Minggu, 22 November 2009

Menjawab Syubhat Rasionalis Liberalis


Pembaca yang budiman, Alhamdulillah, kita dapat kembali berjumpa denga anda di kesempatan kali ini, dan Insya Allah kita akan bersama-sama mengkaji dan memperdalam pemahaman keislaman kita, agar kita tidak mudah terjebah oleh syubhat dan pemahaman-pemahaman sesat yang menjerumuskan kita dalam kebinasaan dan menyimpangkan kita dari Shirotul Mustaqim.

Sebagai seorang muslim, tentu kita semua berkewajiban untuk beriman kepada Allah subhanahu Wata'ala dan Rasulnya, serta membenarkan dan meyakini apapun yang disampaikan kepada kita, dan ketika kita membaca ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, maka kewajiban kita ialah menerimanya, serta menundukan akal kita dengan wahyu tersebut. Akan tetapi pembaca yang budiman, hal seperti ini tidaklah dimiliki oleh para penentang Al Qur`an dan hadits Nabi dari golongan rasionalis dan liberalis, ini dikarenakan mereka telah memiliki seburuk-buruk pendahulu, yaitu Iblis la`natulloh. Mereka adalah pengusung bendera Iblis dan tentara syaithon. Mereka menolak, mencela, dan merubah ayat-ayat Al Qur`an sesuai dengan akal kosong mereka belaka. Sebagaimana perkataan pendahulu mereka, yaitu Iblis tatkala enggan sujud kepada Nabi Adam:
Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia
Engkau ciptakan dari tanah."
(Q.S. Shood: 76)
Selain itu Pembaca yang budiman, para pengikut iblis itu juga berani mengatakan bahwa, ayat Al Qur`an itu sudah tidak relevan lagi, sehingga tidak cocok dipakai di zaman sekarang.
Padahal Al Qur`an adalah mu`jizat Rosululloh sholallohu `alaihi wa sallam, Nabi akhir zaman, yang tetap dipakai hingga hari Kiamat.
Pembaca yang budiman, Lihatlah bagaimana pembangkangan Iblis yang diikuti para penolak Al Qur`an dan hadits Nabi yang mulia! Bahkan mereka menyatakan bahwa Iblis akan masuk surga, karena mereka berpendapat bahwa Iblis bertauhid kepada Allah secara sempurna, dimana ia hanya mau sujud kepada Alloh, dan tidak mau sujud kepada selainNya, termasuk tidak mau sujud kepada Nabi Adam.

Demikian pula yang dikatakan oleh para misionaris dari golongan Ahli Kitab dalam rangka memurtadkan kaum Muslimin yang lemah agamanya. Mereka mengatakan, Mengapa kalian sujud menghadap Ka`bah? Bukankah Ka`bah itu hanyalah dinding yang berbentuk segi empat yang ditutupi kain? Berarti kalian pun menyembah dinding selain menyembah Alloh! Dan itu SYIRIK!
Inilah yang disebut dengan syubhat, dan ternyata Syubhat itu lebih berbahaya daripada maksiat. Mengapa?
Karena pelaku maksiat, ia secara sadar mengetahui bahwa apa yang ia lakukan adalah perbuatan dosa dan terlarang, yang dengannya ia pun takut akan azab diakhirat nanti. Sehingga ada harapan di hatinya untuk bertaubat di kemudian hari.
Adapun orang yang termakan syubhat ini, maka keimanannya akan digoncang sedahsyat-dahsyatnya sehingga akhirnya ia berpaling dari kebenaran, dan menjalani apa yang diperintahkan dalam syubhat itu. Dan parahnya, ia menganggap apa yang ada di dalam syubhat itu adalah suatu kebenaran (padahal kebalikannya). Sehingga orang-orang yang semacam ini sangat sulit untuk diharapkan taubatnya, kecuali Alloh menunjukinya ke jalan yang lurus. dan biasanya penyakit syubhat hanyalah menimpa orang-orang yang jahil terhadap syari’at.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memperdalam pemahaman keislaman kita, agar dapat menangkal syubhat-syubhat tersebut. Dan berikut ini akan kami sampaikan bantahan atas syubhat-syubhat tersebut
Adapun perkataan mereka tentang ketauhidan Iblis karena tidak mau sujud kepada Nabi Adam, dan persangkaan para misionaris bahwa sujud menghadap Ka`bah adalah syirik, maka sebenarnya hal tersebut membuktikan kebodohan mereka dalam memahami agam Islam yang mulia ini. Mereka menggunakan akal untuk menipu manusia. Pembaca yang budiman, hendaknya kita ketahui bersama bahwa, sujud kepada Alloh adalah dengan cara mengikuti dan mengerjakan perintah-perintah-Nya, bukan malah membantahnya atau menolaknya. Sebagaimana firman Alloh:
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. An Nur: 51)
Perkataan : ”Kami mendengar dan kami patuh”. Itulah sebenarnya jawaban orang-orang mu`min tatkala Alloh memerintahkan mereka untuk sujud menghadap Ka`bah. Dan seyogyanya itu yang dilakukan oleh Iblis tatkala diperintah untuk sujud kepada Nabi Adam.
Hal ini dikarenakan, ketika ia mengikuti seruan Alloh berarti sujud dan patuh kepada Alloh. Tidak dengan banyak bertanya dan membantah sebagaimana orang-orang rasionalis dan liberalis. Sebagai perumpamaan, jika seorang pemilik toko kain berkata kepada pegawainya, Pergilah kamu ke butik di depan sana!, tanyakan kepadanya jenis kain apa saja yang ia pesan kemarin, lalu catatlah dalam daftar list ini!
Maka pendengar yang mudiman, Tidak mungkin serta merta pegawai itu menolak perintah majikannya seraya berkata, Tidak! Saya tidak akan pergi dari toko ini, karena saya adalah pegawai toko ini, bukan pegawai toko butik itu!

Dan ini merupakan Suatu hal yang aneh, jika seorang pegawai menolak perintah atasannya tanpa dasar yang jelas seperti ini. Bukankah ia bekerja di sana untuk patuh kepada perintah majikannya? Jika dalam hal dunia seperti ini, kita diperintahkan untuk patuh, apalagi jika yang memerintahkan itu adalah Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta beserta isinya, termasuk kita. Lalu apakah akal manusia bisa menyiasatinya? Tentu jabawannya adalah, tidak akan.
Bahkan Ali rodhiyallohu `anhu pernah berkata:
Seandainya agama ini dengan akal, tentu mengusap khuf atau (sepatu) itu lebih pantas di bagian bawahnya, (tidak sebagaimana sunnah Rosululloh). Namun demikianlah yang aku lihat dari Rosululloh yaitu beliau (mengusap khuf di bagian atasnya).


Kemudian pembaca yang budiman, hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa akal tidak akan mungkin menggapai `ilmu Alloh. Sebagaimana kebodohan Iblis yang sombong yang mengira bahwa api lebih baik dari pada tanah. Padahal api lebih banyak membawa sifat buruk daripada sifat baik sebagaimana ia memiliki sifat membakar lagi merusak. Sedangkan tanah memiliki banyak manfaat daripada bahaya, karena dari tanah muncullah tumbuhan yang menjulang tinggi, yang dimakan oleh hewan dan manusia. Tanah menyerap air untuk diminum manusia dan makhluk lainnya. Tanah disifati suci oleh Alloh serta dapat menghilangkan najis. Tanah dapat menghilangkan jasad bangkai dengan menguraikannya. Dan banyak lagi sifat-sifat tanah yang lebih baik dari pada api. Tapi adakah yang bisa mengambil pelajaran? Ya ada, yaitu orang-orang yang mau berfikir, dan menundukan akalnya dibawah wahyu Ilahi.

Pembaca yang budiman, demikianlah mungkin yang bisa kami sampaikan di kesempatan kali ini, semoga dengan penjelasan ini, pemahaman kita semakin bertambah, sehingga kita tidak mudah tertipu oleh propagandan dan upaya dari para pengikut syaitan yang ingin menyesatkan kita. Akhirnya, kami ucapkan terima kasih atas kesediaan anda membaca artikel ini. Wassalamu ’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger