Sabtu, 04 September 2010

Antara gembira dan sedih?


Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita semua. Di akhir Ramadhan Allah menjanjikan pahala yang berlipat dan diajauhkan dari api neraka. Tidak ketinggalan pula perintah Allah untuk memperbanyak ibadah, salah satu di antaranya i’tikaf.

Mungkin saja sebagian banyak orang menyambut gembira datangnya lebaran. Yang dari kota sibuk mempersiapkan mudik. Dan di kampung tidak kalah sibuknya menyambut saudaranya dari kota.

Para pemudik biasanya ada perasaan pamer (riya) saat berada di kampung. Mereka merasa sukses berada di kota. Plat mobil luar kota berjejer di sepanjang kampung.

Tetangga yang kurang mampu hanya berbisik-bisik dan tidak bisa menikmati kesuksesan yang didapat para pemudik. Pujian setinggi langit dari tetangga membuat baju sesak yang dikenakan para pemudik.

Kegembiraan yang mereka pancarkan sudah mencerminkan ibadah yang didapat? Wa’allahu’alam. Berapa juz yang dikhatamkan? Apakah hanya menghabiskan juz buah saat berbuka atau sahur saja.

Di akhir Ramadhan Allah memberikan obral pahala. Begitu juga para pedagang mengobral dagangannya untuk menarik konsumen.

Dua obral ini akan berbeda. Jika orang tersentuh akan kemurahan Allah dan hatinya terbuka, bermunajat dan i’tikaf dijalankannya. Sedangkan seseorang yang hatinya masih belum terbuka dan memikirkan duniawi, jalan yang ditempuh i’tikaf di pasar atau mall.

Sekarang ini tarawih di masjid mulai sepi dan pasar atau mall mulai ramai. Mereka berfikir lebaran itu diidentikan baju baru dan serba baru. Kita melihat di media yang memberitakan pegadaian begitu ramai menjelang lebaran.

Saking semangatnya berlebaran, hutang pun dijalankan, hanya untuk membeli baju baru, kue atau masakan opor ayam.

Salahkan orang menarik keuntungan duniawi dengan halal? Dalam agama tidak ada larangan. Tidak salah juga para pedagang mengatakan larisnya dagangan sebagai berkah Ramadhan.

Tetapi jangan dilupakan juga bulan yang hanya satu kali dalam satu tahun yaitu Ramadhan terdapat Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan. Mungkin saja banyak orang yang menangis meninggalkan Ramdhan melihat keutamaan bulan ini.

Pertanyaannya. Apakah kita termasuk orang gembira atau sedih saat meninggalkan Ramadhan? Hanya diri kita yang bisa menjawabnya.
sumber:http://lomba.kompasiana.com

Debus.. Karomah atau Sihir?


Pemerintah daerah diminta melestari-kan seni bela diri debus khas budaya Banten, karena saat ini seni bela diri tersebut sudah langka di masyarakat. "Saya sangat prihatin seni bela diri debus yang merupakan warisan nenek moyang nyaris menghilang," kata Ketua Paguyuban Tjimande Tarik KolotKebon Djeruk Hilir (TTKKDH) Kabupaten Lebak Banten.

Itulah sekelumit gambaran pembelaan dari orang-orang yang pro debus, mereka dengan berbagai cara dan upaya terus mempertahankan debus yang mereka anggap sebagai budaya Islam yang harus dilestarikan,dan konon kata mereka tradisi debus ini merupakan peninggalan dari sultan Tirtayasa sebagai bentuk metode da’wah dalam menyebarkan agama Islam khususnya di daerah Banten.

Mungkin di antara pembaca ada yang pernah menyaksikan atraksi-atraksi debus yang mendebarkan, ada orang yang mengiris lidah dengan silet atau pisau, makan api, menusuk jarum ke pipi sampai tembus tanpa mengeluarkan darah, menusuk perut dengan pedang atau atraksi maut lainnya.

Karena lemahnya Aqidah Islamiyah di masyarakat kita dan pandainya agen-agen setan dalam mengemas produk yang mereka tawarkan serta maraknya media-media masa yang mengiklankan mereka, maka sungguh sangat memprihatinkan banyak sekali masyarakatyang tertipu dan terpedaya. Sihir yang dikemas dalam bentuk “debus” dianggap sebagai karomah dan budaya Islam yang harus dilestarikan, penyimpangan mereka dianggap wajar dan suatu keharusan, sedangkan keanehan mereka dianggap suatu keistimewaan.

Memang Islam adalah agama Rohmah(kasih sayang), Islam menghargai adat kebiasaan di suatu daerah sebagaimana qoidah “al-‘adatu muhakkamah (adat dapat menjadi hukum)”, akan tetapi tidak berarti semua adat tradisi bisa menjadi dan boleh dipakai serta dilestarikan. Disinilah sebenarnya letak nilai keIslaman kita di sisi Alloh Subhanahu wata’ala, karena seorang muslim itu selain diwajibkan untuk ta’at kepada Alloh juga dituntut untuk mengingkari serta menjauhi setiap bentuk pelanggaran-pelanggaran syari’ ah.

Lantas “debus” itu karomah atau sihir?

Kalaulah debus itu karomah, maka berarti tidak ada pelanggaran syariah dan boleh dilestarikan, tetapi jika debus itu sihir berarti telah terjadi suatu pelanggaran terhadap syariat Islam; harus diingkari serta dijauhi.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita perhatikan perbedaan antara karomah dan sihir agar tidak tertipu oleh setan dari jin atau setan manusia, tidak mudah tergoda oleh penampilan dan kemasan, tidak mudah tergiur oleh gencarnya iklan dan bujuk rayuan.

1. Karomah berasal Alloh sedangkan sihir dari setan

Ketika Nabi Zakaria ‘Alaihissalambertanya kepada Maryam tentang makanan yang selalu tersedia di mihrabnya. Maryam menjawab, ”Makanan itu dari sisi Alloh”. Sedangkan kita mengetahui bahwa Maryam bukanlah seorang Rosul atau Nabi, sehingga hal yang luar biasa itu bukan diketegorikan sebagai mukjizat, tetapi itulah karomah yang diberikan Alloh kepada sosok perempuan yang suci, Ibu dari Nabi Isa ‘Alaihissalam.

Kisah serupa namun berbeda pernah dialami oleh al-Hallaj atau al Husein bin Mansur seorang tokoh Sufi bersama sekelompok pengikutnya, ketika mereka meminta makanan manisan, maka Al-Hallaj bangkit dan pergi ke suatu tempat yang tidak jauh, dan tidak beberapa lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan yang penuh manisan. Tetapi akhirnya terkuak bahwa nampan yang penuh manisan itu adalah hasil curian Jin (setan) dari sebuah warung permen di Yaman. Begitulah cerita sihir yang diklaim pengikut Al-Hallaj sebagai karomah (Majmu Fatawa permulaan jilid 35, Ibnu Taimiyah).

2. Karomah tidak dapat dipelajari sedangkan sihir bisa dipelajari

Dalam lembaran siroh, kehidupan suri tauladan kita Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasallam, tidaklah kita baca bahwa Rosululloh mempelajari karomah atau mengajarkan kepada para sahabatnya ilmu-ilmu kebatinan dan ilmu kesaktian sehingga para sahabat menjadi sakti mandra-guna mempunyai ilmu kebal,dapat menghilang, terbang dan lain sebagainya sehingga mereka ketika berperang melawan orang-orang kafir selalu menang. Karena karomah bukanlah suatu ajaran, akan tetapi hadiah dan karunia langsung dari Alloh yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman dan sholih.

Ada di antara masyarakat kita yang belajar ilmu karomah (kata mereka) dengan cara-cara yang seakan-akan Islami.Seperti puasa dengan jumlah bilangan hari atau dengan wirid dan doa tertentu dalam hitungan ratusan bahkan ribuan. Bahkan ada yang memburu karomah dengan bermeditasi dan bertapa ditempat-tempat yang dikeramatkan, yang lebih naif lagi, dalam menjalankan ritualitas tersebut mereka melakukan pelanggaran dan pengabaian perintah-perintah Alloh Subhanahu wata’alayang wajib.

Jika dengan metode pembelajaran tersebut mereka mendapatkan sesuatu yang luar biasa maka bisa dipastikan bahwa itu adalah sihir bukan karomah dan setanlah yang menjadi maha guru mereka. Alloh Subhanahu wata’ala memberitahukan hal tersebut dengan firman-Nya:

“Dan mereka mengikuti apa yang dibacaoleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), akan tetapi setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka ‘mengajarkan’ sihir kepada manusia” (QS. Al-Baqoroh : 102)

3. Karomah tidak dapat didemonstrasikan sedangkan sihir dapat didemonstrasikan

Kita tidak pernah mendengar riwayatatau membaca siroh kehidupan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasallambahwa Rosululloh dangan parasahabat-nya mempersiapkan diri, latihan jurus tenaga dalam atau berkemas-kemas untuk pertunjukan kesaktian atau kehebatan ilmu kedigdayaan, entah itu untuk penggalangan dana atau hiburan ataupun menjadikan-nya sebagai sarana da’wah.

Memang Khalid bin Walid Rodiallohu ‘anhupernahmelakukan sesuatu yang spektakuler, itu pun terpaksa dan bukan dipersiapkan terlebih dahulu tetapi spontanitas. Selanjutnya Khalid bin Walid Rodiallohu ‘anhutidak pernah mempertunjukkan kembali kejadiantersebut yaitu meminum racun waktu dia dan pasukannya mengepung benteng musuh. Pimpinan mereka berkata, ”Kami tidak akan menyerah sebelum kamu meminum racun.” Khalid pun lalu meminumnya dan dia tetap segar bugar dengan idzin Alloh.

Maka dari itulah, apabila ada seseorangyang tampak darinya sesuatu yang luar biasa, lalu yang bersangkutan berusaha menampilkan kembali atau memamerkan kepada khalayak ramai, maka bisa dipastikan itu adalah sihir & bukan karomah. Apalagi kalau hal tersebut dijadikan sebagai obyek bisnis atau mesin pencetak uang.

Agar 'Idul Fitri Sesuai Sunnah


Lebaran adalah hari yang tidak asing bagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari yang penuh suka cita, di mana kaum muslimin dibolehkan kembali makan dan minum di siang hari setelah satu bulan penuh berpuasa. Namun, jika kita tinjau perayaan lebaran (’Iedul Fitri) yang telah kita laksanakan, sudah sesuaikah apa yang kita lakukan dengan keinginan Alloh dan Rosul-Nya? Atau malah kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah-Nya, dengan sekedar ikut-ikutan kebanyakan manusia? Untuk mengetahui perihal ini, mari kita simak bersama bahasan berikut.

Definisi ‘Ied

Kata “Ied” menurut bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang kembali berulang-ulang, baik dari sisi waktu atau tempatnya. Kata ini berasal dari kata “Al ‘Aud” yang berarti kembali dan berulang. Dinamakan “Al ‘Ied” karena pada hari tersebut Alloh memiliki berbagai macam kebaikan yang diberikan kembali untuk hamba-hambaNya, yaitu bolehnya makan dan minum setelah sebulan dilarang darinya, zakat fithri, penyempurnaan haji dengan thowaf, dan penyembelihan daging kurban, dan lain sebagainya. Dan terdapat kebahagiaan, kegembiraan, dan semangat baru dengan berulangnya berbagai kebaikan ini. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).

Perlu diperhatikan, saat ini telah menyebar di kalangan masyarakat, bahwa makna “Iedul Fitri” adalah kembali kepada fitroh (suci) karena dosa-dosa kita telah terhapus. Hal ini kurang tepat, baik secara tinjauan bahasa maupun istilah syar’i. Kesalahan dari sisi bahasa, apabila makna “Iedul Fitri” demikian, seharusnya namanya “Iedul Fithroh” (bukan ‘Iedul Fitri). Adapun dari sisi syar’i, terdapat hadits yang menerangkan bahwa Iedul Fitri adalah hari dimana kaum muslimin kembali berbuka puasa.

Dari Abu Huroiroh berkata: “Bahwasanya Nabi shollallohu’alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Puasa itu adalah hari di mana kalian berpuasa, dan (’iedul) fitri adalah hari di mana kamu sekalian berbuka…’” (HR. Tirmidzi dan Abu dawud, shohih) (Majalah As Sunnah 05/I, Ustadz Abdul Hakim). Oleh karena itu, makna yang tepat dari “Iedul Fitri” adalah kembali berbuka (setelah sebelumnya berpuasa).

Pensyariatan ‘Ied (hari raya) Adalah Tauqifiyyah

Hari raya (tahunan) yang dimiliki oleh kaum muslimin, hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha. Adakah hari raya yang lain? Jawabnya: tidak ada. Karena pensyariatan hari raya merupakan hak khusus Alloh ‘azza wa jalla. Suatu hari dikatakan hari raya apabila Alloh menetapkan bahwa hari tersebut adalah hari raya (’Ied). Namun, jika tidak, kaum muslimin tidak diperkenankan merayakan atau memperingati hari tersebut. Alasannya adalah hadits Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas rodhiyallohu ‘anhu bahwa beliau berkata, “Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam datang ke Madinah dan (pada saat itu) penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang dipergunakan untuk bermain (dengan permainan) di masa jahiliyyah. Lalu beliau bersabda: ‘Aku telah datang kepada kalian, dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyyah. Sungguh Alloh telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (’Iedul Adha) dan hari fitri (’Iedul Fitri).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shohih)

Dua hari raya yang dimiliki penduduk Madinah saat itu adalah hari Nairuz dan Mihrojan, yang dirayakan dengan berbagai macam permainan. Kedua hari raya ini ditetapkan oleh orang-orang yang bijak pada zaman tersebut karena cuaca dan waktu pada saat itu sangat tepat/bagus. (Ahkamul ‘Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Tatkala Nabi datang, Alloh mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari raya pula yang Alloh pilih untuk hamba-hamba-Nya. Sejak saat itu, dua hari raya yang lama tidak diperingati lagi. Berdasarkan hal ini, pensyariatan hari raya adalah tauqifiyyah (sesuai dengan perintah Alloh). Seseorang tidak diperbolehkan menetapkan hari tertentu untuk perayaan/peringatan kecuali memang ada dalil yang benar dari Alloh (Al Qur’an) maupun Rosul-Nya (Al Hadits). Sehingga tidak benar, apa yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini, dengan melakukan berbagai macam peringatan/perayaan yang sama sekali tidak ada tuntunannya. Di antaranya: peringatan/perayaan maulid Nabi, Isro Mi’roj, Nuzulul Quran, hari Kartini, hari ibu, dan hari ulang tahun.

Tuntunan Nabi Saat Hari Raya

Perayaan ‘Iedul Fitri maupun ‘Iedul Adha merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Alloh. Dan ibadah tidak terlepas dari dua hal, yang semestinya harus ada, yaitu: (1) Ikhlas ditujukan hanya untuk Alloh semata dan (2) Sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam.

Ada beberapa hal yang dituntunkan Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam terkait dengan pelaksanaan hari raya, di antaranya:

Mandi Sebelum ‘Ied: Disunnahkan bersuci dengan mandi untuk hari raya karena hari itu adalah tempat berkumpulnya manusia untuk sholat. Namun, apabila hanya berwudhu saja, itu pun sah. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia). Dari Nafi’, bahwasanya Ibnu Umar mandi pada saat ‘Iedul fitri sebelum pergi ke tanah lapang untuk sholat (HR. Malik, sanadnya shohih). Berkata pula Imam Sa’id bin Al Musayyib, “Hal-hal yang disunnahkan saat Iedul Fitri (di antaranya) ada tiga: Berjalan menuju tanah lapang, makan sebelum sholat ‘Ied, dan mandi.” (Diriwayatkan oleh Al Firyabi dengan sanad shohih, Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
Makan di Hari Raya: Disunnahkan makan saat ‘Iedul Fitri sebelum melaksanakan sholat dan tidak makan saat ‘Iedul Adha sampai kembali dari sholat dan makan dari daging sembelihan kurbannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Buroidah, bahwa beliau berkata: “Rosululloh dahulu tidak keluar (berangkat) pada saat Iedul Fitri sampai beliau makan dan pada Iedul Adha tidak makan sampai beliau kembali, lalu beliau makan dari sembelihan kurbannya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, sanadnya hasan). Imam Al Muhallab menjelaskan bahwa hikmah makan sebelum sholat saat ‘Iedul Fitri adalah agar tidak ada sangkaan bahwa masih ada kewajiban puasa sampai dilaksanakannya sholat ‘Iedul Fitri. Seakan-akan Rosululloh mencegah persangkaan ini. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
Memperindah (berhias) Diri pada Hari Raya: Dalam suatu hadits, dijelaskan bahwa Umar pernah menawarkan jubah sutra kepada Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam agar dipakai untuk berhias dengan baju tersebut di hari raya dan untuk menemui utusan. (HR. Bukhori dan Muslim). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam tidak mengingkari apa yang ada dalam persepsi Umar, yaitu bahwa saat hari raya dianjurkan berhias dengan pakaian terbaik, hal ini menunjukkan tentang sunnahnya hal tersebut. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Perlu diingat, anjuran berhias saat hari raya ini tidak menjadikan seseorang melanggar yang diharamkan oleh Alloh, di antaranya larangan memakai pakaian sutra bagi laki-laki, emas bagi laki-laki, dan minyak wangi bagi kaum wanita.
Berbeda Jalan antara Pergi ke Tanah Lapang dan Pulang darinya: Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda tatkala berangkat dan pulang, berdasarkan hadits dari Jabir, beliau berkata, “Rosululloh membedakan jalan (saat berangkat dan pulang) saat iedul fitri.” (HR. Al Bukhori). Hikmahnya sangat banyak sekali di antaranya, agar dapat memberi salam pada orang yang ditemui di jalan, dapat membantu memenuhi kebutuhan orang yang ditemui di jalan, dan agar syiar-syiar Islam tampak di masyarakat. (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan). Disunnahkan pula bertakbir saat berjalan menuju tanah lapang, karena sesungguhnya Nabi apabila berangkat saat Iedul Fitri, beliau bertakbir hingga ke tanah lapang, dan sampai dilaksanakan sholat, jika telah selesai sholat, beliau berhenti bertakbir. (HR. Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih).

Diperbolehkan saling mengucapkan selamat tatkala ‘Iedul Fitri dengan “taqobbalalloohu minnaa wa minkum” (Semoga Alloh menerima amal kita dan amal kalian) atau dengan “a’aadahulloohu ‘alainaa wa ‘alaika bil khoiroot war rohmah” (Semoga Alloh membalasnya bagi kita dan kalian dengan kebaikan dan rahmat) sebagaimana diriwayatkan dari beberapa sahabat. (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia).

Jika Terkumpul Hari Jum’at dan Hari Raya Dalam Satu Hari

Jika hari raya dan hari Jumat berbarengan dalam satu hari, gugurlah kewajiban sholat Jum’at bagi orang yang telah melaksanakan sholat ‘Ied, namun bagi Imam hendaknya tetap mengerjakan sholat Jum’at agar dapat dihadiri oleh orang yang ingin menghadirinya dan orang yang belum sholat ‘Ied. Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata, “Diperbolehkan bagi mereka (kaum muslimin), jika ‘ied jatuh pada hari Jum’at untuk mencukupkan diri dengan sholat ‘ied saja dan tidak menghadiri sholat Jumat.” (Ahkamul Iedain, Dr. Abdulloh At Thoyyar – edisi Indonesia).

Hal-Hal yang Terkait Sholat Ied Secara Ringkas

Karena terbatasnya jumlah halaman, berikut kami ringkaskan hal-hal yang terkait dengan sholat ‘Ied, di antaranya:

Dasar disyari’atkannya: QS. Al Kautsar ayat 2, dan hadits dari Ibnu Abbas, beliau berkata, “Aku ikut melaksanakan sholat ‘Ied bersama Rosululloh, Abu Bakar dan Umar, mereka mengerjakan sholat ‘Ied sebelum khutbah.” (HR. Buhori dan Muslim)
Hukum sholat ‘Ied: Fardhu ‘Ain, menurut pendapat terkuat.
Waktu sholat ‘Ied: Antara terbit matahari setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari (waktu Dhuha), menurut kebanyakan ulama.
Tempat dilaksanakannya: Disunnahkan di tanah lapang di luar perkampungan (berdasarkan perbuatan Nabi), jika terdapat udzur dibolehkan di masjid (berdasarkan perbuatan Ali bin Abi Tholib).
Tata cara sholat ‘Ied: Dua roka’at berjama’ah, dengan tujuh takbir di roka’at pertama (selain takbirotul ihrom) dan lima takbir di roka’at kedua (selain takbir intiqol -takbir berpindah dari rukun yang satu ke rukun yang lain).
Adzan dan iqomah pada sholat ‘Ied: Tidak ada adzan dan iqomah, atau seruan apapun sebelum dilaksanakan sholat karena tidak adanya dalil untuk hal tersebut.
Khutbah pada sholat ‘Ied: Satu kali khutbah tanpa diselingi dengan duduk, menurut pendapat yang terkuat.
Qodho’ sholat ‘Ied jika terluput: Tidak perlu meng-qodho’, menurut pendapat yang terkuat.

Kemungkaran yang Biasa Dilakukan Tatkala ‘Iedul Fitri

Tasyabbuh (meniru-niru) orang-orang kafir dalam pakaian dan mendengarkan musik/nyanyian (kecuali rebana yang dimainkan oleh wanita yang masih kecil). Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan) dan sabda Nabi yang lain, “Akan datang sekelompok orang dari umatku yang menghalalkan (padahal hukumnya haram) perzinaan, pakaian sutra bagi laki-laki, khomr (sesuatu yang memabukkan), dan alat musik…” (HR. Al Bukhori secara mu’allaq dan Imam Nawawi berkata bahwa hadits ini shohih dan bersambung sesuai syarat shohih). Dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Lahwal Hadits’ (perkataan yang tidak bermanfaat) dalam surat Luqman ayat 6 adalah Al Ghinaa‘ (nyanyian).
Tabarruj-nya (memamerkan kecantikan) wanita, dan keluarnya mereka dari rumahnya tanpa keperluan yang dibenarkan syariat agama. Hal tersebut diharamkan di dalam syari’at ini, di mana Alloh berfirman, “Dan hendaklah kamu (wanita muslimah) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah yang dahulu, dan dirikanlah sholat serta tunaikanlah…” (QS. Al Ahzab: 33). Dalam suatu hadits disebutkan bahwa ada dua golongan dari ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Nabi: “….salah satu di antaranya adalah wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang (tidak menutup seluruh tubuhnya, atau berpakaian namun tipis, atau berpakaian ketat) yang melenggak-lenggokkan kepala. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium bau surga.” (HR. Muslim)
Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah yang sudah sangat merata. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirohmati Alloh. Padahal perbuatan ini adalah haram berdasarkan sabda Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam, “Sungguh, seandainya kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal dia sentuh.” (lihat Silsilah Al Ahadits As Shohihah 226) (Ahkamul Iedain, Syaikh Ali bin Hasan).
Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘Ied. Tidak terdapat satu dalil pun yang menunjukkan perintah Alloh ataupun tuntunan Nabi untuk ziarah ke kubur pada saat ‘Iedul Fitri. Ziarah kubur memang termasuk ibadah yang disyariatkan, namun, pengkhususan waktu untuk ziarah saat ‘Iedul Fitri membutuhkan dalil. Jika tidak terdapat dalil, perbuatan tersebut bukan tuntunan Nabi dan tidak boleh dilaksanakan. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan (untuk tujuan ibadah) di mana tidak termasuk dalam urusan kami, maka amalnya tersebut tertolak (tidak akan diterima).” (HR. Muslim)
Begadang saat malam ‘Iedul Fitri. Banyak di antara kaum muslimin yang menghidupkan malam ‘Ied dengan takbir via mikrofon. Hal ini sangat mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat. Hukum mengganggu orang lain adalah haram. Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda, “Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim). Sehingga jika memang hendak bertakbir, hendaknya tidak dengan suara yang keras. Ada lagi di antara kaum muslimin yang menjadikan malam ‘Ied untuk begadang dengan bermain catur, kartu atau sekedar ngobrol tanpa tujuan. Akibatnya, tatkala pagi datang, kebanyakan dari mereka sulit menjalankan sholat subuh secara berjamaah. Bahkan ada yang sampai ogah-ogahan menjalankan sholat ‘Ied.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik bagi yang menulis, membaca, dan yang menyebarkannya.

***
Dipostkan oleh: Yusuf Supriadi
Penulis: Adid Adep Dwiatmoko
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru