Sabtu, 17 Desember 2011

Bahaya Ghibah


Ghibah artinya membicarakan keburukan atau aib saudaramu ketika ia tidak ada di sisimu. Allah Subhanahu Wata’ala telah melarang ghibah dan menyerupakannya dengan suatu perumpamaan yang sangat buruk,
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah” (QS. al-Hujurat [49]:12).

Mengghibah seseorang bisa berlaku pada bebarapa hal yaitu: kekurangannya yang bersifat fisik, nasab atau asal-usulnya yang kurang terhormat, akhlaknya yang kurang baik, agamanya yang kurang sempurna, pakaiannya yang kurang bagus, anaknya, istrinya atau suaminya, pembantunya atau hal ihwal keduniaannya, dan lain-lain. Kesimpulannya, apa saja yang bisa dipahami bahwa itu adalah celaan kepada seorang Muslim, maka itu termasuk ghibah yang diharamkan, baik dengan ucapan, isyarat, menirukan gerak-gerik orang yang dighibah dan lain-lain.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah apa ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rosul-Nya yang lebih tahu,” Beliau bersabda, “Ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu apa yang ia tidak suka (untuk disebutkan)!”. Seseorang berkata, ”Bagaimana jika pada saudaraku memang ada apa yang aku katakan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika pada saudaramu memang ada apa yang dikatakan itu, maka sungguh engkau telah mengghibahnya, dan jika pada saudaramu itu tidak ada apa yang engkau katakan itu, maka sungguh engkau telah menuduhnya.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).

Ketauhilah saudaraku…. Ghibah adalah dosa besar yang banyak menyebar di tengah masyarakat dan sedikit sekali orang yang selamat darinya. Mendengarkan omongan ghibah juga berdosa kecuali jika ia segera mengingkari perbuatan ghibah tersebut dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Jika ia dapat meninggalkan majelis tersebut atau memotong omongan ghibah dengan pembicaraan yang lain, maka hal itu wajib dilakukan.

Ancaman Bagi Orang yang Berbuat Ghibah:

1. Aisyah Radiyallahu ‘anha berkata, “Aku pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Cukuplah bagimu dari Shofiah itu (salah seorang istri beliau) begini dan begitu (kekurangannya).” Sebagian perawi hadits berkata yaitu pendek orangnya, maka beliau bersabda, “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kalimat yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan mencampurinya.” (maksudnya membuat air laut tersebut berubah rasa atau warnanya karena buruk dan busuknya ucapan tersebut). (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, beliau berkata: “hasan shohih). Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata, “Ini adalah hadits yang paling keras dalam melarang ghibah sepengetahuan saya.”

2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketika dimi’rajkan Saya melewati satu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah-wajah dan dada-dada mereka dengan kuku-kuku tersebut, lalu aku berkata, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?” Ia berkata, “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia (berbuat ghibah) dan mencemarkan kehormatan manusia.“ (HR. Abu Dawud dan Ahmad, hadits hasan).

3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar adalah mencemarkan kehormatan seorang Muslim tanpa alasan yang hak.” (HR. Abu Dawud, hadits hasan).

Saudaraku… jika riba adalah dosa besar yang diancam akan diperangi pelakunya oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rosul-Nya, maka bagaimana halnya dengan suatu dosa yang lebih berat daripada riba ?!
Pengarahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Tentang Hubungan Sesama Muslim:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh mengkhianatinya, tidak boleh mendustainya dan membiarkannya tidak ditolong. Setiap Muslim bagi Muslim lainnya adalah haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini,. Cukuplah sebagai keburukan (dosa) bagi seseorang jika ia meremehkan saudaranya yang Muslim.” (HR. at-Tirmidzi).

Senin, 05 Desember 2011

Jadilah Muslimah yang Pandai Bersyukur


Pembaca muslimah, sungguh sebuah kewajaran, Ketika anda ingin memiliki baju bagus, perhiasan indah, tampilan menarik, sebab Secara fithrah, wanita memang senantiasa bertipe demikian. Wanita dengan tabiatnya sebagai pendamping pria, memang selalu suka berhias, berdandan dan mempercantik diri. Kesukaannya terhadap benda-benda duniawi juga cenderung lebih besar ketimbang kaum pria. Maka sungguh tidak bijak bila “fithrah” itu dihambat sedemikian rupa, atau bahkan dihentikan secara sepihak. Islam adalah agama fithrah, yang sudah pasti akan memiliki tatanan ajaran yang selaras dengan kebutuhan fihtrah.

Namun apa yang dikehendaki fithrah tidaklah sama dengan apa yang dimaui oleh hawa nafsu? Hal-hal yang berlebihan selalu saja berlawanan dengan fithrah itu sendiri. Sebagian istri tenggelam dalam khayalan. Mereka terlampau berlebih-lebihan dalam menuntut kesempurnaan. Dalam benaknya, pernikahan laksana surga Firdaus. Di dalamnya tak ada kepenatan, beban, ataupun kesusahan. Ia menginginkan pernikahan sesuai dengan gambaran dan fantasinya, tanpa bisa menoleransi adanya sedikit pun kesulitan.

Akhirnya, ketika sang istri berhadapan dengan kenyataan yang sarat tanggung jawab, saat ia dituntut untuk mengambil keputusan, melahirkan anak dan menghadapi berbagai macam kesulitan hidup, banyak di antara mereka yang tak sanggup menghadapinya. Tak jarang yang akhirnya berpikir bahwa ia telah keliru memilih pendamping hidup.

Betapa apa yang dialaminya, jauh di luar apa yang selama ini dibayangkannya. Di satu sisi, ia sadar bahwa ia adalah istri yang harus melayani suami. Tapi di sisi lain, nafsu dan syahwatnya berkubang ambisi dan fantasi yang entah kapan bisa terpuaskan. Kondisi itu pada sebagian wanita bisa memuncak menjadi depresi dan tekanan hidup yang hebat. Bahkan ia tak segan memohon cerai, hanya agar terlepas dari ikatan-ikatan yang terasa amat membelenggunya.

Salah satu faktor dominan yang menyebabkan terjadinya persepsi semacam itu, adalah kecenderungan sebagian masyarakat memetik inspirasi dari kisah-kisah roman picisan, novel-novel terjemahan, sinetron televisi atau berbagai tayangan film layar lebar.

Kisah, sinetron maupun film tersebut seringkali menggambarkan kehidupan pernikahan yang serba nyaman dan tak pernah dihinggapi masalah. Gaya hidup glamour sering digambarkan sebagai model-model kesuksesan yang patut diteladani.

Belum lagi tingkah polah selebritis yang saling berlomba mengambil simpati dengan tampilah wahnya. Ketika istri mengendarai bahtera pernikahan, pengalaman yang ia hadapi jauh bertentangan dengan berbagai gambaran itu. Dirinya dikagetkan dengan kenyataan-kenyataan yang sebelumnya tak pernah terlintas di benaknya.

Nah Pembaca Muslimah, jika anda saat ini sudah bersuami maka sebagai istri yang bijaksana hendaknya bersikap adil dalam memandang, tidak larut dalam mimpi atau membiarkan jiwa menerawang ke lembah khayalan dan fantasi buta. Tak usah berlebihan dalam menuntut kesempurnaan. Kehidupan rumah tangga bukanlah sebuah gambaran sesaat. Bukan pula cerita khayalan yang direkayasa.

Ia sesungguhnya realitas yang berbaur penderitaan, angan-angan, kesenangan dan kesedihan, layaknya semua kenyataan hidup lainnya. Semua ini dapat diatasi jika bahtera kehidupan dijalani dengan memperbaiki pola beradaptasi dengannya. Seni menikmati realitas harus dipelajari setahap demi setahap. Belajar menahan derita dan kesusahan adalah seni agar hati tak mudah mati.

Dan jika Anda adalah seorang istri yang gagal mendapatkan sebagian fantasi Anda sebelum menikah, haruskah Anda mengatakan, ‘Yang namanya susah, tetap saja susah.’ Lalu Anda membiarkan diri Anda tenggelam dalam kesusahan itu? Tentu tidak demikian! Anda harus belajar untuk menahan diri, menguatkan jiwa dan rohani untuk menghadapinya.

Kekuatan memikul tanggung jawab, beban dan berbagai kesulitan merupakan faktor terbesar bagi terciptanya kebahagiaan pernikahan. Orang yang paling bahagia adalah orang yang paling mampu bersusah payah. Meski dalam realitasnya, belum tentu ia akan mengalami segala kepayahan itu. Artinya, saat Anda siap disuntik untuk berobat, Anda akan menjadi pasien yang berbahagia. Meski ternyata Anda tak harus mengalaminya.

Ukhti muslimah, saat saudari mampu menjadi istri yang tak banyak menuntut –bukan tak punya keinginan dan permintaan sama sekali–, saudari telah membuka pintu kebahagiaan untuk kehidupan rumah tangga kalian berdua.

Bagi suami, tak ada yang lebih indah dari ungkapan seorang istri, ‘Tak apa mas, namanya belum rezeki. Sabar, aku juga tak terlalu butuh kok. Yang ada ini saja sudah jauh dari mencukupi.’
Wah, sungguh itu adalah kata-kata mujarab, untuk mengobati segala kepenatan jiwa, menghilangkan pikiran yang suntuk, bahkan membangun motivasi untuk lebih giat lagi bekerja dan berusaha.
Beratkah untuk melakukannya? Tidak juga. Sebenarnya, yang dibutuhkan cuma “sesekali” sadar aja. Saat saudari berkeinginan kuat memiliki sesuatu, dan saudari melihat suami sedang berkemampuan, sampaikan saja terus terang.

Kalau suami punya beberapa kebutuhan yang sangat mendesak, tahan dulu keinginan itu. Saat sudah lapang, tak apa minta lagi. Bila dibelikan, ucapkanlah terima kasih. Meski ia adalah suami saudari dan memang sudah kewajibannya memberikan apa yang menjadi kebutuhan saudari, terima kasih itu perlu dan sangat berpengaruh menciptakan kebahagiaan di hati saudari. Jangan lupa tersenyum dan memperlihatkan wajah gembira. Tak cukup hanya senang sendiri dalam hati. Karena berbagi itu perlu, apalagi berbagi kebahagiaan. Sepanjang permintaan itu masih dalam batas kewajaran dan suami saudari mampu, boleh saja anda meminta. Asal jangan terus-terusan meminta. Biarpun suami mampu, dan permintaan itu sederhana, “sesekali” menahan diri itu perlu.

Kalau “sesekali” itu bisa saudari lakukan lebih banyak, akan lebih baik lagi. semakin banyak, semakin baik pula. Syukur-syukur, suami saudari memiliki pengertian mendalam, sehingga tanpa diminta pun anda sering dibelikan apa yang disuka. Itu akan lebih baik, karena nilai ketulusannya lebih banyak.

Dan yang terpenting, hal itu akan lebih mengurangi beban pikiran suami, yang bisa jadi tak saudari ketahui secara pasti. Terkadang, bisa jadi suami saudari menahan diri untuk tidak memberitahukan kebutuhannya, demi kebahagiaan saudari.

Rosululloh shallallahu ‘alaih wasallam bersabda, “Saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rosululloh?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari keluarga dan kebaikan-kebaikan suami. Jika sekiranya engkau berbuat baik kepadanya, lalu ia melihat sedikit kekurangan darimu, maka ia berkata: ‘Saya tidak melihat suatu kebaikan darimu sama sekali’.”

Oleh karena itu Seorang istri, hendaknya tetap bersyukur meskipun kesulitan menimpanya, sebagai tanda terima kasihnya kepada Alloh atas takdir yang ditentukan kepadanya. Apalagi bila kenyataannya, ia juga banyak menerima kesenangan, dan kesulitan itu justru dirasakan olehnya sesekali saja. Ia harus menjaga amarah, jangan banyak mengeluh dan memperhatikan adab-adab dalam menghadapi segala wujud musibah.

Akhirnya,wahai muslimah, Jadilah anda wanita yang pandai bersyukur. Jadilah Ahli Surga…. Wallahu’alam…..

Jumat, 28 Oktober 2011

Hati-hati..!! Ali Hasan Al-Halabi menyebar pemikiran Murji'ah yang Sesat

FATWA LAJNAH DAIMAH TENTANG BUKU KARYA ALI HASAN AL-HALABI..

Lembaga tetap dalam berfatwa dengan pimpinan Syaikh yang mulia : Abdul Aziz Alus Syaikh Hafizhahullah Ta’ala

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده . . وبعد :

Sesungguhnya lembaga tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa telah menelaah apa yang ditujukan kepada mufti yang mulia dari sebagian penasehat berupa beberapa permohonan fatwa yang terkait amanah umum bagi lembaga para ulama besar,nomor : 2928,2929, tanggal : 13-5-1421 H, dan nomor : 2929 dan tanggal 13-5- 1421 H, tentang keadaan dua buah kitab yang berjudul “Ath-Tahdzir min fitnah at-takfir” dan “Shaihatu nadziir”, penyusun dua kitab tersebut: Ali Hasan Al-Halabi, bahwasanya kedua kitab itu mengajak kepada mazhab murji’ah, yang menyatakan bahwa amalan bukan syarat sahnya iman, lalu dia menisbatkan hal itu kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Dia menyandarkan dalam dua kitab ini pada penukilan-penukilan dari Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibnu Katsir dan yang lainnya -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Karena kehendak para penasehat untuk menjelaskan kandungan yang terdapat didalam dua kitab ini agar para pembaca dapat mengetahui antara yang haq dan yang batil .dan seterusnya.

Setelah Lajnah mempelajari dua kitab tersebut, dan menelaah keduanya, maka jelaslah bagi lajnah bahwa kitab “At-tahdzir min fitnah at-takfir” tulisan Ali Hasan Al-Halabi pada apa yang dia sandarkan kepada ucapan para ulama dalam muqaddimah-nya dan catatan kakinya mengandung hal berikut:

Pertama : Penulisnya membangun kitab ini diatas mazhab murji’ah yang bid’ah lagi batil, yang membatasi kekafiran hanya pada kufur juhud (kufur pengingkaran) dan kufur takdzib (kufur karena mendustakan) dan istihlal qalbi (menghalalkan apa yang diharamkan dengan hatinya,pen), sebagaimana yang tersebut di hal:6, foot note ke:2, dan hal:22. Ini menyelisihi aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah bahwa kekafiran bisa terjadi melalui ucapan, perbuatan, dan keragu- raguan.

Kedua : Merubah penukilan dari Ibnu Katsir rahimahullah Ta’ala dalam Al-Bidayah wan-Nihayah: 13/118, dimana dia menyebutkan pada foot note-nya di halaman: 15 menukil dari Ibnu Katsir “bahwa Jengis khan mengklaim bahwa hukum “al-yasiq” berasal dari sisi Allah dan bahwa ini yang menjadi sebab kafirnya mereka (bangsa Tatar,pen)”. Tatkala merujuk ke sumber rujukan yang dimaksud tidak ditemukan apa yang dinisbatkannya kepada Ibnu Katsir –rahimahullah Ta’ala-.

Ketiga : Mengada-ada atas nama Syaikhul islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- pada hal: 17- 18, dimana penyusun kitab tersebut menisbatkan kepada Beliau “bahwa hukum yang diganti tidak menunjukkan kekafiran menurut Syaikhul Islam kecuali jika disertai pengetahuan dan keyakinan hati, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang halal. Ini semata-mata mengada-ada atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- sebab Beliau (syaikhul Islam,pen) adalah penyebar mazhab salaf Ahlus sunnah waljama’ah dan prinsip mereka, sebagaimana yang telah disebutkan, sedangkan ini hanyalah merupakan mazhab murji’ah.

Keempat : Merubah maksud perkataan 'Allamah yang mulia: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah Ta’ala dalam risalahnya yang berjudul “Tahkiim al-qawaaniin al-wadh’iyyah”. Dimana penyusun buku tersebut menyatakan bahwa Syaikh mensyaratkan penghalalan dalam hatinya, padahal ucapan Syaikh sangat jelas seperti jelasnya matahari dalam risalah tersebut diatas aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah.

Kelima : Memberi komentar terhadap ucapan para ulama yang dia sebutkan dengan membawa ucapan mereka kepada sesuatu yang bukan maknanya,seperti yang terdapat di halaman: 108, foot note:1, hal:109 foot note:21, hal:110 foot note:2.

Keenam : Sebagaimana didalam kitab ini juga menampakan sikap meremehkan permasalahan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, khususnya pada halaman: 5 foot note:1, dengan alasan bahwa perhatian untuk memurnikan tauhid dalam permasalahan ini menyerupai Syi’ah Rafidhah, dan ini merupakan kesalahan fatal.

Ketujuh : Menelaah risalah yang kedua dengan judul “Shaihatu nadziir”, maka ditemukan bahwa kitab ini bersandar kepada kitab yang telah disebutkan, dan keadaan keduanya sebagaimana yang telah disebutkan.

Maka sesungguhnya Lajnah Daaimah melihat bahwa kedua kitab ini: tidak boleh dicetak, tidak boleh disebarkan, dan tidak boleh diedarkan disebabkan karena pada keduanya terdapat kebatilan dan perubahan makna, dan kami menasehati penulis kedua kitab tersebut untuk bertaqwa kepada Allah pada dirinya dan pada kaum muslimin, terkhusus para pemuda mereka, dan hendaknya bersungguh- sungguh dalam memperoleh ilmu syar’I melalui tangan para ulama yang dipercaya ilmunya dan baik aqidahnya. Sebab ilmu merupakan amanah dan tidak boleh disebarkan kecuali yang sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah.

Hendaknya dia meninggalkan berbagai pemikiran ini dan cara-cara penipuan dalam merubah makna ucapan para ulama, sebagaimana yang diketahui bahwa kembali kepada kebenaran merupakan keutamaan dan kemuliaan bagi seorang muslim. Semoga Allah memberi taufik.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .

Penulis: Lajnah Daaimah

Lajnah Daaimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa

Pimpinan : Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh Hafidzahullah

Anggota : Saleh bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah

Anggota : Bakr bin Abdillah Abu Zaid Hafidzahullah

Anggota : Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyaan Hafidzahullah


Berikut naskahnya dalam bahasa Arab :

اللجنة الدائمة للإفتاء برئاسة سماحة الشيخ عبد العزيز آل الشيخ حفظه الله

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده . . وبعد :

فإن اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء اطلعت على ما ورد إلى سماحة المفتي العام من بعض الناصحين من إستفتاآت مقيدة بالأمانة العامة لهيئة كبار العلماء برقم : ( 2928 ) ، ( 2929 ) بتاريخ : 13 / 5 / 1421 هـ. ورقم ( 2929 ) وتاريخ 13 / 5 / 1421 هـ. بشأن كتابي ( التحذير من فتنة التكفير ) ، ( صيحة نذير ) لجامعهما / علي حسن الحلبي ، وأنهما يدعوان إلى مذهب الإرجاء ، من أن العمل ليس شرط صحة في الإيمان . وينسب ذلك إلى أهل السنّة والجماعة ، ويبني هذين الكتابين على نقول لشيخ الإسلام ابن تيمية والحافظ بن كثير وغيرهما رحم الله الجميع .

ورغبة الناصحين بيان ما في هذين الكتابين ليعرف القراء الحق من الباطل . . الخ . .

وبعد دراسة اللجنة للكتابين المذكورين ، والإطلاع عليهما تبين للجنة أن كتاب :

(التحذير من فتنة التكفير ) جمع / علي حسن الحلبي فيما أضافه إلى كلام العلماء في مقدمته وحواشيه يحتوي على ما يأتي:

1- بناه مؤلفه على مذهب المرجئة البدعي الباطل ، الذين يحصرون الكفر بكفر الجحود والتكذيب والاستحلال القلبي ، كما في ص / 6 حاشية /2 وص/22 ، وهذا خلاف ما عليه أهل السنة والجماعة: من أن الكفر يكون بالاعتقاد وبالقول وبالفعل وبالشك.

2- تحريفه في النقل عن ابن كثير - رحمه الله تعالى - في: ( البداية والنهاية: 13 / 118 ) حيث ذكر في حاشيته ص / 15 نقلاً عن ابن كثير: ( أن جنكيز خان ادعى في الياسق أنه من عند الله وأن هذا هو سبب كفرهم ) ،وعند الـرجوع إلى الـموضع المذكور لم يوجد فيه ما نسبه إلى ابـن كثير - رحمه الله تعالى - .

3- تقوله على شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله تعالى - في ص / 17 - 18 إذ نسب إليه جامع الكتاب المذكور: أن الحكم المبدل لا يكون عند شيخ الإسلام كفراً إلا إذا كان عن معرفة واعتقاد واستحلال. وهذا محض تقول على شيخ الإسلام ابن تيمية - رحمه الله تعالى - فهو ناشر مذهب السلف أهل السنّة والجماعة ومذهبهم ، كما تقدم وهذا إنما هو مذهب المرجئة.

4- تحريفه لمراد سماحة العلامة الشيخ / محمدبن إبراهيم آل شيخ - رحمه الله تعالى - في رسالته: تحكيم القوانين الوضعية. إذ زعم جامع الكتاب المذكور: أن الشيخ يشترط الاستحلال القلبي ، مع أن كلام الشيخ واضح وضوح الشمس في رسالته المذكورة على جادة أهل السنة والجماعة.

5- تعليقه على كلام من ذكر من أهل العلم بتحميل كلامهم مالا يحتمل ، كما في الصفحات 108 حاشية / 1، 109 حاشية / 21 ، 110 حاشية / 2.

6- كما أن في الكتاب التهوين من الحكم بغيرما أنزل الله ، وبخاصة في ص / 5 ح / 1 ، بدعوى أن العناية بتحقيق التوحيد في هذه المسألة فيه مشابهة للشيعة - الرافضة - وهذا غلط شنيع.

7- وبالإطلاع على الرسالة الثانية ( صيحة نذير ) وُجد أنها كمُساند لما في الكتاب المذكور - وحالهكما ذُكر -.

فإن اللجنة الدائمة ترى أن هذين الكتابين: لا يجوز طبعهما ولانشرهما ولا تداولهما لما فيهما من الباطل والتحريف. وننصح كاتبهما أن يتقي الله فينفسه وفي المسلمين ، وبخاصة شبابهم .

وأن يجتهد في تحصيل العلم الشرعي على أيدي العلماء الموثوق بعلمهم وحُسن معتقدهم. وأن العلم أمانة لا يجوز نشره إلا على وفق الكتاب والسنّة.

وأن يقلع عن مثل هذه الآراء والمسلك المزري في تحريف كلام أهل العلم ، ومعلوم أن الرجوع إلى الحق فضيلة وشرف للمسلم. والله الموفق.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء .

عضو : عبد الله بن عبد الرحمن الغديان .

عضو: بكر بن عبد الله أبو زيد .

عضو: صالح بن فوزان الفوزان .

الرئيس : عبد العزيز بن عبد الله بن محمد آل الشيخ .

Narasumber Acara Faforit FAJRI FM 99.3 Mhz, Call Sign PM3FIE


Saat ini radio FAJRI memiliki 19 Narasumber yang mengisi kajian Pagi, Sore dan Malam. Inilah beberapa namanya:

DR. Muhammad Sarbini, M.H.I.
Mengisi Kajian Fiqih, Setiap Malam Jum’at, Pukul 19.30 -21.30 WIB.
Disiarkan Langsung dari Masjid Raya HASMI.

Abu ‘Aisyah Rahendra Maya, S.Th.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian Wawasan Islam (Tsaqofah Islamiyah), Setiap Selasa Malam, Pukul 20.00 -21.30 WIB.

‘Ali Maulida, S.Sos.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian Rubrik Akhlaq, Setiap Rabu Pagi, 06.30-07.30 WIB

Hudan Dimyati Ahmad, S.Sos.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian al-Gozwul Fikri (Perang Pemikiran), Setiap Rabu Malam, Pukul 20.00-21.30 WIB

Muhammad Hidayat Ginanjar, M.Pd.I.
Mengisi Kajian Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak) Setiap Minggu Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Fachri Fachrudin, S.H.I., M.E.I.
Mengisi Kajian Menata Hati, Setiap Selasa Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ir. Nur Sukma
Beliau adalah Presiden Direktur PT. Gaswara Group. Mengisi Rubrik Usaha Islami, Hari Ahad Sore, 16.00-17.00 WIB.

Abu Jundi Saifudin, S.Pd.I.
Mengisi Kajian di Rubrik Dakwah, Setiap Malam Minggu, Pukul 20.00-21.30 WIB.
Abu Hanzolah ‘Arifin, S.H.I.
Mengisi Kajian Fiqih Muamalah, Setiap Jum’at Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Ade ‘Abdul Qohar, S.Pd.I.
Mengisi Kajian Motivasi Islami, Setiap Sabtu Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

‘Abdul Malik Sukirman
Mengisi Kajian Ahlussunnah wal Jama’ah, Setiap Malam Senin, Pukul 09.45-21.30 WIB. Disiarkan Langsung dari Masjid Raya HASMI

‘Azzam, S.Th.I.
Mengisi Kajian tentang Pemuda dan M ahasiswa, Setiap Sabtu Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.
Herman Saptaji, S.Th.I.
Mengisi Kajian Kisah-Kisah dalam al-Qur’an, Setiap Senin Pagi Pukul 05.30 -06.30 WIB.

Eka Sakti Habibulloh, Lc.
Mengisi Kajian Keluarga Sakinah, Setiap Rabu Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ibrohim Bafadhol, Lc.
Mengisi Kajian ‘Aqidah, Setiap Senin Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ahmad Nur Rifa’I, Lc.
Mengisi Kajian Tafsir ayat-ayat Hukum, Setiap Senin Malam, Pukul 20.00- 21.30 WIB.
Solahudin, Lc.
Mengisi Kajian Muslimah, Setiap Jum’at Malam, Pukul 20.00 -21.30 WIB.

Rudi ‘Abdurrohman, Lc.
Mengisi Kajian Hadits Riyadhussolihin, Setiap Kamis Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Hawari, Lc.
Mengisi Kajian Tafsir Maudhu’i, Setiap Selasa Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Senin, 24 Oktober 2011

Sholat Idul Adha 1432 H



Hadirilah Solat Idul Adha 1432 H
Tanggal : 10 Dzulhijjah 1432 H
Waktu : Pukul 06.30 WIB sampai Selesai
Khotib : DR. Muhammad Sarbini, M.H.I. (Ketua DPP HASMI)
Tempat : Lapangan Kantor Pusat HASMI
Jl. Raya Purnama RT. 05/01 Sukamantri, Tamansari, Kab. Bogor
Cp. Abu Nafisah : 0821 2265 1199

Ajak Serta Keluarga Anda

Iddah Wanita


A. PENGERTIAN IDDAH
Menurut bahasa, kata iddah berarti bilangan, atau perhitungan.
Menurut Istilah, Iddah adalah masa dimana seorang wanita menanti atau menunda pernikahan setelah ia dicerai atau ditinggal mati oleh suaminya.

B. MACAM-MACAM MASA IDDAH
Berikut ini adalah beberapa macam masa iddah beserta waktunya
1. Isteri yang ditinggal mati oleh Suami, maka masa Iddahnya adalah 4 bulan 10 Hari.
"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis 'iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka, menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqoroh: 234)

2. Isteri yang dicerai dalam keadaan hamil, maka masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan.
Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. (QS. At-Tholaq: 4)

3. Isteri yang dicerai oleh suami, namun belum sempat digauli, masa iddahnya adalah tidak ada
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.” (QS. Al-Ahzab: 49)

4. Isteri yang dicerai suami dalam keadaan normal, masa iddahnya adalah 3 kali suci
“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru” (QS. Al-Baqoroh: 228)

5. Isteri yang dicerai dalam keadaan belum haid (karena masih kecil), atau Isteri dalam keadaan menopause (sudah tidak haidh lagi). Maka massa Iddahnya adalah 3 bulan.
Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. (QS. At-Tholaq: 4)

Penulis : Yusuf al-Fajri, S.Pd.I
Sumber: al-Wajiz Fiqh Sunah, ‘Abdul Adzim bin Badawi al-Kholafi


Kamis, 20 Oktober 2011

Narasumber Acara Faforit FAJRI FM 99.3 Mhz, Call Sign PM3FIE


Saat ini radio FAJRI memiliki 19 Narasumber yang mengisi kajian Pagi, Sore dan Malam. Inilah beberapa namanya:

DR. Muhammad Sarbini, M.H.I.
Mengisi Kajian Fiqih, Setiap Malam Jum’at, Pukul 19.30 -21.30 WIB.
Disiarkan Langsung dari Masjid Raya HASMI.

Abu ‘Aisyah Rahendra Maya, S.Th.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian Wawasan Islam (Tsaqofah Islamiyah), Setiap Selasa Malam, Pukul 20.00 -21.30 WIB.

‘Ali Maulida, S.Sos.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian Rubrik Akhlaq, Setiap Rabu Pagi, 06.30-07.30 WIB

Hudan Dimyati Ahmad, S.Sos.I., M.Pd.I.
Mengisi Kajian al-Gozwul Fikri (Perang Pemikiran), Setiap Rabu Malam, Pukul 20.00-21.30 WIB

Muhammad Hidayat Ginanjar, M.Pd.I.
Mengisi Kajian Tarbiyatul Aulad (Pendidikan Anak) Setiap Minggu Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Fachri Fachrudin, S.H.I., M.E.I.
Mengisi Kajian Menata Hati, Setiap Selasa Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ir. Nur Sukma
Beliau adalah Presiden Direktur PT. Gaswara Group. Mengisi Rubrik Usaha Islami, Hari Ahad Sore, 16.00-17.00 WIB.

Abu Jundi Saifudin, S.Pd.I.
Mengisi Kajian di Rubrik Dakwah, Setiap Malam Minggu, Pukul 20.00-21.30 WIB.

Abu Hanzolah ‘Arifin, S.H.I.

Mengisi Kajian Fiqih Muamalah, Setiap Jum’at Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Ade ‘Abdul Qohar, S.Pd.I.
Mengisi Kajian Motivasi Islami, Setiap Sabtu Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

‘Abdul Malik Sukirman
Mengisi Kajian Ahlussunnah wal Jama’ah, Setiap Malam Senin, Pukul 09.45-21.30 WIB. Disiarkan Langsung dari Masjid Raya HASMI

‘Azzam, S.Th.I.
Mengisi Kajian tentang Pemuda dan M ahasiswa, Setiap Sabtu Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Herman Saptaji, S.Th.I.

Mengisi Kajian Kisah-Kisah dalam al-Qur’an, Setiap Senin Pagi Pukul 05.30 -06.30 WIB.

Eka Sakti Habibulloh, Lc.
Mengisi Kajian Keluarga Sakinah, Setiap Rabu Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ibrohim Bafadhol, Lc.
Mengisi Kajian ‘Aqidah, Setiap Senin Sore, Pukul 16.00-17.00 WIB.

Ahmad Nur Rifa’I, Lc.
Mengisi Kajian Tafsir ayat-ayat Hukum, Setiap Senin Malam, Pukul 20.00- 21.30 WIB.

Solahudin, Lc.

Mengisi Kajian Muslimah, Setiap Jum’at Malam, Pukul 20.00 -21.30 WIB.

Rudi ‘Abdurrohman, Lc.
Mengisi Kajian Hadits Riyadhussolihin, Setiap Kamis Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Hawari, Lc.
Mengisi Kajian Tafsir Maudhu’i, Setiap Selasa Pagi, Pukul 05.30-06.30 WIB.

Jumat, 23 September 2011

Jumpa Pendengar FAJRI FM 99.3 Mhz

Ayoo.. Ajak Keluarga, Saudara, dan Teman Kita Untuk Hadir di Acara Jumpa Pendengar Radio FAJRI Se JABODETABEK 2011, Klik Gambar di atas ini untuk memperbesar. Info lebih lanjut hubungi 0251 7166362 Kunjungi Juga web FAJRI FM di www.fajrifm.com

Rabu, 03 Agustus 2011

Romadhon Mau Ngapain ya..?


Romadhon Mau Ngapain? Ini mah Pertanyaan yang mudah, romadon ya jelas ibadah lah.
1. Berpuasa
2. Solat lima waktu tentu harus diutamakan
3. Bersedekah
4. Solat Tarawih
5. Baca Al-Qur'an
6. Belajar Agama Islam
7. Bayar Zakat
8. I'tikaf, dll.

Nah untuk nomor 6. Belajar Agama Islam terkadang kaum muslimin kebingungan mau belajar kemana? Nah di sini saya beri saran agar mendengarkan radio FAJRI FM 99.3 Mhz. Acaranya Bagus-barus, Non Stop 24 Jam & Full Dakwah.
Kelebihan Radio Fajri FM 99.3 Mhz dibanding lainnya :
1. Mengajarkan Islam yang benar sesuai ajaran Rosululloh SAW, dan juga menjelaskan kesalahan untuk dihindari.
2. Informasi dan Berita Dunia Islam yang komprehensif
3. Tidak Mengandung Maksiat.
4. Bahasanya Lugas, Cerdas, dan Mudah Dimengerti.
5. Selalu memakai dalil al-Qur'an dan as-Sunnah serta Ijma' dalam kajian/ceramahnya
6. Acaranya Kreatif dan Inovatif.
7. Suara Jernih (terutama wilayah Bogor dan Depok).
8. Narasumber yang Berkompeten di Bidangnya.
9. Kajiannya lengkap, Mulai dari Aqidah, Syari'ah, Keluarga Sakinah, Hadits, Fiqih, Manhaj, Akhlak, Muslimah, Gozwul Fikri, Tsaqofah, Kisah, Siroh, Tafsir, Renungan. Dll.
10. Dikemas Secara Persuasif dan Interaktif.
11. Bisa didengarkan melalui streaming internet di www.fajrifm.com
12. Dapat pula didengar melalui flexi, caranya : ketik *55*230993, hanya Rp. 350/Jam.

Insya Allah dengan mendengarkan radio FAJRI FM 99.3 Mhz, Romadhon akan semakin bermakna.

Minggu, 17 Juli 2011

Harakah Sunah, Bukan Bid'ah


Pertanyaan
Ustadz, ada anggapan bahwa harokah itu dilarang, dengan alasan bahwa Rasululloh tidak mengajarkan untuk membuat kelompok tersebdiri.. Lalu mengapa harus ada DPP, DPC, DPD dll, kemudian juga bukankah dengan mendrikan harokah tersendiri malah memecah belah umat, dan para anggotanya pun akan memandang berbeda kepada orang yang diluar anggotanya/anggota ormas lain, sebagaimana yang telah terjadi pada Ormas dan partai-partai Islam yang telah ada.

Jawaban.!!
Ini memang syubhat yang banyak disebarkan oleh pihak2 tertentu yang membingungkan orang awam.. Sebenarnya ini syubhat murahan yang sangat enteng dan mudah sekali jawabannya.

Pertama, Arti dari organisasi adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama, ini berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia. Dan biasanya Organisasi itu dipimpin oleh satu orang, yang memiliki beberapa anggota.

Nah, dari definisi tersebut, maka bisa kita fahami bahwa, ternyata di masa Rosul pun sudah ada organisasi, Rasul dan para sahabatnya senantiasa berkumpul, bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, yaitu untuk menyebarkan dakwah Islam. Buktinya adalah:
1. Rasulullah dan para Sahabat senantiasa berkumpul di Daarul Arqom untuk mendiskusikan dan merapatkan tujuan tertentu.
2. Rasul selalu mendata anggotanya, sehingga Rasul tahu berapa Jumlah pasukan Perangnya, jumlah kuda yang dimiliki anggotanya, jumlah senjata yang dimiliki. Dll
3. Rasulullah meng absensi setiap pasukan perangnya. Sehingga Rasul tahu siapa yang tidak ikut dalam jihad dan peperangan. Lalu siapa yang Idzin tidak ikut berperang. Dll
4. Di masa Rosul ada kelompok Muhajirin dan Ansor. Dan dalam setiap jihad, setiap kabilah pasukan memegang bendera kabilahnya masing-masing, ada kabilah bani fulan dan bani fulan.
5. Rasulullah juga sering mengutus para Sahabatnya untuk menjadi Juru dakwah di Wilayah-wilayah tertentu yang menjadi target dakwah. Inipun disebutnya Organisasi/manajemen.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa Organisasi sudah ada di masa Rasulullah Saw.

Kedua, Jika kita melihat Definisi Organisasi, maka berarti kita bisa Simpulkan bahwa setiap ada kelompok orang yang bersama-sama merumuskan suatu tujuan, dengan seorang ketua dan beberapa anggota, maka itu pun termasuk organisasi. Seperti Pesantren, DKM Masjid, Sekolah SD, SMP, SMA, Universitas. Itu semua termasuk Organisasi. Lalu apa yang salah dengan Organisasi?
Dan anehnya, orang yang melarang organisasi pun ternyata secara tidak sadar ia telah berorganisasi, seperti membuat Yayasan, pesantren, sekolah. Dll
Seharusnya orang yang melarang organisasi harus melarang dan mengharamkan untuk mendirikan sekolahan.

Ketiga, Dalil-dalil Al-Qur’an tentang Berorganisasi sangat banyak, diantaranya:
“ Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Shaff : 4)
Dalam ayat tersebut Allah menyukai jika kita berdakwah secara berjama’ah/berkelompok. Bukan da’wah yang sendiri-sendiri.

“ Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (QS. Al-Maidah : 52)
Ayat tersebut juga menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk saling tolong menolong, dan aktivitas tolong menolong dalam kebaikan ini hanya ada pada Amal Jama’i/Organisasi.
Rasulullah dan para sahabatnya juga berjama’ah.

Keempat, Jika dakwah tidak Berorganisasi, maka hal itu menunjukan bahwa dakwahnya tidak serius. Sebab tantangan dakwah sangat berat, umat ini dikepung dengan berbagai kesesatan, dari mulai kaum liberal, musyrikin, ahlul bid’ah, Misionaris Kristen kafir. Semua musuh-musuh Islam tersbt juga berharokah dan berorganisasi dengan sangat rapi dalam memusuhi Islam. Akal yang sehat tentu akan sangat setuju tentang pentingnya sebuah harokah/jama’ah.
Bagaimana mungkin tantangan tersebut bisa diatasi dengan perorangan? Tidak mungkin. Bahkan hanya untuk mengurus sebuah masjid saja perlu adanya organisasi DKM. Apa lagi untuk mengurus ummat.

Kelima, Anggapan bahwa adanya harokah itu memecah belah umat tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang harokah, dalil itu hanyalah al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Lagi pula belum bisa dibuktikan bahwa Organisasi memecah belah umat. Yang memecah belah umat bukan Organisasi, karena dalam Islam kita diajarkan untuk saling mencintai karena Allah dan Membenci Karena Allah. Maka kepada setiap muslim kita wajib mencintai dan mendukung mereka dalam ketaatan, walaupun berbeda Organisasi. Yang disebut Oleh rasulullah bahwa Islam terpecah menjadi 73 kelompok bukanlah terpecah menjadi 73 Organisasi, tetapi yang dimaksud adalah perpecahan manhaj / kelompok pemikiran, seperti Khowarij, Murji’ah, Qodariyah dll.

Adapun masalah fanatic terhadap Organisasi, maka sekali lagi ini bukan alasan atau dalil untuk melarang Setiap Organisasi, karena tidak Semua Organisasi Seperti Itu. Walaupun faktanya memang ada segelintir orang yang fanatic terhadap organisasinya, sehingga ia mengkafirkan atau menganggap sesat orang lain yang berada di luar organisasinya. Jika seperti itu kenyataannya maka jelas hal itu diharamkan dalam Islam. Namun sekali lagi ditekankan “Tidak Semua Organisasi Seperti Itu” Sehingga tidak bisa menjadikan alasan tersebut untuk melarang Organisasi Secara Totalitas.

Penyakit fanatic memang membahayakan, namun fanatic pun bisa terjadi pada perorangan. Contohnya: Jika ada orang yang hanya mau mengaji kepada Ustadz “A” dan tidak mau mengaji kepada Ustadz lainnya, karena menganggap selain Ustadz “A” adalah sesat dan masuk neraka, bahkan menganggap Ustadz “A” pasti benar, tidak pernah salah dan pasti masuk surga. Maka kita tidak ragu lagi bahwa orang tersebut telah terjatuh pada sifat Fanatik kepada Figur, dan ini adalah hal yang sangat berbahaya. Sebagaimana hal ini menimpa Kaum Nuh As yang menganggap orang-orang Soleh mereka sebagai Tuhan karena mengkultuskan orang Soleh tersebut.

Jadi, walaupun fanatic itu berbahaya, namun meninggalkan organisasi karena takut fanatic adalah sebuah kesalahan. Sebab ia telah menyelisihi Tauladan dari Rasulullah dan para Sahabatnya. Sepertihalnya penyakit Riya’ dalam amal, Riya’ adalah penyakit hati yang berbahaya, dan Solat berjama’ah di masjid sangat rawan sekali Riya’. Namun jika seseorang meninggalkan solat berjama’ah hanya karena takut riya’ maka berarti ia telah salah total. Seharusnya ia tetap solat berjama’ah sambil tetap memohon kepda Allah agar dihilangkan dari sifat Riya’. Begitupun dengan Berorganisasi dalam Da’wah.

Keenam: Para Ulama besar di arab pun, tidak pernah melarang jama’ah/berorganisasi dalam dakwah, kami memiliki fatwa-fatwa ulama besar dari timur tengah.. seperti syaikh bin Baz, syaikh Solih al-Fauzan dll.

Kesimpulannya : Berharokah/Organisasi Itu Sangat Dianjurkan, Selama Harokah/Organisasi itu berdiri di atas Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Mari kita berharokah, karena Setan akan mengincar orang-orang yang sendirian..!!

Senin, 13 Juni 2011

Cinta Palsu Ala Syi'ah


“Kami Ahlulbait!

Kami Cinta Dan Selalu Membela Ahlulbait!”

Itulah slogan yang dielu-elukan oleh pembesar-pembesar agama Syi’ah. Dengan slogan dan doktrin ini mereka membius, menghipnotis dan mengecoh antek-anteknya yang berputar dalam satu orbit dan standby di frekwensi yang sama. Dengan dalih bahwa Ahlulbait berhak mendapatkan khumus (seperlima) dari harta setiap orang yang beragama Syi’ah, mereka dengan mudahnya mengeruk dan menjarah harta para pengikutnya. Dan yang paling mengerikan lagi, pemerkosaan dan perzinahan terselubung yang mereka lakukan terhadap pengikutnya dari kaum Hawa, seakan sudah menjadi legal dan halal dengan label nikah mut’ah yang mereka tempelkan. Dengan mencatut nama Ahlulbait semua itu mereka lakukan, sedangkan Ahlulbait sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka serta bersih dari tuduhan palsu mereka itu.

Saudaraku…!

Sebelum kita membongkar cinta palsu Syi’ah terhadap Ahlulbait, tentunya kita harus tahu terlebih dahulu, Siapakah Ahlulbait itu? Ahlulbait adalah orang-orang yang sah pertalian nasabnya sampai kepada Hasyim bin Abdi Manaf (Bani Hasyim) baik dari kalangan laki-laki (yang sering disebut dengan syarif) atau wanita (yang sering disebut Syarifah), yang beriman kepada Rosululloh dan meninggal dunia dalam keadaan beriman. Dan istri-istri beliau juga termasuk Ahlul Bait.

Siapa saja yang mengaku dirinya Ahlussunnah, maka dia berkewajiban untuk mencintai dan mengakui kedudukan mereka yang sangat mulia di sisi Alloh dan Rosul-Nya. Dan di antara kemuliaan itu adalah:

1. Alloh membersihkan Ahlulbait dari kejelekan. (Lihat QS. al-Ahzab: 33)

2. Perintah Rosululloh untuk berpegang dengan bimbingan mereka. Beliau bersabda:

“Wahai manusia sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu kepada kalian yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat: Kitabulloh dan Ahlulbaitku.” (HR. at-Tirmidzi dengan sanad shohih)

Oleh karena itu, tidak ragu lagi, bahwa Ahlulbait memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Alloh dan Rosul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan tidak ragu lagi bahwa mencintai Ahlulbait adalah wajib.”

Para sahabat adalah orang-orang yang sangat memuliakan Ahlulbait baik dari kalangan para sahabat sen-diri maupun para tabi’in. Demikianlah hendaknya sikap seorang Muslim kepada mereka.

Namun sudah barang tentu, tolak ukur kecintaan terhadap mereka semata-mata karena iman dan kekerabatan mereka dengan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tanpa iman tidak akan bermanfaat sama sekali kekerabatan seseorang dengan Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Yaitu di hari yang harta dan anak keturunan tidak lagi bermanfaat. Kecuali seseorang yang menghadap Alloh dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89)

Demikian pula bila ada Ahlulbait yang jauh dari sunnah Rosul, maka martabatnya di bawah seseorang yang berpegang teguh dengan sunnah Rosul, walaupun dia bukan Ahlulbait. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat: 13)

Benarkah orang-orang Syi’ah membela dan mencintai Ahlulbait? Ataukah pernyataan mereka itu hanyalah bualan untuk eksistensi agama mereka (Syi’ah) dan untuk memporak-porandakan agama kita (Islam). Untuk mendapatkan jawbannya, mari kita simak bersama ungkapan cinta mereka dalam ben-tuk realitasnya.

Kita sering mendengar atau membaca dalam buku-buku yang ditulis oleh penghulu-penghulu agama Syi’ah, dengan lantangnya mereka mengatakan “Kami mencintai Rosululloh! Kami Mencintai Ahlulbait!” Tapi kalau kita perhatikan, itu semua hanyalah bualan, karena sebenarnya mereka telah menikam Rosululloh dari belakang, dengan membuat hadist-hadist palsu dan berdusta atas nama Rosululloh demi menopang tindakan mereka dalam mengkafirkan para sahabat Nabi .

Mereka tidak segan-segan menta’wil, memutarbalikkan ayat-ayat al-Qur’an untuk dipaksakan memenuhi selera mereka dalam menafsirkannya, sekalipun menyimpang jauh dari kaidah-kaidah bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an itu sendiri. Dan tidak kepalang tanggung, mereka menuduh ayat-ayat al-Qur’an yang tidak dapat dipaksakan untuk memenuhi selera mereka telah diubah ayat-ayatnya dan diganti oleh para Sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahkan sebenarnya, mereka menganggap Kitabulloh secara keseluruhan sudah tidak asli lagi, karena yang asli hanya ada di tangan imam mereka yang ghoib.

Jadi, mana bukti kecintaan orang-orang Syi’ah terhadap Rosululloh dan Ahlulbait?

Buktikanlah cinta kalian wahai orang-orang Syi’ah, dengan mengikuti Rosululloh dan para sahabatnya. Karena itulah konsekwensi logis dari mencintai Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Sejarah Cinta Palsu

Untuk lebih jelas lagi, mari kita simak bukti-bukti kebobrokan cinta palsu mereka terhadap Ahlulbait, yang selama ini mereka gembor-gemborkan.

Apabila kita membaca sejarah Islam, maka sepanjang sejarah itu, tidak akan kita temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas orang Syi’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin, tetapi sebaliknya, yang dibuktikan oleh sejarah adalah:

Pembunuhan terhadap Kholifah al-Faruq Umar Ibnul Khoththob Radhiyallahu Anhu dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu’lu’ah al-Majusi yang diberi gelar oleh Syi’ah dengan gelar Baba Syuja’uddin (Pahlawan agama sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya oleh mereka.
Pembunuhan Kholifah Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu Anhu, telah direncanakan dan dilakukan oleh tangan-tangan berdarah mereka yaitu oleh Abdulloh bin Saba’ dan kader-kadernya.
Khilafah ‘Abbasiah yang merupakan Khilafah Ahlilbait dari anak keturunan al-‘Abbas bin Abdul Mutholib dari Bani Hasyim telah mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum Muslimin melalui pengkhianatan dan persekongkolan pemimpin-pemimpin mereka, Nashiruddin Atthusi dan Ibnul al-gomi dengan Hulaku Khan dan bala tentara Mongolnya.
Berkhianat terhadap kaum Muslimin dan bersekongkol dengan bala tentara Salibis untuk menghalangi Sholahuddin al-Ayyubi agar tidak bisa membebaskan Baitulmaqdis dan al-Aqsho serta seluruh Palestina dari cengkraman balatentara Salibis. Yaitu dengan bentuk kerja sama ke-rajaan mereka yang menamakan diri dinasti Fathimiyyah dengan bala tentara Salibis.
Kerajaan Syi’ah Shofawiyah di Iran telah bersekongkol dengan Yahudi, Nashroni dan Freemasonry untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah, yang merupakan perbentengan terakhir bagi Islam dan kaum Muslimin di kala itu untuk membendung penjajahan Barat; dan yang lebih celaka lagi, mereka membatalkan Hukum Jihad dengan alasan Imam mereka yang ghoib belum keluar dari persembunyiannya.

Kejadian-kejadian ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dielakkan, yang mencatat kejahatan dan pengkhianatan Syi’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin. Sejarah modern hari ini pun mencatat kejahatan-kejahatan mereka yang serupa yang dilakukan oleh Amal Syi’ah maupun Syi’ahnya Khumaini di Lebanon terhadap warga Palestina. Begitu halnya dengan pengkhianatan-pengkhianatan mereka di Afghanistan yang bukan rahasia lagi.

Ini adalah sebagian bukti sejarah atas sikap dan tindakan makar mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang lalu maupun sejarah modern. Dan masih banyak lagi makar-makar yang lainnya kalau kita teliti dan telusuri.

Saudaraku….!

Sudah sangat jelas bagi kita, bahwa cinta mereka adalah cinta palsu yang berbisa, racun yang berbahaya. Mudah-mudahan kita bisa menyelamatkan diri dari arus serangan yang mereka lancarkan, bahkan lebih daripada itu, kita bisa menyelamatkan saudara-saudara kita yang tidak sempat melawan arus atau malah sengaja melebur dengan arus yang begitu derasnya. (Anfalullah, Lc)

Kamis, 13 Januari 2011

Budaya Membaca, Budaya Islam


Kapan terakhir kali Anda mendengar seorang Muslim memenangkan hadiah Nobel dalam bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran? Bagaimana dengan publikasi ilmiah? Sayang sekali, Anda tidak akan menemukan banyak nama kaum Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan makalah-makalah ilmiah. Apa yang kurang? Alasan apa yang kita miliki? Andalah yang bisa menjawabnya.

I. Pendahuluan
Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menanggapi pembangunan di wilayah Arab mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara hanya mampu menerjemahkan 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya! Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya.

Mengapa ada alergi atau keengganan untuk membaca dan menerjemahkan ilmu yang asal-muasalnya berasal dari nenek moyang kita sendiri (Islam)? Padahal upaya utama untuk mendapatkan kembali warisan ilmu terdahulu adalah dengan membaca, menganalisa, mengumpulkan, menyempurnakan dan menyalurkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia.

Mengapa tingkat pendidikan pada kaum Muslim rendah? Sementara ayat pertama dari Al-Qur`an adalah ‘Iqra (berarti: Bacalah). Apakah mereka lupa pada sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa:

“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap orang, laki-laki dan perempuan” (Shahih Al-Bukhari).

Dan bagaimana pula dengan sabda beliau yang menjelaskan:

“Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Namun kenyataannya sekarang, bahwa begitu giatnya kaum Muslim dalam mencari kekayaan materi hingga mereka sendiri tidak tahu bagaimana untuk membelanjakannya. Sikap seperti itu begitu beresiko dan memalukan.

II. Upaya yang harus dilakukan
Keprihatinan akan hal-hal diatas harus dibangun dan tidak sepatutnya lagi hanya sebatas sekat nasionalisme semata, namun harus menyentuh nilai-nilai transendental di bawahnya. Problematika umat Islam tidak hanya berupa serangan budaya asing dengan berbagai bawaan unsur negatifnya, melainkan dari kalangan internal tubuh umat Islam sendiri. Diakui atau tidak, maka saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban non Islam atau sebut saja “Dunia Barat”.

Salah satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan adalah budaya membaca. Karena dengan membaca maka setiap individu akan semakin terbuka daya berpikirnya, semakin luas wawasan dan pengetahuanya. Namun sayang, bangsa Indonesia yang notabene berpenduduk mayoritas Islam kurang memperhatikan tentang hal ini. Budaya membaca bagi bangsa Indonesia khususnya kaum Muslim masih berada jauh di bawah “bangsa-bangsa Barat”.

Berdasarkan kategori tertentu, ada sebuah penelitian tentang penjualan barang-barang secara online di internet. Untuk wilayah Indonesia, hasil dari penelitian ini cukup mengejutkan. Buku menduduki peringkat terakhir yang di jual di internet. Yang tertinggi masih berupa barang-barang konsumtif, seperti alat-alat elektronik dan kendaraan. Bandingkan dengan Amerika Serikat dan juga beberapa negara maju di Eropa. Mereka meletakkan buku pada peringkat teratas dari barang-barang yang di transaksikan secara online. Demikian pula perbandingan kualitas dan kuantitas dari perpustakaan mereka, yang bila dibandingkan dengan negara Indonesia maka memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Menilik penjelasan diatas, maka jangan heran bila hingga saat ini negara-negara yang berasaskan Islam atau yang berpenduduk mayoritas Islam selalu menjadi penonton dalam kancah percaturan ilmu pengetahuan dan teknologi dunia. Sehingga dengan demikian sangat perlu dilakukan perubahan yang mendasar bagi setiap individunya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh manusia Indonesia khususnya umat Islam, agar kembali menjadi obor pengetahuan. Diantaranya sebagai berikut:

A. Faedah membaca
Dari buku saya yang berjudul: “Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa” maka dijelaskan beberapa faedah yang di dapatkan dengan membaca, diantaranya:

Membaca dapat melatih kecerdasan, mengembangkan akal dan pikiran, serta membersihkan hati.
Membaca bisa mengasah daya ingat dan pemahaman serta meningkatkan pengetahuan.
Membaca dapat membantu seseorang untuk berpikir lebih jernih dan tenang. Membuat hati agar lebih terarah serta tidak berbuat yang tidak berguna dalam kehidupan.
Banyak membaca, maka akan memotivasi seseorang untuk menciptakan sebuah karya tulis yang dapat berguna bagi orang lain.
Dengan membaca, maka seseorang akan terhindar dari kejenuhan, sebab ia telah memiliki obat penawarnya yang positif.
Meskipun apa yang ia baca itu tidak bisa mendatangkan faedah, maka setidaknya seseorang telah terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik selama waktu luangnya, karena ia telah menghabiskan waktu hanya dengan duduk tenang dalam membaca.
Dengan banyak membaca, maka akan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detil, serta bisa mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan.
Membaca telah berhasil membuat seorang diri terbebas dari belenggu kebodohan dan menciptakan sebuah budaya yang sangat positif bagi kehidupan umat manusia.
Dengan membaca, maka akan menimbulkan banyak ide dan gagasan baru, sehingga bisa meningkatkan produktifitas seseorang.
Dengan membaca, maka seseorang dapat mengambil sebuah pelajaran dari pengalaman orang lain atau kebijaksanaan dari kalangan bijak bestari.

B. Keutamaan ilmu dibandingkan harta
Diriwayatkan suatu hari sepuluh orang terpelajar mendatangi Imam Ali bin Abi Thalib RA. Mereka ingin mengetahui mengapa ilmu lebih baik daripada harta, dan mereka meminta agar masing-masing dari mereka diberikan jawaban yang berbeda. Imam Ali RA pun menjawab sebagaimana berikut:

Ilmu adalah warisan Nabi, sebaliknya harta adalah warisan Fir`aun. Sebagaimana Nabi lebih unggul daripada Fir`aun, maka ilmu lebih baik daripada harta.
Engkau harus menjaga hartamu, tetapi Ilmu akan menjagamu. Maka dari itu, Ilmu lebih baik daripada harta.
Ketika Ilmu dibagikan ia semakin bertambah. Ketika harta dibagikan ia berkurang. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
Manusia yang mempunyai banyak harta memiliki banyak musuh, sedangkan manusia berilmu memiliki banyak teman. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu menjadikan seseorang bermurah hati karena pandangannya yang luas, sedangkan manusia kaya dikarenakan kecintaannya kepada harta menjadikannya sengsara. Seperti itulah bahwa ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu tidak dapat dicuri, tetapi harta terus-menerus terekspos oleh bahaya akan pencurian. Maka, ilmu lebih baik daripada harta.
Seiring berjalannya waktu, kedalaman dan keluasan ilmu bertambah. Sebaliknya, timbunan dirham menjadi berkarat. Untuk itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Engkau dapat menyimpan catatan kekayaanmu karena ia terbatas, tetapi engkau tidak dapat menyimpan catatan ilmumu karena ia tidak terbatas. Untuk itulah mengapa ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu mencerahkan pikiran, sementara harta akan cenderung menjadikannya gelap. Maka dari itu, ilmu lebih baik daripada harta.
Ilmu lebih baik daripada harta, karena ilmu menyebabkan Nabi berkata kepada Tuhan “Kami menyembah-Nya sebagaimana kami adalah hamba-hamba-Nya”, sementara harta membahayakan, menyebabkan Fir`aun dan Namrud bersikap congkak dengan menyatakan diri mereka sebagai Tuhan.

C. Kewajiban dalam mencari ilmu pengetahuan
Alasan utama dibalik kegemilangan kaum Muslim awal terletak pada pencarian mereka terhadap ilmu pengetahuan, walaupun ilmu itu harus diperoleh di tempat yang sulit dan tersembunyi. Sebagai generasi Islam sejati, mereka telah mengerti akan sabda Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan:

“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah (fisabilillah) hingga ia kembali (ke rumahnya)” (HR. Tirmidzi)

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim)

Sehingga dengan menela`ah semua hadits Nabi Muhammad SAW diatas, maka menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap umat Islam.

D. Kualitas kepemimpinan dan dukungan pemerintah
Pada zaman awal keislaman, penguasa kaum Muslim tidak hanya menjadi pendukung edukasi, tapi mereka sendiri merupakan para sarjana yang hebat. Mereka juga dikelilingi oleh kaum terpelajar seperti para ahli filosofi, ahli ilmu falak (Astronomi), ahli fiqh, ahli hadits, ulama, analis, penyair, matematikawan, ilmuwan, insinyur, arsitek dan dokter. Kaum terpelajar memiliki nilai yang tinggi di pemerintahan. Mereka membangun perpustakan, universitas, pusat penelitian, dan observatorium. Mereka mengundang kaum terpelajar dari seluruh bangsa dan agama untuk datang ke wilayah mereka. Sehingga kota yang mereka bangun menjadi metropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang. Sebagaimana universitas saat ini seperti Harvard, MIT, Standford, Yale dan Princeton, universitas-universitas kaum Muslim dahulu adalah universitas terunggul di dunia.

Dan apa yang kita miliki saat ini? Kebanyakan pemimpin di negeri kaum Muslim adalah setengah terpelajar, yang dikelilingi (dengan tingkat pengecualian yang rendah) oleh kroni-kroni mereka yang kualifikasi terpenting bagi mereka bukanlah kompetensi atau pendidikan, tetapi karena berhubungan dengan penguasa atau keluarganya.
Penguasa-penguasa kita (dengan tingkat pengecualian yang rendah) telah korup dan mementingkan diri sendiri. Tidak heran, mereka dikelilingi oleh orang-orang korup yang diberikan posisi untuk menggemukkan simpanan kerabat-kerabat mereka. Lebih lanjut, ketika jumlah istana dan rumah-rumah megah terus meningkat, maka tidak satupun universitas yang dibangun oleh penguasa-penguasa ini. Hanya beberapa persen dari budget negara yang dibelanjakan untuk pendidikan dan penelitian.

Jadi, adalah wajar ketika saat ini kita terus menyaksikan begitu suramnya catatan penemuan ilmiah atau prestasi dari negara-negara Muslim. Tidak ada satupun universitas dari negeri kaum Muslim yang berada pada peringkat 100 universitas terbaik di dunia.

E. Melangkah melampaui apa yang diharapkan
Sebagaimana yang dikemukakan diatas, kaum Muslim sangat jauh tertinggal pada setiap bidang pengetahuan. Adalah tidak mungkin menutupi jurang yang semakin lebar ini hanya dengan mengikuti arus atau hanya melakukan apa-apa dengan langkah seadanya. Strategi kita seharusnya adalah berusaha melangkah melampaui kemampuan rata-rata kita, melakukan hal-hal yang lebih besar dan terus mengkaji hakekat ajaran Islam yang Rahmatan lil `alamin. Sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh para ulama, ilmuwan, pendidik dan para pejabat kekhalifahan Abasiyah di Baghdad.

III. Kesimpulan
Saudaraku sekalian, dengan deretan ilmuwan Muslim pada masa kejayaan Islam (baca: Peradaban Islam: Obor pengetahuan), tidaklah sulit untuk menyetujui apa yang dikatakan oleh George Sarton, ”Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para Muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim.

Jika negara-negara Muslim atau negara yang berpenduduk mayoritas Islam ingin mengambil kembali khazanah pengetahuan yang hilang, mereka harus meneliti kembali jejak mereka terdahulu yang membuat mereka sukses, dan menyingkirkan cara-cara yang dipakai pada saat ini karena mengantarkan mereka pada kegelapan dan kehancuran. Sebab, sejak seribu tahun yang lalu, ketika umat Islam sebagai pembawa cahaya pengetahuan dunia pada zaman kegelapan. Mereka menciptakan peradaban Islam itu karena didorong oleh ajaran agama, gemar membaca, melakukan penelitian serta membuat penemuan ilmiah. Sehingga dunia lain (Barat) pun menjadi iri dan belajar banyak dari mereka selama berabad-abad.

Yogyakarta, 17 April 2010
Mashudi Antoro (Oedi`)

[Disadur dari buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa, karya; Mashudi Antoro]

Budaya Menulis


Menulis adalah bagian dari media berekspresi. Seseorang menulis karena ingin menuangkan ide yang telah menumpuk dalam pikirannya. Banyak orang tertarik dalam bidang tulis-menulis salah satunya ingin menjadi seseorang yang dikenal. Terlepas dari hal itu, menulis adalah suatu kegiatan positif yang mendayagunakan kata-kata.

Seseorang yang tidak dapat menuangkan ide-ide secara lisan dapat mengungkapkannya melalui tulisan. Dengan menulis, seorang seperti membenamkan diri dalam proses kreatif. Karena ketika menulis, itu berarti seseorang tersebut menciptakan sesuatu, yang juga berarti melontarkan pertanyaan-pertanyaan, mengalami keraguan dan kebingungan, sampai akhirnya menemukan pemecahan. Dan ketika proses kreatif tersebut semakin dilatih, seseorang akan semakin mudah untuk mengalihkan keahliannya kepada bidang lain yang juga membutuhkan solusi kreatif.

Mengingat banyaknya manfaat kegiatan menulis, budaya menulis tentu perlu ditumbuhkembangkan. Namun untuk menumbuhkan kebudayaan tersebut hal yang pertama kali yang harus dimiliki yaitu menumbuhkan dulu kecintaan dan kebiasaan kita dalam hal membaca. Sebab dibutuhkan kemampuan ataupun kecerdasan bahasa guna mengungkapakan pemikiran agar ketika menulis, seorang penulis dapat dengan mudah dalam hal pemilihan kata yang tepat didalam tulisannya. Dan membaca merupakan solusinya. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak juga kata-kata yang bisa diproduksi. Ibarat semakin banyak minum air, maka semakin banyak mengeluarkan air.

Suatu fenomena yang terjadi saat ini adalah, menulis ibarat sebuah momok yang menakutkan. Padahal dalam menempuh pendidikan, kita tidak dapat melepaskan aktivitas kita dari kegiatan membaca dan menulis. Seringkali kita menemukan, banyaknya jumlah mahasiswa yang harus tertunda kelulusannya karena terkendala dalam tugas akhirnya dalam penulisan skripsi. Tidak hanya itu, seringkali juga kita menemukan banyak kasus plagiat yang terjadi di Indonesia, hanya demi mengejar suatu gelar yang sangat prestise. Seperti kasus plagiat yang baru-baru ini menimpa Anak Agung Banyu Prawita, seorang guru besar jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Katolik Parahyangan. Gelar Profesor sekaligus Guru besar terpaksa harus dicopot, sebab artikelnya yang berjudul RI as A New Middle Power memiliki banyak kesamaan dengan artikel yang ditulis Carl Ungerer, penulis asal Australia. Tulisannya berjudul The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy yang telah lebih dulu dimuat di Australian Journal of Politics and History Volume 53, 2007.

Penjiplakan tersebut tentu bukan “prestasi” yang patut dibanggakan oleh bangsa ini. Sebab sebagai bangsa bermartabat, seharusnya kita malu dan khawatir karena punya “budaya menjiplak”. Sebab, jika penjiplakan dibiarkan terus-menerus, pelan tetapi pasti bangsa ini bakal kehilangan jati diri, karakter, dan daya cipta.
Kasus penjiplakan yang terjadi tersebut tentu tidak perlu terulang lagi apabila masyarakat kita telah dapat membudayakan kembali budaya baca yang menjadi titik pangkal dari budaya menulis.. Budaya baca saat ini masih merupakan menjadi kendala yang sangat besar bagi kita harus lebih dikedepankan kembali untuk meningkatkan kemauan untuk membaca dimasyarakat.

Budaya sedikit-sedikit membaca yang menjadi slogan bagi masyarakat Islam di masa keemasannya, bertolak belakang dengan budaya kita yang tidak sedikit-dikit membaca, namun hanya sedikt membaca. Kita dapat melihat di televisi, baik dalam situasi apapun, seperti didalam kendaraan pada saat bepergian atau menunggu kedatangan bis umum, banyak diantara masyarakat Jepang memanfaatkan waktu luangnya tersebut dengan membaca. Bertolak belakang halnya dengan budaya kita, yang lebih senang untuk bercanda didalam bis ataupun memanfaatkan waktu didalam bis untuk memejamkan matanya.

Kebiasaan tersebut seharusnnya dapat kita ubah. Kita tidak perlu hingga meniru masyarakat Jepang yang begitu senangnya dalam hal membaca. Kita dapat memulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu dengan menanyakan sudah berapa lembar dari sebuah buku yang telah saya baca dalam satu hari ini. Bagaimana mungkin kita dapat membuat sebuah tulisan yang baik apabila kita jarang sekali membaca. Sebab aktivitas membaca dan menulis pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Untuk dapat melakukan aktivitas menulis, seseorang dituntut membudayakan aktivitas membaca. Namun demikian, aktivitas membaca yang menjadi landasan menulis ini ternyata belum begitu maksimal.

Padahal budaya membaca dapat membuka cakrawala pengetahuan yang sangat berguna. Lebih dari itu, membaca dan menulis bukan sekedar menyampaikan ide, informasi, atau data dan peristiwa. Namun melatih seseorang untuk dapat berperilaku jujur. sebab tulisan yang dibuat atas dasar kejujuran dapat memberikan energi berupa kepuasan dan semangat untuk berkarya bagi penulis.

Ada banyak media yang dapat kita gunakan sebagai tempat kita menuangkan tulisan kita. Salah satu media virtual yang relevan untuk meningkatkan kompetensi profesional seseorang dalam mengembangkan aktivitas dan budaya menulis adalah blog (weblog).

Akan tetapi kehadiran tekhnologi jejaring sosial seperti facebook dan twitter yang perkembanganya sangat pesat, justru menyebabkan penurunan jumlah pengguna blogger yang biasa menghasilkan karya-karya berupa tulisan ilmiah yang sangat berguna. Memang kita juga tidak dapat memungkiri, hadirnya jejaring sosial tersebut menumbuhkembangkan budaya menulis bagi masyarakat. Namun tulisan yang dihasilkan lebih banya berupa curhat seputar cinta dan artikel copy paste dari sumber lain. Meski tentu saja ada satu dua orang yang saya nilai sebenarnya memiliki bakat besar dalam bidang tulis menulis dan saya menyukai tulisan yang dibuatnya, namun secara umum memang harus diakui bahwa budaya menulis secara aktif masih belum membudaya. Terlebih jenis tulisan yang bersifat reflektif dan personal. Mereka hanya tertarik menulis dengan karakter pendek dan hanya berupa ungkapan status daripada menulis panjang dan berisi hal-hal positif dan lebih detail, seperti saat menulis di blog. Hal ini didukung lagi dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai percakapan atau obrolan yang santai ketimbang harus menelaah tulisan yang panjang lagi dan menjenuhkan.

Pemerintah seharusnya peka dengan segala keadaan ini. Dibutuhkan suatu upaya yang dapat mendorong para generasi muda saat ini guna lebih membudayakan kegiatan membaca dan menulis. Sebab cepat atau lambat, hal ini akan berdampak serius bagi sumber daya manusia di negara kita ini. Penjiplakan yang marak terjadi tentu tidak akan terjadi apabila membaca dan menulis telah menjadi suatu kebudayaan bagi masyarakat kita.
Mengatasi fenomena ini lebih tepat langkah awal yang ditempuh yaitu dengan menghidupan kembali gerakan gemar membaca dan gemar menulis dari level pendidikan yang lebih rendah (Tk dan Sd) sampai keperguruan tinggi yang langsung diimplementasikan dalam kehidupan dan bukan cuma hanya lewat seminar dan simposium yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu yang cendrung untuk mengkonsumsi buat memperkaya wawasan sendiri.

Salah satu cara penyelenggarakan pendidikan tepat adalah dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat. Penegasan itu jelas tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab III Pasal 4 ayat 5. Begitu pentingnya sehingga lelulur bangsa Indonesia menciptakan ungkapan membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudang ilmu adalah buku.
Faktor penting dalam masyarakat yang mampu mendorong tumbuhnya minat baca adalah guru. Sebab guru memiliki peluang untuk menciptakan pembelajaran yang berbasis buku, juga mendorong siswa untuk aktif mengeksplorasi konteksnya dalam masyarakat.

Jika diamati, sebagian besar kegiatan di sekolah lebih berorientasi pada misi pendidikan dan pengajaran oleh guru di kelas, sedangkan visi dan misi ilmiah dalam bentuk penulisan dan publikasi ilmiah sering terabaikan. Implikasi dari kenyataan tersebut, penulisan dan publikasi karya ilmiah di kalangan tenaga pendidik masih memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan rendahnya produktivitas guru ataupun dosen dalam menulis dan mempublikasikan karya ilmiah, termasuk di dalamnya pemakaian bahasa Indonesia ragam tulis ilmiah.
Tidak hanya itu, keengganan para dosen atau tenaga pendidik selama ini untuk menulis disebabkan banyak diantara mereka yang tidak punya banyak waktu serta imbalan menulis yang masih relatif kecil. Karena itu, alangkah lebih baik bila pemerintah juga untuk menyediakan dana bagi para penulis dari kalangan tenaga pendidik.

Di lain pihak, motivasi internal dalam diri mahasiswa sendiri untuk giat menulis tentu saja sangat diharapkan. Respons positif diharapkan muncul dari mahasiswa dengan, pertama, mengerjakan tugas-tugas penyusunan makalah, paper, laporan praktik/observasi sesuai kaidah keilmuan dan kepenulisan yang benar. Kedua, berperan dan berpartisipasi aktif dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah sebagai upaya menerapkan dan menguji ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya. Ketiga, mengembangkan ilmu pengetahuan terkait jurusan dan program studinya melalui karya-karya tulis yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Sumber bacaan atau referensi tentunya sangat mempengaruhi hasil tulisan. Buku yang dibaca oleh seorang dapat berpengaruh dalam pengembangan karya. Membaca sesuai kebutuhan menjadikan tulisan lebih bernilai karena memiliki dasar-dasar yang kuat. Dengan membaca seseorang mempunyai wawasan yang lebih luas dan memiliki perspektif lain mengenai dunia yang sedang digeluti.

Membaca merupakan awal dari tindakan menulis. Seseorang yang telah banyak melahap buku bacaan sekali waktu ingin menumpahkan kembali gagasan-gagasan yang telah dihimpunnya. Namun untuk membangun budaya membaca dan menulis dibutuhkan sarana dan prasarana yaitu buku dan perpustakaan yang harus dibangun sampai tingkat desa bahkan RT/RW. Dan hal inilah salah satu faktor yang menyebabkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia tergolong rendah. Sebab sarana dan prasarana khususnya perpustakaan baik diperpustakaan sekolah maupun diperguruan tinggi sekalipun yang buku-bukunya belum mendapat prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan.

Perpustakaan merupakan sarana sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui beraneka bacaan. Berbeda dengan pengetahuan dan ketrampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat digumuli peminatnya masing-masing.

Diharapkan di masa kini dan yang akan datang perpustakaan di Indonesia menjadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia dan merupakan kebutuhan hidup sehari-hari. Peranan perpustakaan dalam menumbuh kembangkan minat baca dan cinta buku merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebab menciptakan manusia cerdas, terampil, dan berkualitas ditentukan oleh membaca. Tanpa membaca tiada berarti apa-apa bagi manusia.
Orang yang kutu buku belum tentu dapat mengungkapkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan. Namun seorang penulis pasti juga seorang pembaca yang baik. Semakin banyak buku yang kita baca, semakin banyak pula ide yang masuk kedalam otak kita. Jika kita hanya membaca tanpa usaha untuk menulis, maka kita tak ubahnya ibarat sebuah gudang buku, bukan penerbit buku. Gudang hanya untuk menyimpan barang-barang yang biasanya lama tanpa mengeluarkan atau menciptakan karya yang baru. Setiap pabrik atau perusahaan memiliki gudang namun permasalahannya tidak semua gudang merupakan kepunyaan pabrik. Pabrik memproduksi barang baru sedangkan gudang hanya menyimpannya. Semua gudang merupakan kepunyaan pabrik. Pabrik memproduksi barang baru sedangkan gudang hanya menyimpannya.

Kita perlu merubah paradigma kita yang selama ini puas dan bangga hanya dengan mengoleksi dan membaca karya-karya orang lain, dengan menciptakan karya tulis untuk orang lain. Kita jangan puas hanya sebagai konsumen, yang membeli, mengumpulkan dan membaca pikiran orang lain. Kita perlu menjadi produsen untuk menciptakan karya yang dapat dinikmati oleh orang lain. Oleh karena itu, mari kita menjadikan membaca dan menulis menjadi budaya dalam kehidupan kita sehari hari.

http://chandrasilaen.wordpress.com/2010/07/24/budaya-menulis/ dengan sedikit edit dari Admin

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru