Minggu, 22 November 2009

Menjawab Syubhat Teori Relativisme Kebenaran

Pembaca yang budiman, Insya Allah kita akan mengupas mengenasi syubhat faham relativisme kebenaran.

Paham paham relativisme kebenaran telah menjadi tren dan sering kali dijadikan senjata yang dihunus oleh para aktivis liberal dalam membantah metode pe-mahaman terhadap ajaran Islam dari para ulama terdahulu atau (salafush shalih) yang telah mereka anggap kuno dan tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. sehingga Sudah tidak mengherankan apabila dalam ajang diskusi dan perdebatan, para aktivis liberal sering menolak penjelasan dan penafsiran ayat al-Qur’an maupun al-Hadits dari lawan debat mereka dengan lontaran kalimat : ‘itukan menurut pema-haman anda’, atau ‘yang saya pahami tidak seperti apa yang anda katakan’, dan kalimat lain sejenis yang menggambarkan bahwa menurut mereka penafsiran agama yang dilakukan oleh para ulama tidaklah identik dengan klaim kebenaran yang harus diikuti, karena menurut mereka kebenaran itu sendiri adalah sesuatu yang relatif, tidak mutlak atau absolut. Sehingga setiap orang berhak untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan logika dan alur fikirannya masing-masing. Dalam teori relativisme ini, Setiap orang bebas memilih bentuk, atau bahkan membentuk sendiri, bahkan membaut cara beragama masing-masing. Bagi penganut faham relativisme ini tidak penting bagaimana dan dengan cara apa seseorang melaksanakan ajaran agama yang diyakininya, karena menurut mereka kebenaran itu relatif, sehinnga jika ada seseorang menganggap bahwa Syirik itu dilarang, maka merekapun langsung mengatakan : itu kan menurut dia, menurut orang lain belum tentu...

Pendengar yang budiman, dampak pemahaman seperti ini Pada akhirnya setiap orang dianggap sah-sah saja mem-buat tata aturan sendiri, termasuk dalam semua aspek beragama sekalipun, dengan membuat pola yang dia yakini se-bagai kebenaran. Mereka merasa tidak perlu lagi terikat pada syariat yang di-ajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jadilah mereka –dengan demikian- se-bagai syari’ atau (penentu dan pembuat sya-riat), yang tidak terikat pada syariat apapun, kecuali syariat yang mereka buat dan ramu itu. Maka dengan demikian merekapun sering mengatakan bahwa : Jalan boleh berbeda yang penting tujuannya sama.

Pendengar yang budiman, dalam menghadapi fenomena seperti ini, maka semestinya kita terus waspada dan mengambil langkah antisipatif dalam meng-counternya. Apalagi ketika konsep pemikiran relativisme ini di-sebarluaskan kepada lapisan grass root atau masyarakat luas, dida’wahkan dengan sangat masif atau kuat, dengan berbagai pola yang sangat destruktif atau (sangat menghancurkan dan merusak), selain itu usaha mereka pun didukung oleh puluhan media cetak dan elektronik serta suntikan dana besar-besaran dengan membangun lem-baga-lembaga propaganda, merekapun banyak menerbitkan buku-buku dan segenap upaya yang sangat sistematis. Ironisnya pula, para pengusung faham relativisme ini bukanlah ‘orang sem-barangan’, tetapi mereka adalah para tokoh kunci dan pimpinan perguruan tinggi atau institusi Islam yang dihormati dan dianggap me-miliki kredibilitas dalam masalah agama.

Pendengar yang budiman, tentunya tidak cukup jika kita hanya mengetahui bahwa faham relativisme ini adalah suatu faham yang sesat, kitapun hendaknya bisa menjelaskan kepada kaum muslimin mengenai bagaimana prinsip-prinsip dan tolok ukur yang tepat untuk menilai suatu perkara, apakah itu benar atau salah.

Dan berikut ini kita akan jelaskan bahwasannya Hanya Islamlah yang benar, hal ini dikarenakan Islam adalah Agama yang telah Allah sesuaikan dengan kebutuhan makhluknya. Karena sebagaimana yang kita ketahui, bahwa Allah telah menciptakan alam se-mesta beserta isinya dengan sangat sem-purna dan teratur. Seluruh makhluk cip-taan-Nya juga tersusun dengan pola dan sistem yang sangat sempurna, oleh karena itu, maka hanya aturan dan syari’at Allah sajalah yang pantas dijadikan pedoman hidup bagi setiap ciptaanNya, dan syari’at Allah ini tiada lain adalah syari’at Islam.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”. (QS. Ali Imran: 19).

Dan di ayat lainnya Allah pun berfirman:
“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali Imran: 85).
Pendengar yang budiman, Ayat tersebut menjelaskan bahwa kebenaran hanya akan didapatkan di dalam Islam. Dan Jika seseorang mencari kebenaran diluar Islam, atau mencari agama diluar islam, atau membuat pola dan aturan sendiri yang diyakininya sebagai kebenaran, maka pada dasarnya ia berada dalam kesesatan dan kerugian.

Dan untuk menyampaikan agamaNya yang lurus ini kepada manusia, maka Allah Subhanahu wata’ala telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap zaman, dan rasul terakhir adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pendengar yang budiman, Allah telah meng-utus Rasul-Nya sebagai basyir atau (pemberi kabar gembira) juga sekaligus sebagai nadzir atau (pemberi peringatan). Kabar gem-bira berupa jannah dan kenikmatannya –di akhirat kelak- bagi mereka yang me-ngikuti jalan-Nya, dan peringatan akan neraka dan siksaannya bagi para penyim-pang dan pembangkang yang menyelisihi JalanNya.

Adapun Untuk mengetahui Jalan kebenaran yang harus diikuti dan jalan kebathilan yang harus dijauhi itu telah dengan jelas diterangkan Allah melalui wahyu-Nya, baik beruupa al-Qur’an maupun hadits Rasulullah.

Abu Dzar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, dimana ia berkata:
“Rasulullah telah wafat meninggalkan kami, dan tidak seekorpun burung yang terbang membolak-balikkan kedua sayapnya di udara, beliau pasti telah mene-rangkan ilmunya kepada kami. Abu Dzar berkata: Beliaupun telah bersabda: “Tidak tersisa sedikitpun sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga, dan men-jauhkan kalian dari neraka, sungguh pasti telah dijelaskan kepada kalian”. (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani)

Pendengar yang budiman, Dari penjelasan ayat dan hadits yang tadi telah kita sampaikan menunjukan dengan sangat jelas bahwa pemahaman para pengusung liberalisme dan pluralisme sangatlah menyesatkan. Mereka meyakini adanya nilai-nilai kebenaran diluar Islam, bahkan agama berada di jalan yang benar.

Pendengar yang budiman, Mereka, para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya, pasti akan senantiasa berada dalam kesempitan hidup, akibat berpaling dari hidayah-Nya. Mereka tidak pernah sampai pada keimanan, karena senantiasa diliputi keraguan akan kebenaran Islam, dan ini merupakan akibat dari Sikap Skeptis atau sikap kurang percaya mereka kepada dalil sehingga menjadikan mereka selalu terombang ambing, mengejar fatamorgana kebenaran yang tak akan pernah mereka dapatkan. Sehingga telah hilanglah dari diri mereka keimanan kepada wahyu Allah dan syariat Rasul-Nya, dan yang ada pada diri para liberalis dan pluralis serta orang-orang yang telah terkena virusnya hanyalah penghambaan kepada akal dan hawa nafsu mereka.

Pendengar yang budiman, demikianlah yang mungkin dapat kita sampaikan di kesempatan kali ini, semoga penjelasan ini dapat memberikan pencerahan dan membuka cakrawala khazanah keilmuan kita, sehingga kita tidak mudah tertipu dengan propaganda dan teori-teori sesat yang senantiasa dilontarkan oleh orang-orang yang memiliki kebencian dalam hatinya terhadap islam. Sampai disini kebersamaan kita kali ini. Terima kasih atas kebersamaan dan partisipasi anda. wassalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh.



0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger