Jumat, 09 Maret 2012

Hukum Oral Seks: Tidak dilarang

(Dakwah Ahlussunnah) Soal: Apa hukum membangkitkan syahwat/libido istri dengan cara menjilat farjinya dengan lidah suaminya, begitu juga terhadap sang suami? Jazakumullah Khairan.

Jawab: Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah, juga kepada keluarga dan para sahabatnya. Adapun berikutnya:

Sesungguhnya asal dalam hubungan suami istri adalah mubah, kecuali apa yang disebutkan larangannya oleh nash: berupa mendatangi istri pada dubur (anus)-nya, menggaulinya saat haid dan nifas, saat istri menjalankan puasa fardhu, atau saat berihram haji atau umrah.

Adapun yang disebutkan dalam pertanyaan berupa salah satu pasangan menjilati kemaluan pasangannya, dan praktek dalam bersenang-senang yang telah disebutkan dalam pertanyaan, maka itu tidak apa-apa berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

  1. Itu termasuk dari keumuman bersenang-senang yang dimubahkan.
  2. Jika coitus dibolehkan yang merupakan puncak bersenggama (bersenang-senang), maka yang dibawah itu jauh lebih boleh.
  3. Karena masing-masing pasangan boleh menikmati anggota badan pasangannya dengan menyentuh dan melihat, kecuali pengecualian yang telah disebutkan oleh syariat sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.
  4. Firman Allah Ta'ala,

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 223)

Oleh : Syaikh Khalid Abdul Mun'im al-Rifa'i

Sumber : voa-I

Salafy Berdemo Memprotes Larangan Cadar di Tunisia










TUNIS (Dakwah Ahlussunnah) - Seorang menteri Tunisia pada hari Kamis (8/3/2011) mengecam larangan cadar di sebuah universitas yang memicu aksi protes berminggu-minggu.

Konflik tiga bulan di Manouba University, yang terletak sekitar 25 kilometer (15 mil) dari Tunis, seharusnya tidak pernah terjadi, kata Moncef Ben Salem, menteri pendidikan tinggi, kepada wartawan di istana kepresidenan.

"Peristiwa Manouba adalah kesalahan," katanya.

"Kami memiliki 96 mahasiswi di seluruh Tunisia yang mengenakan niqab di 193 lembaga universitas, dan tidak ada masalah kecuali di Manouba," tambahnya.

Dekan fakultas di sana "tidak melakukan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi situasi damai dan ia memiliki motif politik tersembunyi," tambah menteri.

Salem berbicara sehari setelah demonstrasi ratusan mahasiswa Islam, yang dikenal sebagai Salafi, dan juga anggota serikat mahasiswa nasional yang berujung kekerasan.

Salafi merobek bendera nasional Tunisia di pintu masuk universitas dan menggantinya dengan panji ar royah bertuliskan kalimat La ilaha illallah.

"Ini adalah sikap yang tidak dapat diterima," kata Salem.

"Tapi semua ini terjadi akibat akumulasi kesalahan dalam penanganan," lanjutnya, menuduh kedua belah pihak, kelompok mahasiswa dan dekan unversitas Manouba.

Universitas tersebut melarang cadar dengan dalih keamanan.

Manouba University, yang memiliki sekitar 13.000 mahasiswa, dianggap sebagai benteng sayap kiri di Tunisia. (arhm)

Foto : Bendera ar-royah.

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru