Rabu, 13 Januari 2010

Kesyirikan di balik Sholawat Badr

Sholawat badar bukanlah hal yang asing di telinga kita, karena memang sholawat ini sangat masyhur di kalangan kaum muslimin, dan banyak di antara mereka yang memahami bahwa sholawat badar dapat menghindarkan mereka dari bencana.

Adapun bunyi sholawat badr ini adalah sebagai berikut:
shalatullah.. salamullah.. ‘ala thoha rosulillah...
shalatullah.. salamullah.. ‘ala yaasiin habibillah...
tawasalnaa bibismillah.. wa bil hadi rosulillah
wa kulli majaahidin fillah
bi ahlil badri ya Allah..dan seterusnya..
Yang artinya adalah:
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dengan Thoha dan juga Yasin habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr alias para shahabat yagn mengikuti perang badar

Berikut ini kami akan sampaikan beberapa penjelasan tentang kandungan dari sholawat tersebut.
1. Tidak terdapat riyawat yang menyebutkan bahwa Thoha atau yasin adalah Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam, kemudian gelar nabi muhammad dan nabi ibrahim adalah sama, yaitu khalilullah atau kekasih Allah, bukan habibillah.
2. Bahwasanya tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkan kaum muslimin untuk bertawashul dengan Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, bahkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabatpun melakukannya. Adapun hadits yang berbuyi: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
3. Jika tawasul dengan Nabi saja tidak boleh, tentunya lebih tidak boleh lagi bertawasul kepara para shahabat yang mengikuti perang badar.

Adapun tawashul Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah subhanahu wa ta'ala, hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ
Yang artinya adalah: “Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Dan hal ini pun pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, yang mana beliau pernah berdoa dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki ,yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Bertawassul dengan nama Allah seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih sebagaimana kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, lalu mereka bertawasul dalam doanya dengan amal sholihnya, dan jenis tawasul yang ketiga adalah dengan doa orang shalih yang masih hidup, (yakni dengan cara meminta orang shalih agar mendoakannya).

Adapun jenis tawasul Selain tiga jenis yang telah kami sampaikan tadi, maka tawasul tersebut tidak berdasarkan dalil, dan termasuk tawassul yang terlarang, inilah diantara kekeliruan yang terkandung di dalam sholawat badr yang baru saja kami sampaikan, dan tentunya masih banyak sekali jenis-jenis sholawat yang menyimpang dari aqidah islam, dan biasanya sholawat-sholawat itu banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya dan akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau dan masuk jannah. Padahal ungkapan-ungkapan tersebut sama sekali tidak memiliki landasan, dan bisa dikatakan bahwa ungkapan dari para penganut tarekat itu hanyalah perkara dusta, Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dan tidak mencontohkan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.

Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita, namun pada kenyataannya beliau tidak pernah menganjurkan kepada kita sebagai ummatnya, untuk itu kita tidak perlu mengamalkan hal-hal yang tidak beliau contohkan, Apalagi jika model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.

Bahkan bisa kita saksikan fenomena yang terjadi saat ini, Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Padahal yang mereka lakukan itu sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan mereka mendapatkan dosa, sebab Mereka telah membuat dan mengamalkan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Islam, dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam. oleh karena itu, marilah kita kembali merujuk kepada sumber-sumber Islam yang murni, yaitu Al-Qur'an dan Hadits shohih. Dimana hanya dengan sumber itulah kita dapat melaksanakan ibadah dengan benar, dan terbebas dari kesesatan.

Sumber:
http://soni69.tripod.com/Islam/senandung_doa
http://www.eramuslim.com




Senin, 11 Januari 2010

Memahami arti Rahmatan Lil 'Alamin

Sebagian besar dari kita sudah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Namun banyak orang menyimpangkan pernyataan ini kepada pemahaman-pemahaman yang salah, Sehingga menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama bahkan dalam hal yang sangat fundamental, yaitu dalam masalah aqidah, seperti berloyal kepada orang kafir, dan lain sebagainya.

Maka dari itu pada tulisan kali ini Insya Allah akan kami sampaikan pemahaman yang sebenarnya dari kalimat rahmatan lil ‘alamin, sekaligus bantahan dari para pendukung kesesatan dan pluralisme agama yang berdalil dengan istilah tersebut.
Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala: yang artinya
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia”
(QS. Al Anbiya: 107)

Dalam lisanul arob dijelaskan bahwa Secara bahasa, rahmat artinya ar-rifqu wath-tha’athuf; yang artinya adalah kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Adapun makna secara istilah, maka berikut ini akan kami sampaikan Penafsiran dari Para Ahli Tafsir, diantaranya Muhammad bin Jarir Ath Thabari menyebutkan bahwa: …Sebagian ahli tafsir berpendapat, rahmat yang dimaksud adalah seluruh manusia baik mu’min maupun kafir. Mereka mendasarinya dengan riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat ini: ”Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau di terpa gelombang besar”.

Pendapat ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang beriman saja. Mereka membawakan riwayat dari Ibnu Zaid dalam menafsirkan ayat ini: “Dengan diutusnya Rasulullah, ada manusia yang mendapat bencana, ada yang mendapat rahmah, walaupun bentuk penyebutan dalam ayat ini sifatnya umum, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Seluruh manusia yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah, membenarkannya dan menaatinya”.

Selain itu, Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa “Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah Kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk’. Sebagaimana dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan oleh Allah” (HR. Al Bukhari)
Orang yang menerima rahmat ini dan bersyukur atas nikmat ini, ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala tidak mengatakan ‘rahmatan lilmu’minin‘, namun mengatakan ‘rahmatan lil ‘alamin‘ karena Allah Ta’ala ingin memberikan rahmat bagi seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para Nabi, yaitu Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan yang besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada menusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud rahmat Allah bagi seluruh manusia. Bahkan orang-orang kafir mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya adzab bagi mereka. Selain itu mereka pun tidak lagi ditimpa azab berupa diubah menjadi binatang, atau dibenamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dengan air”
Inilah pemahaman yang benar tentang kalimat Rahmatan lil ‘alamin, dan ini sangat bersebrangan dengan Pemahaman yang disalah artikan oleh sebagian orang-orang liberalis, dimana mereka mengatakan bahwa Rahmatan lil ‘alamin adalah Berkasih sayang dengan orang kafir.

Padahal ayat yang menyebutkan rahmatan lil ‘alamin ini sama sekali tidak anjuran untuk perintah berkasih sayang kepada orang kafir. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat Allah bagi orang kafir dalam ayat ini adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu.
Selain itu, konsekuensi dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah membenci segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, membenci bentuk-bentuk penentangan terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, serta membenci orang-orang yang melakukannya.

Hal ini Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya adalah: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka” (QS. Al-Mujadalah: 22)
Namun perlu dicatat, harus membenci mereka bukan berarti harus membunuh, melukai, atau menyakiti orang kafir yang kita temui, dimana dalam hal ini terdapat penjelasan yang sangat rinci, yaitu bahwa ada orang kafir yang wajib diperangi, ada pula yang tidak boleh dilukai.

Kemudian, ada juga di antara kaum muslimin yang mengatakan bahwa rahmatan lil ‘alamin adalah Berkasih sayang dalam kemungkaran dan penyimpangan agama
Sebagian kaum muslimin membiarkan berbagai maksiat dan penyimpangan agama serta enggan menasehati dan mendakwahi mereka karena khawatir para pelakunya tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian ia berkata : “Islam kan rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Dan sungguh ini adalah perkataan yang sangat aneh...

Padahal sebagaimana yang telah kami sampaikan tadi, bahwasanya Islam sebagai rahmat Allah bukanlah maknanya berkasih sayang kepada pelaku kemungkaran serta membiarkan mereka terus melakukannya. Melainkan Sebagaimana dijelaskan Ath Thabari dalam tafsirnya tadi bahwa: “Rahmat bagi orang mu’min yaitu Allah memberinya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah”.

Maka bentuk kasih sayang Allah terhadap orang mu’min adalah dengan memberi mereka petunjuk untuk menjalankan perinta-perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah, sehingga mereka menggapai jannah. Dengan kata lain, jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan. dan inilah bentuk rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya.

Selain itu Dalam surat Al Ashr juga dijelaskan bahwa sesame muslim harus saling menasihati, sebagaimana Allah subhanahu Wata'ala berfirman yang artinya: “ … dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran …


Sumber: muslim.or.id dengan sedikit tambahan dan perubahan.



Jumat, 08 Januari 2010

Masturbasi/Onani Dalam Pandangan Syari’at Islam

Masturbasi atau Onani dalam bahasa Arab disebut dengan Istimna’.

Adapun yang dimaksud dengan Masturbasi adalah menyentuh, menggosok dan meraba bagian tubuh sendiri yang peka sehingga menimbulkan rasa menyenangkan untuk mendapat kepuasan seksual, baik menggunakan tangan maupun menggunakan alat atau benda-benda tertentu.

Sedangkan onani mempunyai arti sama dengan masturbasi. Namun ada yang berpendapat bahwa onani hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sedangkan istilah masturbasi dapat berlaku pada perempuan maupun laki-laki.

Sebenarnya para ulama terdahulu telah membahas hal ini dengan sangat jelas bahwasannya onani adalah haram, pendapat ini dikemukakan oleh para ulama dari madzhab Maliki dan Syafi’i. Argumentasi mereka akan pengharaman onani ini adalah bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah memerintahkan untuk menjaga kemaluan dalam segala kondisi, kecuali terhadap istri dan budak perempuannya. Apabila seseorang tidak melakukannya terhadap kedua orang itu kemudian melakukan onani, maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang melampaui batas-batas dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ
Artinya : “dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu. Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Mukminun : 5 – 7)

Dalam ayat tersebut Allah memberitakan bahwa barangsiapa yang tidak bersetubuh dengan istrinya dan melakukan onani, maka berarti ia telah melampaui batas, dan tidak syak lagi bahwa onani itu melanggar batasan Allah, bahkan tak jarang mereka beronani sambil membanyangkan dan menkhayalkan sedang melakukan hubungan intim dengan lawan jenis. Terlebih lagi jika ia mengeluarkan mani dengan menonton film-film porno, maka ini lebih berat lagi dosanya, sebab ia telah menyaksikan aurat orang lain yang tidak halal baginya, dan sudah jelas bahwa ini adalah haram.

Disamping itu, Kebiasaan mengeluarkan sperma dengan tangan di saat syahwat bergejolak juga ternyata dapat mengandung banyak bahaya sebagaimana dijelaskan oleh para dokter kesehatan. Seperti badan lemah, anggota tubuh kaku dan bergetar, penglihatan kabur, perasaan berdebar-debar dan pikiran tidak menentu. Belum lagi hal ini akan mempengaruhi produksi berbagai organ reproduksi yang normal. Berkurangnya sel telur dan sperma hingga tidak bergairah. Selain itu Melazimkan diri dengan onani juga dapat membuat pelaku menjauhi nilai-nilai moral serta akhlak tinggi yang menjadi unsur utama kemuliaan umat Islam.

Akan tetapi dosa onani tentu tidak sama dengan zina yang sesungguhnya. walaupun demikian Si pelakunya tetap dikenakan teguran dan peringatan keras. Hal ini sebagaimana terdapat dalam kitab Majmu’ al Fatawa bahwa Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan bersandar pada pendapat yang paling benar menjelaskan bahwa pelaku onani haruslah diberikan teguran keras.
Maka dari itu, bagi yang sudah terbiasa melakukan onani, maka ia wajib untuk meninggalkan kebiasaannya tersebut. Dan berikut ini akan kami sebutkan beberapa kiat untuk menghindari kebiasaan Onani atau Masturbasi.

1. Menikah !
Ini merupakan solusi yang paling ampuh, sedangkan bagi yang belum mampu menikah, maka hendaknya ia memperbanyak puasa sunnah, dimana puasa merupakan perisai seorang mukmin yang akan menjaganya dari godaan syahwat, hal ini merupakan wasiat dari Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam kepada para pemuda, sebagaimana beliau bersabda,”Wahai para pemuda, jika diantara kalian sudah ada yang mampu menikah hendaklah menikah karena matanya akan lebih terjaga dan kemaluannya akan lebih terpelihara. Jika ia belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa karena puasa itu ibarat perisai.” (HR. Jama’ah)

2. Mengendalikan fikiran dan menyibukan dirinya dengan perkara-perkara yang bermanfaat bagi dunia maupun akheratnya.
Sebab, jika seseorang banyak menganggur, maka iapun terus menerus menghayal dan khayalan itu akan mendorongnya untuk melakukan perbuatan onani, sehingga pada akhirnya menjadikannya kebiasaan sehingga sulit untuk dilepaskan.

3. Menjaga pandangan dari melihat orang-orang atau foto-foto yang membawa fitnah, baik foto dari orang yang hidup atau sekedar gambar. Hal ini dikarenakan gambar atau foto tersebut dapat membuat dirinya tergoda untuk melakukan onani, hal ini sebagaimana Allah Subhanahu Wata'ala berfirman.
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ

Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya…” (QS. An Nuur : 30)
Selain itu, terdapat Juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, dimana Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Janganlah engkau ikuti pandanganmu dengan pandangan yang selanjutnya.”
yang dimaksud dengan Pandangan pertama dalam hadits itu adalah pandangan spontanitas yang tidak ada dosa didalamnya, sedangkan pandangan kedua adalah haram. Untuk itu sudah seharusnya kita sebagai kaum muslimin menjauhkan diri dari tempat-tempat yang didalamnya terdapat perkara-perkara yang bisa menggelorakan dan menggerakkan syahwat.

4. Mempersenjatai diri dengan tekad yang kuat serta tidak mudah meyerah terhadap setan. Hindari berada dalam kesendirian, seperti di kamar sendirian, tidur sendirian, atau berlama-lama ketika mandi. Sebab hal itu akan mendorongnya untuk melakukan kemaksiatan. Hal ini berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Ahmad bahwa bahwa Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam melarang seseorang bermalam sendirian.

5. Komitmen dan senantiasa mengamalkan adab-adab syari’ah saat tidur, seperti; berdzikir, tidur diatas sisi kanan tubuhnya, serta menghindarkan tidur telungkup yang dilarang Nabi Shalallahu'alaihi wa sallam.

6. Segera bertaubat dan beristighfar serta melakukan perbuatan-perbuatan taat. Dan tentunya kiat yang tidak diragukan lagi adalah kembali kepada Allah dan merendahkan dirinya dengan berdo’a, serta meminta pertolongan dari Allah Subhanahu Wata'ala agar Allah dapat melepaskan dirinya dari kebiasaan tersebut.

Demikanlah beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tidak lagi terjerumus ke dalam kebiasaan onani.

Sumber Inspirasi:
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/apakah-onani-manstrubasi-termasuk-dosa-besar.htm
http://al-atsariyyah.com/?p=1536
http://ilma-site.blogspot.com/2007/11/hukum-onani-dan-masturbasi.html
http://dakwahislamku.multiply.com/journal/item/16



Kamis, 07 Januari 2010

Cukupkah kita hanya menjadi orang shalih?


Dalam sebuah hadits beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik manusia diantaramu adl yg paling banyak manfaat bagi orang lain” {H.R. Bukhari}. Dan mungkin Kita sering menyaksikan atau memiliki seorang teman yang sudah mulai rutin mengikuti sebuah pengajian, yang mana dengan itu ia jadi berubah. Tak hanya dari penampilan fisik, tapi juga sikap. musik dan hura-hura yang dulunya ia sukai kini sudah ditinggalkan. Aktivitasnya kini hanya berkisar antara rumah, kampus dan masjid. Ibadahnya pun sangat rajin.

Tak hanya ibadah wajib, tapi juga sunnah. bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al-Qur’an atau buku yang akhir-akhir ini mulai memenuhi kamarnya. akan tetapi di samping hal positif tersebut, ternyata Ia Jarang bergaul dengan orang-orang sekitarnya. yang akhirnya sifat Ini mengundang tanda tanya besar bagi tetangga bahkan keluarganya.

Perilaku tersebut merupakan salah satu gambaran sosok muslim yang tidak berguna. Ia shalih bagi dirinya, tapi keshalihannya itu tak berpengaruh apa-apa bagi orang lain. Sosok seperti ini tidak sedikit. Mereka merasa dengan menjaga keshalihan pribadi saja sudah cukup. Masa bodoh dengan orang lain. Padahal Islam tentu saja tak menghendaki hal ini. Seorang Muslim hendaknya tak hanya shalih bagi dirinya, tapi juga mushlih bagi orang lain.
Ada tiga tipe manusia terkait dengan keshalihannya dengan orang lain. Tipe pertama, orang yang shalih tapi merusak. Tipe seperti ini tercermin pada mereka yang rajin melaksanakan ibadah ritual, tapi perilakunya merusak.
Misalnya, melakukan korupsi, menggasak uang rakyat, menyelundupkan harta negara, menumpuk kekayaan untuk pribadi. Dalam segala tindak tanduknya itu, ia tak pernah peduli dengan kesengsaraan orang lain. Tak heran kalau di samping rumahnya yang mewah, juga berdiri gubuk reot.

Lalu, bagaimana sifat-sifat ini bisa muncul? Ada beberapa hal yang melatarinya. Pertama, hubbud dunya wa karahiyatul maut, artinya (cinta dunia dan takut mati). Sikap seperti ini akan melahirkan manusia-manusia rakus. Ia menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Akibatnya, ia tak peduli dengan segala yang dilakukan, apakah menerjang rambu-rambu agama atau tidak. Segala aktivitas ibadahnya tidak berorientasi pada ridha Allah. Tapi lebih pada sekedar menggugurkan kewajiban dan mencari legitimasi sebagai orang baik di mata manusia.

Sikap seperti ini tak ubahnya dengan perilaku orang munafik. Mereka senantiasa menampilkan kebaikan di depan orang banyak, padahal mereka adalah perusak. Berkenaan dengan hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 11-12).

Kemudian Tipe manusia yang kedua yaitu orang shalih yang pasif. Tipe orang seperti ini adalah mereka yang rajin beribadah, dan tidak melakukan kerusakan. Tapi, mereka tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Keshalihan baru sebatas untuk dirinya sendiri. Ia tak mau peduli dengan sesamanya. Jangankan mau mengubah keadaan umat dengan mengabdikan dirinya dalam aktivitas dakwah, memikirkannya pun tidak. Pembantaian atas umat Islam di berbagai negeri tidak menyentuh hatinya untuk sekadar prihatin. Gencarnya usaha-usaha pemurtadan, tidak menggerakkan hatinya untuk berbuat. Ia asyik dengan dirinya sendiri.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Di antaranya, mudah puas dengan melakukan kebaikan yang sedikit. Orang yang salah memahami agama dan menempatkannya hanya untuk keshalihan pribadi, akan mudah puas dengan kebaikan yang ia lakukan. Padahal, dalam Islam, ibadah ritual hanyalah sebagian kecil dari ajaran Islam, dan bukan segalanya.

Orang yang menganggap Islam hanya sebatas pada ibadah ritual semata, akan mudah puas dan merasa sudah berada pada puncak pengabdian pada Allah hanya karena tak pernah meninggalkan tahajud. Akibatnya, ia tidak melakukan ibadah sosial lainnya.
Hal lain yang menyebabkan orang shalih ini pasif adalah tidak memiliki semangat keagamaan yang baik. Akibat pemahaman yang parsial, maka baginya tak ada permasalahan besar selain ibadah ritual. Ia akan menggangap permasalah di luar itu bukan wilayahnya. Bahkan negerinya sedang dikepung oleh kejahilan dan kesesatan serta dijajah secara ideologi oleh pihak asing pun tidak menjadi beban pikirannya. Menurutnya, ribuan kaum Muslimin yang dibantai Zionis Israel di Palestina, hancurnya tempat-tempat ibadah kaum Muslimin di negeri Irak, dan berlangsungnya diskrminasi terhadap umat Islam di berbagai negara, tak ada hubungan dengan ibadahnya.
inilah dua tipe manusia yang hanya sholih tetapi tidak berdaya guna, semoga kita terhindar dari sifat-sifat seperti itu, lalu bagaimana sebenarnya sikap muslim yang baik?

Muslim yang baik adalah muslim yang shalih dan berguna. Inilah tipe ideal seorang Muslim. Selain melaksanakan ibadah ritual, ia juga memberikan manfaat bagi orang banyak. Ia ibarat lampu yang menerangi sekitarnya. Rasulullah saw mengibaratkan mereka ini seperti lebah. Beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda ” Perumpamaan orang beriman itu ibarat lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapinya” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Bazzar). Dan tipe mukmin seperti inipun digambarkan Allah melalui firman-Nya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kepada rabb kalian, dan lakukanlah kebajikan agar kalian beruntung,” (QS al-Hajj: 77).

Dalam ayat di atas, Selain mengandung perintah sujud dan rukuk serta beribadah, Allah juga memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Ini menggambarkan bahwa ibadah mahdhah saja belum cukup, tapi harus diiringi dengan melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, dan sebaik-baik manfaat bagi orang lain adalah dengan membantu mereka untuk mendapatkan hidayah Allah subhanahu Wata'ala, yakni dengan mendakwahi mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah subhanahu Wata'ala dan menjauhi segala maksiat, dan inilah Orang shalih yang ideal, yaitu yang mau melakukan perbaikan. Ia shalihun li nafsihi wa mushlihun li ghairihi, Baik bagi dirinya dan mampu juga memperbaiki orang lain, dan semoga kita semua termasuk golongan manusia yang seperti ini.

Oleh: Yusuf Supriadi
Sumber Inspirasi: Sabili Cyber News


Bolehkan Mengamalkan Sholawat Nariyah?


Salah Seorang kiyai Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta menulis sebuah artikel tentang sholawat Nariyah, yang mana jika seorang muslim tidak memiliki pemahaman Ilmu yang benar, maka bisa jadi ia akan terpengaruh oleh syubhat yang dilontarkannya, dimana ia mengatakan bahwa “shalawat Nariyah”, adalah salah satu bacaan yang sangat popular di kalangan kaum muslimin, baik di desa maupun di kota, Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan, maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan Shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.
Berikut ini adalah bacaan shalawat Nariyah:
اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك
yang artinya adalah, Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Dalam kitab Khozinatul Asror halaman 179 dijelaskan, bahwa “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah, karena jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai, maka mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, kemudian tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat bi idznillah.”
Selain itu, imam Dainuri mengatakan bahwa : Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat Fardhu sebanyak 11 kali, serta digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping itu, ia akan mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

Demikianlah apa yang difahami oleh sebagian besar kaum muslimin di negri ini, dan mungkin diantara kita pun ada yang pernah membaca shoalwat ini. Dan sebenarnya membaca sholawat adalah hal yang sangat disunnahkan oleh Rasulullah, akan tetapi kita sebagai kaum muslimin hendaknya tidak begitu saja seta merta meyakini apa yang diucapkan oleh seseorang, sekalipun yang berkata adalah seorang Kiyai. Kita harus mencari tahu mengenai kebenaran perkataan tersebut.
Nah untuk mengetahui apakah benar Shalawat Nariyah yang dibaca sebanyak 4444 kali itu dapat mendatangkan rizki dan solusi atas problem hidup yang sulit dipecahkan?
Berikut ini akan kami ulas secara tuntas.

Menurut Kiyai Mahrus Ali, ternyata sumber dan asal-usul shalawat Nariyah ini tidak diketahui, padahal beliau telah menelaah buku dan kitab hadits, fiqih, dan tasawuf. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sholawat Nariyah adalah sholawat bid’ah yang jika dilakukan maka pelakunya akan diancam dengan Nar alias neraka.
Selain itu, jika kita perhatikan Dari segi isi shalawat, maka akan kita temukan banyak sekali kekeliruannya, terutama pada lafadz-lafadz yang artinya: “.. Yang dengannya, maksudnya dengan (Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam) maka segala ikatan menjadi lepas, dengannya segala kesulitan akan lenyap, dan dengannya segala keinginan akan tercapai, dengannya pula segala kebutuhan akan terpenuhi.”.
Dengan demikian jelaslah bahwa Menurut shalawat tersebut, yang melepaskan ikatan, kesulitan dan mengabulkan segala keinginan adalah Rasulullah, bukan Allah.

Hal ini jelas mengandung kesyirikan dan bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimana Allah subhanahu Wata'ala berfirman dalam surat Yunus ayat 31, yang artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”
Kemudian dalam ayat yang lainnya, Allah subhanahu Wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Ra’d ayat14, yang artinya:
“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.”

Demikianlah ayat-ayat yang sangat jelas, bahwasanya hanya Allah subhanahu Wata'ala lah yang berhak dan mampu melepaskan berbagai kesulitan dan mengabulkan permohonan, bukan Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, sebab beliau shalallahu'alaihi wa sallam hanyalah manusia biasa yang diberi kelebihan oleh Allah subhanahu Wata'ala dibanding manusia lainnya.
Namun bukan berarti kita anti-shalawat. Kita tetap harus bershalawat pada Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 56, yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
Selain itu, di dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa’i, Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.”

Inilah dalil-dalil yang sangat kuat, yang menunjukan bahwa kita diperintahkan untuk bersholawat kepada Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, Akan tetapi hendaknya kitapun mengilmui bagaimana Cara ber-shalawat yang benar kepada Rasulullah, yakni harus sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya. Dan salah satu bentuk bacaan sholawat yang paling singkat adalah dengan mengucapkan “Shalallahu ‘Alaihi Wassalam”.
Oleh: Yusuf Supriadi
Sumber Referensi: 1. http://muza36.wordpress.com/2008/09/10/shalawat-nariyah/
2. http://majelismunajat.com/2009/10/amalan-sholawat-nariyah/



Menjawab Syubhat Bahwa Nabi Maniak seks (Astagfirullah)


Di sebuah Situs, tepatnya yang beralamat di http://www.indonesia.faithfreedom.org (Alhamdulillah situs tersebut telah ditutup), terdapat suatu hinaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamyang akan sangat menyakitkan apabila dibaca oleh seorang muslim. Dalam sebuah tulisannya, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang maniak seks karena menikah dengan banyak perempuan dan juga mereka menyebut bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang yang tidak bermoral karena menikahi `Aa'isyah pada usia 7 atau 6 tahun dan menggaulinya pada usia 9 tahun, Alhamdulillah situs itu kini sudah ditutup. Dan mereka yang berani menuduh seperti ini tidak lain adalah orang-orang kafir.
Sebenarnya bukan hanya kali ini saja penghinaan itu terjadi, akan tetapi Penghinaan atas diri pribadi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terjadi sejak lama, bahkan saat beliau masih hidup, berulang kali hinaan, cacian, makian dan sumpah serapah telah beliau terima.
Terkadang masih ditambah lagi dengan tekanan pisik yang amat pedih. Pukulan, hantaman, lemparan batu bahkan percobaan pembunuhan oleh konspirasi perwakilan semua kabilah Quraisy.
Kalau kita perhatikan, semua bentuk penghinaan dan tekanan itu terjadi pada saat orang-orang kafir gagal membantah kebenaran agama Islam. Tuduhan bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu gila yang pernah mereka lontarkan, tidak terbukti. Sebab semua orang tahu bahwa beliau tidak gila. Tuduhan bahwa beliau penyihir, juga tidak terbukti, sebab sama sekali tidak ada kemiripan dengan penyihir.
Tuduhan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyair, lagi-lagi tidak bisa terbukti. Sebab beliau bukan ahli syi'ir dan Al-Quran sangat berbeda dengan semua bentuk syi'ir arab.
Akhirnya, karena secara ilmiyah tidak bisa membantah kebenaran agama Islam dan kenabian beliau, orang-orang kafir itu mulai melakukan apa saja dengan segala cara, asalkan bisa membuat orang berpaling dari agama Islam.
Maka mulailah pelecehan mereka berpindah kepada hal-hal yang bersifat pribadi. Tapi karena ciri fisik beliau terlalu sempurna, maka dicari lagi sisi-sisi negatif lainnya. Syetan lalu membisikkan hati orang-orang kafir dan memberi ide segar, yaitu lewat pernikahan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa wanita.
Celah sempit inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang hatinya penuh penyakit. Tidak peduli dengan fakta sejarah, buat mereka, apapun karangan, asalkan bisa memojokkan dan membuat berpandangan negatif terhadap pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, jadilah.
Padahal semua wanita yang beliau nikahi tidak lain adalah para janda, yang tidak bisa dikatakan muda, apalagi cantik. Satu-satunya isteri yang dinikahi dalam keadaan perawan hanyalah Aisyah ra. Meski pada usia yang masih muda, tapi ukuran usia nikah di semua peradaban dunia ini tidak bisa disamakan.
Misalnya, di Yaman kita sering mendengar pernikahan antara suami yang berusia 10 tahun dan isteri yang berusia 8 tahun. Ini adalah tradisi dan kebiasaan yang berkembang di suatu tempat. Mungkin berbeda dengan yang ada di tempat lain. Tetapi tidak bisa dijadika sebagai bahan untuk melecehkan pribadi orang yang dilahirkan dan dibesarkan di tempat tersebut.
Adapun nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beristri banyak, bukan hal yang aneh. Kalau kita membaca sejarah para raja dan orang di masa lalu, tidak perlu jauh-jauh, seratusan tahun yang lalu pun, kita masih sering mendapati poligami. Bahkan tidak jarang mereka punya isteri sampai seratus.
Hanya di masa sekarang ini saja poligami menjadi tidak lazim, akibat penetrasi kebudayaan barat yang mengindung kepada kebudayaan Romawi kuno, yang konon kurang menyukai poligami.
Tentunya, amat tidak logis menghina nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hinaan-hinaan yang demikian, padahal umat manusia di masa lalu melakukannya, bahkan menjadikannya bagian dari kelaziman kehidupan.
Kalau nabi Muhammad umpamanya pernah melakukan pencurian, pemerkosaan, atau pembunuhan massal, ini hanya umpama, mungkin bolehlah dihina. Tapi kalau belaiu melakukan hal yang lazim di tengah suatu peradaban, bahan mayoritas bangsa-bangsa melakukannya, tidak mungkin kita menghinanya. Dan atas dasar apa?
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal-hal yang universal ditentang oleh etika kemanusiaan. Beliau hanya melakukan hal-hal yang di masanya sangat lazim. Karena itu para pemuka Quraisy tidak pernah menghina nabi dengan tuduhan seksmaniak hanya lantaran beliau beristri lebih dari satu. Mengapa? Karena poligami di masa itu merupakan suatu kelaziman.
Mengapa orang-orang kafir di masa sekarang ini tidak menghina Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Syu'bah dan lainnya? Padahal mereka pun seks maniak juga karena punya isteri lebih dari satu?
Mengapa tidak menghina para raja dari Inggris, Spanyol, Portugal, Belanda dan lainnya yang juga berpoligami? Mengapa hanya Muhammad yang dihina?
Semua menunjukkan bahwa intinya mereka hanya tidak suka pada agama Islam, tapi kesulitan mencari titik lemahnya. Maka jadilah apapun bentuk penghinaan dilontarkan, meski salah alamat.
Oleh karena itu marilah kita senantiasa semangat dalam memperdalam ilmu agama, supaya kita tidak mudah terombang ambing dengan syubhat-syubhat murahan yang dilontarkan oleh orang-orang orientalis. Dan juga kami ingatkan, bahwa di dalam internet terdapat banyak sekali tulisan-tulisan yang menghina Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, bahkan akhir-akhir ini, situs jejaring social seperti face book pun tak lepas dari peran penghinaan terhadap Nabi shalallahu'alaihi wa sallam. Dan kita berdoa semoga Allah subhanahu Wata'ala memberikan hidayah kepada mereka.




Salahkah Seorang Ikhwan Memilih Calon Istri yang Cantik?


Kecantikan tetap merupakan daya tarik yang memikat setiap lelaki di dunia ini. Wajarlah jika para produsen menggunakan jasa wanita cantik untuk melariskan barang dagangan mereka, dan memang ini tak bisa dipungkiri! Begitupula dalam masalah memilih pasangan hidup, tentu setiap lelaki memiliki kriteria tertentu tentang calon istri yang akan di nikahinya. Kalau mau jujur, dalam setiap kriteria itu diantara salah satunya adalah menginginkan calon istrinya berwajah cantik atau sedap dipandang mata, dan tidak membosankan. Tetapi terkadang bila seorang ikhwan menghendaki atau menginginkan seorang istri yang cantik, maka ia akan dicela dan disalahkan. Maka dari itu, kami akan nasihati kepada kaum muslimah, sebaiknya anda jangan bersungut dahulu menyalahkan si ikhwan yang berselera demikian. Karena pernikahan itu sendiri adalah ibadah, terkadang iman akan naik dan turun. Tentunya sangat membutuhkan sebab-sebab yang dapat merekatkan tali pernikahan dimasa mendatang. Bila kecantikan adalah merupakan daya tarik bagi si ikhwan itu yang nantinya akan melanggengkan hubungan pernikahan dan kasih sayangnya kepada wanita yang akan di nikahinya, maka Islam tidaklah melarangnya untuk memilih calon istri yang cantik. Karena ia adalah fitrah atau naluri yang Allah subhanahu wata’ala ciptakan untuk manusia. Coba kita simak hadits berikut ini, dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, karena kalau tidak niscaya engkau akan merugi”1
Kemudian marilah kita simak penjelasan fiqh hadits tersebut:
Dalam hadits yang kami sebutkan tadi, Rasulullah menjelaskan kepada kita tentang adat atau kebiasaan laki-laki menikahi wanita karena salah satu dari empat perkara diatas.Yaitu diantara mereka mengutamakan atau (cenderung) kepada harta, kemulian keturunannya, kecantikannya, dan yang terakhir karena agama si wanita tersebut. Kemudian Nabi kita yang mulia memberikan petunjuk kepada kita agar memilih yang tertinggi dan termulia yang akan memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu pilihlah yang beragama.
Tetapi hal ini tidak berarti bahwa laki-laki tidak boleh memilih wanita yang cantik dan seterusnya. Tidak demikian! Ini adalah sebuah kesalahan di dalam memahami hadits. Akan tetapi maksudnya -Insya Allah- seperti ini:
Misalnya ada seorang laki-laki melihat dan mengincar wanita yang cantik parasnya. Kemudian dia memperhatikan, apakah pilihannya seorang wanita shalihah? Kalau jawabannya adalah: ‘ya’ maka dia boleh melanjutkan pilihannya. Tetapi kalau jawabannya ‘tidak’ (artinya wanita yang cantik tersebut ternyata tidak sholihah), maka laki-laki tersebut dihadapkan kepada dua pilihan yang salah satunya harus dia tetapkan. Kalaupun dia melanjutkan pilihannya, berarti dia telah mendahulukan kecantikan dari keshalihan. dan jika sang lelaki itu membatalkan pilihannya, berarti dia telah mendahulukan keshalihan agama dari kecantikan. Dan sikap kedua inilah yang hendaknya menjadi sikap seorang muslim, dimana ia tidak mementingkan kecantikan semata dalam memilih wanita yang ingin dinikahinya.
Sehingga, tidak salah jika ada ikhwan yang mengatakan bahwa “Saya akan memilih wanita yang cantik, yang tinggi, yang putih, yang begini dan begitu dan seterusnya.” Pilihan yang seperti ini dibolehkan dan agama tidak pernah melarangnya. Karena memang hal yang demikian berjalan dengan fitrah manusia, terlebih lagi jika hal itu akan membuat kehidupan rumah tangga semakin harmonis, Oleh karena itu Nabi kita shalallahu alaihi wassalam mengatakan: “Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara…”
Akan tetapi kita harus ingat! tetap saja penentuan akhirnya adalah terletak pada agama si akhwat tersebut, sebagaimana sabda Nabi mengakhiri dan menutup sabdanya: “Maka pilihlah yang beragama!” Maksudnya janganlah kita kalahkan agama dengan segala kecantikan dan harta benda duniawi. karena sebaik-baik kesenangan, kemewahan, harta benda dunia adalah wanita shalihah. Kalau pilihan kita jatuh pada wanita shalihah berarti kita telah memiliki harta benda dan kesenangan dunia yang terbaik. Jadi, sekalipun kita melihat wanita tersebut cantik, namun agamanya tidak baik, maka sebaiknya kita jangan memilihnya meskipun kita tidak dilarang untuk memilihnya, karena pada hakikatnya, kecantikan itu akan hilang seiring berjalannya waktu, dan factor penentu terbesar dari kebahagiaan rumah tangga bukanlah kecantikan, akan tetapi factor tersebut adalah baik atau tidaknya agama seseorang.
Setelah kita mengetahui penjelasan hadits tersebut, tentu kita melihat betapa Indahnya Islam yang sejalan dengan fitrah manusia. Karena kecenderungan merupakan hak mutlak bagi setiap pasangan yang akan menikah, yang mana tujuan hal itu tidak lain adalah untuk melanggengkan hubungan mereka. Karena itulah, Islampun menganjurkan agar para lelaki melihat atau (nazhar) terlebih dahulu, dimana nadzor ini bertujuan untuk melihat hal-hal yang dapat membuat lelaki tertarik untuk segera menikah, dan salah satunya adalah faktor kecantikan, yang dimana terkadang sangat mempengaruhi hati atau hasrat seorang laki-laki untuk segera menikahi wanita yang telah dilihatnya. Sehingga suatu pemahaman yang salah jika seorang ikhwan memaksakan diri menikah tanpa nadzor terlebih dahulu, disamping hal ini tidak sesuai dengan sunnah nabi, terkadang proses pernikahan yang seperti itu akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Oleh karena itu marilah kita senantiasa mencontoh nabi shalallahu'alaihi wa sallam dalam segala amal ibadah maupun mu’amalah, sebab beliaulah sebaik-baik contoh dan teladan bagi kita semua.






Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru