Jumat, 23 Maret 2012

Seorang Dokter Lakukan Aborsi 2.422 Kali

Dakwah Ahlussunnah - CILACAP. Mencengangkan. Sejak tahun 2011 lalu hingga ditangkap 15 Maret 2012, dokter Rejani Djajal yang menjadi tersangka kasus aborsi di Cilacap Jawa Tengah sudah mengaborsi sebanyak 2.422 pasien. Jumlah pasien aborsi diketahui setelah polisi menyita dan memeriksa buku pasien dari rumah dan tempat praktik sang dokter.

Jumlah pasien yang melakukan aborsi diperkirakan mencapai ribuan orang. Perkiraan tersebut karena sang dokter sudah praktik sejak lama.

"Sejak tahun 2011 ada 2.422 orang yang diduga melakukan praktik aborsi. Ini dilihat dari buku pasien serta keterangan perawat," kata Kapolres Cilacap, Ajun Komisaris Besar Polisi Rudi Darmoko didampingi Kepala Satuan Reserse Kriminal, Guntur Saputro.

Buku pasien yang disita polisi merupakan buku tulis yang diisi tulisan tangan. Pada pasien yang melakukan aborsi ditandai dengan tanda berwarna merah. Data yang diamankan polisi merupakan data pasien sejak 2007 lalu.

"Dari pengakuan dokter dia sudah membuka praktik sejak tahun 1991. Data yang kami amankan sejak 2007. Kalau dihitung ada 49 ribu lebih pasien yang datang sejak awal praktik," kata Guntur.

Khusus untuk pasien tahun 2012 ia menyebutkan ada 505 pasien yang diduga sudah melakukan aborsi. Salah seorang pasien yang melakukan aborsi adalah Dwi Hastuti (DH) warga Randudongkal, Pemalang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Praktik aborsi yang dilakukan dokter Djalal terbongkar setelah polisi menerima laporan masyarakat. Pada 15 Maret, polisi melakukan penggledahan sekaligus penangkapan terhadap sang dokter. Sehari kemudian 16 Maret dilakukan pembongkaran septic tank dan ditemukan barang bukti aborsi berupa potongan janin hasil kuratase. Hingga saat ini polisi sudah menetapkan sembilan orang tersangka. Hingga saat ini polisi belum memeriksa tersangka dokter Djajal karena masih sakit jantung. (Nov/trib)

Fakta Keterpurukan

Fenomena banyaknya kasus aborsi ini menunjukan kepada kita betapa besarnya kerusakan akibat pergaulan bebas muda-mudi. Betapa besar dosa yang telah mereka lakukan. Pebuatan zina adalah dosa besar, dan ditambah lagi dengan dosa membunuh. Rasa malu yang mereka alami di dunia, rasa sakit saat aborsi masih akan ditambah lagi dengan siksa neraka dengan api 70x lipat dari api dunia jika mereka tidak bertaubat.

Betul, mungkin tidak semua pasien tersebut adalah para pezina. Namun meskipun janin dihasilkan dari pernikahan yang sah, tetap saja diharamkan untuk aborsi, apalagi hanya karena alasan ekonomi.

Ini adalah fakta betapa rusaknya masyarakat kita, lalau apa yang sudah kita perbuat untuk menyadarkan mereka?

Mari lindungi putra dan putri kita dari pergaulan bebas !

Cara Percepat Loading Blog dengan Lazy Loader


Dakwah Ahlussunnah - Lazy loader adalah plugin jQuery di mana efek lazy load akan menangguhkan proses loading bagi gambar dan image yang terdapat pada blog. Lazy Load membantu meringankan blog dengan mengurangi waktu masa proses loading page pada sebuah blog terutama pada blog yang banyak menampilkan image gambar ataupun image yang berukuran besar. Dimana gambar tersebut akan di load saat mouse scroll diarahkan kebawah halaman page blog.
Caranya :
Loggin Blog
Masuk Ke Rancangan Blog
Pilih Tambah Gadged
Tambah HTML
Silahkan copy dan masukan Script dibawah ini :
<script src='https://ajax.googleapis.com/ajax/libs/jquery/1.4.4/jquery.min.js' type='text/javascript'></script>
<script type='text/javascript' src='https://sites.google.com/site/jquery01/jquery.lazyload.mini.js?ver=1.5.0'></script>
<script type="text/javascript">
jQuery(document).ready(function($){
if (navigator.platform == "iPad") return;
jQuery("img").lazyload({
effect:"fadeIn",
placeholder: "http://3.bp.blogspot.com/_LZtXSNcp76A/THkEtEOZfrI/AAAAAAAABRo/IARVMD_8TwA/s1600/grey.gif"
});
});
</script>
Catatan Tambahan :
Silahkan Anda letakkan kode tersebut di dalam widget paling bawah anda
Sumber: http://www.acehsaya.com/2011/12/tips-mempercepat-loading-blog-lelet.html#ixzz1pwYq80ld

Baca Juga Artikel Terkait :


Cara Mempercepat Loading Blog dengan Kompres CSS

Dakwah Ahlussunnah - Suatu ketika saya mencari sebuah artikel, dan akhirnya berkunjung ke salah satu blog, ternyata loadingnya sangat lama, dan ternyata hal itu sangat mengganggu. Nah, apakah anda mengalami hal yang sama, jangan-jangan blog anda termasuk yang loadingnya lama?

untuk mengukur kecepatan loading, maka silahkan menuju ke link ini !

Bagaimana, sudah lihat hasilnya, Setelah sobat mengetahui Barat Loding Blog nya,silahkan catat agar nanti bisa mengetahui setelah mengikuti cara ini berapa berat loding nya?

Di sini saya akan memberikan salah satu Cara Mempercepat Loading Blog yaitu dengan Kompres CSS, cara kerjanya yaitu dengan memperkecil ukuran dengan menghilangkan spasi dan komentar yang tidak diperlukan. pada Comment handling sebaiknya gunakan mode Light dan don't strip any comments terlebih dahulu. Untuk yang sudah mengerti bisa mencoba level kompresi selanjutnya pada pilihanAdvanced mode.


Cara Kompres CSS
Kode CSS terletak antara <b:skin><![CDATA[ dan ]]></b:skin>
Copy semua kode yang terletak antara kode di atas lalu pastekan pada tools kompresi, setelah di kompres copy hasil kode kompresi di posisi semula.

Untuk mengunkompress Kode CSS atau mengembalikan Kode CSS yang telah di kompresi bisa ke sini.
Baca Juga Artikle Terkait :

Tarbiyah Dzatiyah


Dakwah Ahlussunnah - Tarbiyah Dzatiyah adalah sejumlah sarana tarbiyah (pembinaan) yang diberikan oleh seorang muslim atau muslimah kepada dirinya sendiri untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna dalam segala aspeknya, baik ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Dengan demikian, secara singkat tarbiyah dzatiyah bisa diartikan sebagai tarbiyah mandiri.

Urgensi Tarbiyah Dzatiyah
Setidaknya ada 8 Urgensi tarbiyah dzatiyah pada zaman sekarang ini: (1) Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain, (2) Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda?, (3) Hisab kelak bersifat individual, (4) Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan, (5) Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah, (6) Sarana dakwah yang paling kuat, (7) Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada, dan (8) Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah.

1. Menjaga diri mesti didahulukan daripada menjaga orang lain
Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya tidak lain adalah upaya melindunginya dar i siksa Allah ta'ala dan neraka-Nya. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Ini sama persis dengan apa yang dikerjakan seseorang jika kebakaran terjadi di rumahnya –semoga itu tidak terjadi-, atau di rumah orang lain, maka yang pertama kali ia pikirkan ialah menyelamatkan rumahnya dulu. Hakikat ini ditegaskan Allah ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim : 6)

Arti menjaga diri dari neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa'di rahimahullah, ialah dengan mewajibkan diri mengerjakan perintah Allah ta'ala, menjauhi larangan-Nya, bertaubat dari apa saja yang dimurkai-Nya dan mendatangkan siksa. Inilah makna tarbiyah dzatiyah dan salah satu tujuannya.

2. Jika Anda tidak mentarbiyah diri Anda, siapa yang mentarbiyah Anda?
Siapa yang mentarbiyah seseorang saat ia berusia lima belas tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, atau lebih? Jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, siapa yang mentarbiyahnya? Atau jika tidak ada pihak lain yang mempengaruhinya? Sebab, kedua orang tuanya secara khusus, atau manusia secara umum berkeyakinan ia telah dewasa, lebih tahu apa yang lebih mendatangkan maslahat bagi dirinya, atau mereka sibuk dengan pekerjaan mereka, hingga tidak punya waktu untuk mengurusnya.

Walhasil, jika ia tidak mentarbiyah diri sendiri, ia kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan. Hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akibatnya, ia rugi saat kematian menjemput. Allah ta'ala berfriman,

يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ

(Ingatlah) hari Allah mengumpulkan kalian pada hari pengumpulan (QS. At-Taghabun : 9)

3. Hisab kelak bersifat individual
Hisab pada hari kiamat oleh Allah ta'ala kepada hamba-hamba-Nya bersifat individual, bukan bersifat kolektif. Artinya, setiap orang kelak dimintai pertanggungjawaban tentang diri atau buruknya, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebab kesesatan dan penyimpangannya. Kendati ada klaim seperti itu, mereka wajib dihisab bersama dirinya. Allah ta'ala berfirman,

وَكُلُّهُمْ آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا

Dan setiap mereka datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS. Maryam : 95)

Allah ta'ala berfirman,

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا * اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Dan setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu. (QS. Al-Isra' : 13-14)

Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ

Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya (Muttafaq alaih)

Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah ta'ala.

4. Tarbiyah dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan
Setiap orang pasti memiliki aib, kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat, baik maksiat kecil atau dosa. Jika masalahnya seperti itu, ia perlu memperbaiki seluruh susu negatif dirinya sejak awal, sebelum sisi negatif tersebut membengkak. Dan, seseorang tidak dapat meluruskan kesalahan-kesalahannya atau memperbaiki aib-aibnya dengan sempurna dan permanen jika ia tidak melakukan upaya perbaikan dengan tarbiyah dzatiyah.

Ini karena ia lebih tahu diri sendiri dan rahasianya. Ia lebih tahu kekurangannya dan aib-aibnya sendiri. Jika ia menginginkan pembinaan dirinya, ia juga lebih mampu mengendalikan dirinya menuju manhaj tertentu, perilaku utama, dan gerakan yang bermanfaat.

5. Tarbiyah dzatiyah adalah saran tsabat dan istiqamah
Setelah bimbingan Allah ta'ala, tarbiyah dzatiyah adalah sarana pertama yang membuat muslim mampu tsabat (tegar) di atas jalan iman danpetunjuk, hingga akhir kehidupannya. Tarbiyah dzatiyah juga garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang kaum muslimin dewasa ini dan membujuknya dengan deras untuk menyimpang, gugur (dari jalan dakwah), loyo, malas, merasa takut akan masa depan, dan putus asa dengan realitas masa kini.

Di sapek ini, perumpamaan tarbiyah dzatiyah seperti pohon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, amak pohon tersebut tetap kokoh, kendati diterpa angin dan badai.

6. Sarana dakwah yang paling kuat
Esensinya, setiap muslim dan muslimah adalah dai ke jalan Allah ta'ala. Ia memperbaiki kondisi yang ada, mengajar, memberi taujih, dan mentarbiyah. Agar ia diterima manusia, baik sanak kerabatnya atau orang yang jauh darinya, dan punya kekuatan melakukan perbaikan dan perubahan di kehidupan mereka, ia perlu bekal kuat. Dan, cara efektif untuk mendakwahi mereka dan mendapatkan respon mereka ialah ia menjadi qudwah yang baik dan teladan yang istimewa dalam aspek iman, ilmu, dan akhlak. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.

7. Cara yang benar dalam memperbaiki realitas yang ada
Adakah diantara kaum muslimin yang tidak merasa prihatin dengan kondisi yang ada pada umat Islam, di berbagai aspek di kehidupan mereka, baik aspek keagamaan, ekonomi, politik, pers, sosial, atau aspek-aspek lainnya? Jawabnya, tentu tidak ada.

Tapi bagaimana kiat memperbaiki realitas pahit yang dialami umat kita sekarang? Apa langkah efektif untuk melakukan perbaikan? Dengan ringkas, langkah tersebut dimulai dengan tarbiyah dzatiyah, yang dilakukan setiap orang dengan dirinya, dengan maksimal, syamil, dan seimbang. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, biidznillah. Lalu, dengan sendirinya, masyarakat menjadi baik. Begitulah, pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.

8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah

Urgensi tarbiyah dzatiyah lainnya mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan selalu ada pada kaum muslimin di setiap waktu, kondisi, dan tempat. Ini berbeda dengan tarbiyah ammah yang punya waktu-waktu tertentu, atau tempat-tempat khusus.

Setiap muslim memiliki kewajiban untuk selalu memperbaiki diri dalam rangka mencapai kepribadian Islami yang sempurna. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan usaha, kesabaran dan metode yang tepat, salah satunya adalah Tarbiyah Dzatiyah.
Tarbiyah Dzatiyah merupakan bentuk tarbiyah seseorang terhadap dirinya sendiri dengan dirinya sendiri. Tarbiyah Dzatiyah penting untuk selalu diterapkan dalam kehidupan setiap muslim untuk dapat menjaga diri dari api neraka, karena terkadang kita akan sampai pada suatu waktu atau tempat dimana tidak ada tarbiyah sehingga satu-satunya jalan untuk dapat terus menjaga keimanan adalah dengan men-tarbiyah diri sendiri.
Tarbiyah dzatiyah juga merupakan bentuk tarbiyah yang paling efektif untuk mengadakan perubahan dalam diri sebab terkadang orang lebih mengetahui dimana letak kekurangan dirinya sehingga ia bisa lebih tahu metode apa yang paling tepat untuk memperbaiki kekurangan tersebut.

Tarbiyah Dzatiyah merupakan bentuk tarbiyah yang istimewa dibanding bentuk tarbiyah lain, karena ia mudah untuk diaplikasikan, akan selalu ada dalam diri Muslim setiap waktu dan memiliki banyak sarana. Sarana-sarana tarbiyah jatiyah antara lain:

1. Muhasabah
Sarana pertama untuk mentarbiyah diri adalah dengan muhasabah, yakni evaluasi terhadap diri atas kebaikan dan keburukan yang dikerjakan sehingga ia tidak mengulanginya lagi di hari berikutnya (QS. Al-Hasyr). Dengan muhasabah diharapkan muslim akan mampu menggunakan setiap waktunya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat sehingga ia tidak kehilangan waktu ketaatan dan dan momen-momen kebaikan.

2. Taubat dari Segala Dosa
Setelah seseorang mengetahui kesalahan dan dosa-dosanya melalui muhasabah maka maka ia hasus sesegera mungkin bertaubat agar dosa-dosanya dapat dihapuskan oleh Allah Swt. Hal tersebut dapat terjadi apabila ia berhenti melakukan dosa, menyesali dosa-dosanya tersebut dan bertekad tidak mengerjakannya lagi pada masa yang akan datang

3. Mencari Ilmu dan Mencari Wawasan
Ilmu dan tarbiyah dzatiyah itu saling kait terkait erat sebab ilmu akan menghantarkan seseorang untuk lebih bijak dalam mendidik dirinya. Ilmu yang dapat menunjang tarbiyah dzatiyah antara lain ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah yang dapat menumbuhkan ketakwaan kepada Allah dan ilmu penunjang lain sperti psikologi, antropologi, dll.

4. Mengerjakan Amalan-Amalan Iman
Dengan mengerjakan amalan-amalan iman seperti mengerjakan ibadah wajib dengan seoptimal mungkin dan meningkatkan porsi ibadah sunnah maka jiwa setiap muslim akan selalu terjaga dari segala bentuk maksiat.

5. Memperhatikan Aspek Akhak atau Moral
Insan muslim dituntut untuk menjadi figur ideal di kalangan manusia, berperasaan halus dan beretika karena ia merupakan representasi umat yang berakhlak mulia maka dalam melaksanakan tarbiyah jatiyah setiap muslim harus selalu memelihara kesabaran dan senantisa memperhatikan meningkatkan kualitas akhlak.

6. Terlibat dalam Aktivitas Dakwah
Setiap muslim harus men-tarbiyah dirinya untuk terlibat di aktivitas dakwah karena dakwah di jalan Allah adalah wajib, tidak ada alasan untuk tidak mengerjakannya. Diantara kebaikan terlibat dalam aktivitas dakwah adalah kita dapat saling berwasiat dalam kebaikan dan berwasiat untuk berbuat sabar

7. Mujahadah (Jihad)
Seorang muslim harus mampu untuk bermujahadah dalam melawan jiwa, hawa nafsu, setan dan kelengketan pada dunia sehingga ia terhindar dari kelalaian untuk beribadah kepada Allah Swt.

8. Berdoa dengan Jujur Kepada Allah
Berdoa merupakan unsur paling penting dalam tarbiyah dzatiyah, karena jika seorang muslim tidak mendapat bantuan dan bimbingan dari Allah maka ia tidak akan punya semangat dan daya untuk melaksanakan tarbiyah jatiyah. Maka berdoalah jujur kepada Allah dan mohonlah pertolongan-Nya

Apabila setiap muslim telah mampu menjalankan Tarbiyah Dzatiyah maka ia akan memetik manfaat tarbiyah jatiyah yakni kebahagiaan, ketentraman jiwa, kesuksesan di dunia dan akhirat serta menjadi muslim yang berakhlak mulia yang senantiasa mendapatkan keridhaan Allah Swt.
Disusun oleh : Yusuf
[Sumber: Tarbiyah Dzatiyah karya Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan]

Indahnya Memiliki Istri Sholehah

Dakwah Ahlussunnah - Alloh menciptakan manusia dengan berpasang-pasangan, tentu saja Islam tidak membenarkan homoseksual atau lesbian, sebab Alloh telah menciptakan laki-laki dan perempuan, dan manusia diberikan kecintaan kepada lawan jenis, bukan sesama jenis. Islam juga memerintahkan kita untuk menikah dan melarang kita untuk membujang selamanya.

Bagi seorang laki-laki, mencari istri tentunya tidak boleh sembarangan, sebab salah dalam memilih baju, maka kita bisa mengganti baju dalam sekejap, salah memilih sepatu, maka kita bisa membeli lagi. Tapi jika salah dalam memilih istri, maka kergugian dan penyesalan yang kita alami sangatlah panjang. Semoga artikel di bawah ini bisa membuat kaum Adam ingin mencari Istri yang Sholehah (jika belum beristri), dan jika yang baca kaum Hawa bisa membuatnya ingin menjadi Istri Sholehah suatu saat nanti (jika belum menikah).

Bagi yang sudah memiliki istri, semoga tulsan ini bisa menginspirasikan anda untuk mendidik istri agar menjadi Sholelah. Sifat istri sholihah bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan setelahnya:

1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy- Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)

2. Melayani suaminya

Berkhidmat kepada suami, seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Tidak memberikan Kemaluan nya dan tidak membuka auratnya kecuali kepada suaminya.

Dalil Al Quran :
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (an-Nuur: 2-3).

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (al-Israa’: 32)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,” (al-Furqaan: 68-69).

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (al-Mumtahanah: 12).

Dalil Hadits :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Tiga jenis orang yang Allah tidak mengajak berbicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,” (HR Muslim [107]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rauslullah saw. bersabda, “Tidaklah berzina seorang pezina saat berzina sedang ia dalam keadaan mukmin,”

Masih diriwayatkan darinya dari Nabi saw. beliau bersabda, “Jika seorang hamba berzina maka keluarlah darinya keimanan dan jadilah ia seperti awan mendung. Jika ia meninggalkan zina maka kembalilah keimanan itu kepadanya,” (Shahih, HR Abu Dawud [4690]).

Diriwayatkan dari al-Miqdad bin al-Aswad r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Bagaimana pandangan kalian tentang zina?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya maka ia haram sampai hari kiamat.” Beliau bersabda, “Sekiranya seorang laki-laki berzina dengan sepuluh orang wanita itu lebih ringan daripada ia berzina dengan isteri tetangganya,” (HR Bukhari dalam Adabul Mufrad [103]).

4. Menjaga rahasia-rahasia suami,

Lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)

5. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya

Sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

6. Tidak melakukan puasa sunah tanpa izin suami

Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), seorang istri Sholelah tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta’ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

7. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami.

Seorang istri Sholehah tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)

8. Melayani dan Memuaskan suami di atas ranjang

Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar’i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

9. Melegakan hati suami bila dilihat.

Rasulullah bersabda, ”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya,
selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila
dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan
suaminya, ketika suaminya pergi.” (HR Ibnu Majah).

10. Amanah.

Rasulullah bersabda, ”Ada tiga macam keberuntungan (bagi
seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu
lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan
dirinya dan hartamu …” (HR Hakim).

11, Istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir
dan berperasaan bagi suaminya.

Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda
kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu
sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam
hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang
berpikir.”(QS Ar Rum [30]: 21).

Demikianlah Istri shaleha itu menurut Kitab Suci Al Quran dan Hadis-hadits Shohih
semoga Anda termasuk di dalamnya
Sumber :
http://sariful.com/ciri-ciri-istri-sholehah.html#comment-3379

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru