoada Allah. Dalam sebuah hadits Nabi sholallohu alaihi wassalam, beliau pernah bersabda kepada Sa'ad:

"Sesungguhnya tidaklah engkau mengeluarkan nafkah seraya mencari keridhaan Allah melainkan engkau akan di beri pahala karenanya, termasuk pula satu suapan yang engkau letakkan dimulut istrimu". (HR. Bukhori dan Muslim).


5. Tetap memperoleh Pahala Amal Sekalipun Belum Menyempurnakan Amal Itu atau Bahkan Belum Mengamalkannya.
Di antara barakah ikhlas karena Allah, bahwa orang yang mukhlis dapat memperoleh pahal amal secara sempurna, sekalipun dia tidak mampu melaksanakannya secara sempurna. Kita perhatikan firman Allah berikut ini,

Artinya: "Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".(QS. An-Nisa: 100).

Bahkan dengan niatnya yang tulus karena Allah seorang Muslim bisa mendapatkan pahala amal secara sempurna, sekalipun dia tidak melakukan amal itu dan tidak pula ditetapkan dalam syariat. Banyak contoh tentang hal ini yang disebutkan dalam berbagai hadits.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata, "Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi sholallohu alaihi wassalam, lalu beliau bersabda:"sesungguhnya ada beberapa orang yang tertinggal di belakang kita di Madinah. Tidaklah kita melewati suatu wilayah dan lembah melainkan mereka senantiasa bersama kita. Mereka terhalang oleh satu alasan".


6. Pertolongan dan Perlindungan Allah.
Orang yang mukhlis mendapat pertolongan dan perlindungan dari Alloh, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?". (QS. Az-Zumar: 36).

Seberapa jauh ikhlasnya seseorang karena Alloh dan kemurniannya, sejauh itu pula pertolongan dan perlindungan yang diberikan Alloh. Uluran berdasarkan latar belakang ini bisa berupa uluran pertolongan, penguatan, taufiq maupun perlindungan, tergantung kepada kemurnian niat di dalam hati dan kebersihan sanubarinya. Allah ta'ala berfirman:

Artinya: "Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: "Jika Alloh mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu". dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Anfal: 70).

Artinya: "Sesungguhnya Alloh Telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)". (QS. Al-Fath: 18).


7. Peneguhan dan Pertolongan Tatkala Menghadapi Keulitan dan Krisis.
Di antara buah ikhlas ialah, bahwa Alloh mengulurkan bantuan kepada orang yang mukhlis, menjaganya dengan mata-Nya yang tidak pernah terpejam dan tidak berpaling darinya tatkala dia berada ditempat yang dilanda bencana, di kepung kesusahan dan kesulitan. Alloh senantiasa mengabulkan doanya, memenuhi panggilannya dan menyibak mendung yang mengelilinginya.

Di antara hal yang aneh dalam masalah ini seperti yang telah di sebutkan al-Qur'an, adalah pengabulan Alloh terhadap dua orang-orang musyrik, tatkala mereka berada di atas perahu yang mengarungi lautan, lalu ada badai yang menerjang dan gelombang yang datang dari segala penjuru. Mereka berdoa kepada Allah dalam situasi yang kritis itu dengan sungguh-sungguh dan tulus. Lalu Allah mengabulkan doa mereka, sekalipun setelah itu kesungguhan dan ketulusan mereka berubah. Alloh berfirman:

Artinya:"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Alloh dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, Kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu kami kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (QS. Yunus: 22-23)


8. Masyarakat Aman dari Kejahatan dan Tercipta Stabilitas Kehidupan.
Tidak ketinggalan kita sebutkan dari peringatan di atas, bahwa hasil ikhlas tidak hanya terbatas di akhirat saja. Dengan kata lain, kita tidak mencari ikhlas agar amal-amal kita diterima disisi Alloh, kita bisa mendapatkan keberuntungan di akhirat dan masuk surga, atau kita bisa selamat dari neraka, tetapi lebih dari itu, bahwa ikhlas di tuntut agar segala urusan diduniabisa berjalan lancer, untuk membenarkan yang benar, meluruskan yang lurus, membatilkan yang batil, memasyarakatkan kebaikan, mengakkan keadilan, mengenyahkan kedzaliman dan membebaskan masyarakat dari berbagai dampak kerusakan.

Kehidupan menjadi kacau dan lepas kendalinya, jika tidak ada ikhlas, kemunafikan ada dimana-mana. Orang-orang munafik merajai dan dagangan mereka juga laku. Karena sudah ditunggangi hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri untuk mendapatkan keduniaan dan materi, mereka tidak peduli jika ada orang kerdil menjadi raksasa, setan menjadi malaikat, pencoleng menjadi orang terpandang. Mereka bisa menuduh orang-orang yang mulia, mengkhianati orang-orang yang terpercaya, mendustakan orang-orang baik. Mereka tidak peduli jika fatamorgana menjadi air dan rekan menjadi lawan. Kita bisa merasakan yang demikian ini dalam syair-syair lama atau dalam tulisan sebagian para wartawan pada zaman sekarang.

Banyak hal yang dimunculkan dari keikhlasan disamping yang tersebut diatas. Ikhlas dapat membuahkan kemenangan bagi umat, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah sholallohu alaihi wassalam: "Allah akan menolong umat ini Karena orang lemah diantara mereka, doa, sholat, dan ikhlas mereka". (Shahih At-Targhib wa Tarhib jilid: 1).

Demikianlah pembahasan ikhlas. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin umumnya dan bagi yang membaca secara khusus.
sumber: HASMI.org

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru