Selasa, 13 Maret 2012

Yaa robbi bil musthofa, baligh maqo sidana.. Adalah Bid'ah


"Yaa robbi bil musthofa, baligh maqo sidana, waghfirlana mamadho, ya wasi’an karomi…"
Artinya: "Wahai Rabbku, dengan (Nabi Muhammad) Al-Mushthafa, sampaikanlah segala maksud kami, ampunilah untuk kami apa yang telah berlalu, Wahai Yang Maha Luas kemurahannya.."

Doa di atas terdapat bentuk tawassul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan hal tersebut dianggap oleh para ulama sebagai bid’ah dalam agama. Tawassul hanya disyariatkan dengan menggunakan asma’ul husna, amalan shalih, atau doa orang shalih yang masih hidup pada hal yang dia manpu. Selain itu, masuk dalam tawassul bid’ah atau syirik. Namun, doa di atas tidak dianggap sebagai kesyirikan karena doa kepada Allah, tidak bentuk penyerahan ibadah kepada selain Allah. 

Berikut ini adalah fatwa para ulama mengenai tawasul terhadap Rosululloh
Pertanyaan:
Apa hukum tawassul kepada penghulu para Nabi (Muhammad صلی الله عليه وسلم); adakah dalil-dalil yang mengharamkannya ?

Jawaban:
Mengenai hukum tawassul kepada Nabi صلی الله عليه وسلم (menjadikan beliau sebagai perantara-pent.) harus dirinci dulu;

Bila hal itu dilakukan dengan cara mengikuti beliau, mencintai, taat terhadap perintah dan meninggalkan larangan-larangan beliau serta ikhlas semata karena Allah di dalam beribadah, maka inilah yang disyariatkan oleh Islam dan merupakan dien Allah yang dengannya para Nabi diutus, yang merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani dengan syariat-pent.) serta merupakan sarana dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sedangkan bertawassul dengan cara meminta kepada beliau, beristighatsah kepadanya, memohon pertolongan kepadanya untuk mengatasi musuh-musuh dan memohon kesembuhan kepadanya, maka ini adalah syirik yang paling besar. Ini adalah dien Abu Jahal dan konco-konconya semisal kaum paganis (penyembah berhala). Demikian pula, bila dilakukan kepada selain beliau seperti kepada para Nabi, wali, jin, malaikat, pepohonan, bebatuan ataupun berhala-berhala.

Disamping itu, ada jenis lain dari tawassul yang dilakukan banyak orang, yaitu tawassul melalui jah(kedudukan) beliau, hak atau sosok beliau, seperti ucapan seseorang, "Aku memohon kepadaMu, Ya Allah, melalui NabiMu, atau melalui jah NabiMu, hak NabiMu, atau jah para Nabi, atau hak para Nabi, atau jah para wali dan orang-orang shalih", dan semisalnya, maka ini semua adalah perbuatan bid'ah dan merupakan salah satu dari sarana kesyirikan. Tidak boleh melakukan hal ini terhadap beliau ataupun terhadap selain beliau karena Allah سبحانه و تعالى tidak pernah mensyariatkan hal itu sementara masalah ibadah bersifat tauqifiyyah (bersumber kepada dalil,pent.) sehingga tidak boleh melakukan salah satu darinya kecuali bila terdapat dalil yang melegitimasinya dan syariat yang suci ini.

Sedangkan tawassul yang telah dilakukan oleh seorang sahabat yang buta kepada beliau semasa hidupnya, maka yang sebenarnya dilakukannya adalah bertawassul kepada beliau agar berdoa untuknya dan memohon syafaat kepada Allah sehingga penglihatannya normal kembali. Jadi, bukan tawassul dengan (melalui) sosok, jah (kedudukan) atau hak beliau. Hal ini secara gamblang dapat diketahui melalui jalur cerita dari hadits[1] (tentang itu) dan melalui penjelasan yang diberikan oleh para ulama as-Sunnah ketika menjelaskan hadits tersebut.

Syaikhul Islam, Abu al-Abbas, Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ telah memaparkan secara panjang lebar mengenai hal itu di dalam kitab-kitabnya yang demikian banyak dan bermanfaat, di antaranya kitab yang berjudul: "al-Qa'idah al-Jalilah Fi at-Tawassul wa al-Wasilah". Ini adalah kitab yang amat bermanfaat dan pantas untuk dirujuk dan dipelajari.

Hukum bertawassul seperti ini boleh, bila kepada orang-orang yang masih hidup selain beliau, seperti ucapan anda kepada saudara anda, bapak anda atau orang yang anda anggap baik, "Berdoalah kepada Allah untukku agar menyembuhkan penyakitku!" atau "agar memulihkan penglihatanku", "menganugerahiku keturunan", dan semisalnya. Kebolehan akan hal ini adalah berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama. Wallahu waliyy at-Taufiq.[2]



[1] Yang dimaksud adalah hadits yang diriwayatkan oleh 'Utsman bin Hunaif: bahwa seorang laki-laki buta datang ke hadapan Nabi صلی الله عليه وسلم seraya berkata: "Berdoalah kepada Allah agar menganugerahiku afiat (kesehatan)". Lalu beliau bersabda: "Engkau boleh pilih; aku doakan sekarang untukmu atau aku urungkan dan ini adalah baik bagimu". Orang tersebut berkata: "Berdoalah kepadaNya sekarang". Kemudian beliau menyuruhnya agar berwudhu', lalu dia berwudhu' dengan sempurna, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa dengan doa ini:
اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَ لُكَ وَأَ تَوَجَّهُ إِ لَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ. يَا مُحَمَّدُ, إنِّي تَوَ خَّهْتُ بِكَ إِلىَ رَبِّيْ فِيْ حَا جَتِيْ هَذِهِ فَتَقْضِيْ لِيْ اَللَّهُمَّ شَفِعْهُ فِيَّ
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu melalui nabiMu, Muhammad, nabi rahmat. Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku menghadap kepada Rabbku melaluimu dalam hajatku ini sehingga engkau dapat memutuskannya untukku. Ya Allah, anugerahilah ia syafaatMu untukku". (HR. Ahmad, Juz 8, hal. 138; at-Tirmidzi, kitab ad-Da'awat, no. 3578; an-Nasa'i, kitab 'Amal al-Yaum wa al-Lailah, hal. 204 serta Ibnu Majah, kitab Iqamah ash-Shalah, no. 1358).
[2] Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, hal. 25-26, Penerbit Darul Haq.

92 komentar:

  1. berarti pengarang Sholawat tsb Imam Nawawi ra tidak ngerti arti bid'ah ato kurang Ilmu agamanya ato kitanya yg kurang tau maksud doa tsb sehingga berpendapat Bid'ah. Wallahu Alam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka ("Yang Meng Upload Itu") Merasa dirinya lebih baik daripada Imam Nawawi :D

      Hapus
    2. Yang upload bid'ah itu sok alim. Emang elu udah kenal Imam Nawawi apa? Elu itu baru lahir kemaren pake acara bid'ah2 segala. Ngaji itu yang bener, jangan cuma diinternet. Cari sanad yang shohih, yang sampai Rosululloh SAW. Elu hebat bener nganggep itu Bid'ah, yangmana elu sudah gak mau minta syafaat rasulullah yaumal jaza'.

      Hapus
    3. Dalam kitab apa imam nawawi mensyariatkan hal ini

      Hapus
    4. org goblog ga usah di tanggap

      Hapus
    5. org goblog ga usah di tanggap

      Hapus
    6. Meskipun (jika) kenyataanya Imam Nawawi yg membuatnya, beliau tetap dikatakan bersalah, karena makna bait yaa rabbi bil musthofa mengandung kesyirikan, meminta kepada orang yg shalih (Nabi,ulama,kiyai,dst) yg telah meninggal, dan kita telah dilarang oleh Allah dan rasulNya utk melakukan hal tersebut. Ulama itu tidak maksum dan kita tidak wajib mengikutinya (ulama tsb) jika telah keluar dari AlQur'an dan AsSunnah serta Ijma para Ulama. Toh kenyataanya sampai saat ini belum terbukti syair shalawat itu dibuat oleh imam Nawawi rahimahullah.

      Hapus
  2. sekarang kan lagi demam bid'ah...soalnya lagi hits sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup,,,,benar sekali,saat ini banyak dari umat mengamalkan ajaran2 yg makin jauh dari yg diajarkan oleh rosululloh

      Hapus
    2. benar, seperti membunuh umat islam yang tidak mengikuti ajaran islam tertentu seperti isis dan bibit-bibitnya. bahkan ajaran mereka boleh ngebom masjid jika yang shalat di situ bukan golongan mereka. karena mereka merasa golongan merekalah yang paling benar. di zaman Rasulullah tidak ada perang menggunakan bom, jadi apa mereka juga tidak super bid'ah????

      Hapus
  3. DOA UNTUK KEBENARAN DAN KEBAIKAN , SESAMA MUSLIM HARUS SALING MENDOAKAN , BERAWAL DARI DIRI KITA SENDIRI

    BalasHapus
  4. Kalau begitu Al Quran yang sekarang kita pegang bid'ah juga dong ya ? Jaman Rasulullah kan belum ada buku. Susunan suratnya juga ngga urut sesuai dengan urutan ketika di wahyukan kepada Nabi Muhammad dan lain-lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alquran memang blm disusun pada masa rosululloh,krn hal itu mustahil,selama rosululloh masih hidup wahyu dari alloh blm selesai sehinnga tdk bisa dibukukan,tetapi rosululloh sudah menganjurkan,dan juga demi kemaslahatan umat,dimana di masa itu terjadi peperangan dan banyak dari penghafal wahyu yg wafat,sehingga para sohabat mengumpulkan nas nas alquran dan membukukannya.wallohua`lam...

      Hapus
    2. Alquran memang blm disusun pada masa rosululloh,krn hal itu mustahil,selama rosululloh masih hidup wahyu dari alloh blm selesai sehinnga tdk bisa dibukukan,tetapi rosululloh sudah menganjurkan,dan juga demi kemaslahatan umat,dimana di masa itu terjadi peperangan dan banyak dari penghafal wahyu yg wafat,sehingga para sohabat mengumpulkan nas nas alquran dan membukukannya.wallohua`lam...

      Hapus
    3. Bagaimana dengan pesan Rasululloh untuk mengikuti dan taat kepada sahabat-sahabatnya dan Alim ulama setelahnya. Tidakkah pesan itu jelas sekali, nah sekarang mengapa ajaran mereka di bid,ahkan. Kita yang baru bisa mengfal sedikit ayat saja ( itupun terjemahan latin) sudah menyalahkan Imam RA. yang kadar keilmuannya sudah diakui, Alamak

      Hapus
  5. apa iyaa... imam nawawi rahimallah yang mencetuskan yaa rabbi bil...., kitab apa ya?

    BalasHapus
  6. berfikirlah yang positif ... jangan pernah menjatuhkan satu sama lain .. kita dsni hanya belajar dan menyaring ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya saling mengingatkan,bukan untuk menjatuhkan,krn semua muslim adalah saudara

      Hapus
  7. nabi adam juga, sebagai seorang nabi tawasul kepada nabi Muhammad,,, kenapa kita sebagai umatnya yang lebih berhak tidak...?
    maaf,,, kaji lagi ilmu agamanya secara mendalam agar tidak salah menyimpulkan....!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    BalasHapus
  8. mmm, sepertinya kita harus belajar lagi bahasa arabnya deh,, (:

    BalasHapus
  9. Jangan salibg mengingatkan dengan emosi. Saling menasehari harus dengan kesabaran. Lebih aman tinggalkan bid'ah dan laksanakan sunnah. Karena tidak ada dosa jika meninggalkan bid'ah. Akan tetapi jika melaksanakan bid'ah bisa jadi memang sesat. Wallahu a'lam

    BalasHapus
  10. Sebenarnya kita harus berniat itu sebagai sebuah do'a bukannya diniatkan sebagai bid'ah. Kan semua kegiatan/apapun harus diawali dari niat

    BalasHapus
  11. Bid'ah hasanah broo...

    Jangan ragu untuk mengamalkan...

    ayoo baca sholawat terus... Supaya kelak kita mendapat syafaat dari allah lewat lantaran baginda nabi MUHAMMAD...

    Allahumma sholli'alaa sayyidinaa muhammad..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika sholawat sudah dibumikan di dalam lubuk hati kaum muslimin, maka tidak akan lagi muncul perasaan hasad dan dengki. karena hati telah dipenuhi rasa cinta pada Ilahi dan Kanjeng Nabi serta Alim Ulama yang berjasa menerangi jalan kita dalam cahaya Islam

      Hapus
    2. shalawat mah bukan bid'ah hasanah, sahalawat termasuk sunnah. tapi shalawat yang diajarkan sesuai tuntunan rasulullah shallahu 'alaihi wasalam.

      Hapus
  12. DIkit" Bid'ah Bsk" sdh mulai mengkafirkan sodaranya.... gk usah saling cela dan hujat Hasil Akhir Kt Manusia gk ada yg Tau... Klo Yakin pegang Masing" ntar jg keliatan klo udah mau mati,, Mana yg dicintai Allah n Baginda Rasul... klo Anteng Alhamdulillah Klo Klepek" yaa Tanggung Sendiri

    BalasHapus
  13. Klo Ane Haqul Yakin Muka yg Nyusun Karangan Ini Bid'ah !!!

    BalasHapus
  14. semoga ALLAH SWT memberikan hidayah bagi yang mengatakan sholawat/tawasul itu bid'ah & syirik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bersholawat tdk bid`ah hanya acaranya saja yg bid`ah (mauludan/tahlilan/istighosahan/haul).dan tawassul pada orang yg sudah mati yg dianggap syirik,bertawassullah pada orang yg masih hidup atau bertawassul dgn amalan2 baikmu,itu yg diperbolehkan menurut syar`i

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Siapa Yang Mati?
      Jasad atau Ruh.?
      Kaji dengan bijak dan teliti
      "Kematian hanyalah sesaat saja Ketika SAKAROTIL MAUT"
      ibarat jembatan sebagaimana bayi yang hidup dialam rahim lalu dilahirkan ke alam dunia.
      orang yang telah al-marhum dialah orang telah memasuki kehidupan yang sesungguhnya. justru kitalah yang baru merasakan kehidupan yang semu.
      Hanya orang2 yang kurang Telitilah mereka menganggap para al-marhum mati. mereka sebagai makhluk yang bernyawa pernah melewati atau merasakan kematian lalu hidup lagi di alam sana dengan kekuasaan Allah. Jangan salah faham !!!
      Melewati Kematian Bagi Makhluk
      Sedangkan Tetap hidup tanpa mati itu hanya Allah Dan Makhluk Lain Yang Dikhendakinya Seperti Surga Neraka Dsb. Namun Tetap Berbeda dengan Allah
      Karena Yang Tetap Hidup Selain Allah Pernah Mengalami Ketiadaan. Jadi Intinya Mereka yang telah Al-Marhum Tetap Hidup. Dan Ga Ada Istilah Tawasul kepada yang mati. Belajar Dan Terus Belajar Lagi Semoga Bijak Mengkaji Kehidupan Agar Selamat Disaat Menyebrang Kematian.

      Hapus
    4. @fares ente bisa nyebut bid'ah maulid dr mana ente tw....awal mula ada maulid th brp pencetus adanya maulid siapa? tlg smua belajar sejarah jgn ente liat kitab ini kitab itu...bljr yg bnr baru koment wasalam

      Hapus
    5. Yang upload bid'ah itu sok alim. Emang elu udah kenal Imam Nawawi apa? Elu itu baru lahir kemaren pake acara bid'ah2 segala. Ngaji itu yang bener, jangan cuma diinternet. Cari sanad yang shohih, yang sampai Rosululloh SAW. Elu hebat bener nganggep itu Bid'ah, yangmana elu sudah gak mau minta syafaat rasulullah yaumal jaza'.

      Hapus
    6. Postman tolong jelasin arti bid'ah?

      Hapus
    7. Postman tolong jelasin arti bid'ah?

      Hapus
    8. Mas Faresneto, maaf ya. Org yang ahli maulud, pemimpin tahlil di daerah saya namanya Pak Sarkowi. Beliau wafat ketika menjadi bilal di masjid. kira2 Anda bagaimana wafatnya. Husnul khotimah ga?. Sebaiknya Anda perlu mengkaji kitab Ihyak Ulumiddin biar ga lancang memvonis seseorang. Biar tidak SOMBONG

      Hapus
  15. Kembalikan lagi ke Al-Qur'an dan hadisth dalam setiap perkara

    BalasHapus
  16. Shalat dan ngaji dulu yang bener baru bahas masalah bid'ah,, dan kalo posting di kaji dulu jangan sampe ada perpecahan dalam islam,,,

    BalasHapus
  17. Woyyyy main HP, komputer, internetan gah bid'ah yah,...
    di saring dulu brooo klo ngomong mslah bid'ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dipelajari lagi bro definisiii bidah

      Hapus
    2. Bisa dipelajari lagi bro definisiii bidah

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  18. kalau ilmu agamanya baru setengah maateng, tolong jangan seenaknya mengeluarkan perkataan hukum agama.......mendingan gali ilmu agama di pesantren-pesantren, ya minimal 25 tahunan deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. cocok banget, sekarang banyak yang baru beberapa bulan belajar agama, itu juga dari toko buku dah besar kepala dipanggil ustadz, berani nyalahin orang seolah dirinya paling benar.....#PengalamanPribadi...:D

      Hapus
    2. Tentunya kita harus beljarnya di tempat2 yg mengajarkan sunnah bukan bid`ah

      Hapus
    3. Dikampung saya ada menta pecandu baru belajar mengkaji agama di jama'ah kompor (sebutan orang kampung untuk saudara kita yang berpakain secara ekslusif dan hanya mau berjamaah dengan mereka saja. Seminggu masuk, hari kedelapan sudah berkoar-koar memurnikan ajaran agama dengan membid'ahkan semua ibadah ummat di luar kelompoknya. Inikah orang yang akan memurnika islam

      Hapus
  19. Nabi dulu tidak pernah naik bis,,,,
    Apa ya kalo kita naik bis jadi bid'ah???

    BalasHapus
  20. Maaf pada penulis.. mungkin kita semua kurang paham tentang tawasul.. coba simak, http://www.youtube.com/playlist?list=PLJfz_beRuL3CJdt7Nrq48TJGPCL_wxU0H
    Barakallah..
    dan untuk teman2 yg berkomentar, kurang baik berkomentar dg caci maki, emosi, dll. maaf jk ad salah kata..

    BalasHapus
  21. katro lah yang posting ini

    BalasHapus
  22. jangan sembarangan menetukan bidah..myesatkan.umat

    BalasHapus
  23. Yang bid'ah itu menurutku yang meyakini tauhid rububiyah, uluhiyah, dll. Ngapain kita mikir sosok Allah SWT. Otak kita tidak dirancang untuk memikirkan-Nya. Cukup kita yakin La ilaha illallah.

    BalasHapus
  24. Assalmuallaikum....mas bro smua klw sholawat ini, maulid, tahlil ada yg nenyebut bid'ah sy mw tw asal muasal maulid jaman kafilah siapa n pencetusnya siapa tahun brp penyandang dana siapa pd masa itu klw mas bro tw sejarahnya ksh tw sy klw ente gk tw jgn koment ea mslh bid'ah byk bljr dl baru koment wassalam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maulud nabi pertama kali diadakan oleh muids liddienillah seorang pemimpin daulah fatimiyah dimesir pada tahun 361H,
      bahkan saat itu jg ada perayaan maulud ali Ra,fatimah azzahra,hasan we husein.

      Hapus
  25. Banyak ulama yang melakukan hal yang dianggap bid'ah, tp knp saya belum pernah dengar kalau mereka yang menganggap itu bid'ah mau berdialog dengan yg lebih tau misal ustad bid'ah, kyai bid'ah, syech bid'ah. Kenapa beraninya cuma buat postingan2 yg sifatnya menyerang orang awam. Kalau memang bid'ah, tanyakan dulu pada ahli bid'ah apa alasan mereka melakukannya, apakah benar itu bid'ah. Tanyakan pada ustad, kyai dll yg lebih tau. Jangan langsung mengatakan bid'ah dan digembor2kan pada orang awam.

    BalasHapus
  26. mas bro harusnya belajar dllu tetang bid'ah
    agar orang yang awam bisa mengerti,karna yang di maksud mas bro sudah mublic di masyarakat,

    BalasHapus
  27. Kalau sedikit-sedikit bid'ah, sedikit-sedikit kafir, sedikit-sedikit mempersoalkan khilafiyah, kapan ummat Muslim bisa bersatu. yahudi dan nasrani makin kuat, tapi hubungan antara sesama saudara Muslim makin renggang. Sudahlah, kalau dirasa tidak sreg ya tinggalkan, kalau merasa ada faedahnya ya amalkan, perkara benar atau salah hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Wallahu a’lam bish-shawab.

    BalasHapus
  28. Assalamualaikum, ikhwah fillah, kita dlm beragama bukan berdasarkan ro'yu, ustadz, kyai, sheikh dll, tapi harus berdasarkan Qur'an dan Hadist, kita boleh mengikuti ustadz atau kyai jika selama msh sesuai Qur' an dan Hadist.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan Anda tidak paha alquran dan hadits. anda sebenarnya tidak paham agama. cuma bisa posting doang!!!

      Hapus
    2. dan Anda tidak paha alquran dan hadits. anda sebenarnya tidak paham agama. cuma bisa posting doang!!!

      Hapus
  29. Nabi Isa AS dan pengikut setianya (kaum hawariyyun) tidak pernah sekalipun merayakan hari kelahiran beliau,dan beliau tidak pernah memerintahkan perayaan hari lahir beliau. Baru 300 tahun sepeninggal nabi Isa AS diadakan perayaan chrismas day di Roma (melakukan bid'ah/mengada adakan yg baru dlm beragama).ternyata perayaan ini berasal dari kaum pagan(pemyembah berhala). Krn (bid'ah) itulah maka orang nasrani merayakan natal.apakah umat islam mau spt itu juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau tujuannya baik, pasti berpahala. apapun itu. kok bodoh sih kamu!!

      Hapus
  30. Ada orang yg krg paham bilang kalo naik haji naik pesawat adalah bid'ah juga donk krn atau khotbah pakai mikrofon bid'ah krnNabi yg mulia SAW tidk pernah melakukan keduanya.Nabi SAW tdk menggunakannya krn ketika itu blm ada pesawat terbang atau mikrofon, jd Beliau SAW terhalang melakukannya. Tapi kalo meryakan maulid sebenarnya Beliau SAW bisa dan itu tdk pernah dilakukan Beliau SAW dan sahabat dan generasi tabi'in dan tabi'ut tabi'in. Baru 350 tahun kerajaan syiah rafidhah fatimiyyah di mesir mulai merayakannya. Tulisan ini adalah nasihat, kalo antum terima Alhamdulillah, kalo tdk ya tafadhol, terserah antum.

    BalasHapus
  31. Saya setuju bahwa dalam beragama harus didasarkan kepada Qur'an dan Hadist, syarat yang kita sama-sama tahu, InsyaAllah :)

    Postingan ini menjelaskan bid'ah dalam doa (atau sholawat): "Yaa Robbi bil-Musthofa, baligh maqo sidana, waghfirlana mamadho, ya wasi’an karomi" yang dianggap sebagai bentuk tawassul dengan Rasulullah S.A.W. Kalau ada fatwa Ulama yang shahih, serta diakui di seluruh dunia mengenai bid'ah atau tidaknya bacaan ini, mungkin yang memposting alangkah baiknya bisa menyertakan nama-nama Ulama-nya supaya bahan tulisannya kuat dan didasari fatwa sah.

    Serta, si penulis menjelaskan bid'ah atau tidaknya dengan contoh dari cerita Hadits yang diriwayatkan oleh Utsman bin Hunaif, tentang orang buta yang datang kepada Rasulullah S.A.W meminta untuk kesembuhan matanya (agar dapat melihat kembali), lalu, kenapa Rasulullah mengajarkan doa kepada si orang buta: “Ya Allah, aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan (perantara) Nabi-Mu Muhammad, Nabi yang rahmat. Ya Muhammad, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku denganmu agar terpenuhi hajatku. Ya Allah, izinkanlah ia memberikan syafaatnya kepadaku”.

    Kenapa Rasulullah S.A.W tidak langsung mendoakan si orang buta tersebut melainkan memberi tahu si orang buta untuk menyebutnya dalam doa (sebagai perantara)? Padahal Rasulullah S.A.W, bisa dan sangat amat mampu, untuk memintanya langsung kepada Allah S.W.T? Ini artinya, bukan meminta Rasulullah mendoakan si orang buta, ataupun sekonyong-konyong meminta kesembuhan kepada Rasulullah Muhammad S.A.W, tetapi, artikan Hadist ini, peran Rasulullah S.A.W hanya sebagai perantara untuk mendapatkan syafa'atnya, "minta"nya hanya kepada Allah S.W.T

    Apa yang disampaikan si penulis berkaitan dengan Hadits yang dicontohkan itu malah membingungkan orang awam, dan malah condong ke subjek boleh atau tidaknya tawassul, bukan mengkaji bacaannya sholawatnya.

    BalasHapus
  32. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  33. berarti klo kita ziarah ke makam org alim dan kita mendoakan ortu kita dan berdoa untuk hajat kita di dpn makam ,Apakah itu termasuk bid'ah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketika ziarah kubur ada tuntunanya/ adabnya
      1.mengucapkan salam kepada ahli kubur
      2.mendoakan sang mayit
      3.melembutkan hati,supaya kita ingat pasti nanti akan mati juga

      Hapus
    2. tidak melakukan ibadah di kuburan

      Hapus
  34. Yang upload bid'ah itu sok alim. Emang elu udah kenal Imam Nawawi apa? Elu itu baru lahir kemaren pake acara bid'ah2 segala. Ngaji itu yang bener, jangan cuma diinternet. Cari sanad yang shohih, yang sampai Rosululloh SAW. Elu hebat bener nganggep itu Bid'ah, yangmana elu sudah gak mau minta syafaat rasulullah yaumal jaza'. Kalo elu tetep nganggep itu sebagai perkara bid'ah, lalu bagaimana dengan para ulama' yang mengamalkannya itu justru Husnul Khotimah? Apa kamu berani menjamin beliau-beliau itu ahlinnar?. Dzikir, Pikir!

    BalasHapus
  35. mau bit ah mau kagak. yang penting baik. tapi bit ah ada dua bro bit ahh dolalah dan bit ah kasanah,. kalau yang diatas termasuk bit ahhh kasanah bro.

    BalasHapus
  36. manusia itu aneh,,,,,di kasih tau yg bener malah marah2,mencaci maki dll... seharusnya bila sesuatu di perdebatkan cari yg bener yg mana jangan menuruti syubhat dan syahwat.
    semoga mereka mendapatkan hidayah,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar atau salah Allohlah yang mengetahui, kita hanya berusaha dalam kebaikan, ilmu pengetahuan itu sangatlah luas, dan kitab-kitab ilmu yang menafsirkan Al quran dan Hadist sangat banyak, tidak mungkin para ulama yg terdahulu mengamalkan sesuatu tanpa didasari sanad yang, marilah perbedaan ini kita sikapi sebagai rohmat jangan saling mengejek, akhirnya non muslim yang bertepuk tangan, wallohuallam....

      Hapus
  37. muke lo tu yg bid'ah gak ada di jaman rosul

    BalasHapus
  38. rasulullah saw di maulidin dibilang bid'@h giliran syeh bedul wahabi tiap tahun diarab saudi dirayain..ngomongnya ikut quran hadist tapi ikut pemikiran tolol .kaya lo..imam nawawi yg sudah mashyur kesolehanya disalahin ...entahlah ..tukang sayur teriak nya sayur ..tukang bid'ah teriaknya ..bid'ah ...ilmu dangkal banyak omong..huuftt

    BalasHapus
  39. Islam itu indah ya... ada yg pake ini ada yg pake ntu... dan semuanya pasti satu tujuan yaitu beribadah kepada allah swt. Knp juga harus ribut2 ??? Kalau mau dawah jangan sama seiman... da'wah tuh sama orang kafir...

    Mau di terima atau tidak amalan kita .. nanti aja di yaumul hisab finisnya. Knp repot2 mikir bid'ah... ? Anda punya imam, punya mazhab,punya guru, merekalah yg akan bertanggung jawab kelak... amalkan ajaran2 guru kalian... ( bukan googel ) jangan usik2 ajaran yg lain yg kita blm tau ibadah nya di terima allah/ tidak. Asal punya setitik iman umat rosulullah ada jaminan sorga ko. Nanti kita ketemu di sorga ya...
    amiin.
    Salam buat generasi islam
    Pesan saya belajarlah ilmu kepada seorang guru. Guru yg selalu mengajar islam yg tidak pernah mengajak untuk saling mencela tentang bid'ah.

    Guru yg tidak ingin / tidak oernah mengajarkan berdebat tentang ajaran islam

    Salam ukhuah.

    BalasHapus
  40. Bismillah..

    Alloh menyarankan agar berbuat baik(ma'kruf)! Itu ikhwal yg pertama!

    Dan melarang berbuat kemunkaran! Itu ikwal yg ke dua.. Yg kedua ini termasuk hal yg baru serta paling banyak di praktekan oleh yg namanya hamba sehingga menimbulkan pertikaian jua saling sakit hati.. Hihihi

    Berdebat atau merasa benar di dalam suatu masalah, apa lagi sesama hamba, apakah itu yg di sebut berbuat ma'ruf?

    Dan hal yg kedua inilah sesuatu hal yg baru, bid'ah (muunkar)!!
    Ampe pada bawa bawa nama orang lain.. Sampai sampai islam sendiri mudah terpecah belah seolah kemunkaran yg di larang ini ramai seantero jagat.. Hihihiii padahal kerjaannya tiap hari cuma ngisiin safety-tank.. Oyyyyyy yang lapar makin kelaparan yg bodoh makin bodoh.. #ma'ruf ma'ruf di mane ma'ruf nye??

    BalasHapus
  41. Assalamualaikum wr.wb

    Orang awam kaya saya boleh komen kan..? :D
    Kayanya sih tergantung niat.

    -Kalo kata almarhum Gusdur "gitu aja kok repot"

    Wassalam

    BalasHapus
  42. Pemurnian agama apa Pendangkalan Agama ? proses pengingkaran umat islam dari ulama2 pendahulu agar putus, sanat dan batiniahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemurnian agama apa Pendangkalan Agama ? proses pengingkaran umat islam dari ulama2 pendahulu agar putus, sanat dan batiniahnya.

      Hapus
  43. Pemurnian agama apa Pendangkalan Agama ? proses pengingkaran umat islam dari ulama2 pendahulu agar putus, sanat dan batiniahnya.

    BalasHapus
  44. mas, yg upload itu bagus, tingkatkan trus, ya mas,,biasanya orang2 yg menyampaikan kebaikan itu pasti banyak halangan nya seperti jaman Roslulloh dahulu, hanya orang2 yang jahil yg bila iya dikasih tau tentang kebenaran dia mlhan menyalahkan kita, semua bid'ah itu sesat gk ada bid'ah yg baik...itu sesuai hadist Rosul,,bersholawat itu bagus, tp kalau sholawatan ya harus sa susuai tuntunan Rosululloh donk...jangan berlebih2han dan jangan ditambah2i sendiri..kadang cuman taklit kepada gurunya tp gk taw benar apa salahnya, ada gk didalam Al Qur'an dan Al Hadist..tp kalau masih maw nglakuin yg gk dituntunkan Rosululloh ya terserah sih itu hak kalian semua..pokoke yang up load materi ini bagus ,,semoga Alloh Ta'ala memberikan Rahmat dan Barokah..dan semoga ilmunya bermanfaat bagi orang2 yg beriman.

    BalasHapus
  45. Insya Allah.. bid'ah hasanah

    BalasHapus
  46. Ente mah apa aja bid'ah. Kalau ilmu ente bisa ngelebihin imam syafii, baru boleh ngomong...nyalah2in.

    BalasHapus
  47. salam. saya sangat awam. kelihatannya saudara ini semua adalah muslim dari golongan yg berbeda. ada ahlusunah waljamaah, persis, muhamadiyah, ldii, dll hingga 73 golongan berbeda. ajaran yg saya dapat banyak pekerjaan sunah yg kita contoh bukan cuman dari nabi muhammad SAW, tapi dari keluargannya sahabat dan imam besar yg diakui pada masanya. poinnya KEMBALI PADA NIAT MASING MASING. DAN BERDISKUSILAH DENGAN KELOPOK MASING MASING. JANGAN DI UMBAR DI LUAR. PENTING!!! KITA BUTA HAKIKAT, KITA SEMUA TERBATAS ILMU.! KITA BUTA ILMU AGAMA YG KITA TEMUI DAN PEGANG ITU YG KITA TAU. orang buta dengan mata tertutup pegang gajah dari tempat yang berbeda. ada yg mengatakan gajah itu lebar tipis seperti kipas (yg di pegang telinga) yg satu katakan gajah itu keras seperti kayu tapi bagian lain panjang dan lentur(orang yang pegang gading dan belalai) ada yg katakan gajah itu tinggi setinggi saya ( yg di pegang kakinya doang ) mereka ribut dengan perbedaan. yg bisa melihat gajah secara utuh mengatakan apa "kalian buta jadi BODOH TAPI BERANI MENYIMPULKAN " SEKARANG KITA PASRAH PADA ALLAH BERNIATLAH BERIBADAH MENURUT KEYAKINAN MASING MASING BAHASLAH PERBEDAAN HANYA DENGAN KAUM MU. CUKUP TAU SAJA KELAK KALIAN AKAN TAU SEPERTI APA GAJAH JIKA KALIAN BISA MELIHAT SEPERTI APA GAJAH JIKA KALIAN SATUKAN IMFORMASI DARI PERBEDAAN AKAN DI TEMUKAN TITIK KESAMAAN. WASALAM

    BalasHapus
  48. Apa bid'ah itu termasuk hukum agama?

    BalasHapus
  49. Apa bid'ah itu termasuk hukum agama?

    BalasHapus
  50. 1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:


    “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

    2. Dalam surat Al-Maidah ayat 35:


    ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”

    Keterangan :

    Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:

    “Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.

    Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.

    Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”

    BalasHapus
  51. Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul



    Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang sering menolak atau mengharamkan tawassul, tetapi anehnya atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, menjawabnya dalam kitab Al-Istifta: “Tidak ada salahnya orang bertawassul kepada orang-orang sholeh”. Lebih lanjut dia mengatakan, ‘bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawassul khusus kepada Nabi Muhammad saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk’.

    Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berpendapat, bahwa persoalan tersebut adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: ‘Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhurul-ulama yang memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang bertawassul. Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdo’a) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt. Yang kami maksud ialah orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan lain sebagainya’ “. Demikianlah antara lain yang dikatakan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dalam Majmu’atul-Muallafat bagian 111 halaman 68, yang diterbitkan oleh ‘Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud’ dalam pekan peringatan Muhammad Ibnu ‘Abdul-Wahhab.

    BalasHapus
  52. Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul



    Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang sering menolak atau mengharamkan tawassul, tetapi anehnya atas pertanyaan yang diajukan kepadanya, menjawabnya dalam kitab Al-Istifta: “Tidak ada salahnya orang bertawassul kepada orang-orang sholeh”. Lebih lanjut dia mengatakan, ‘bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawassul khusus kepada Nabi Muhammad saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk’.

    Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berpendapat, bahwa persoalan tersebut adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: ‘Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhurul-ulama yang memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang bertawassul. Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdo’a) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt. Yang kami maksud ialah orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syeikh Abdul Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan lain sebagainya’ “. Demikianlah antara lain yang dikatakan oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dalam Majmu’atul-Muallafat bagian 111 halaman 68, yang diterbitkan oleh ‘Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud’ dalam pekan peringatan Muhammad Ibnu ‘Abdul-Wahhab.

    BalasHapus
  53. 1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:


    “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

    2. Dalam surat Al-Maidah ayat 35:


    ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”

    Keterangan :

    Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:

    “Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.

    Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul.

    Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”

    BalasHapus
  54. Yang gak bidah itu pake sempak bikinan arab.....

    BalasHapus
  55. Yang gak bidah itu pake sempak bikinan arab.....

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger