Selasa, 13 Oktober 2009

FIQHUL WAQI’

Pembaca yang budiman, secara bahasa Fiqh bererti “Ilmu”. Waqi’ bererti “Kenyataan Atau Kebenaran”. Apabila dua kata ini digabungkan, bererti “Ilmu Kenyataan Atau Ilmu Kebenaran”. Atau bisa juga dikatakan sebagai “Ilmu Peristiwa Dan Hukumnya”.
Pembaca yang budiman, Secara ringkas, fiqhul waqi’ dapat difahami dengan jelas dari penjelasan Ibnul Qaiyim rahimahullah. Beliau berkata:
“Seseorang mufti atau hakim tidak akan mampu berfatwa dan mengeluarkan (memutuskan) hukum kecuali setelah memahami waqi’/kenyataan dari dua (jenis) pemahaman:
“Pertama: Memahami (tahu dan mengerti) tentang waqi’ (kejadian/keadaan/kondisi), berilmu tentang ilmu hakikat (peristiwa/kejadian yang sedang berlaku pada masyarakat) Kemudian mampu membuat keputusan secara hakikat yang sebenarnya dari kejadian tersebut, disertai dengan pembuktian-pembuktian, tanda-tanda dan ciri-cirinya sehingga dirinya menguasai ilmu tersebut”.
“Kedua: Faham (menguasai) ilmu yang wajib yang berkaitan dengan kenyataan. Iaitu memahami hukum-hakam Allah di dalam al-Quran dan lisan (Sunnah) Rasul-Nya yang dengannya Allah telah menentukan sesuatu hukum berdasarkan kenyataan kejadian yang berlaku”.
Kemudian melaksanakan kedua perkara ini (yang wajib digabungkan) salah satunya dengan yang lainnya kerana tidak boleh dipisahkan. Dan siapa saja yang mengarahkan kesungguh-sungguhannya dan mengorbankan waktunya yang panjang untuk yang demikian, maka dia tidak terlepas dari mendapat dua atau satu pahala dari dua perkara tersebut.
Maka orang alim dituntut untuk menguasai ilmu waqi’ atau berusaha untuk memahaminya agar seorang ulama tersebut dapat memutuskan peristiwa/kejadian dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Demikianlah perkataan Ibnul Qayyim yang mana Hal ini bisa dilihat dalam kitab I’lam Muwaqi’in hal187.
Maka Pembaca yang budiman dimanapun anda berada, dari pernyataan Ibnu Qaiyim ini, maka fiqhul waqi’ dapat disimpulkan:
“Mengetahui hukum-ahkam Allah Subhanahu wa-Ta’ala yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah NabiNya. Kemudian mampu menerapkan keduanya pada kejadian yang berlaku serta permasalahan yang ada pada ketika itu”.
Penjelasan ini berdasarkan firman Allah:

وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ
“Dan hendaklah engkau berhukum antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah turuti hawa nafsu mereka”. (Al-Maidah, 5:49)
اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا اَرَاكَ اللهُ.
“Sesungguhnya telah Kami turunkan aL-Kitab (al-Quran) kepadamu agar kamu berhukum antara mereka dengan apa yang telah diperlihatkan Allah kepadamu”. (An-Nisaa, 105)
Dengan demikian, Pembaca yang budiman, untuk menetapkan dan melaksanakan fiqhul waqi’ maka asasnya adalah al-Quran dan as-Sunnah kerana keduanya merupakan penerangan, petunjuk dan pelajaran dalam menghadapi waqi’.
Ini bermakna, mengamalkan fiqhul waqi’ sebagaimana yang dituntut dan mengikut manhaj yang dilalui oleh para Salaf as-Soleh, adalah memenuhi perintah Allah Subhana wa-Ta’ala yang berdasarkan firmanNya dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 105:
اِنَّا اَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرَاكَ اللهُ.
“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu al-Kitab dengan membawa kebenaran, agar kamu mengadili (berhukum) antara manusia dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu”
Kemudian juga di Qur’an Surat Al-Maidah ayat 49
وَاَنِ احْكُمْ بِيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ اَهْوَاءَ هُمْ.

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”.




Dan juga di Qur’an Surat Ali Imran ayat 138, subhanahu wa ta'ala Allah berfirman:
هَذَا بَيَانٌ للنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ للْمُتَّقِيْنَ.
“(Al-Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. (Ali Imran, 3:138)
Ayat ini menjelaskan bahawa keadaan, kejadian (peristiwa), kondisi dan situasi atau waqi’ nya ditundukkan dan dirujukkan kepada hukum-ahkam al-Quran dan as-Sunnah. Bukan al-Quran dan as-Sunnah yang disesuaikan kerana memenuhi kehendak fiqhul waqi’ (kondisi, situasi, peristiwa dan kenyataan) yang berlandaskan hawa nafsu.

Pembaca yang budiman, Perkembangan zaman menimbulkan beberapa persoalan baru. Maka Persoalan ini menuntut adanya pemecahan yang sesuai dengan kondisi masyarakat dan pertumbuhannya. Keadaan ini merupakan tantangan bagi para ulama Islam untuk melahirkan produktif hukum yang adaptif (sesuai dengan kondisi kini), namun tetap berakar kepada kaidah-kaidah syar’i yang shohih. Inilah yang melatar belakangi lahirnya fiqih waqi’i (fiqih realitas)

Pembaca yang budiman, Fiqih Waqi’i lahir untuk mengetahui hakekat realitas kaum muslimin masa kini, karakteristik permasalahan yang timbul, dan kebutuhan-kebutuhannya. Sehingga dengan fiqih waqi’I, kita dapat menimba nilai-nilai positif sebagai kerangka untuk menentukan sasaran acuan. Para ulama memutuskan, bahwa fatwa atau mengetengahkan hukum syara’, harus diiringi dengan pengetahuan tentang realita umat.

namun Pembaca yang budiman, Ini bukan berarti fatwa tunduk kepada kenyataan. Justru kenyataan yang mengharuskan adanya fatwa, demi terpeliharanya tujuan syariah secara umum. Juga demi terpeliharanya kelanggengan agama, jiwa, akal, harta dan keturunan. Realita yang baik selalu menyeru kepada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan.

Dan demikianlah Pembaca yang budiman, kita telah mengulas istilah fiqhul waqi’ dan semoga ulasan singkat ini dapat menambah wawasan kita seputar keislaman. Wallahu a’ lam, Wassalamlu’alaikum Warahmatullah Wabarokatuh.






0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger