Kamis, 08 Oktober 2009

Definisi ‘ULAMA

Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum, kita berjumpa kembali dalam rubrik Ensiklopedi Islam, di kesempatan kali ini kita akan mencoba mengetahui, siapakah sebenarnya yang berhak dikatakan ksebagai Ulama.
Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum, mungkin kita sering mendengar istilah ulama, namun terkadang banyak di antara kaum muslimin yang salah dalam menempatkan penyebutan ulama. Bahkan jika ada orang yang baru bisa mengisi ceramah atau khutbah jum’at saja sudah disebut ulama, atau ada juga yang berlebihan, sehingga ulama itu haruslah lulusan Arab Saudi atau daerah Timur Tengah dengan gelar Doktor di bidang Agama, dan lain sebagainya, mungkin bisa juga dibenarkan, tetapi gelar doktor bukanlah ukuran seseorang dikatakan Ulama’.


Nah agar kita tidak salah dalam menempatkan penyebutan ulama, ada baiknya kita simak pembahasan berikut ini.
Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum. Secara bahasa, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui – mufrad/singular) dan ‘ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran dan hadis.
Pertama, Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala : ‘innama yakhsya Allahu min ‘ibadihi al ulama’ artinya : sesungguhnya yang paling taqwa kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama (Fathir 28).
Berdasarkan hal ini Seorang Ulama diharuskan bertaqwa dan takut kepada Allah subhanahu wa ta'ala
Secara hakikat, rasa takut kepada Allah tidak mudah dipakai untuk kategorisasi, sebab yang mengetahui tingkat ketaqwaan seseorang hanyalah Allah subhanahu wa ta'ala .
Penyebutan takut di sini hanya untuk memberi batasan bahwa ulama haruslah beriman kepada Allah dan secara dhahir menunjukkan tanda-tanda ketaqwaan. Jadi orang yang mengerti tentang islam atau islamolog yang tidak beriman kepada Allah dan tidak merasa takut kepada Allah, sertra banyak bermaksiat, maka tidak masuk dalam kategori ulama.
Kedua, menurut hadits Nabi SAW "ulama adalah pewaris para nabi". Pewaris nabi adalah orang yang melanjutkan tugas-tugas kenabian dengan mencontoh perilaku dan kehidupan Nabi SAW.
Jadi, seseorang itu dikatakan ulama bila seluruh hidupnya dicurahkan untuk mengembangkan ajaran islam, lurus Aqidahnya, berilmu tinggi dan sangat mendalam dalam pemahaman, berpribadi luhur dan rendah hati, dapat dipercaya dan konsisten, bijaksana, dan tidak terperangkap dengan nafsu duniawi.
Dengan batasan ini, ahli-ahli ilmu lain yang tidak berhubungan dengan al-Quran dan hadis tidak masuk dalam kategori ulama, hal ini bisa kita fahami dari maqolah-maqolah atau pernyataan-pernyataan berikut ini:
Imam Syafi’i berkata: “Seluruh ilmu selain Al Qur’an adalah hal yang menyibukkan kecuali hadits dan fiqh dan memahami agama. Ilmu adalah yang terdapat padanya haddatsana (telah mengkabarkan kepada kami - yakni ilmu hadits) dan selain dari padanya adalah bisikan-bisikan setan.”
Ibnu Qoyyim menyatakan: “Ilmu adalah berkata Allah, berkata Rasul-Nya, berkata para shahabat yang tiada menyelisihi akal sehat padanya.” (Al Haqidatusy-Syar’iyah: 119-120)
Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum. Bila dirujuk dengan definisi ulama menurut Nabi SAW, maka akan kita temui hanya segelintir orang saja dari bangsa Indonesia ini yang bergelar ulama.

Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum, Allah subhanahu wa ta'ala telang mengankat derajat sorang ulama dengan kedudukan yang tinggi diantara manusia, mari kita perhatikan ayat berikut ini:
Firman Allah Ta'ala:
Maksudnya: "Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (Az-Zumar: 9)

Firman Allah Ta'ala:
Maksudnya: "Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui." (Al-Anbiya': 7)

Firman Allah Ta'ala:
Maksudnya: "Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyetakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali-Imran: 18)

Demikianlah kedudukan ulama diangkat, mereka merupakan orang-orang yang paling takut diantara manusia, mereka merupakan tempat pertanyaan bagi orang yang tidak mengetahui dan merekalah orang-orang yang mengenali Allah, nama-nama dan sifat-sifatNya, dan perbuatanNya sehingga membuat mereka paling takut dengan Allah.

Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum. Pada masa shahabat dan dua generasi terbaik islam setelah shahabat, sangat banyak ulama yang mendalami spesialisasi keilmuan, seperti fiqh, tafsir, hadits dll. Namun ada juga beberapa Ulama yang menguasai seluruh bidang keagamaan,
Adapum Kategorisasi ulama atas dasar ilmu, secara garis besar sebagai berikut:
1. Ulama Ahli Quran ialah ulama yang menguasai ilmu qiraat, asbabunnuzul, nasih mansuh dsb. Ulama tafsir adalah bagian dari ini yang memiliki kemampuan menjelaskan ‘maksud’ Qur’an.
2. Ulama Ahli Hadits yaitu ulama yang menguasai ilmu hadits, mengenal dan hafal banyak hadist, mengetahui bobot kesahihannya, asbabul wurudnya (situasi datangnya hadits), Syarah Haditsnya, dsb.
3. Ulama Ahli Ushuluddin ialah ulama yang ahli dalam aqidah Islam secara luas dan mendalam, baik dari segi dalil aqli dan dalil naqlinya.
4. Ulama Ahli Fiqh adalah ulama yang memahami hukum Islam, menguasai dalil-2nya, metodologi penyimpulannya dari Qur’an dan hadits, serta mengerti pendapat-2 para ahli lainnya, dan lain sebagainya.
5. Ahli-ahli yang lain, seperti, ahli pada berbagai bidang yang diperlukan sebagai sarana pembantu untuk dapat memahami Qur’an dan hadits, seperti ahli bahasa arab, ahli mantik, ahli sejarah, dsb, mereka pun termasuk kategori ulama dalam bidangnya masing-masing.
Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum, Untuk memahami sifat karakteristik seseorang dikatakan ulama, mari kita simak perkataan-perkataan Ibnu Rajab Al-Hadromi berikut ini:
“Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun, tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, tidak mudah menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah, Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. mereka juga mengakui ulama-ulama terdahulu dari pada mereka serta mengakui bahawa mereka tidak akan mampu mencapai darjat mereka atau mendekatinya.”
Demikianlah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang Ulama’
Dan Pembaca yang berbahagia Rahimaniallah wa Iyyakum, sebagai ummat Islam hendaknya kita menghormati dan menghargai para Ulama’. Karena melalui perantara merekalah agama Islam ini bisa tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke negri ini. Dan dengan jasa para ulama pula kita dapat memahami permasalahan-permasalahan agama islam, serta mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Dengan perantara ilmu mereka pula maka kemurnian syari’at dapat terjaga. Dan hendaknya kita merasa sedih dengan meninggalnya para ulama’, ini dikarenakan berarti Allah telah mencabut ilmu dari manusia dengan mewafatkan para Ulama’.

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum! Barrakallahu fikum! Ya akhi, mohon permisi ana baru ngopi tulisan antum. Syukron, jazakallahu khairon.

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger