Rabu, 29 Februari 2012

Sudah Terlambat

Seringkali orang yang sedang mengejar prestasi atau karir tertentu, maka ia akan semangat dan terus bekerja keras demi menggapai apa yang ia inginkan. Misalnya seorang pelajar yang ingin menghafal juz 30 dari al-Qur’an, maka ia akan berusaha keras untuk bisa menghafalnya dengan berbagai metode. Seseorang yang bercita-cita menjadi dokter atau guru, maka ia akan giat belajar dan berusaha maksimal untuk meraih apa yang ia cita-citakan, ia akan korbankan harta dan jiwanya untuk menggapai hal itu.

Namun, ketika seseorang sudah merasa mendapatkan apa yang ia inginkan, maka ia merasa telah berada pada comfort zone (zona aman). Dan biasanya orang seperti ini tidak lagi termotivasi untuk meningkatkan kemampuan dirinya agar menjadi lebih baik lagi. Sehingga yang sebelumnya ia rajin belajar, rajin menghafal, rajin berdo’a, rajin beribadah dan lain sebagainya seolah terhenti ketika ia sudah merasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Padahal, sebenarnya ia masih mampu untuk menjadi lebih baik lagi. Akibatnya, prestasi dan kemampuan/keahlian yang sudah berhasil diraihnya tidak ada peningkatan, bahkan semakin lama semakin menurun tanpa ia sadari.
Maka dari itu, agar anda terus termotovasi untuk meningkatkan prestasi anda, baik prestasi duniawi maupun ukhrowi. Yakinilah bahwa sebenarnya Anda sudah terlambat..!!

Ya.. Anda sudah terlambat..!!
Anda terlambat dari berbagai sisi, baik sisi waktu, kesempatan maupun dari sisi usia jika dibandingkan dengan orang yang “setingkat dengan anda”.
Misalnya Anda saat ini berprofesi sebagai seorang dokter, guru, pelajar atau yang lainnya. Maka bandingkan diri anda/karir anda dengan dokter, guru atau pelajar lainnya yang saat ini prestasinya lebih baik dari anda padahal usianya sama dengan anda, atau bahkan lebih muda dari anda. Namun perlu diingat, perbandingan yang anda lakukan bukanlah dalam rangka iri & hasad terhadap keberhasilan mereka. Melainkan perbandingan ini adalah dalam rangka menumbuhkan keyakinan dalam diri Anda bahwa memang anda sudah terlambat..!!

Dari perasaan terlambat itulah maka anda akan memiliki tekad kuat untuk menyusul mereka, sehingga anda lebih termotivasi untuk berkarya. Paradigma yang dipakai dalam hal ini adalah seperti pembalap. Jika seorang pembalap bukan berada di posisi pertama, maka ia akan termotivasi untuk menyusul pembalap yang ada di hadapannya karena ia yakin dalam kondisi tertinggal. Sedangkan sebaliknya, pembalap yang berada di posisi pertama juga harus waspada, jangan lengah, jika ia lengah maka akan mudah disusul oleh pembalap yang dibelakangnya. Tetapi biasanya pembalap di posisi pertama lebih mudah lengah.

Nah.. maka dari itu, jika anda tidak ingin lengah dan tetap bersemangat dalam beraktivitas posisikan diri anda sebagai pembalap yang senantiasa berusaha menyusul pembalap yang ada di depan anda. Atau jika anda merasa tidak ada “pesaing” yang sesuai dengan anda, maka bandingkan diri anda dengan orang-orang yang sukses sebelum anda, yaitu orang-orang sukses yang sudah meninggal. Bacalah biografi mereka, dan yakini bahwa diri anda sudah terlambat jika dibandingkan dengan mereka…!!
Anda kalah sukses dibandingkan mereka..!!

Dari situ, munculkan tekad anda untuk bersemangat menyamai atau sekedar mengejar “rekor” mereka dalam memperoleh kesuksesan. (Yusuf)

Selasa, 28 Februari 2012

Muslimah, Jagalah kehormatanmu

Diantara wanita yang diabadikan namanya dalam al-Qur’an dan dipuji oleh Alloh adalah Maryam, ibunda Isa as. Bahkan Maryam menjadi nama dari salah satu surat dalam al-Qur’an. Ia telah dijanjikan surge dan kedudukannya sangat tinggi di sisi Alloh. Ia termasuk salah satu wanita yang telah berhasil meraih derajat kamal (kesempurnaan) yang mutlak dalam berbagai keutamaan.
Rosululloh bersabda:
“Dari kalangan kaum laki-laki telah banyak yang mencapai kesempurnaan, sedangkan dari kaum wanita tidak ada yang mencapai kesempurnaan kecuali Maryam binti Imran dan Asiyah, istri fir’aun." (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Maryam meraih kemuliaan dari Alloh SWT karena keimanan dan 'iffah (menjaga kesuciannya). 'Iffah (kesucian) sangat terkaut dengan rasa malu (haya’). Sifat malu seperti ini sangat terpuji, terlebih lagi bagi kaum wanita. Ia adalah perhiasan termahal bagi wanita dan pelindung kehkormatannya. Tanpa rasa malu, maka seorang wanita akan rendah martabatnya dan tercela.
Rosululloh bersabda:
"Iman itu memiliki tujuh puluh sekian cabang atau enam puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah perkataan laa ilaaha illallah, cabang yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, Abu Dawud, an Nasa’i)
Sesungguhnya Islam sangat memuliakan wanita. Bahkan tak ada agama yang lebih memuliakan wanita selain dari pada Islam. Islam menganggap wanita adalah kehormatan yang harus dipelihara dan makhluk lemah yang harus dilindungi. Betapa mulia wanita yang hidup dalam naungan Islam.

Keutamaan menjaga kesucian ('Iffah)
Menjaga kesucian adalah salah satu perintah syari’at yang agung dan ajaran Islam yang luhur. Kita meyakini bahwa syari’at yang mulia ini tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali terdapat banyak kebaikan dan kemaslahatan di dalamnya. Diantaranya adalah:
1. Selamat dari murka Alloh dan nerakaNya
2. Terjaganya masyarakat dari kerusakan akhlak
3. Selamatnya agama seorang muslimah dari kehormatannya
4. Mendapatkan ridho Alloh dan surgaNya.

Sarana untuk Mencapai Kesucian (‘Iffah)
Islam, agama yang sangat menjunjung tinggi ‘iffah, telah mengajarkan beberapa hal yang jika diterapkan niscaya akan menjaga kesucian seorang wanita. Hal-hal tersebut diantaranya:
1. Mengokohkan Iman, seperti:
  • Menuntut Ilmu Agama
  • Mengenal nama-nama dan sifat Alloh
  • Membaca al-Qur’an disertai tadabbur (memahami maknanya)
  • Memperhatikan keindahan-keindahan Islam
  • Memperhatikan hukum-hukum Alloh
  • Memperbanyak Dzikir
  • Memperbanyak Ibadah-ibadah sunnah
  • Menjauhi dosa-dosa besar
2. Menundukan pandangan
3. Tidak mendengarkan lagu dan acara munkar
4. Tidak keluar rumah jika tidak mendesak
5. Menjaga adab-adab ketika keluar rumah
6. Menghindari membaca buku/novel yang merusak akhlak
7. Tidak mengikuti mode-mode barat
8. Bergaul dengan teman yang sholehah dan menjauhi orang-orang yang fasik
9. Menikah


Demikanlah hal-hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pribadi muslimah. Jika kita ingin selamat dunia maupun akhirat, maka senantiasalah kita mengikuti syari’atNya. Dan menjaga kesucian merupakan sarana untuk mencapai kebagahiaan tersebut. Wallahu a’lam bishowab
Sumber: Kartu Dakwah HASMI edisi 41

Senin, 27 Februari 2012

Dakwah Melalui Radio


Dakwah di radio bagian dari da’wah bil lisan. Ada yang menyebutnya i’lam, yakni penyiaran Islam lewat radio atau televisi.

Dakwah radio atau dakwah melalui radio artinya memperlakukan dan memanfaatkan media paling populer di dunia ini sebagai channel, sarana, atau alat untuk mencapai tujuan dakwah.

Jenis program dakwah di radio, selain ceramah dan dialog Islam (talkshow), antara lain “insert” renungan tiap jam atau tiap setengah jam. Durasi maksimal satu menit, berupa paket “voicer” layaknya spot iklan.

Materinya terjemahan ayat al-Qur'an, syarah al-Hadits, ungkapan Sahabat Nabi Saw, nasihat ulama, atau mutiara kata Islami.

Para da’i dan lembaga-lembaga dakwah harus memanfaatkan radio untuk menebarkan risalah Islam.

Saat ini ada radio yang isi siarannya full dakwah, namun tetap dikemas sedemikian rupa sehingga banyak menarik minat pendengar, seperti radio FAJRI FM Bogor yang saat ini mengudara di frekwensi 99.3 MHz. Namun perlu disadari pula bahwa tidak mudah memiliki stasiun radio yang seperti FAJRI FM. Karena diperlukan SDM, Sistem dan Pendanaan yang kuat. Mungkin radio yang seperti ini pun hanya satu-satunya di Jabodetabek. Walaupun ada yang lain namun radio-radio "Islam" yang ada selain FAJRI FM telah tercampur dengan program-program yang tidak Islami atau tidak syar'i, seperti musik, suara perempuan dan lain-lain, tentunya bagi umat Islam yang sudah mengerti Islam akan "risih" mendengarkannya.

Alternatif lain, lembaga dakwah membuat paket-paket program religius, seperti drama radio, feature, atau sekadar insert/spot renungan Islami yang dikemas semenarik mungkin untuk disiarkan di radio umum. Dan saat ini pun telah ada sebuah Organisasi Dakwah yang bernama HASMI telah memiliki Rumah Produksi Suara Islami (RUPSI) yang memproduksi acara-acara Islami, seperti drama Islami, talk show, ceramah dll yang dikemas dalam bentuk CD, dan dikirim ke berbagai radio untuk diputar di sana.

Efektifitas Radio
Media radio terbukti efektif sebagai sarana komunikasi massa yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan menembus batas, terlebih dengan adanya fasilitas streaming (internet). Radio dakwah dan dakwah radio pun sangat prospektif mendatangkan iklan, khususnya produk-produk Islami. Tantangannya, bagaimana menyadarkan para pengusaha Muslim untuk beriklan di radio dakwah dan mensponsori dakwah radio.

Radio terbukti tetap diminati publik karena karakternya yang akrab, theater of mind, murah, serta portabel dan fleksibel –dapat dinikmati kapan saja dan di mana saja, bahkan sambil melakukan aktivitas lain. Wallahu a’lam. Yusuf

Minggu, 26 Februari 2012

Ghibah yang diperbolehkan


Dalam Riyadlus Shalihin, kitab al-Umurul Manhie ‘anha (Hal-hal yang dilarang dalam agama), Imam Nawawi رحمه الله –salah seorang tokoh ulama besar dari madzhab Syafi’i—menyebutkan satu bab khusus Maa Yubaahu Minal Ghibah (Apa-apa yang diperbolehkan dari Ghibah), setelah beliau رحمه الله menjelaskan tentang haram dan bahaya ghibah, agar kita tidak mudah melakukan ghibah dan tidak pula melampaui batas dalam menjauhinya, sehingga tidak mau memperingatkan bahaya penyimpangan-penyimpangan aliran sesat.

Ucapan Imam Nawawi رحمه الله

Dalam kitab tersebut , beliau رحمه الله berkata: “Ketahuilah bahwa ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar sesuai dengan syariat, yang hal itu tidak mungkin ditempuh kecuali dengan ghibah. Yang demikian terjadi dengan enam sebab:

Pertama: Mengadukan kedhaliman

Orang yang terdhalimi diperbolehkan untuk melaporkan perbuatan pelakunya kepada penguasa, hakim atau yang lainnya yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk memperlakukannya secara adil. Seperti seorang yang berkata: “Si fulan mendhalimi aku demikian dan demikian”.

Kedua: Meminta bantuan dalam mengingkari kemungkaran atau mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar

Untuk melakukan hal di atas, diperbolehkan untuk mengatakan kepada seorang yang diperkirakan dapat membantu menghilangkan kemungkaran: “Fulan berbuat begini dan begitu, tegurlah ia”, atau kalimat-kalimat semisalnya. Tujuannya adalah menghilangkan kemungkaran dan mengembalikannya pada jalan yang benar. Jika bukan itu tujuannya, maka hal ini diharamkan.

Ketiga: Meminta fatwa

Diperbolehkan berkata kepada seorang mufti (ulama yang berfatwa): “Ayahku berbuat dhalim kepadaku” atau “Saudaraku, suamiku atau fulan berbuat begini dan begitu kepadaku. Apakah yang demikian diperbolehkan? Dan bagaimana sikapku untuk menghindarinya dan kembali mendapatkan hak-hakku serta menghindari kedhaliman tersebut?”, atau kalimat yang semisalnya.

Jika hal ini diperlukan, maka yang demikian diperbolehkan. Namun yang lebih utama hendaknya mengucapkannya dengan samar, seperti perkataan: “Seseorang atau seorang suami berbuat demikian”. Karena dengan cara ini telah cukup untuk mencapai maksud dan tujuannya, tanpa perlu menyebutkan nama orang tertentu (ta’yin). Walaupun demikian menyebutkannya dengan ta’yin itu pun diperbolehkan sebagaimana yang akan kami sebutkan dalam hadits tentang Hindun, Insya Allah.

Keempat: Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan dan kejahatan seseorang serta menasehati mereka dari bahayanya

Hal di atas ada beberapa sisi, di antaranya:

- menjauhi perawi-perawi hadits yang dlaif atau saksi-saksi yang tidak terpercaya. Yang demikian diperbolehkan menurut kesepakatan kaum muslimin, bahkan hukumnya dapat menjadi wajib ketika diperlukan.

- Musyawarah dalam masalah pernikahan seseorang atau dalam hubungan dagang, penitipan barang atau muamalah-muamalah lainnya. Wajib bagi seorang yang diajak musyawarah untuk menerangkan keadaan sebenarnya dan tidak boleh menyembunyikan keadaannya, bahkan harus disebutkan kejelekan-kejelekan dan aib-aib yang ada pada orang tersebut dengan niat menasehatinya.

- Jika seorang pencari ilmu fiqh mendatangi ahlul bid’ah (aliran sesat) atau orang yang fasiq untuk mengambil ilmu, sementara dikhawatirkan dia akan mendapatkan kejelekan, maka kita perlu menasehatinya dengan menjelaskan keadaan orang itu sebenarnya dengan syarat meniatkannya sebagai nasehat.

Namun ini yang sering disalahgunakan. Kadang-kadang seorang yang berbicara seperti itu ternyata hanya karena dorongan hasad (iri dan dengki), sedangkan setan mengkaburkan terhadapnya dan menggambarkan seakan-akan itu adalah nasehat. Maka hendaklah kita memperhatikannya dengan jeli.

- Jika ada seorang yang memiliki tanggung jawab kepemimpinan, tetapi dia tidak melaksanakannya dengan baik. Apakah karena memang ia tidak cocok untuk tugas itu atau dia adalah seorang yang fasik dan lalai, dan semisalnya. Wajib menyebutkan keadaan orang tersebut kepada orang yang berada di atasnya dalam hal kekuasaan, agar memecat dan menggantinya dengan orang yang lebih baik. Atau paling tidak diberitahu atasannya agar orang tersebut diperlakukan sebagaimana mestinya dan tidak tertipu dengan sikapnya yang seakan baik, atau agar atasannya berupaya membimbing dan menganjurkan agar orang tersebut istiqamah atau merubah perbuatannya.

Kelima: orang yang terang-terangan dalam berbuat kefasikan atau kebid’ahan

Seperti dia terang-terangan minum khamr, pemeras manusia, pencatut, merampas harta manusia dengan dhalim, melakukan perkara-perkara yang bathil. Dalam hal ini boleh disebutkan kejelekan yang ia lakukan secara terang-terangan tersebut, namun diharamkan menyebutkan aib-aib lainnya, kecuali kalau ada alasan lain yang membolehkannya seperti yang telah disebutkan di muka.

Keenam: Mengenalkan

Jika seseorang dikenal dengan julukannya seperti “si juling”, “si pincang”, “si tuli”, atau “si buta” dan lain-lain, maka boleh mengenalkan orang tersebut dengan julukan-julukannya. Namun tidak boleh menyebutkannya dengan maksud mengejek dan merendahkannya. Kalau memungkinkan untuk dikenalkan dengan selain itu, maka hal tersebut lebih baik.

Inilah enam perkara yang merupakan sebab diperbolehkannya ghibah yang disebutkan oleh para ulama, yang kebanyakannya disepakati secara ijma’.

Dalil-dalilnya sangat banyak dan shahih dan sangat dikenal, di antaranya:
Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:

اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَ: ائْذَنُوا لَهُ بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ. (متفق عليه)

Seseorang meminta izin kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian beliau صلى الله عليه وسلم berkata: “Izinkanlah baginya, sungguh dia adalah sejelek-jelek seorang di antara sukunya”. (HR. Bukhari Muslim)

Imam Bukhari رحمه الله mengambil hadits ini sebagai dalil bolehnya ghibah terhadap orang yang jelek perangainya dan memiliki penyakit keraguan.

Diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا أَظُنُّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا يَعْرِفَانِ مِنْ دِينِنَا شَيْئًا. (رواه البخاري)

Aku tidak mengira kalau fulan dan fulan itu mengerti agama ini sedikit pun. (HR. Bukhari)
(Yakni meremehkan keilmuan dua orang tersebut. Pent.)

Berkata Laits ibnu Sa’ad –salah seorang perawi hadits ini–: “Dua orang tersebut adalah dari kalangan munafiq”.

Diriwayatkan dari Fathimah binti Qais رضي الله عنها, dia berkata: aku mendatangi nabi صلى الله عليه وسلم, kemudian aku katakan: “Sesungguhnya Abu Jahm dan Mu’awiyyah melamarku”. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتِقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ… (رواه مسلم)

“Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya (yakni sering memukul). Adapun Mu’awiyyah, dia miskin tidak punya harta.. (HR. Bukhari Muslim)

Di dalam riwayat muslim: beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

أَمَّا أَبْو الْجَهْمِ فَضَرَّابٌ لِلنِّسَاءِ.

“Adapun Abu Jahm banyak sering memukul perempuan”.

Ini merupakan tafsir dari ucapan beliau “Dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya”. Dikatakan pula bahwa maknanya adalah sering safar (bepergian).

Diriwayatkan Dari Zaid bin Arqam رضي الله عنه, ia berkata:

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ أَصَابَ النَّاسَ فِيهِ شِدَّةٌ. فَقَالَ عَبْدُاللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ ِلأَصْحَابِهِ: لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِهِ. وَقَالَ: لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ. فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ. فَأَرْسَلَ إِلَى عَبْدِاللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ فَسَأَلَهُ فَاجْتَهَدَ يَمِينَهُ مَا فَعَلَ. قَالُوا: كَذَبَ زَيْدٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِمَّا قَالُوا شِدَّةٌ حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصْدِيقِي فِي (إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ) فَدَعَاهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ فَلَوَّوْا رُءُوسَهُمْ. (متفق عليه)

Kami keluar bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam satu safar, saat itu manusia sedang tertimpa kesusahan. Maka berkatalah (seorang munafiq, pent.) Abdullah bin Ubay: “Janganlah kalian menginfakkan harta kalian kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah صلى الله عليه وسلم hingga mereka meninggalkannya!”

Selanjutnya ia berkata: “Sungguh jika kita pulang ke Madinah nanti, orang-orang mulia (yakni mereka) akan mengusir orang-orang yang rendah (Yakni para shahabat Rasulullah) dari Madinah”.

Aku (Zaid) pun mendatangi Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan melaporkan ucapan tersebut. Maka diutuslah seseorang memanggil Abdullah bin Ubay, ternyata ia bersumpah dengan nama Allah untuk melindungi dirinya. Manusia pun mengatakan: “Zaid telah berdusta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم”.

Terjadilah dalam hatiku (Zaid) kesedihan yang sangat, hingga turun ayat Allah سبحانه وتعالى yang membenarkanku:


إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ…

Jika datang kepadamu seorang munafiq…

Akhirnya Nabi pun memanggil mereka untuk memintakan ampun bagi mereka, namun mereka memalingkan wajah-wajah mereka. (HR. Bukhari Muslim)

Diriwayatkan Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لاَ يُعْطِينِي مِنَ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ. (متفق عليه)

Hindun bintu ‘Utbah رضي الله عنها –istri Abu Sufyan—masuk kepada Nabi صلى الله عليه وسلم seraya berkata: “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang bakhil, tidak memberiku belanja yang cukup bagiku dan anakku, kecuali kalau aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya”.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Ambillah sekedar mencukupimu dan anakmu dengan baik!” (HR. Bukhari Muslim)
Sumber: http://panggilakuabubakar.blogspot.com/2010/06/ghibah-yang-diperbolehkan.html

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru