Senin, 03 Agustus 2009

Al-Hasan Al-Bashri

Abu Nu’aim berkata, “Di antara para tabi’in itu ada yang menjadikan takut dan rasa sedih sebagai teman, berkawan dengan kesusahan dan kehidupan yang keras serta sedikit tidurnya. Dialah Abu Said al-Hasan bin Abi al-Hasan, seorang yang ahli fikih dan zuhud, tekun beribadah dan dermawan, sangat menjauhi gemerlapnya dunia dengan segala keindahannya serta menjauhi syahwat dan menghalaunya jauh-jauh hingga tidak kembali.
Dia adalah seorang lelaki yang menyenangkan, berperawakan ideal, panjang umur dan dia banyak menghabiskan hidupnya dalam pencarian ilmu dan mengamalkannya.
Salah seorang puteranya berkata, “Ayah berumur 88 tahun, Allah selalu menjaganya dari fitnah dan tidak takut dengan fitnah yang terjadi pada Ibnu al-Asy-Ats. Dia lebih senang menjalani kehidupan dengan kewara’an, melarang kaum muslimin untuk bergabung dengan kelompok Ibnu al-Asy-Ats begitu juga dengan pasukan Al-Hajjaj ats-Tsaqafi, sehingga dia memerintahkan kepada semua kaum muslimin untuk menjauhi kedua kelompok tersebut. Inilah kewajiban seorang muslim dalam menghadapi fitnah.
Nama, kelahiran dan sifat-sifatnya
Namanya: Al-Hasan bin Abi al-Hasan bernama Yasar al-Bashri Abu Said, budak Zaid bin Tsabit. Ada yang menyebutkan, “Budak Jabir bin Abdullah. “Yang lain mengatakan, “Budak Jumail bin Quthbah bin Amir bin Hudaidah.”
Selain itu ada yang mengatakan, “Budak Abu al-Yasar sedang ibunya adalah budak Ummu Salamah, istri Rasulullah.
Dan, ada yang mengatakan bahwa Yasar adalah ayah Al-Hasan dan Yasar adalah seorang tawanan dari Misan.
Kelahirannya, Al-Hasan dilahirkan dua tahun sebelum Khalifah Umar bin al-Khathab yang meninggal sebagai syahid (karena pembunuhan).”
Sifat-sifatnya; Muhammad bin Sa’ad berkata, “Al-Hasan adalah orang yang suka melakukan shalat berjamaah, banyak ilmu pengetahuan, terhormat, ahli fikih, dapat dipercaya, pandai berdebat, ahli ibadah, berperawakan sempurna, fasih berbicara dan tampan mempesona.
Sanjugan para ulama
Dari Abu Burdah, dia berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang menyerupai para sahabat Rasulullah saw kecuali dia.”
Dari Humaid bin Hilal, dia berkata, “Abu Qatadah telah berkata kepada kami, “Patuhilah (bergurulah dengan) orangtua ini, karena aku belum pernah melihat seorang pun yang menyerupai pendapat Umar bin al-Khaththab kecuali dia.”
Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Bertanyalah kepada Al-Hasan, karena dia orang yang kuat hafalannya, sedang kami terkadang lupa.”
Dari Ayyub, dia berkata, “Jika Al-Hasan telah mengucapkan suatu perkataan, sepertinya mutiaralah yang terucap. Akan tetapi perkataan yang keluar dari kaum sesudahnya, bagaikan muntahan orang sakit.”
Mu’adz bin Mu’adz berkata, “Aku berkata kepada Al-Asy’ats, “Anda telah bertemu dengan ‘Atha’ dan Anda sedang mempunyai persoalan, tidakkah Anda menanyakan masalah tersebut kepadanya?” Dia berkata, “Aku belum pernah bertemu dengan seseorang setelah Al-Hasan, kecuali kecil dalam pandanganku (dari segi ilmu pengetahuan).
Al-Asy’ats berkata, “Kemudian aku masuk masjid di Bashrah, aku tidak menanyakan kepada seorangpun tentang Al-Hasan terlebih dahulu kepada Asy’Sya’bi. Aku bertanya, “Wahai Abu Amr, sesungguhnya aku sangat berkeinginan pergi ke Bashrah. “Dia bertanya, “Apa yang ingin kamu lakukan di Bashrah?” Aku berkata, “Aku ingin bertemu dengan Al-Hasan, beritahukanlah kepadaku ciri-cirinya.
Dia berkata, “Ya, baiklah aku akan menyebutkan ciri-cirinya; jika kamu sudah berada di Bashrah, masuklah di masjid Bashrah, lalu pandangilah lingkungan di sekitarmu (dalam masjid); jika kamu menemukan seorang lelaki yang berada di masjid dan tidak ada orang lain sepertinya atau kamu tidak melihat yang menyerupainya, maka pastikan bahwa itulah Al-Hasan.”
Rasa takutnya kepada Allah dan kesedihan yang menimpanya
Ibrahim bin Isa al-Yasykari, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih lama sedih daripada Al-Hasan, aku melihatnya sebagai orang yang menjadi pembicaraan umum karena musibah yang menimpanya.”
As-Sari bin Yahya berkata, “Al-Hasan sering melakukan puasa Al-Bidh (pada tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan Qamariyah), pada Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang dihormati; 4 bulan) dan di setiap hari Senin dan Kamis.”
Dari Syu’aib, salah seorang teman Ath-Thayalisi, dia berkata, “Aku melihat Al-hasan adalah seorang yang sering membaca Al-Qur’an dengan meneteskan air mata hingga membasahi janggutnya.”
Ilmu Pengetahuan
Qatadah berkata, “Al-Hasan termasuk orang yang paling tahu tentang halal dan haram.”
Dari Bakar bin Abdullah al-Muzani, dia berkata, “Barangsiapa yang senang dan ingin melihat orang yang paling tahu di antara kami, maka lihatlah kepada Al-Hasan.”
Dari Abu Hilal, dia berkata, “Aku saat itu sedang berada di kediaman Qatadah, kemudian berhembus berita meninggalnya Al-Hasan, lalu aku berkata, “Dia telah menyelami dan mendalami ilmu pengetahuan.” Qatadah berkata, “Bahkan pengetahuan itu tumbuh darinya, menjiwainya dan selalu menyertainya. Demi Allah, tidak akan ada yang memusuinya kecuali pendengki.
Dari Abu Said bin al-A’rabi, dia berkata, “Biasanya kebanyakan kaum lelaki yang senang beribadah di antara kami selalu mendatangi Al-Hasan dan mendengarkan ceramahnya, mereka begitu intens mengikuti petuah-petuahnya. Amr bin Ubaid dan Abdul Wahid zaid termasuk di antaa mereka yang selalu hadir.”
Al-Hasan mempunyai majelis pengajian yang khusus di rumahnya. Dalam pengajian ini, dia lebih banyak membahas tema-tema kezuhudan dan ibadah. Jika ada di antara para jamaah yang hadir menanyakan kepadanya tentang selain tema di atas, maka dia akan menutupnya dengan berkata, “Kita bersama-sama membuat kelompok ini bersama dengan saudara-saudara kita di sini hanya untuk saling mengingatkan.
Adapun pengajiannya di Masjid, banyak membicarakan tentang hadits, fikih, ilmu-ilmu Al-Qur’an, bahasa dan beberapa cabang ilmu lainnya.
Guru dan murid-muridnya
Guru-gurunya; Al-Hafizh berkata, “Dia pernah melihat dan belajar dari Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Sayyidah Asiyah, Ar’-Rabi’ bin Ziad di Khurasan pada masa Umayyah, Ubay bin Ka’ab, Sa’ad bin Ubadah, Tsauban, Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Utsman bin Abi al-Al’ash, Ma’qil bin Sanan dan masih banyak lagi meski dia tidak mendengar dari mereka secara langsung.
Murid-muridnya: Al-Hafizh berkata; “Di antara orang-orang yang meriwayatkan darinya antara lain; “Humaid Ath-Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Ayyub, Qatadah, ‘Auf al-A’rabi, Bakar bin Abdullah al-Muzani, Jarir bin Hazim, Abu al-Asyhab, Ar-Rabi’ bin Subaih, Said al-Jariri, Sa’ad bin Ibrahim bin Abdirrahman bin ‘Auf, Sammak bin Harb, Syaiban An-Nahwi, Ibnu ‘Aun, Khalid al-Hadzdza, ‘Atha bin as-Sa’ib, Utsman bin al-Bati, Qurrah bin Khalid, Mubarak bin Fadhalah, Ma’bad bin Hilal dan yang lain.
Dan yang paling akhir adalah; Yazid bin ibrahim At-Tustari, Mu’awiyah bin Abdul Karim Ats-Tsaqafi yang terkenal dengan sebutan Adh-Dha’al.”
Beberapa mutiara perkataannya
Dari Imran bin Khalid, dia berkata, “Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin akan bersedih pada waktu pagi dan sore hari, dan tidak ada yang lain selain itu, karena seorang mukmin itu berada di antara dua ketakutan (kekhawatiran); antara dosa yang telah lalu; dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah terhadap dosa-dosa itu dengan umur yang masih tersisa dan dia juga tidak tahu apa yang akan menimpanya nanti.”
Dari Imran al-Qashir, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Hasan tentang sesuatu, aku berkata, “Sesungguhnya para ahli fikih berkata, “Begini-begini.” Dia berkata, “Apakah kamu memang benar-benar melihat seorang ahli fiqih dengan kedua matamu? Seseorang bisa disebut ahli fikih adalah dia yang zuhud di dunia mempunyai pandangan luas dan mendalam dalam agamanya (menyelami permasalahan) dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya.
Meninggalnya
Dari Abdul Wahid bin maimun, budak ‘Urwah bin Az-Zubair, dia berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Ibnu Sirin, “Aku bermimpi melihat burung mencengkeram Al-Hasan dan tongkatnya di Masjid.” Kemudian Ibnu Sirin berkata, “Jika mimpi yang kamu katakan itu benar, maka Al-Hasan akan meninggal dunia.” Dia berkata, “Tidak berapa lama kemudian, Al-Hasan meninggal dunia.”
Hisyam berkata, “Kami sedang berada di rumah Muhammad pada sore hari Kamis, kemudian setelah waktu Ashar, seorang lelaki datang. Dia berkata, “Al-Hasan meninggal dunia.” Lalu Muhammad mengucap-kan bela sungkawanya, wajahnya berubah dan tidak mau berbicara sedikitpun, dia tidak mau berbicara hingga terbit matahari esok hari, sehingga orang-orang yang melihat-nya tertegun dan kagum kepadanya atas dukanya yang sangat mendalam.
Adz-Dzahabi berkata, “Dia meninggal dunia pada awal bulan Rajab, yaitu tahun 110 H. Jenazahnya banyak dita’ziyahi masyarakat yang mau menyaksikan dan memberi penghormatan terakhir kepadanya; dengan melakukan shalat jenazah seusai shalat Jum’at di Bashrah. Kemudian diusung banyak orang dan berdesak-desakan hingga waktu shalat Ashar pun tidak bisa dilaksanakan di masjid jami’ (karena banyaknya orang).
Semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang luas kepadanya, dan menyatukan kita dengannya di surga nanti.
Amiin Ya Mujiibas Saailiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru