Senin, 19 Maret 2012

Jahat, Syi'ah Houthi Bakar 3000 al-Qur'an dan Tutup 20 Masjid di Yaman

Dakwah Ahlussunnah - Shon'a Yaman. Sebuah tim hukum dan media pemantau yang melakukan kunjungan ke wilayah konflik di provinsi Hajjah Yaman khususnya konflik dengan pemberontak Syiah Houthi, menyebutkan bahwa kelompok pemberontak Syiah Houthi telah melakukan banyak pelanggaran HAM. Hal ini sebagaimana dikutip oleh eramuslim.com pada Senin, 19/03/2012 15:52 WIB.

Dalam laporan statistik terbaru untuk kerusakan dan kerugian jiwa serta material yang diderita sebagai akibat pemberontakan Syiah Houthi di Yaman, tim melaporkan bahwa sedikitnya 94 warga tewas dan 154 terluka.

Tidak hanya itu, kelompok pemberontak Syiah Houthi juga melakukan penutupan terhadap 9 sekolah serta 7 klinik. Tindakan brutal pemberontak Syiah Houthi diperparah dengan aksi mereka menutup 20 masjid serta membakar 3.000 Al-Quran, dan memaksa hampir 15.000 warga meninggalkan rumah yang mereka tempati selama ini.

Statistik laporan juga menunjukkan bahwa 2.750 pekerja terpaksa kehilangan pekerjaan mereka karena pemboman terhadap pasar serta tembakan artileri yang dilakukan oleh militan Syiah Houthi yang ditempatkan di pegunungan dan di daerah Ab Modaour.

Cara Menampilkan Kode HTML pada Posting Blog


Jika anda ingin membuat atau memiliki blog yang berisi tentang totorial blog atau teknik-teknik ngeblog, pastinya anda harus membuat postingan berupa tutorial yang didalamnya terdapat kode HTML, langkah awal yang harus dikuasai adalah kode-kode perintah yang ditampilkan dalam bentuk karakter yang khusus. Berikut adalah contoh kode HTML yang ingin dimasukkan kedalam postingan:

<a href="http://yusuf-istiqomah.blogspot.com/">Dakwah Ahlussunnah</a>
Mungkin sebagian dari anda pernah mencoba menulis kode HTML di postingan dan ternyata tidak berhasil karena kode tersebut tidak muncul, atau justru hasil HTML nya yang muncul. Nah, jika anda orang yang tidak mengerti tentang kode-kode khusus tersebut seperti saya, mari kita lakukan hal berikut ini. Agar kode-kode HTML dapat muncul pada postingan blog kita, kita harus mengkonversinya terlebih dahulu. Saat ini ada cara cepat untuk mengkonversinya, yaitu melalui konversi online. Ikuti langkah-langkah berikut:
- Kunjungi Link ini : http://www.frewaremini.com/p/parse-html.html

- Masukkan kode html yang ingin anda tampilkan di kotak yang tersedia

- Klik Convert
- Copy dan paste hasil conversi tadi ke kolom posting Anda (pada menu HTML)
- Selesai

Mudah kan? silahkan dicoba

Cara Membuat Link Pada Blog


Dakwah Ahlussunnah - Bila anda adalah seorang blogger, anda tentu harus mengerti bagaimana cara membuat link, karena ini adalah hal yang sangat penting terutama jika anda di masa mendatang tertarik dengan ilmu SEO (Search Engine Optimization).

Link atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan tautan adalah tulisan atau gambar yang apabila di klik akan menuju halaman tertentu sesuai dengan yang di tentukan oleh pembuat link. Sebagai contoh silahkan anda klik tulisan berikut ini : Dakwah Ahlussunnah, maka apabila anda klik akan menuju halaman depan blog ini.

Cara Membuat Link

Ada banyak cara membuat link, tergantung aplikasi web yang anda gunakan. Jika anda menggunakan blogger, kode yang digunakan adalah kode HTML. Apa yang harus anda persiapkan ketika membuat link? Yang harus anda persiapkan adalah :
  1. Kode HTML untuk membuat link.
  2. Kata-kata yang ingin di jadikan link. Contoh : Dakwah Ahlussunnah
  3. Alamat tujuan link apabila nanti di klik. Contoh alamat link : yusuf-istiqomah.blogspot.com

Kode HTML dasar untuk membuat link :
Kode Backlink Versi HTML
<a href="http://yusuf-istiqomah.blogspot.com">Dakwah Ahlussunnah</a>

Hasilnya adalah seperti di bawah ini
Jika Dakwah Ahlussunnah di klik maka akan langsung menuju alamat yusuf-istiqomah.blogspot.com


Tak Selamanya Diam itu Emas

Dakwah Ahlussunnah - Ketika kedzoliman di mana-mana, kemaksiatan merajalela, kebodohan melanda, ketika akhlak manusia berubah menjadi layaknya hewan karena hawa nafsunya, dan bahkan manusia sudah tidak punya hati nurani lagi, saat itu datang Rosulullah Muhammad diutus oleh Alloh SWT. Beliau datang untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan di zaman sekarang, kondisi tersebut kembali terjadi, masyarakat sangat jauh dari tuntunan agama Islam. Kebathilan dianggap kebenaran. Maka dalam kondisi seperti ini, kita sebagai seorang mu'min tak boleh diam saja. Di kondisi zaman seperti ini, maka para ulama' menjelaskan bahwa dakwah merupakan fardhu 'ain bagi setiap muslim sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Masalah ini dijelaskan dalam dalam surat Ali Imran ayat 110,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ

مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُون

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Ali Imran: 110).

Dari surat ini, Alloh SWT mengatakan sendiri, bahwa umat Muhammad adalah umat terbaik, yang selalu menyeru kepada yang ma’ruf dan senantiasa mencegak kemunkaran. Bukan mendiamkan kemunkaran dan kemaksiatan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa melihat suatu kemunkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa kita diminta untuk mencegah kemunkaran sebisa mungkin dan dengan tahapan yang jelas. Pertama dengan tangan, kedua dengan lisan. Baru ketika semua tak mampu dilakukan, maka yang terakhir baru dengan hati, namun perlu diingat bahwa amar ma'ruf nahyi munkar dengan hati adalah selemah-lemahnya Iman.

Pada umumnya kebanyakan di antara kita belum melakukan apa-apa, tetapi memilih yang terakhir. Yang lebih menyedihkan, justru banyak juga di antara kita membiarkan kemunkaran, meski itu di depan mata kita. Kita asyik menjadi umat penonton.

Batasan kewajiban mengubah kemunkaran terikat dengan kemampuan atau dugaan kuat. Artinya, jika seorang memiliki kemampuan untuk menghilangkan kemunkaran dengan tangan maka wajib untuk menghilangkan dengan tangannya. Demikian juga jika diduga kuat pengingkaran dengan lisan akan berfaedah maka wajib mengingkari dengan lisannya. Adapun pengingkaran dengan hati maka wajib bagi semuanya, karena setiap muslim pasti mampu untuk mengingkari dengan hatinya.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ

مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا

رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

"Dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan." Mereka (para sahabat) berkata; "Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap." Beliau bersabda: "Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut." Mereka bertanya: "Apa hak jalan itu?" Beliau menjawab: "Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma'ruf nahi munkar." (HR. Buhari, 5761)

Lakukan Amar ma’ruf!

Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu bentuk iqâmatul hujjah (penyampaian hujjah) bagi seluruh umat manusia secara umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Sehingga ketika turun musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya orang yang memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka. Mereka juga tidak bisa beralasan dengan hal yanga sama di hadapan Alloh Ta’ala kelak. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan Dakwah

Alloh Ta’ala berfirman:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

"Rosul-rosul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasu-rasul itu diutus. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS an-Nisâ:165)

Karenanya, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar akan terlepas tanggungan kewajiban untuk melaksanakannya (lazim disebut barâtu dzimmah) dari pundak orang-orang yang telah menjalankannya. Namun jika tidak ada yang berinisiatif menegakkan, maka dosanya akan ditanggung semua kaum Muslim. Dengan demikian, maka kedudukan amar ma’ruf dan nahi munkar sesungguhnya bersifat aktif bukan pasif.

Banyak kemaksiatan di sekitar kita. Di jalan-jalan, banyak remaja melakukan maksiat tanpa ada yang menasehati dan memperingatkan. Di pasar, di mall, bahkan di depat pintu rumah kita sekalipun, maksiat meraja lela. Sayang, tak banyak di antara kita “turun” untuk memberi peringatan dan nasehat. Jika itu terus terjadi, maka kelak orang berpendapat, kemaksiatan adalah sesuatu yang baik dan tidak salah.

Inilah saatnya kita beramar ma’ruf. Marilah kita melakukan sesuatu –terutama dalam menengakkan amar ma’ruf dan nahi munkar—di sekitar kita. Sebab tak selamanya diam itu selalu identik dengan “emas”.

Diam akan menjadi emas jika dilakukan pada saat dan tujuan yang tepat. Ada saatnya diam itu baik, ada saatnya pula diam itu menjadi tercela. Harus diam atau bicara, tergantung pada situasi dan kondisi yang kita alami. Meski diam bisa berarti emas, tapi disaat yang lain bisa jadi bicara adalah mutiara. Sebagaimana contoh di atas, ketika melihat kemungkaran, maka bicara tentang kebenaran adalah emas. Rasulullah saw ditanya tentang jihad yang lebih utama, lalu beliau menjawab : “Mengucapkan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud No. 4344. At Tirmidzi No hadits. 2265. Katanya: hadits ini hasan ghorib. An Nasa’i No. 4209, Ibnu Majah, No. 4011. Ahmad No. 10716. Dalam riwayat Ahmad tertulis Kalimatul haq (perkataan yang benar). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam berbagai kitabnya, seperti Shohihul Jami’ No. 1100, 2209, Shahih wa Dho'if Sunan At Tirmidzi No. 2174, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4344, Shahih wa Dho'if Sunan Ibni Majah No. 4011, dan Shahih wa Dho'if Sunan An Nasa’i No. 4209)

Sebagai tambahan wawasan, di sini akan disebutkan bererapa macam diam. Berdasarkan tujuannya, diam bisa mengandung banyak arti, dan juga bisa mengandung banyak konsekuensi, bisa pahala atau pun dosa tergantung pada saat apa diam itu dilakukan, apakah dilakukan pada saat harus diam atau justru dilakukan pada saat harus bicara.

Macam-macam diam

1. Diam bodoh
Diam karena tidak tahu. Hal ini lebih baik dan lebih aman daripada memaksakan diri untuk bicara padahal kita tidak memiliki pemahaman terhadap apa yang dibicarakan. Jika memang tidak tahu lebih baik mengatakan "Allohu a’lam, Saya tidak tahu" daripada salah bicara karena sok tahu.

2. Diam malas
Diam pada saat orang lain memerlukan perkataannya, dia memilih diam karena sedang bad mood untuk bicara atau karena tidak PD untuk bicara. Dalam keadaan seperti ini maka bicara adalah mutiara. Bicara menjadi lebih baik daripada diam karena orang memerlukan apa yang seharusnya dia katakan.

3. Diam sombong
Diam karena menganggap remeh orang lain. Diam seperti ini adalah diam yang tercela. Ia merasa tak perlu bicara karena menganggap orang yang mengajak bicara tidak selevel dengannya. Padahal di hadapan Alloh semua manusia adalah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Rosululloh telah memberi ancaman kepada orang yang sombong, dalam sebuah hadits, Rosululloh bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang dalam lubuk hatinya terdapat perasaansombong ( arrogan) walaupun cuma sebesar atom" (HR. Bukhari Muslim)

4. Diam Khianat
Diam pada saat dibutuhkan kesaksiannya. Misalnya orang yang memilih diam padahal dia bisa menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan seseorang dan tidak mau bersaksi di pengadilan sehingga penjahat yang sebenarnya tidak dihukum. Atau diam padahal dia bisa memberi kesaksian untuk menyelamatkan seseorang dari tuduhan yang tidak benar. Diam seperti ini adalah diam yang tercela karena membiarkan terjadinya kedholiman atas orang lain. Padahal Alloh Berfirman : "..Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil" QS. Al-Baqoroh: 282

5. Diam Marah
Diam yang dilakukan pada saat marah. Diam ini bisa menjadi baik jika ditujukan untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan perkataan yang keji untuk melampiaskan kemarahannya. Atau bisa juga bertujuan untuk memboikot seseorang agar ia sadar dengan kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Sebab ketika itu Rosululloh dan para sahabatnya pernah memboikot Ka'ab bin Malik r.a. dan dua orang sahabat Rosul lain yang tidak ikut perang tabuk, yakni dengan tidak mengajak mereka bicara, bahkan menjawab salam pun tidak.

Akan tetapi hal tersebut tidak selamanya tepat diterapkan di setiap kondisi dan waktu, adakalanya seorang yang bersalah jika didiamkan maka akan semakin parah, sehingga diam dalam menghadapi orang dengan tipe seperti ini adalah keliru.

6. Diam aktif.
Diam ini merupakan hasil pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa dengan sikap menahan diri untuk diam akan menjadi maslahat/kebaikan lebih besar dibandingkan dengan bicara.
Misal : menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat, menahan diri untuk tidak bicara mengenai suatu berita yang belum jelas kebenarannya. kalaupun benar maka diam untuk tidak menyebarkan aib adalah lebih baik. Hal ini sebagaimana Alloh berfirman, "Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). (QS. Al-Isra’ [17] : 53) Dan sebagaimana sebuah hadits, Rosululloh bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, maka hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari).

Demikianlah penjelasan kali ini, maka jelaslah bagi kita. Diam tak selamanya emas. Ada saatnya kita harus diam, dan ada saatnya pula kita harus bicara.

Dari Berbagai Sumber

Diam Itu Emas


Berhati-hatilah dengan lisan, jangan sampai digunakan untuk mencemooh, mengejek orang lain, apalagi ditujukan pada seorang muslim yang ingin menjalankan ajaran Islam. Jadi satu kondisi, diam itu emas jika diamnya adalah dari membicarakan orang lain, atau diamnya dari berbicara yang sia-sia atau berbau maksiat.

Perhatikanlah, sesungguhnya karena lisan seseorang bisa terjerumus dalam jurang kebinasaan. Lihatlah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ketika berbicara dengan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu,

أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ. قُلْتُ بَلَى يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ.

“Maukah kuberitahukan kepadamu tentang kunci semua perkara itu?” Jawabku: “Iya, wahai Rasulullah.” Maka beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini”. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) karena apa yang kami katakan?” Maka beliau bersabda, “Celaka engkau. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka selain ucapan lisan mereka?(HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih)

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِى بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِى النَّارِ

Sesungguhnya seseorang berbicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya.” (HR. Tirmidzi no. 2314. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.(HR. Bukhari no. 6478)

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.(HR. Muslim no. 2988)

Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (18/117) tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, “Ini semua merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47). Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, merenungkan apa yang akan ia ucap. Jika memang ada manfaatnya, barulah ia berbicara. Jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”

Dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.”

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia. Tidak ada di muka bumi yang lebih berhak untuk dipenjara dalam waktu yang lama daripada lisan.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Ibnul Mubarok ditanya mengenai nasehat Luqman pada anaknya, lantas beliau berkata, “Jika berkata (dalam kebaikan) adalah perak, maka diam (dari berkata yang mengandung maksiat) adalah emas.” (Dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Diam itu lebih baik daripada berbicara sia-sia bahkan mencela atau mencemooh yang mengandung maksiat.

Itulah manusia, ia menganggap perkataannya tidak berdampak apa-apa, namun di sisi Allah bisa jadi perkara besar. AllahTa’ala berfirman,

وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.(QS. An Nur: 15).

Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar. (rumaysho)

Baca Artikel ini belum lengkap jika belum membaca judul ini : Tak selamanya diam itu emas, klik : http://yusuf-istiqomah.blogspot.com/2012/03/tak-selamanya-diam-itu-emas.html

Mutiara Sya'ir : Jangan Jumawa (lirik)


Jangan Jumawa

Tak ada yang pantas dikau banggakan..

Tak ada yang layak dikau sombongkan..

Tubuh yang kekar, Wajah yang tampan, Angkuh wibawa..

Simpanan harta yang tak terhingga..

Semua hanya dunia belaka..

Tidak setara sayap serangga..



Dikau berjalan bagai berlaga

Senyum tiada kikir menyapa

Bila disapa jawabmu hampa

Tidak disapa dikaupun murka

Memandang jelata sebelah mata


Tiada harta tak ada harga

Jangan sombong Jangan jumawa

Dikau tak lebih segumpal nista

Perutmu hanya keranjang sampah



Akan datang padamu hari

Dikau tergolek tiada daya

Tubuhmu lunglai Jiwamu hampa

Ajalmu tiba tanpa menyapa


Saat itu..

Saat itu baru kau sadar

Semua hanya tipu belaka

Jika sehari telah berlalu

Sejak ajal mendatangimu

Dikau tak lebih bangkai yang hina



Tak kan ada kawan mendekat

Tak kan ada kasih mendekap


Tulang belulang mengisi lubang

Dikau merana menganggung derita

Membayar hutang tiada kepalang



Jika saja sejak semula

Dikau bertaqwa pada yang Esa

Tiada congkak atau jumawa

Kini niscaya dikau hidup bahagia


(By: Abu Muhammad, FAJRI FM)

Mutiara Sya'ir : Mawar yang Malang (lirik)


Bak sekuntum mawar dikau berkembang

Harum menyebar.. Memikat kumbang

Tubuhmu segar.. Hatimu jalang

Yang tak benar.. Sering kau terjang

Gemar melanggar apa yang terlarang

Kapan kau sadar wahai wanita malang?


Music bergetar.. Dikau berdendang

Beputar-butar.. Bersenang-senang

Menolak cadar.. Tubuh telanjang

Hidup tercemar.. Selalu membangkang

Tapi.. Nian hambar nasibmu kembang..

Zaman berputar.. Tangkaipun tumbang

Cahyapun pudar.. Lalu menghilang

Tubuh gemetar.. Lapuklah tulang

Kulit memar.. Gigipun renggang


Cantik dan tenar tinggal dikenang

Kini terkapar di atas ranjang

Baru tersadar hidup tiadalah panjang

Dibungkus tikar dikau terlentang

Lalu dihampar di dalam liang

Para pengantar segera pulang

Dikau terlantar di dalam lubang

Suara gelegar kini menerjang

Dikau dicecar makhluk yang garang

Jika tak benar jawab seseorang

Api berkobar akan memanggang


Mari.. Marilah sadar aduhai mojang

Kenakan cadar..!! Janganlah kau telanjang..!!

Niscaya.. Bahagia hidupmu pasti

Di dunia ini dan di akhirat nanti

Jangan ragu, oh wahai mawarku..

FAJRI FM 99.3 MHz

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru