Senin, 05 Maret 2012

Adakah Kampus Islami di Indonesia?

Potret Kampus Islam di Indonesia
Di Indonesia, tidak jarang kita menemukan mahasiswi yang mengaku dirinya Muslim namun berpakaian tidak sesuai dengan syariat. Berpakaian ketat dan transparan hingga nampak aurat dan lekuk tubuhnya. Cara mereka berpakaian tidak beda dengan pakaian non Muslim. Ada pula mahasiswa pria berambut gondrong, memakai gelang/kalung, celana jean compang-camping dan awut-awutan, (maaf) mungkin sulit bagi masyarakat umum membedakan mana antara mahasiswa dan penampilan preman.

Bukan rahasia, pergaulan bebas mewarnai kehidupan di kampus, termasuk kampus di Perguruan Tinggi Islam. Di kantin, taman, tempat parkir, menjadi tempat pacaran dan khalwat. Tak sedikit berlanjut kasus mesum (zina). Tentu saja, ini akibat percampuran (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan. Hubungan akrab antara laki-laki dan perempuan dianggap suatu hal yang wajar. Bahkan mereka tidak merasa malu dan canggung berboncengan mesra dengan lawan jenisnya yang bukan muhrim dengan sepeda motor, baik di dalam maupun di luar kampus.

Mahasiswa dengan bebasnya merokok di kantin, ruang kelas, bahkan di depan kelas dosen bisa mengajar sambil menghisap asap beracun ini. Di sisi lain, mahasiswa dan para dosen tak beranjak ke masjid ketika azan sudah dikumandangkan.

Inilah potret kehidupan kampus Islam kita yang memprihatinkan. Rasanya, mustahil mengharapkan mahasiswa dari perguruan tinggi Islam melahirkan sosok intelektual yang cerdas dan berakhlak mulia.

Yang terjadi justru sebaliknya. Kita sering mendengar, mahasiswa atau dosen fakultas syariah justru mencela syariah Islam (hukum-hukum Allah). Alangkah ironis, mahasiswa syariah justru melahirkan pencela ilmu-ilmu syar’i.

Model Kampus Islami
Untuk mewujudkan kampus islami, maka ada baiknya kita bercermin kepada kampus-kampus terkemuka di negera-negara lain yang menerapkan nilai-nilai Islam. Contohnya adalah Universitas Al-Azhar (Mesir), Universitas Islam Madinah (Arab Saudi) dan International Islamic University Malaysia (IIUM). Ketiga kampus merupakan kampus yang paling banyak diminati oleh umat Islam dari berbagai negara, karena pendidikannya yang berkualitas dan islami. Maka, sudah sepatutnya kita mencontohnya dan menerapkannya di kampus kita.

Kampus Al-Azhar merupakan kampus Islam tertua di dunia yang menerapkan sistem pendidikan berdasarkan nilai-nilai Islam. Silabus Al-Azhar dibuat oleh para ulama yang sekaligus menjadi tenaga pengajar. Sistem perkuliahan diterapkan dengan memisahkan antara mahasiswa laki-laki dengan perempuan. Kampus banin (laki-laki) terpisah jauh dengan kampus banat (perempuan). Begitu pula dengan asrama mahasiswanya. Al-Azhar mewajibkan pula para mahasiswanya untuk berpakaian Muslim/ah sesuai standar syar’i.

Penguatan ‘ulumul syar’iyyah (ilmu-ilmu keislaman) sangat ditekankan di Al-Azhar. Mata kuliah Aqidah, Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Tafsir, Akhlak dan Bahasa Arab menjadi skala prioritas dengan jam belajar yang banyak, baik di kampus agama maupun kampus umumnya. Mahasiswa diwajibkan menghafal al-Qur`an setiap tahunnya 2 juz bagi mahasiswa asing (ajaanib). Maka, untuk menyelesaikan studinya mereka harus punya hafalan minimal 8 juz, sedangkan mahasiswa yang berasal dari Mesir dan negara Arab lainnya wajib hafal 30 juz, apa pun disiplin ilmunya. Maka jangan heran bila lulusan Fakultas Kedokteran, Teknik dan sebagainya dari kampus ini mampu menghafal 30 juz al-Qur`an. Itu sebabnya kampus Al-Azhar sejak dulunya banyak melahirkan para ulama dan cendekiawan Muslim yang handal dalam bidangnnya.

Pemandangan kampus islami seperti di atas juga kita jumpai di Universitas Islam Madinah. Kampus ini bahkan lebih ketat penerapan nilai keislamannya. Pada saat azan berkumandang, semua aktivitas belajar dan administrasi kantor berhenti total.

Mahasiswa dan dosen diwajibkan shalat berjamaah di masjid atau mushalla setiap fakultas. Sistem perkuliahan dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Selain kampus mereka yang berbeda, asrama pun berjauhan. Aturan larangan merokok, musik dan lagu diterapkan karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Begitu pula dengan aturan pakaian mesti sopan dan islami. Mahasiswa yang melanggar aturan akan dikenakan sanksi administrasi seperti teguran, pemotongan beasiswa bahkan bisa dipulangkan ke negerinya.

Untuk menyelesaikan studinya di kampus ini wajib hafal minimal 10 juz, kecuali Fakultas Tafsir 30 juz. Begitu pula pendidikan akhlak sangat ditekankan.

Akhlak dosen-dosen yang mulia menjadi contoh bagi mahasiswa. Di luar waktu kuliah, mahasiswa sibuk menghadiri halaqah (pengajian) ilmu syar’i di masjid Nabawi atau di masjid lainnya yang diasuh oleh para ulama besar. Dengan hasil tarbiyah para ulama itulah, maka tidak mengherankan banyak alumni dari kampus Madinah menjadi dai dan ulama sekembali mereka ke Tanah Air masing-masing

Kita berharap kepada stakeholder kampus Islam di Indonesia, agar mewujudkan kampus islami di lingkungannya masing-masing. Mengingat label Islam yang dicantumkan kepada kampus-kampus tersebut, syariat Islam mesti diterapkan dan diaplikasikan dalam kehidupan kampus bagi orang Islam, demi tercipta kampus islami yang kita dambakan. Dengan demikian, diharapkan dapat melahirkan sarjana yang cerdas secara intelektual dan spiritual serta bermanfaat bagi agama, umat dan negara. Semoga..!

Sumber:
Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA
Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, alumni Universitas Al-Azhar-Mesir (1996-1997), Universitas Islam Madinah-Saudi (1997-2002), kini sedang menyelesaikan studi program Magister dan Doktoral (Ph.D) di International Islamic University Malaysia (IIUM) Malsysia.

Foto : Kampus STAI AL-Hidayah Bogor, kampus Islami percontohan yang telah memisahkan mahasiswa dan mahasiswi dalam proses perkuliahan. Tak ada pacaran di kampus, tak ada dosen-dosen "nakal" atau mahasiswi "genit".

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger