Rabu, 11 Agustus 2010

Konspirasi Sistemik : Di Balik Trend Filsafat (ISLAM)


Saat ini, filsafat atau sebagian orang meng-kompilasinya dengan penyebutan filsafat Islam, telah menjadi trend yang seakan tak terbantahkan dan mutlak harus diikuti. Padahal dalam Islam, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an, hadits-hadits shahih, atsar para sahabat, pernya-taan (aqwal) para imam dan realitas keimanan kaum Muslimin yang bulat (ijma’) semenjak da-hulu, yang mutlak tak terbantahkan dan Alloh subhanahu wa ta’ala sendiri telah mencukupkannya bagi kita semua, hanyalah al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Rosu-lulloh shalallohu alaihi wa sallam yang shahihah.

Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun rohimahulloh dinya-takan, bahwa para sahabat dan para imam pun sangat tegas memperingatkan umat dari menelaah beragam dogma ajaran dan mengkaji pelbagai paradigma pemikiran yang berasal dari luar Islam. Dikisahkan, ketika kerajaan Persia Majusi berhasil ditaklukkan, kaum Muslimin menemukan tum-pukan buku peninggalan yang cukup banyak dan menggunung. Maka Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiallohu anhu sebagai panglima menulis surat kepada Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab rodhiallohu anhu agar diizinkan me-mindahkan buku-buku tersebut untuk kemudian memanfaatkannya. Maka Khalifah menjawabnya dengan sepucuk surat yang menyiratkan kekuatan iman, kebanggaan Islam dan kejernihan tarbiyah, dengan berkata:
“Sebaiknya buku-buku tersebut dibuang jauh-jauh! Seandainya di dalamnya ada petunjuk (ke-benaran), maka sungguh kita telah diberi petunjuk oleh Alloh yang lebih baik darinya (yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah). Sebaliknya, jika di dalamnya ber-gelimang kesesatan, maka (dengan membuang-nya) Alloh telah menjauhkannya dari kita!”
ASAL FILSAFAT

Selain dari ajaran Persia Majusi, filsafat jugabanyak dimiliki dan didasari oleh berbagai agama dan isme dari berbagai negeri, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, India, Cina dan negara lainnya. Namun yang paling terkenal adalah ber-asal dari Yunani (Greek) yang terkenal dengan kebudayaan Hellenisme-nya, karena term filsafat sendiri memang berasal dari bahasa Yunani; yaitu dari philos yang artinya cinta atau philia yang ber-arti persahabatan; dan dari sophia yang berarti hikmah (wisdom), kebaikan, pengetahuan dan pengamalan praktis. Filsafat (Islam) juga meru-pakan pemikiran yang tidak dibangun di atas akidah Islam dan tidak pula menjadikan wahyu sebagai sumbernya, malah menjadikan corak pemikiran Yunani sebagai kiblatnya.

1. Kabut Konspirasi
Berkembangnya filsafat, termasuk marak danmasifnya kajian filsafat (Islam) dewasa kini, tidak terjadi dengan sendirinya. Hal tersebut terjadi karena konspirasi sistemik yang tertata rapi. Yaitu melalui penodaan terhadap kemurnian Islam, pudarnya kesucian fithrah dan kebanggan ter-hadap “hal baru” yang awalnya disangka “madu”, padahal “racun” dan “virus ganas” yang bahkan akan mematikan. Berdasarkan penelusuran data dan pelacakan fakta, hal tersebut terjadi karena peran sentral dari hal-hal berikut:

2. Peran Perguruan Iskandariyah.
Perguruan Iskandariyah adalah perguruan Yunani terbesar yang penuh sesak dengan beragam ajaran sekte dan aliran filsafat, khususnya aliran Neo-Platonisme. Ketika kaum Muslimin berhasil menaklukkan Mesir, perguruan tersebut masih tetap eksis. Beberapa master filsafat atau filosof yang tersisa dari perguruan tersebut kemudian diterima secara terbuka dan bahkan difasilitasi oleh kaum Musliminuntuk menyebarkan ajaran Neo-Platonismedengankemasan agama, hingga berhasil mengorbitkan para filosof yang menis-batkan diri kepada Islam sebagai cendekiawan, tokoh terpandang dan menjadi “selebritis” ke-ilmuan.

3. Figur Zindik.
Yaitu cendekiawan kaum kafirin yang ber-pura-pura masuk Islam (taqiyyah) dengan tetap menyimpan kesumat kebencian dan selalu memen-dam kekufuran (zindik). Di antara figur tersebut yang paling terkenal dan memiliki peran besar adalah; Musa bin Maimun bin Yusuf Abu ‘Imran al-Qurthubi; tabib dan filosof Yahudi yangsempat menjadi pemimpinnya selama 34 tahun,namun pura-pura masuk Islam (zindik).
Karena kehandalannya dalam pertabiban, pernah diangkat sebagai tabib pribadi Nuruddin, anak sulung Shalahuddin al-Ayyubi. Ia berhasil menyebarkan racun filsafat kepada kaum Musli-min yang diselipkan kepada sepuluh karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab, terutama magnumopusnya yang berjudul Dalalah al-Hairin.

4. Khalifah Abu Ja’far al-Manshur.
Yaitu seorang Khalifah ‘Abbasiyyah yang gemar mempelajari ilmu nujum (perbintangan yang dilarang, astrologi) dan sangat akrab dengan ahli nujum, bahkan menjadikan mereka sebagai “staff ahli” atau penasehatnya. Salah satu ahli nujūmtersebut bernama Nubikht yang beragama Majusi, yang juga sangat antusias mengajarkan filsafat kepada kaum Muslimin, bahkan kemudian mewariskan jabatan strategis dan kemahirannya secara turun-temurun kepada anaknya yang ber-nama Abu Sahal.

5. Penerjemahan buku-buku filsafat dan manthiq.
Hal ini berlangsung pada masa khilafah BaniUmayyah saat khalifah dijabat oleh Khalid bin Yazid. Pada saat itu yang diterjemahkan antara lain mengenai perkataan hikmah (wisdom) tokoh, pepatah, korespondensi, wasiat dan sejarah umum filsafat. Kemudian “proyek penerjemahan” ini semakin menggeliat pada masa Abu Ja’far al-Manshur dan mencapai puncak keemasannya di masa Harun al-Rasyid melalui figur Khalid bin Yahya al-Barmaki al-Farisi yang berhasil menjadi menteri berpengaruh dan sangat rakus untuk menyebarkan filsafat ke khalayak kaum Muslimin.

6. Sekte Rahasia Ikhwan ash-Shafa’.
Ikhwan ash-Shafa’ adalah sebuah perkumpulanrahasia yang terdiri dari segerombolan filosof dan sekumpulan penganut sekte kebatinan sesat yang mengklaim sanggup meramu madzhab baru yang dapat mengkombinasikan filsafat Yunani dengan syariat Islam, bahkan yang mampu mengharmoni-sasikan semua agama dan sekte yang ada di muka bumi.

SEBUAH RENUNGAN
Dengan dilandasi niat jujur yang kuat dan kesungguhan upaya, sudahkan kita semua meng-gali hikmah dari al-Qur’an dan as-Sunnah?
Apakah Islam harus dimuliakan dengan aja-ran filsafat, secara spesifik dengan filsafat (Islam)?
Apakah Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam, para sahabatnya rodhiallohu anhumdan para imam yang empat serta ulama lainnya gemar mempelajari filsafat (Islam) tersebut, ataukahmalah melarangnya?
Dahulu tatkala Islam mengalami kejayaandan masa keemasannya, dengan berpegang teguhkepada al-Qur’an dan as-Sunnah, ataukah dengan gandrung kepada filsafat (Islam)?
Bukankah Alloh subhanahu wa ta’alaberfirman:

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjukkepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakanamal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”(QS. al-Isra’ [17]: 9)

Dan Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:
“Telah kuwariskan kepada kalian dua sumber, bila kalian berpegang kepada keduanya, nis-caya kalian takkan sesat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.” (HR. Muslim)

11 komentar:

  1. filsafat memang sesat dan menyesatkan, tapi herannya kenapa masih aja dipake di kurikulum Perguruan Tinggi Islam??

    BalasHapus
  2. apa benar filsafat sesat dan menyesatkan, mohon maaf kalau saya tidak sependapat karena filsafat adalah ibu dari ilmu yang menjadi landasan dari segala ilmu dan dari semua pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan jika terus digali lebih jauh dan lebih dalam lagi semua jawaban akan tertuju pada sang pencipta ALLAh SWT. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. filsafat adalah ilmu pengetahuan menggunakan akal pikiran. boleh berfilsafat asal menurut arahan dan dalam koridor yang telah dibatasi oleh Alquran dan sunnah Rasul, bukan berfilsafat dengan sebebas-bebasnya. jika pun ada kesimpulan hasil filsafat yang menyesatkan yang mengarah kepada kemusyrikan jangan salah kan filsafat nya tapi salah kan kesimpulan dan orang yang mencapai pada kesimpulan tersebut. umpamanya jika pornografi merebak di di dunia internet, jangan salahkan internetnya tapi salahkan penggunanya lalu cari cara bagaimana memblokir konten porno di internet. kalau filsafat menghasilkan kesesatan, lakukan intropeksi diri dan cara berfilsafat nya. pakai Alquran untuk mangarahkan metode dalam berfilsafat yg benar.
      jika filsafat itu menyesatkan kenapa dari filsafat telah lahir berbagai disiplin ilmu pengetahuan sains dan teknologi yang pada giliran nya mengubah peradaban manusia

      Hapus
    2. dari filsafat manusia merancang metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, darimetode penelitian manusia melakukan pengamatan atas alam dan memproduksi berbagai teori ilmu, dari teori ilmu manusia berkreasi menciptakan berbagai teknologi, dari teknologi manusia mendapatkan berbagai macam kemudahan dan keuntungan

      Hapus
  3. Untuk Taufiqurrakhman.. Sumber Hukum Islam itu adalah Al-Qur'an, Hadits dan ijma'.. Jika kita memakai ketiga sumber itu, maka kita dapat mengenal Allah dengan benar.

    Al-Qur'an, Hadits dan ijma' adalah standar untuk menilai kebenaran sesuatu, bukan akal(filsafat)

    Jika akal/filsafat yang menjadi sumber, maka setiap orang akan berbeda pemahaman, sebab setiap manusia berbeda cara berfikirnya..ketika mereka salah dalam berfikir, maka akan salah dalam bertindak, sehingga mereka akan tersesat dari Sirotulmustaqim..yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar..maka dari filsafat itulah muncul pemahaman sesat lainnya: Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme.

    Bedakan antara berfikir yang benar (tafakkur dan tadabbur) dengan berfilsafat. Jika kita berfikir tentang Alam, penciptaan makhluk hidup dengan tidak menyalahi Al-Qur'an dan Hadits, sehingga keimanan kepada Allah semakin bertambah, maka itu diperintahkan..itulah yang disebut mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat Kauniyah.

    BalasHapus
  4. saya sependapat dngn statment ; " Sumber Hukum Islam itu Al-Qur`an, Hadist dan Ijma`.. jika kita berpedoman dgn ketiga sumber itu kita dapat mengenal Allah dgn benar. Al-Qur`an,Hadist dan Ijma` adalh standar untk menilai kebenaran sesuatu. tp sy jd bingung.... dulu sy blajar Ushuluddin tahu 2 Dalil : Naqli dan Aqli yg selalu berirama/sinkron. hingga sy berpendapt klw Islam agama yg logis atw sesuai dgn akal. bukankah Ayat-Ayat Kauniyah yg wajib kt imani tlah mmbuat akal kt bertadabbur dan bertafakur.... ? hingga keimanan kt mnjadi lbih mantap .....? lantas apa bedanya filsafat dngn tafakkur dan taddabbur yg diperintahkan ??? kenapa belajar filsafat dianggap sesat
    ??? sementara pijakan Hukum Islam dlm mngmbil kputusan setelah Al-Qur`an dan Hadist adlah Ijma`. hemat sy konsep Ijma` tdk lps dr filsafat. krn Ijma akn menimbulkan qiyas ..... al akhir; " Saya tdk setuju kalw filsafat diclaim sesat dan menyesatkan.

    BalasHapus
  5. Untuk begawan, Islam memang sesuai dengan akal, tetapi akal yang sehat, bukan akal yang sakit. Islam salam sekali tidak melarang ummatnya untuk menggunakan akal, tetapi jika daya fikir dan akal kita bertolak belakang dengan dalil syar’I (Qur’an, Hadits, dan ijma’) maka akal harus dikalahkan.

    Dan kebebasan berfilsafat akan merusak akal.
    Ornag-orang yang mengklaim sebagai ahli filsafat itu akalnya sudah sakit, sehingga jika ada ayat yang bertentangan dengan akal sakit merka, maka ayat itu langsung ditolak.

    Anda bisa berkata filsafat bisa menambah keimanan karena anda belum faham filsafat yang sesungguhnya. Karena pada hakikatnya filsafat itu bukan menambah keimanan, tetapi justru meragu-ragukan keimanan seseorang. Berikut ini saya contohkan, coba perhatikan..!!

    Salah seorang dosen Ilmu Kalam/Fislafat mengajukan “pertanyaan” di hadapan para mahasiswanya, ia berkata: “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, kuasakah Allah untuk menciptakan “Sesuatu” yang sama dengan Allah sendiri?”, atau “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, maka mampukah Dia menciptakan sebongkah batu yang sangat besar, hingga Allah sendiri tidak sanggup untuk mengangkatnya?”, atau berkata: “Jika benar Allah maha Kuasa, maka kuasakah Dia menghilangkan Diri-Nya hanya dalam satu jam saja?”. Ungkapan-ungkapan buruk semacam ini seringkali dilontarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam, terutama pada jurusan filsafat. Ironisnya, baik dosen maupun mahasiswanya tidak memiliki jawaban yang benar bagi pertanyaan sesat tersebut. Akhirnya, baik yang bertanya maupun yang ditanya sama-sama masuk dalam “kegelapan”, di mana mereka semua tidak dapat keluar darinya. Hasbunallâh. Entah dari mana pertanyaan buruk semacam itu mula-mula dimunculkan. Yang jelas, itu semua adalah hasil berfilsafat dari orang yang akalnya sudah teracuni oleh fikiran setan, merasa cerdas akalnya, yang ujung-ujungnya Ingkar kepada Allah dan RasulNya.

    Bagi orang yang beriman, maka tidak dipusingkan dengan yang demikian, cukup katakan: "Aku beriman akan kekuasaan Allah dan kemahabesaran Allah swt"

    BalasHapus
    Balasan
    1. apakah Allah makan atau minum, jangan salahkan filsafatnya tapi salahkan orang yang berfilsafat.

      Hapus
    2. apakah Allah sakit atau sehat,
      apakah penghinaan jika menginjak ayat Alquran, kan yg diinjak cuma tinta di kertas agar filsafat menghasilkan kesimpulan yang benar, maka metode berpikirnya juga harus benar, berangkat dari pernyataan yang juga benar, yaitu Alquran

      Hapus
  6. Alloh subhanahu wa ta’alaberfirman:

    “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjukkepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakanamal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”(QS. al-Isra’ [17]: 9)

    Dan Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam bersabda:

    “Telah kuwariskan kepada kalian dua sumber, bila kalian berpegang kepada keduanya, nis-caya kalian takkan sesat, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.” (HR. Muslim)

    BalasHapus
  7. www.hasmi.org
    www.fajrifm.com
    http://minyak-zaitun.com
    http://muslimmart.hasmi.org
    http://bukusaku.net
    www.abumujahidah.com

    BalasHapus

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger