Rabu, 21 Oktober 2009

Cadar Hanya Budaya, dan Bukan Perintah Agama?

Sinopsis…!! Cadar merukapan salah satu syari’at Islam yang menunjukan identitas diri seorang muslimah, dengan menggunakan cadar, maka kaum muslimin dapat terjaga pandangannya dari memandang kecantikan wajah para wanita. Akan tetapi seiring dengan arus globalisasi yang semakin pesat, maka kita saksikan saat ini banyak para orientalis dan orang-orang yang munafiq pemuja syahwat membuat opini-opini di tengah-tengah ummat bahwa cadar hanya budaya Arab dan bukanlah perintah Agama. Bahkan baru-baru ini, salah seorang Tokoh besar sekaligus Rektor Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir yang fotonya bisa anda lihat di awal tulisan ini, yaitu Syaikh Tanthawi pun menyatakan bahwa cadar hanya budaya, kita tidak menuduh Syaikh Tanthowi adalah munafiq atau pemuja Syahwat, tapi kita hanya ingin mengatakan bahwa perkataan beliau itu keliru besar, padahal Ulama Timur Tengah lainnyapun sudah sejak lama menjelaskan bahwa cadar itu bagian dari syari'at Islam, namun bagaimanakah membuktikannya? nah inilah yang Insya Allah kita bahas pada kesempatan kali ini.

Pembahasan..!!
Pembaca yang budiman, Pertama perlu kita fahami bahwa pernyataan dan pemahaman yang menyatakan bahwa cadar hanya budaya adalah keliru, hal ini bisa disebabkan karena dua hal, boleh jadi karena syubhat, yaitu kebodohan orang tersebut terhadap syari’at, atau bisa juga karena syahwat, yang mana sebenarnya ia adalah orang yang mengerti bahwa Allah subhanahu Wata'ala memerintahkan bercadar tetepi orang itu tidak menerima dan tidak senang jika banyak wanita yang memakai cadar.
Dan Pembaca yang budiman, mari kita buktikan bahwa cadar bukan hanya Budaya Arab, tetapi cadar itu termasuk Syari'at, disini kita akan paparkan secara ringkas dalil-dalil para ulama yang mewajibkan cadar bagi wanita.

Pertama, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka.”
(QS. An Nur: 31)
Allah ta’ala memerintahkan wanita mukmin untuk memelihara kemaluan mereka, hal itu juga mencakup perintah melakukan sarana-sarana untuk memelihara kemaluan. Karena menutup wajah termasuk sarana untuk memelihara kemaluan, maka juga diperintahkan, karena sarana memiliki hukum tujuan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kedua, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.” (QS. An Nur: 31)
Ibnu Mas’ud berkata tentang perhiasan yang (biasa) nampak dari wanita: “(yaitu) pakaian” (Riwayat Ibnu Jarir, dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al Adawi). Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin disembunyikan.

Ketiga, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. An Nur: 31)
Pembaca yang budiman, Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya, maka menutup wajah lebih wajib! Karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah? (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 7-8, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Keempat, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur: 31)
Pembaca yang budiman, di ayat ini Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini karena dikhawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya atau semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, apalagi yang dirias, lebih besar dari pada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 9, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim).

Kelima, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60)

Wanita-wanita tua dan tidak ingin kawin lagi ini diperbolehkan menanggalkan pakaian mereka. Ini bukan berarti mereka kemudian telanjang. Tetapi yang dimaksud dengan pakaian di sini adalah pakaian yang menutupi seluruh badan, pakaian yang dipakai di atas baju (seperti mukena), yang baju wanita umumnya tidak menutupi wajah dan telapak tangan. Ini berarti wanita-wanita muda dan berkeinginan untuk kawin harus menutupi wajah mereka. (penjelasan ini bisa dilihat dalam Risalah Al-Hijab karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, penerbit Darul Qasim.
Abdullah bin Mas’ud dan Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah
“Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka.” (QS An Nur: 60): “(Yaitu) jilbab”. (Kedua riwayat ini dishahihkan oleh Syaikh Mushthafa Al-Adawi di dalam Jami’ Ahkamin Nisa)

Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dia berkata: “Kami menemui Hafshah binti Sirin, dan dia telah mengenakan jilbab seperti ini, yaitu dia menutupi wajah dengannya. Maka kami mengatakan kepadanya: “Semoga Allah merahmati Anda, Allah telah berfirman,
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)

Yang dimaksud adalah jilbab. Dia berkata kepada kami: “Apa firman Allah setelah itu?” Kami menjawab:
“Dan jika mereka berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 60)

Dia mengatakan,
“Ini menetapkan jilbab.” (Riwayat Al-Baihaqi dalam Jami’ Ahkamin Nisa)

Keenam, firman Allah subhanahu wa ta’ala: “Dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan.” (QS. An-Nur: 60)
Ini berarti wanita muda wajib menutup wajahnya, karena kebanyakan wanita muda yang membuka wajahnya, berkehendak menampakkan perhiasan dan kecantikan, agar dilihat dan dipuji oleh laki-laki. Wanita yang tidak berkehendak seperti itu jarang, sedang perkara yang jarang tidak dapat dijadikan sandaran hukum. (Lihat Risalah Al-Hijab, hal 11, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin, penerbit: Darul Qasim).

Ketujuh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata, “Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukminin, jika mereka keluar rumah karena suatu keperluan, hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab (pakaian semacam mukena) dari kepala mereka. Mereka dapat menampakkan satu mata saja.”

Pembaca yang budiman, demikianlah mungkin yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini mengenai pensyari’atan hijab atau cadar, mudah-mudahan dengan dalil-dalil yang kita sampaikan ini dapat menambah keyakinan kita bahwa perkataan yang menganggap bahwa cadar itu budaya dan bukan syari’at adalah pernyataan yang salah, dan yang benar adalah bahwa cadar itu termasuk syari’at yang diperintahkan Agama Islam. wallah A’lam, Wassalamu 'Alaiku Warahmatullah Wabarokaatuh.

Oleh : Yusuf Supriadi (Dari Berbagai Sumber Buku dan Internet)
(Naskah Ini Sudah dijadikan referensi penyiar radio Fajri Fm Bogor)



8 komentar:

  1. Orang yang menganggap Cadar adalah budaya, semoga diberikan hidayah dan sering2 lah membaca Hadist shakhih

    BalasHapus
  2. MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi - penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.
    ____________________________________
    Keterangan :

    (a) Kitab Maraqhil-Falah Syarh Nurul-Idlah (yang membolehkan):

    (وَجَمِيْعُ بَدَنِ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ إلاَّ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا). بَاطِنَهُمَا وَظَاهِرَهُمَا فِيْ اْلأَصَحِّ وَهُوَ الْمُخْتَارُ. وَ ذِرَاعُ الْحُرَّةِ عَوْرَةٌ فِيْ ظَاهِرِ الرِّوَايَةِ وَهِيَ اْلأَصَحُّ. وَعَنْ أَبِيْ حَنِيْفَةَ لَيْسَ بِعَوْرَةٍ (وَ) إِلاَّ (قَدَمَيْهَا) فِيْ أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ بَاطِنِهِمَا وَظَاهِرِهِمَا الْعُمُوْمِ لِضَرُوْرَةِ لَيْسَا مِنَ الْعَوْرَةِ فَشَعْرُ الْحُرَّةِ حَتىَّ الْمُسْتَرْسَلِ عَوْرَةٌ فِيْ اْلأَصَحِّ وَعَلَيْهِ الْفَتَوَي

    Seluruh anggota badan wanita merdeka itu aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, baik bagian dalam maupun luarnya, menurut pendapat yang tersahih dan dipilih. Demikian pula lengannya termasuk aurat. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang tidak menganggap lengan tersebut sebagai aurat. Menurut salah satu riwayat yang sahih, kedua telapak kaki wanita itu tidak termasuk aurat baik bagian dalam maupun bagian luarnya. Sedangkan rambutnya sampai bagian yang menjurai sekalipun, termasuk aurat, demikian fatwa atasnya.

    (b) Kitab Bajuri Hasyiah Fatchul-Qarib Jilid. II Bab Nikah (yang mengharamkan) :

    (قَوْلُهُ إِلىَ أَجْنَـبِّيَةِ) أَي إِلىَ شَيْءٍ مِنْ اِمْرَأَةٍ أَجْنَـبِّيَّةٍ أَي غَيْرِ مَحْرَمَةٍ وَلَوْ أَمَةً وَشَمِلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفََّّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظَرُ إِلَيْهَا وَلَوْ مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ أَوْ خَوْفٍ فِتْنَةٍ عَلىَ الصَّحِيْحِ كَمَا فِيْ الْمِنْحَاجِ وَغَيْرِهِ إِلىَ أَنْ قَالَ وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى " وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا" وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَالْمُعْتَمَدُ اْلأَوَّلُ. وَلاَ بِتَقْلِيْدِ الْـثَانِيْ لاَسِيَّمَا فِيْ هَذَا الزَّمَانِ الَّذِيْ كَثُرَ فِيْهِ خُوْرُجُ النِّسَاءِ فِيْ الطُّرُقِ وَاْلأَسْوَاقِ وَشَمِلَ ذَلِكَ أَيْضًا شَعْرَهَا وَظَفْرَهَا.

    (PENDAPAT PERTAMA) (Perkataannya atas yang bukan mahram / asing) yakni, pada segala sesuatu pada diri wanita yang bukan mahramnya walaupun budak termasuk wajah dan kedua telapak tangannya, maka haram melihat semua itu walaupun tidak disertai syahwat ataupun kekhawatiran timbulnya adanya fitnah sesuai pendapat yang sahih sebagaimana yang tertera dalam kitab al-Minhaj dan lainnya. PENDAPAT LAIN (KEDUA) menyatakan atau dikatakan (qila) tidak haram sesuai dengan firman Allah “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya” (QS.An-Nuur : 31).
    PENDAPAT PERTAMA (yang mengharamkan) LEBIH SAHIH, dan tidak perlu mengikuti pendapat kedua (yang tidak mengharamkan) terutama pada masa kita sekarang ini di mana banyak wanita keluar di jalan-jalan dan pasar-pasar. Keharaman ini juga mencakup rambut dan kuku.

    SUMBER :
    Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

    BalasHapus
  3. Kalau cadar dan sarung tangan itu memang disyariatkan kenapa di dalam haji justru diharamkan:

    لاَ تَنْتَقِبُ المَرْأَةُ المُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبِسُ الْقَفَّازِيْنَ

    “Wanita yang berihrom itu tidak boleh mengenakan niqob maupun kaos tangan.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, Al Baihaqi, Ahmad dari Ibnu Umar secara marfu’ –yaitu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-).

    Padahal, ketika haji dilaksanakan, percampuran laki-laki dan perempuan terjadi secara besar-besaran dan di lokasi yang amat sempit. Bagi mereka yang bercadar dengan alasan mencegah fitnah dan godaan laki-laki, bukankah dalam ibadah haji fitnah dan godaan itu lebih dikuatirkan?

    Lagipula kalau memang muka dan telapak tangan adalah aurat bagi perempuan, niscaya rasulullah tidak akan melarang (mengharamkan) memakai keduanya pada ibadah haji yang notabene upacara ritual yang paling sensitif. Semoga dapat menjadi bahan renungan.

    BalasHapus
  4. JAWABAN KE-1 Dalam haji, kaum laki-laki dilarang dan diharamkan mengenakan penutup kepala; lalu apakah berarti di luar ibadah haji, laki-laki juga dilarang dan diharamkan mengenakan penutup kepala? Tentu saja tidak!
    Oleh karenanya adanya larangan menutup muka pada saat haji dan ihrom, bukan berarti lantas menutup muka di luar ibadah haji dan ihrom juga terlarang!

    BalasHapus
  5. JAWABAN KE-2 Ibadah haji adalah memusatkan energi, fikiran, dan semua kemampuan diri untuk satu tujuan yakni ibadah hanya kepada Allah saja. Barangsiapa yang memalingkannya kepada urusan lain seperti berburu,menikah, jual-beli, mengobrol ataupun memanfaatkan untuk kesenangan syahwat maka rusaklah ibadah hajinya. Karena itu Allah dalam kitabnya yang mulia telah menegaskannya dengan syarat2 dan rukun2 haji agar manusia tidak tergoda oleh itu semua.
    Bukankah jika engkau ingin naik kelas dan naik derajadmu, engkau harus mengikuti ujian?
    Ujian ini telah diisyaratkan Allah pada QS. Al Mulk: 2: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
    “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa–dan ‘Arsy-Nya (sebelum itu) berada di atas air–agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya.” (Q.s. Hud [11]:7)

    BalasHapus
  6. JAWABAN KE-3a Dalam kasus2 tertentu wanita masih diperbolehkan menutupi wajahnya ketika haji dan ihram manakala dikhawatirkan menimbulkan fitnah atas wajahnya. Berdasarkan hadits dari Aisyah ra yang tertulis di dalam Musnad Ahmad 6/22894 dan Sunan Abu Dawud Kitab Manasik Bab Wanita Ihram Menutup Wajahnya ,:“Para pengendara biasa melewati kami, di saat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rasulullah saw. Maka jika mereka mendekati kami, di antara kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya kepada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah.

    BalasHapus
  7. JAWABAN KE-3b Imam Asy-Syafii berkata dalam kitabnya Al-Umm Kitab Haji Bab Pakaian yang Dipakai Seorang Perempuan :“Adapun seorang perempuan (dalam ihram) bila wajahnya dalam keadaan terbuka dan ia ingin menutupinya dari manusia; maka hendaknya ia menurunkan jilbabnya atau sebagian kerudungnya atau kain lainnya dari pakaiannya dari atas kepalanya ke depan wajahnya (tidak menempel) sehingga MENUTUPI WAJAHNYA seperti penutup pada wajah namun tidak seperti niqob (yang menempel pada wajah). ”
    Juga al-Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Husaini asy-Syafi’i di Kitab Kifayatul Akhyar Kitab Haji Bab Hal yang Haram Saat Berihram, : “… dan itu semua bagi laki-laki, adapun wanita, maka hukum wajahnya sama dengan hukum kepala bagi laki-laki (tidak boleh ditutup ketika ihram). Wanita boleh menutupi seluruh badannya dan kepalanya dengan pakaian yang berjahit. Dan juga bagi wanita agar menutupi wajahnya dengan kain atau sobekan kain, dengan syarat kain tersebut tidak menyentuh mukanya. Baik menutupi wajahnya itu karena suatu hajat, seperti kepanasan, kedinginan, atau karena takut terjadi fitnah (syahwat) dan lain-lain ataupun tanpa sebab apapun.”

    BalasHapus
  8. JAWABAN KE-4: Cadar (juga jilbab) adalah budaya dan ajaran Islam bukan budaya Arab, di antara buktinya adalah:
    a).Budaya wanita jahiliyah sebelum Islam adalah bersolek (tabarruj) jika keluar rumah. Karena itu Allah  berfirman: “Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu.” (Q.S. Al Ahzab: 33).

    b). Sebelum Islam, wanita menampakkan rambutnya, perhiasannya dan aurat selainnya. Mereka tidak berjilbab apalagi bercadar, karenanya ketika turun ayat hijab, wanita mukminah mencari kain apa saja yang bisa menutupi rambut, dada, dan aurat lainnya. Aisyah ra berkata: “Semoga Allah merahmati para wanita Muhajirin generasi awal, ketika turun ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka.” (QS. An-Nuur: 31), mereka mengambil dan merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR.Bukhari 4759).
    Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari (8/490): “Makna ucapan Aisyah “fakhtamarna” di sini adalah: “Mereka menutup muka-muka mereka.”

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger