Rabu, 13 Januari 2010

Kesyirikan di balik Sholawat Badr

Sholawat badar bukanlah hal yang asing di telinga kita, karena memang sholawat ini sangat masyhur di kalangan kaum muslimin, dan banyak di antara mereka yang memahami bahwa sholawat badar dapat menghindarkan mereka dari bencana.

Adapun bunyi sholawat badr ini adalah sebagai berikut:
shalatullah.. salamullah.. ‘ala thoha rosulillah...
shalatullah.. salamullah.. ‘ala yaasiin habibillah...
tawasalnaa bibismillah.. wa bil hadi rosulillah
wa kulli majaahidin fillah
bi ahlil badri ya Allah..dan seterusnya..
Yang artinya adalah:
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah

Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dengan Thoha dan juga Yasin habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr alias para shahabat yagn mengikuti perang badar

Berikut ini kami akan sampaikan beberapa penjelasan tentang kandungan dari sholawat tersebut.
1. Tidak terdapat riyawat yang menyebutkan bahwa Thoha atau yasin adalah Muhammad shalallahu'alaihi wa sallam, kemudian gelar nabi muhammad dan nabi ibrahim adalah sama, yaitu khalilullah atau kekasih Allah, bukan habibillah.
2. Bahwasanya tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkan kaum muslimin untuk bertawashul dengan Nabi shalallahu'alaihi wa sallam, bahkan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabatpun melakukannya. Adapun hadits yang berbuyi: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
3. Jika tawasul dengan Nabi saja tidak boleh, tentunya lebih tidak boleh lagi bertawasul kepara para shahabat yang mengikuti perang badar.

Adapun tawashul Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah subhanahu wa ta'ala, hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ
Yang artinya adalah: “Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Dan hal ini pun pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam, yang mana beliau pernah berdoa dengan doa sebagai berikut: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki ,yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)

Bertawassul dengan nama Allah seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih sebagaimana kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, lalu mereka bertawasul dalam doanya dengan amal sholihnya, dan jenis tawasul yang ketiga adalah dengan doa orang shalih yang masih hidup, (yakni dengan cara meminta orang shalih agar mendoakannya).

Adapun jenis tawasul Selain tiga jenis yang telah kami sampaikan tadi, maka tawasul tersebut tidak berdasarkan dalil, dan termasuk tawassul yang terlarang, inilah diantara kekeliruan yang terkandung di dalam sholawat badr yang baru saja kami sampaikan, dan tentunya masih banyak sekali jenis-jenis sholawat yang menyimpang dari aqidah islam, dan biasanya sholawat-sholawat itu banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya dan akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau dan masuk jannah. Padahal ungkapan-ungkapan tersebut sama sekali tidak memiliki landasan, dan bisa dikatakan bahwa ungkapan dari para penganut tarekat itu hanyalah perkara dusta, Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dan tidak mencontohkan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.

Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita, namun pada kenyataannya beliau tidak pernah menganjurkan kepada kita sebagai ummatnya, untuk itu kita tidak perlu mengamalkan hal-hal yang tidak beliau contohkan, Apalagi jika model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.

Bahkan bisa kita saksikan fenomena yang terjadi saat ini, Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Padahal yang mereka lakukan itu sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan mereka mendapatkan dosa, sebab Mereka telah membuat dan mengamalkan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Islam, dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam. oleh karena itu, marilah kita kembali merujuk kepada sumber-sumber Islam yang murni, yaitu Al-Qur'an dan Hadits shohih. Dimana hanya dengan sumber itulah kita dapat melaksanakan ibadah dengan benar, dan terbebas dari kesesatan.

Sumber:
http://soni69.tripod.com/Islam/senandung_doa
http://www.eramuslim.com




1 komentar:

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger