Kamis, 13 Januari 2011

Budaya Membaca, Budaya Islam


Kapan terakhir kali Anda mendengar seorang Muslim memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran? Bagaimana dengan publikasi ilmiah? Sayang sekali, Anda tidak akan menemukan banyak nama kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan makalah-makalah ilmiah. Apa yang kurang? Alasan apa yang kita miliki? Andalah yang bisa menjawabnya.

I. Pendahuluan
Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menanggapi pembangunan di wilayah Arab mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara hanya mampu menerjemahkan 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya! Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya.

Mengapa ada alergi atau keengganan untuk membaca dan menerjemahkan ilmu yang asal-muasalnya berasal dari nenek moyang kita sendiri (Islam)? Padahal upaya utama untuk mendapatkan kembali warisan ilmu terdahulu adalah dengan membaca, menganalisa, mengumpulkan, menyempurnakan dan menyalurkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.

Mengapa tingkat pendidikan pada kaum Muslim rendah? Sementara ayat pertama dari Al-Qur`an adalah ‘Iqra (berarti: Bacalah). Apakah mereka lupa pada sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa:

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap orang, laki-laki dan perempuan” (Shahih Al-Bukhari).

Dan bagaimana pula dengan sabda beliau yang menjelaskan:

“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Namun kenyataannya sekarang, bahwa begitu giatnya kaum Muslim dalam mencari kekayaan materi hingga mereka sendiri tidak tahu bagaimana untuk membelanjakannya. Sikap seperti itu begitu beresiko dan memalukan.

II. Upaya yang harus dilakukan
Keprihatinan akan hal-hal diatas harus dibangun dan tidak sepatutnya lagi hanya sebatas sekat nasionalisme semata, namun harus menyentuh nilai-nilai transendental di bawahnya. Problematika umat Islam tidak hanya berupa serangan budaya asing dengan berbagai bawaan unsur negatifnya, melainkan dari kalangan internal tubuh umat Islam sendiri. Diakui atau tidak, maka saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban non Islam atau sebut saja “Dunia Barat”.

Salah satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan adalah budaya membaca. Karena dengan membaca maka setiap individu akan semakin terbuka daya berpikirnya, semakin luas wawasan dan pengetahuanya. Namun sayang, bangsa Indonesia yang notabene berpenduduk mayoritas Islam kurang memperhatikan tentang hal ini. Budaya membaca bagi bangsa Indonesia khususnya kaum Muslim masih berada jauh di bawah “bangsa-bangsa Barat”.

Berdasarkan kategori tertentu, ada sebuah penelitian tentang penjualan barang-barang secara online di internet. Untuk wilayah Indonesia, hasil dari penelitian ini cukup mengejutkan. Buku menduduki peringkat terakhir yang di jual di internet. Yang tertinggi masih berupa barang-barang konsumtif, seperti alat-alat elektronik dan kendaraan. Bandingkan dengan Amerika Serikat dan juga beberapa negara maju di Eropa. Mereka meletakkan buku pada peringkat teratas dari barang-barang yang di transaksikan secara online. Demikian pula perbandingan kualitas dan kuantitas dari perpustakaan mereka, yang bila dibandingkan dengan negara Indonesia maka memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Menilik penjelasan diatas, maka jangan heran bila hingga saat ini negara-negara yang berasaskan Islam atau yang berpenduduk mayoritas Islam selalu menjadi penonton dalam kancah percaturan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Sehingga dengan demikian sangat perlu dilakukan perubahan yang mendasar bagi setiap individunya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh manusia Indonesia khususnya umat Islam, agar kembali menjadi obor pengetahuan. Diantaranya sebagai berikut:

A. Faedah membaca
Dari buku saya yang berjudul: “Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa” maka dijelaskan beberapa faedah yang di dapatkan dengan membaca, diantaranya:

Membaca dapat melatih kecerdasan, mengembangkan akal dan pikiran, serta membersihkan hati.
Membaca bisa mengasah daya ingat dan pemahaman serta meningkatkan pengetahuan.
Membaca dapat membantu seseorang untuk berpikir lebih jernih dan tenang. Membuat hati agar lebih terarah serta tidak berbuat yang tidak berguna dalam kehidupan.
Banyak membaca, maka akan memotivasi seseorang untuk menciptakan sebuah karya tulis yang dapat berguna bagi orang lain.
Dengan membaca, maka seseorang akan terhindar dari kejenuhan, sebab ia telah memiliki obat penawarnya yang positif.
Meskipun apa yang ia baca itu tidak bisa mendatangkan faedah, maka setidaknya seseorang telah terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik selama waktu luangnya, karena ia telah menghabiskan waktu hanya dengan duduk tenang dalam membaca.
Dengan banyak membaca, maka akan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detil, serta bisa mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan.
Membaca telah berhasil membuat seorang diri terbebas dari belenggu kebodohan dan menciptakan sebuah budaya yang sangat positif bagi kehidupan umat manusia.
Dengan membaca, maka akan menimbulkan banyak ide dan gagasan baru, sehingga bisa meningkatkan produktifitas seseorang.
Dengan membaca, maka seseorang dapat mengambil sebuah pelajaran dari pengalaman orang lain atau kebijaksanaan dari kalangan bijak bestari.

B. Keutamaan ilmu dibandingkan harta
Diriwayatkan suatu hari sepuluh orang terpelajar mendatangi Imam Ali bin Abi Thalib RA. Mereka ingin mengetahui mengapa ilmu lebih baik daripada harta, dan mereka meminta agar masing-masing dari mereka diberikan jawaban yang berbeda. Imam Ali RA pun menjawab sebagaimana berikut:

Ilmu adalah warisan Nabi, sebaliknya harta adalah warisan Fir`aun. Sebagaimana Nabi lebih unggul daripada Fir`aun, maka ilmu lebih baik daripada harta.
Engkau harus menjaga hartamu, tetapi Ilmu akan menjagamu. Maka dari itu, Ilmu lebih baik daripada harta.
Ketika Ilmu dibagikan ia semakin bertambah. Ketika harta dibagikan ia berkurang. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
Manusia yang mempunyai banyak harta memiliki banyak musuh, sedangkan manusia berilmu memiliki banyak teman. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu menjadikan seseorang bermurah hati karena pandangannya yang luas, sedangkan manusia kaya dikarenakan kecintaannya kepada harta menjadikannya sengsara. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu tidak dapat dicuri, tetapi harta terus-menerus terekspos oleh bahaya akan pencurian. Maka, ilmu lebih baik daripada harta.
Seiring berjalannya waktu, kedalaman dan keluasan ilmu bertambah. Sebaliknya, timbunan dirham menjadi berkarat. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Engkau dapat menyimpan catatan kekayaanmu karena ia terbatas, tetapi engkau tidak dapat menyimpan catatan ilmumu karena ia tidak terbatas. Untuk itulah mengapa ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu mencerahkan pikiran, sementara harta akan cenderung menjadikannya gelap. Maka dari itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu menyebabkan Nabi berkata kepada Tuhan “Kami menyembah-Nya sebagaimana kami adalah hamba-hamba-Nya”, sementara harta membahayakan, menyebabkan Fir`aun dan Namrud bersikap congkak dengan menyatakan diri mereka sebagai Tuhan.

C. Kewajiban dalam mencari ilmu pengetahuan
Alasan utama dibalik kegemilangan kaum Muslim awal terletak pada pencarian mereka terhadap ilmu pengetahuan, walaupun ilmu itu harus diperoleh di tempat yang sulit dan tersembunyi. Sebagai generasi Islam sejati, mereka telah mengerti akan sabda Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan:

“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah (fisabilillah) hingga ia kembali (ke rumahnya)” (HR. Tirmidzi)

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim)

Sehingga dengan menela`ah semua hadits Nabi Muhammad SAW diatas, maka menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap umat Islam.

D. Kualitas kepemimpinan dan dukungan pemerintah
Pada zaman awal keislaman, penguasa kaum Muslim tidak hanya menjadi pendukung edukasi, tapi mereka sendiri merupakan para sarjana yang hebat. Mereka juga dikelilingi oleh kaum terpelajar seperti para ahli filosofi, ahli ilmu falak (Astronomi), ahli fiqh, ahli hadits, ulama, analis, penyair, matematikawan, ilmuwan, insinyur, arsitek dan dokter. Kaum terpelajar memiliki nilai yang tinggi di pemerintahan. Mereka membangun perpustakan, universitas, pusat penelitian, dan observatorium. Mereka mengundang kaum terpelajar dari seluruh bangsa dan agama untuk datang ke wilayah mereka. Sehingga kota yang mereka bangun menjadi metropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang. Sebagaimana universitas saat ini seperti Harvard, MIT, Standford, Yale dan Princeton, universitas-universitas kaum Muslim dahulu adalah universitas terunggul di dunia.

Dan apa yang kita miliki saat ini? Kebanyakan pemimpin di negeri kaum Muslim adalah setengah terpelajar, yang dikelilingi (dengan tingkat pengecualian yang rendah) oleh kroni-kroni mereka yang kualifikasi terpenting bagi mereka bukanlah kompetensi atau pendidikan, tetapi karena berhubungan dengan penguasa atau keluarganya.
Penguasa-penguasa kita (dengan tingkat pengecualian yang rendah) telah korup dan mementingkan diri sendiri. Tidak heran, mereka dikelilingi oleh orang-orang korup yang diberikan posisi untuk menggemukkan simpanan kerabat-kerabat mereka. Lebih lanjut, ketika jumlah istana dan rumah-rumah megah terus meningkat, maka tidak satupun universitas yang dibangun oleh penguasa-penguasa ini. Hanya beberapa persen dari budget negara yang dibelanjakan untuk pendidikan dan penelitian.

Jadi, adalah wajar ketika saat ini kita terus menyaksikan begitu suramnya catatan penemuan ilmiah atau prestasi dari negara-negara Muslim. Tidak ada satupun universitas dari negeri kaum Muslim yang berada pada peringkat 100 universitas terbaik di dunia.

E. Melangkah melampaui apa yang diharapkan
Sebagaimana yang dikemukakan diatas, kaum Muslim sangat jauh tertinggal pada setiap bidang pengetahuan. Adalah tidak mungkin menutupi jurang yang semakin lebar ini hanya dengan mengikuti arus atau hanya melakukan apa-apa dengan langkah seadanya. Strategi kita seharusnya adalah berusaha melangkah melampaui kemampuan rata-rata kita, melakukan hal-hal yang lebih besar dan terus mengkaji hakekat ajaran Islam yang Rahmatan lil `alamin. Sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh para ulama, ilmuwan, pendidik dan para pejabat kekhalifahan Abasiyah di Baghdad.

III. Kesimpulan
Saudaraku sekalian, dengan deretan ilmuwan Muslim pada masa kejayaan Islam (baca: Peradaban Islam: Obor pengetahuan), tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh George Sarton, ”Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para Muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim.

Jika negara-negara Muslim atau negara yang berpenduduk mayoritas Islam ingin mengambil kembali khazanah pengetahuan yang hilang, mereka harus meneliti kembali jejak mereka terdahulu yang membuat mereka sukses, dan menyingkirkan cara-cara yang dipakai pada saat ini karena mengantarkan mereka pada kegelapan dan kehancuran. Sebab, sejak seribu tahun yang lalu, ketika umat Islam sebagai pembawa cahaya pengetahuan dunia pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam itu karena didorong oleh ajaran agama, gemar membaca, melakukan penelitian serta membuat penemuan ilmiah. Sehingga dunia lain (Barat) pun menjadi iri dan belajar banyak dari mereka selama berabad-abad.

Yogyakarta, 17 April 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa, karya; Mashudi Antoro]

Budaya Menulis


Menulis adalah bagian dari media berekspresi. Seseorang menulis karena ingin menuangkan ide yang telah menumpuk dalam pikirannya. Banyak orang tertarik dalam bidang tulis-menulis salah satunya ingin menjadi seseorang yang dikenal. Terlepas dari hal itu, menulis adalah suatu kegiatan positif yang mendayagunakan kata-kata.

Seseorang yang tidak dapat menuangkan ide-ide secara lisan dapat mengungkapkannya melalui tulisan. Dengan menulis, seorang seperti membenamkan diri dalam proses kreatif. Karena ketika menulis, itu berarti seseorang tersebut menciptakan sesuatu, yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan pemecahan. Dan ketika proses kreatif tersebut semakin dilatih, seseorang akan semakin mudah untuk mengalihkan keahliannya kepada bidang lain yang juga membutuhkan solusi kreatif.

Mengingat banyaknya manfaat kegiatan menulis, budaya menulis tentu perlu ditumbuhkembangkan. Namun untuk menumbuhkan kebudayaan tersebut hal yang pertama kali yang harus dimiliki yaitu menumbuhkan dulu kecintaan dan kebiasaan kita dalam hal membaca. Sebab dibutuhkan kemampuan ataupun kecerdasan bahasa guna mengungkapakan pemikiran agar ketika menulis, seorang penulis dapat dengan mudah dalam hal pemilihan kata yang tepat didalam tulisannya. Dan membaca merupakan solusinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak juga kata-kata yang bisa diproduksi. Ibarat semakin banyak minum air, maka semakin banyak mengeluarkan air.

Suatu fenomena yang terjadi saat ini adalah, menulis ibarat sebuah momok yang menakutkan. Padahal dalam menempuh pendidikan, kita tidak dapat melepaskan aktivitas kita dari kegiatan membaca dan menulis. Seringkali kita menemukan, banyaknya jumlah mahasiswa yang harus tertunda kelulusannya karena terkendala dalam tugas akhirnya dalam penulisan skripsi. Tidak hanya itu, seringkali juga kita menemukan banyak kasus plagiat yang terjadi di Indonesia, hanya demi mengejar suatu gelar yang sangat prestise. Seperti kasus plagiat yang baru-baru ini menimpa Anak Agung Banyu Prawita, seorang guru besar jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Katolik Parahyangan. Gelar Profesor sekaligus Guru besar terpaksa harus dicopot, sebab artikelnya yang berjudul RI as A New Middle Power memiliki banyak kesamaan dengan artikel yang ditulis Carl Ungerer, penulis asal Australia. Tulisannya berjudul The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy yang telah lebih dulu dimuat di Australian Journal of Politics and History Volume 53, 2007.

Penjiplakan tersebut tentu bukan “prestasi” yang patut dibanggakan oleh bangsa ini. Sebab sebagai bangsa bermartabat, seharusnya kita malu dan khawatir karena punya “budaya menjiplak”. Sebab, jika penjiplakan dibiarkan terus-menerus, pelan tetapi pasti bangsa ini bakal kehilangan jati diri, karakter, dan daya cipta.
Kasus penjiplakan yang terjadi tersebut tentu tidak perlu terulang lagi apabila masyarakat kita telah dapat membudayakan kembali budaya baca yang menjadi titik pangkal dari budaya menulis.. Budaya baca saat ini masih merupakan menjadi kendala yang sangat besar bagi kita harus lebih dikedepankan kembali untuk meningkatkan kemauan untuk membaca dimasyarakat.

Budaya sedikit-sedikit membaca yang menjadi slogan bagi masyarakat Islam di masa keemasannya, bertolak belakang dengan budaya kita yang tidak sedikit-dikit membaca, namun hanya sedikt membaca. Kita dapat melihat di televisi, baik dalam situasi apapun, seperti didalam kendaraan pada saat bepergian atau menunggu kedatangan bis umum, banyak diantara masyarakat Jepang memanfaatkan waktu luangnya tersebut dengan membaca. Bertolak belakang halnya dengan budaya kita, yang lebih senang untuk bercanda didalam bis ataupun memanfaatkan waktu didalam bis untuk memejamkan matanya.

Kebiasaan tersebut seharusnnya dapat kita ubah. Kita tidak perlu hingga meniru masyarakat Jepang yang begitu senangnya dalam hal membaca. Kita dapat memulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu dengan menanyakan sudah berapa lembar dari sebuah buku yang telah saya baca dalam satu hari ini. Bagaimana mungkin kita dapat membuat sebuah tulisan yang baik apabila kita jarang sekali membaca. Sebab aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, seseorang dituntut membudayakan aktivitas membaca. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal.

Padahal budaya membaca dapat membuka cakrawala pengetahuan yang sangat berguna. Lebih dari itu, membaca dan menulis bukan sekedar menyampaikan ide, informasi, atau data dan peristiwa. Namun melatih seseorang untuk dapat berperilaku jujur. sebab tulisan yang dibuat atas dasar kejujuran dapat memberikan energi berupa kepuasan dan semangat untuk berkarya bagi penulis.

Ada banyak media yang dapat kita gunakan sebagai tempat kita menuangkan tulisan kita. Salah satu media virtual yang relevan untuk meningkatkan kompetensi profesional seseorang dalam mengembangkan aktivitas dan budaya menulis adalah blog (weblog).

Akan tetapi kehadiran tekhnologi jejaring sosial seperti facebook dan twitter yang perkembanganya sangat pesat, justru menyebabkan penurunan jumlah pengguna blogger yang biasa menghasilkan karya-karya berupa tulisan ilmiah yang sangat berguna. Memang kita juga tidak dapat memungkiri, hadirnya jejaring sosial tersebut menumbuhkembangkan budaya menulis bagi masyarakat. Namun tulisan yang dihasilkan lebih banya berupa curhat seputar cinta dan artikel copy paste dari sumber lain. Meski tentu saja ada satu dua orang yang saya nilai sebenarnya memiliki bakat besar dalam bidang tulis menulis dan saya menyukai tulisan yang dibuatnya, namun secara umum memang harus diakui bahwa budaya menulis secara aktif masih belum membudaya. Terlebih jenis tulisan yang bersifat reflektif dan personal. Mereka hanya tertarik menulis dengan karakter pendek dan hanya berupa ungkapan status daripada menulis panjang dan berisi hal-hal positif dan lebih detail, seperti saat menulis di blog. Hal ini didukung lagi dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai percakapan atau obrolan yang santai ketimbang harus menelaah tulisan yang panjang lagi dan menjenuhkan.

Pemerintah seharusnya peka dengan segala keadaan ini. Dibutuhkan suatu upaya yang dapat mendorong para generasi muda saat ini guna lebih membudayakan kegiatan membaca dan menulis. Sebab cepat atau lambat, hal ini akan berdampak serius bagi sumber daya manusia di negara kita ini. Penjiplakan yang marak terjadi tentu tidak akan terjadi apabila membaca dan menulis telah menjadi suatu kebudayaan bagi masyarakat kita.
Mengatasi fenomena ini lebih tepat langkah awal yang ditempuh yaitu dengan menghidupan kembali gerakan gemar membaca dan gemar menulis dari level pendidikan yang lebih rendah (Tk dan Sd) sampai keperguruan tinggi yang langsung diimplementasikan dalam kehidupan dan bukan cuma hanya lewat seminar dan simposium yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu yang cendrung untuk mengkonsumsi buat memperkaya wawasan sendiri.

Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan tepat adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Penegasan itu jelas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa Indonesia menciptakan ungkapan membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku.
Faktor penting dalam masyarakat yang mampu mendorong tumbuhnya minat baca adalah guru. Sebab guru memiliki peluang untuk menciptakan pembelajaran yang berbasis buku, juga mendorong siswa untuk aktif mengeksplorasi konteksnya dalam masyarakat.

Jika diamati, sebagian besar kegiatan di sekolah lebih berorientasi pada misi pendidikan dan pengajaran oleh guru di kelas, sedangkan visi dan misi ilmiah dalam bentuk penulisan dan publikasi ilmiah sering terabaikan. Implikasi dari kenyataan tersebut, penulisan dan publikasi karya ilmiah di kalangan tenaga pendidik masih memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan rendahnya produktivitas guru ataupun dosen dalam menulis dan mempublikasikan karya ilmiah, termasuk di dalamnya pemakaian bahasa Indonesia ragam tulis ilmiah.
Tidak hanya itu, keengganan para dosen atau tenaga pendidik selama ini untuk menulis disebabkan banyak diantara mereka yang tidak punya banyak waktu serta imbalan menulis yang masih relatif kecil. Karena itu, alangkah lebih baik bila pemerintah juga untuk menyediakan dana bagi para penulis dari kalangan tenaga pendidik.

Di lain pihak, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Respons positif diharapkan muncul dari mahasiswa dengan, pertama, mengerjakan tugas-tugas penyusunan makalah, paper, laporan praktik/observasi sesuai kaidah keilmuan dan kepenulisan yang benar. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah sebagai upaya menerapkan dan menguji ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya. Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya melalui karya-karya tulis yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Sumber bacaan atau referensi tentunya sangat mempengaruhi hasil tulisan. Buku yang dibaca oleh seorang dapat berpengaruh dalam pengembangan karya. Membaca sesuai kebutuhan menjadikan tulisan lebih bernilai karena memiliki dasar-dasar yang kuat. Dengan membaca seseorang mempunyai wawasan yang lebih luas dan memiliki perspektif lain mengenai dunia yang sedang digeluti.

Membaca merupakan awal dari tindakan menulis. Seseorang yang telah banyak melahap buku bacaan sekali waktu ingin menumpahkan kembali gagasan-gagasan yang telah dihimpunnya. Namun untuk membangun budaya membaca dan menulis dibutuhkan sarana dan prasarana yaitu buku dan perpustakaan yang harus dibangun sampai tingkat desa bahkan RT/RW. Dan hal inilah salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah. Sebab sarana dan prasarana khususnya perpustakaan baik diperpustakaan sekolah maupun diperguruan tinggi sekalipun yang buku-bukunya belum mendapat prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan.

Perpustakaan merupakan sarana sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Berbeda dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat digumuli peminatnya masing-masing.

Diharapkan di masa kini dan yang akan datang perpustakaan di Indonesia menjadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia dan merupakan kebutuhan hidup sehari-hari. Peranan perpustakaan dalam menumbuh kembangkan minat baca dan cinta buku merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebab menciptakan manusia cerdas, terampil, dan berkualitas ditentukan oleh membaca. Tanpa membaca tiada berarti apa-apa bagi manusia.
Orang yang kutu buku belum tentu dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan. Namun seorang penulis pasti juga seorang pembaca yang baik. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin banyak pula ide yang masuk kedalam otak kita. Jika kita hanya membaca tanpa usaha untuk menulis, maka kita tak ubahnya ibarat sebuah gudang buku, bukan penerbit buku. Gudang hanya untuk menyimpan barang-barang yang biasanya lama tanpa mengeluarkan atau menciptakan karya yang baru. Setiap pabrik atau perusahaan memiliki gudang namun permasalahannya tidak semua gudang merupakan kepunyaan pabrik. Pabrik memproduksi barang baru sedangkan gudang hanya menyimpannya. Semua gudang merupakan kepunyaan pabrik. Pabrik memproduksi barang baru sedangkan gudang hanya menyimpannya.

Kita perlu merubah paradigma kita yang selama ini puas dan bangga hanya dengan mengoleksi dan membaca karya-karya orang lain, dengan menciptakan karya tulis untuk orang lain. Kita jangan puas hanya sebagai konsumen, yang membeli, mengumpulkan dan membaca pikiran orang lain. Kita perlu menjadi produsen untuk menciptakan karya yang dapat dinikmati oleh orang lain. Oleh karena itu, mari kita menjadikan membaca dan menulis menjadi budaya dalam kehidupan kita sehari hari.

http://chandrasilaen.wordpress.com/2010/07/24/budaya-menulis/ dengan sedikit edit dari Admin

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru