Kamis, 07 Januari 2010

Cukupkah kita hanya menjadi orang shalih?


Dalam sebuah hadits beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda “Sebaik-baik manusia diantaramu adl yg paling banyak manfaat bagi orang lain” {H.R. Bukhari}. Dan mungkin Kita sering menyaksikan atau memiliki seorang teman yang sudah mulai rutin mengikuti sebuah pengajian, yang mana dengan itu ia jadi berubah. Tak hanya dari penampilan fisik, tapi juga sikap. musik dan hura-hura yang dulunya ia sukai kini sudah ditinggalkan. Aktivitasnya kini hanya berkisar antara rumah, kampus dan masjid. Ibadahnya pun sangat rajin.

Tak hanya ibadah wajib, tapi juga sunnah. bahkan ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca al-Qur’an atau buku yang akhir-akhir ini mulai memenuhi kamarnya. akan tetapi di samping hal positif tersebut, ternyata Ia Jarang bergaul dengan orang-orang sekitarnya. yang akhirnya sifat Ini mengundang tanda tanya besar bagi tetangga bahkan keluarganya.

Perilaku tersebut merupakan salah satu gambaran sosok muslim yang tidak berguna. Ia shalih bagi dirinya, tapi keshalihannya itu tak berpengaruh apa-apa bagi orang lain. Sosok seperti ini tidak sedikit. Mereka merasa dengan menjaga keshalihan pribadi saja sudah cukup. Masa bodoh dengan orang lain. Padahal Islam tentu saja tak menghendaki hal ini. Seorang Muslim hendaknya tak hanya shalih bagi dirinya, tapi juga mushlih bagi orang lain.
Ada tiga tipe manusia terkait dengan keshalihannya dengan orang lain. Tipe pertama, orang yang shalih tapi merusak. Tipe seperti ini tercermin pada mereka yang rajin melaksanakan ibadah ritual, tapi perilakunya merusak.
Misalnya, melakukan korupsi, menggasak uang rakyat, menyelundupkan harta negara, menumpuk kekayaan untuk pribadi. Dalam segala tindak tanduknya itu, ia tak pernah peduli dengan kesengsaraan orang lain. Tak heran kalau di samping rumahnya yang mewah, juga berdiri gubuk reot.

Lalu, bagaimana sifat-sifat ini bisa muncul? Ada beberapa hal yang melatarinya. Pertama, hubbud dunya wa karahiyatul maut, artinya (cinta dunia dan takut mati). Sikap seperti ini akan melahirkan manusia-manusia rakus. Ia menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Akibatnya, ia tak peduli dengan segala yang dilakukan, apakah menerjang rambu-rambu agama atau tidak. Segala aktivitas ibadahnya tidak berorientasi pada ridha Allah. Tapi lebih pada sekedar menggugurkan kewajiban dan mencari legitimasi sebagai orang baik di mata manusia.

Sikap seperti ini tak ubahnya dengan perilaku orang munafik. Mereka senantiasa menampilkan kebaikan di depan orang banyak, padahal mereka adalah perusak. Berkenaan dengan hal ini, Allah SWT berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab, “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 11-12).

Kemudian Tipe manusia yang kedua yaitu orang shalih yang pasif. Tipe orang seperti ini adalah mereka yang rajin beribadah, dan tidak melakukan kerusakan. Tapi, mereka tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Keshalihan baru sebatas untuk dirinya sendiri. Ia tak mau peduli dengan sesamanya. Jangankan mau mengubah keadaan umat dengan mengabdikan dirinya dalam aktivitas dakwah, memikirkannya pun tidak. Pembantaian atas umat Islam di berbagai negeri tidak menyentuh hatinya untuk sekadar prihatin. Gencarnya usaha-usaha pemurtadan, tidak menggerakkan hatinya untuk berbuat. Ia asyik dengan dirinya sendiri.
Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini. Di antaranya, mudah puas dengan melakukan kebaikan yang sedikit. Orang yang salah memahami agama dan menempatkannya hanya untuk keshalihan pribadi, akan mudah puas dengan kebaikan yang ia lakukan. Padahal, dalam Islam, ibadah ritual hanyalah sebagian kecil dari ajaran Islam, dan bukan segalanya.

Orang yang menganggap Islam hanya sebatas pada ibadah ritual semata, akan mudah puas dan merasa sudah berada pada puncak pengabdian pada Allah hanya karena tak pernah meninggalkan tahajud. Akibatnya, ia tidak melakukan ibadah sosial lainnya.
Hal lain yang menyebabkan orang shalih ini pasif adalah tidak memiliki semangat keagamaan yang baik. Akibat pemahaman yang parsial, maka baginya tak ada permasalahan besar selain ibadah ritual. Ia akan menggangap permasalah di luar itu bukan wilayahnya. Bahkan negerinya sedang dikepung oleh kejahilan dan kesesatan serta dijajah secara ideologi oleh pihak asing pun tidak menjadi beban pikirannya. Menurutnya, ribuan kaum Muslimin yang dibantai Zionis Israel di Palestina, hancurnya tempat-tempat ibadah kaum Muslimin di negeri Irak, dan berlangsungnya diskrminasi terhadap umat Islam di berbagai negara, tak ada hubungan dengan ibadahnya.
inilah dua tipe manusia yang hanya sholih tetapi tidak berdaya guna, semoga kita terhindar dari sifat-sifat seperti itu, lalu bagaimana sebenarnya sikap muslim yang baik?

Muslim yang baik adalah muslim yang shalih dan berguna. Inilah tipe ideal seorang Muslim. Selain melaksanakan ibadah ritual, ia juga memberikan manfaat bagi orang banyak. Ia ibarat lampu yang menerangi sekitarnya. Rasulullah saw mengibaratkan mereka ini seperti lebah. Beliau shalallahu'alaihi wa sallam bersabda ” Perumpamaan orang beriman itu ibarat lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapinya” (HR Ahmad, al-Hakim dan al-Bazzar). Dan tipe mukmin seperti inipun digambarkan Allah melalui firman-Nya, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah dan beribadahlah kepada rabb kalian, dan lakukanlah kebajikan agar kalian beruntung,” (QS al-Hajj: 77).

Dalam ayat di atas, Selain mengandung perintah sujud dan rukuk serta beribadah, Allah juga memerintahkan untuk berbuat kebaikan. Ini menggambarkan bahwa ibadah mahdhah saja belum cukup, tapi harus diiringi dengan melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, dan sebaik-baik manfaat bagi orang lain adalah dengan membantu mereka untuk mendapatkan hidayah Allah subhanahu Wata'ala, yakni dengan mendakwahi mereka, mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah subhanahu Wata'ala dan menjauhi segala maksiat, dan inilah Orang shalih yang ideal, yaitu yang mau melakukan perbaikan. Ia shalihun li nafsihi wa mushlihun li ghairihi, Baik bagi dirinya dan mampu juga memperbaiki orang lain, dan semoga kita semua termasuk golongan manusia yang seperti ini.

Oleh: Yusuf Supriadi
Sumber Inspirasi: Sabili Cyber News


3 komentar:

  1. mari menjadi orang yang sholehh dan men sholehkan orang lainnn !!!
    lanjutkan !!!! dakwah mu !!!!

    BalasHapus
  2. Dislamicbooks allows you to download Menjadi Orang Shalih in Indonesian.
    the book is also available in urdu and other languages.
    http://www.dislamicbooks.com/2015/12/download-menjadi-orang-shalih-pdf-by.html

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger