Kamis, 15 Oktober 2009

Sebuah Solusi untuk Merubah Ummat..!!

Di tengah-tengah keterpurukan umat di zaman ini, muncullah suatu fenomena yang sangat menggembirakan yaitu lahirnya pergerakan-pergerakan (harokah-harokah) Islamiyah yang berusaha menyelamatkan umat dari keterpurukannya serta menjayakan umat untuk kemudian bisa melaksanakan peranan-nya sebagai kholifah di muka bumi ini.

Namun karena disebabkan beberapa faktor yang tak mungkin terhindarkan, gerakan-gerakan itu akhirnya berjalan sendiri-sendiri dan mempunyai manhaj (metode) perjuangan yang berbeda-beda pula. Hanya saja unsur kesadaran yang sangat tinggi atas perlunya perjuangan, yang memotivasi lahirnya gerakan-gerakan itu, adalah suatu hal yang sangat menggembira-kan dan patut disyukuri.
Di samping usaha-usaha Islami dari gerakan-gerakan Islamiyyah yang bersifat luas dan bermuatan kebangkitan yang tinggi, ada pula usaha-usaha lainnya yang sejalan, namun tidak sama dalam sifat (keluasan) dan muatannya. Walaupun tidak bisa diandalkan untuk melahirkan suatu kebangkitan, akan tetapi pengaruh positifnya dalam mencegah melajunya kemerosotan pun tidak bisa disangkal. Contoh dari usaha-usaha seperti ini misalnya pengajian-pengajian Islami, cera-mah-ceramah, penulisan buku-buku Islami dan lain-lainnya. Tidak masuknya usaha-usaha ini dalam kategori bermuatan kebangkitan dika-renakan beberapa sebab, di antaranya (ketika) dilakukan secara parsial, tidak terorganisir, tidak mempunyai tujuan-tujuan strategis yang tertata serta meluas dalam menghadapi realita keterpurukan. Ditambah lagi dengan "kekurangpekaan" dalam membaca realita.

Kembali kepada perbedaan "metode perubahan" atau "manhaj taghyir" (yaitu jalan yang dipilih untuk mewujudkan perubahan ke arah yang terbaik). Perbedaan manhaj pada gerakan-gerakan itu umumnya disebabkan oleh perbedaan pandangan tentang "hakikat keterpurukan" dan "sebab-sebab keterpurukan serta akibatnya". Secara global ada tiga "pandangan dan solusi" yang menjadi dasar penentuan manhaj atau jalan atau strategi setiap gerakan dalam bekerja menuju tujuan.

A. Pandangan pertama :
Bahwasanya umat hanya mengalami keterpurukan duniawi yaitu keterbelakangan pada mayoritas bidang kehidupan. Kemudian keterbelakangan ini melahirkan keterpurukan-keterpurukan lainnya seperti kemiskinan dan kelemahan sampai kepada pembantaian di mana-mana. Menurut pandangan ini, semua itu tidak ada hubungannya dengan keterpurukan ruhani yang dibeberkan di bab XIV dari buku ini.

Sebab dari keterpurukan duniawi menurut penganut pan-dangan ini adalah kepincangan dalam memenej umat dan solusinya adalah memperbaiki menejemen ruhani yang mereka anggap harus diterima sebagai suatu bentuk kera-gaman (pluralitas) dan warna-warninya kehidupan. Pan-dangan ini tidak akan melahirkan "usaha-usaha Islami". Karena itu strategi pelaksanaannya tidak masuk dalam pembahasan buku ini.

B. Pandangan Kedua :
Pandangan ini mengakui adanya dua keterpurukan, ruhani dan duniawi. Para penganut pandangan ini berbeda pendapat dalam menilai bobot masing-masing keterpurukan. Ada yang memberi bobot lebih besar kepada keterpurukan ruhani dan ada pula yang membesarkan keterpurukan duniawi. Malah ada organisasi yang berpendapat bahwa keterpurukan terbesar adalah keterpurukan pemikiran dan politik. Hanya saja semua mereka sependapat bahwa penyebab semua ini adalah tidak dimenejnya umat dengan sistim Islami atau dengan kata lain "tidak adanya negara Islam" baik dalam taraf nasional, maupun internasional (khilafah).

Tsaqofah mereka terkonsentrasi pada "wajibnya mendirikan negara Islam" yang setelah berdiri akan melahirkan "kejayaan umat". Solusinya adalah berdirinya negara Islam. Karena itu penganut pandangan ini berusaha keras untuk meng-genggam tampuk kekuasaan dan mencurahkan seluruh potensi yang dimiliki untuk mencapainya. Strategi ini kita namakan strategi tampuk kekuasaan. Dalam menentukan strategi mencapai tujuan, secara global para penganut pandangan ini terbagi dalam dua kelompok yang sama besarnya:

1. Kelompok pertama :
Kelompok ini memilih Jalan Politik Parlementer untuk mencapai tampuk kekuasaan.
2. Kelompok kedua :
Kelompok ini memilih jalan kekerasan yaitu menggu-lingkan penguasa setempat untuk mendirikan negara Islam.

Catatan :
Adapun Hizbut Tahrir yang telah menyatakan organisasi-nya sebagai sebuah organisasi (partai?) politik dan bukan organisasi dakwah, serta memilih strategi tampuk kekua-saan, telah menolak jalan politik parlementer. Akan tetapi posisinya dari jalur kekerasan tidaklah jelas. Yang jelas mereka tidak mempunyai kegiatan kekerasan. Jadi strategi Hizbut Tahrir tidak cukup jelas untuk bisa dikategorikan di salah satu dari dua strategi dari pembahasan ini.

C. Pandangan ketiga :
Pandangan ini adalah rangkuman dari butir-butir berikut :

* Keterpurukan ruhani yang ada di negeri ini, sudah mencapai taraf yang sangat dahsyat dan mengerikan. Keterpurukan ruhani ini telah melahirkan keterpurukan duniawi dan memperparahnya.

* Kebodohan adalah sebab utama dan terbesar dalam mengantarkan umat pada keterpurukan ruhani ini.

* Walaupun mendirikan negara Islam memang suatu kewajiban yang besar, akan tetapi tidak bisa didirikan di atas keterpurukan ruhani yang sedahsyat ini, seperti tidak mungkinnya membangun istana di atas rawa.

* Yang sangat mengerikan menurut pandangan ini adalah keterpurukan di akhirat yang diakibatkan oleh keter-purukan ruhani tersebut. Butir ini adalah dasar utama dalam menentukan strategi perubahan menurut pan-dangan ini.

Mereka yang meyakini pandangan ini memilih jalan dakwah sebagai "strategi menuju perubahan".
Straregi ini kita namakan "Strategi Dakwah"
Sumber: Sebuah Gerakan Kebangkitan (hasmi.org)


1 komentar:

  1. Mari bergabung dengan HASMI Untuk Berdakwah..Allahu Akbar..

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger