Jumat, 30 Maret 2012

SMS Merah Jambu


"Kriiiiiiiiiiiiiiiiing......Kriiiiiiiing..." nada ringtone keluar dari mulut speaker HP, suara yang cukup nyaring itu membuat sang pemiliknya terbangun pada kegelapan malam. Mata yang "ceper" masih tampak di wajahnya... "Siapa yang sms malam-malam begini sih...?" Pikirnya. Namun sejurus kemudian, seperti baru menemukan barang yang telah lama hilang, si akhwat pemilik HP itu segera mengecek sms yang baru masuk. Dengan mata yang berkaca-kaca ia membaca... "Tetap istiqomah ukhti... selamat belajar... tetap berjuang. Semoga Alloh menyertai anti." Sender: Ikhwan +6813999XXX

Bibir yang tadinya terkatup, tiba-tiba merekah merah. Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Malam yang membekap dengan dinginnya tiba-tiba menghangat. Seakan ada bara menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Pikirannya pun sekejap bertanya, "Ada apa?", "Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku." Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia segera merapatkan tubuhnya di dinding tembok, pikirannya sekilas menerawang dengan hiasan senyum yang menyimpul. Sekali lagi, ia membuka SMS yang baru lima detik yang lalu ditutupnya... "Ah... Ada apa ini." Hati kecilnya bertanya lagi...!

Di sudut kota lain, dalam sebuah perkumpulan aktivis dakwah yang sedang mendiskusikan permasalah ummat, nada sebuah HP kembali berdering, "Kriiiiiiiing... Kriiiiiiiiiiiiing..." Kali ini seorang ikhwan yang dengan cekatan menjamah HP yang hampir sama persis mereknya dengan akhwat tadi... "Akhi... doain ana biar bisa lulus ujian sekolah dan kalau boleh ana minta saran antum agar ana bisa berdakwah di keluarga..." Sender: Akhwat +68217693XXX

Ikhwan yang masih dalam halaqoh itu, lantas meminta izin, ia berjalan cepat sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca SMS yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya. "Untuk apa dia hanya meminta saran ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain?" Nada protes bergema di benaknya. Tapi, di sudut lain, entah di mana, ada warna hati yang memerah jambu. Ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar, bangga menjadi ikhwan terpilih yang di-SMS-nya.

Ilustrasi Cerita di atas hanyalah secicip kisah dari selurik gerak hati seorang akhwat atau ikhwan di negeri antah berantah yang bisa jadi negeri yang sangat dekat dengan kita. Gerak hati yang mungkin pernah bersemayam di dada kita juga. Bisa jadi kita mengangguk-ngangguk tertawa kecil atau berceletuk pelan, "Seperti aku nih," Saat membacanya. "Tuh kan mesem-mesem mukanya... he...he..."

Saudariku... Ada banyak kisah cinta. Ada yang tak mampu menahan rasa, hingga tersampaikanlah rasanya pada misscall, SMS beda nomor, atau bahkan ada yang tak malu berkisah ke berbagai pihak. Lidah tak bertulang, berita terus tersebar. "Ah…semoga tak sampai ditelinga sang pujaan..." Sanggahnya. Ada yang sedih karena tak kuasa menahan rasa cinta. Meski tak terbalaskan, kesetiaannya sulit dipatahkan. Saudara-saudaranya hanya bisa mengelus dada. Mungkin akan berakhir hingga salah satu dari mereka menggenapkan diennya. Penantian, patah hati, angan-angan dan kesunyian... tragedi cinta kembali menorehkan catatan kelam.

Hampa, sunyi, riang, bahagia, rindu, sepi, ceria, sedih sebagian warna-warni rasa cinta. Tak sedikit yang rela mati juga atas nama cinta. Perputaran jaman ini sudah mengajarkan dengan baik makna cinta fana yang memabukkan. Lagi-lagi tentang cinta dan lagi-lagi cinta membuat seseorang kehilangan akal sehatnya, bahkan di kalangan para juru da’wah, para mujahid yang menyerukan manusia ke jalan Alloh.

Layaknya perjalanan cinta Laila Majnun yang fenomenal. Kisah tragis sepasang kekasih yang terpisahkan dan harus mengakhiri cintanya dengan kematian layaknya Romeo dan Juliet yang sampai seorang anak kecil jaman sekarang pun tahu kisahnya. Padahal, kisah yang berlatar belakang kebudayaan timur tengah ini mengisahkan bahwa keduanya bukan orang yang buta akan cinta pada Rabbnya. Tapi itulah cinta… sometimes its so blind.

Walau tak setragis dua kisah di atas, adakah seorang juru atau aktivis dakwah atau seorang akhwat harus bersujud panjang hanya gara-gara mendapat pesanan dari si A atau B, sementara untuk mendo'kan saudaranya di Iraq atau Palestina dia lupa atau sedikit sekali mengingatnya? Tentunya bukan pada masalah boleh atau tidaknya? Seseorang boleh saja meminta do'a dan dido'akan. Tapi bila seorang akhwat, apalagi seorang mujahidah sudah terjebak pada SMS merah jambu seperti ini? Setiap hari hati dan pikiran yang harusnya dia curahkan untuk diennya, justru tercampur aduk, bahkan tertimbun rata oleh dekupan jantung dan pikiran yang meliuk-liuk tak menentu karena tak kuasa menahan rasa. Apa jadinya agama ini? Apa artinya perjuangan ini? Apa bedanya kita dengan para pengusung genderisasi dan emansipasi wanita?

Sungguh... Paling menyedihkan saat ada seorang mujahidah yang tiba-tiba berkembang pesat semangat gerak dakwahnya atau semangat qiyamul lailnya karena terkait satu nama. Na'udzubillah. Ketika kita menyandingkan niat tidak karena Alloh semata, maka apalah harganya? Apa harganya berpeluh-payah bukan karena Dia, tapi karena dia. Seseorang yang sama sekali bukan apa-apa, lemah seperti manusia lainnya!

Laki-laki dan wanita diciptakan berbeda bukan untuk saling memusuhi, bukan juga untuk saling bercampur tak bertepi, tapi semestinya saling menjaga diri. Secara fisik, emosional, atau kedua-duanya. SMS tampak aman dari pandangan orang lain, hubungan itu tak terlihat mata. Tapi wahai, syetan semakin menyukainya. Mereka berbaris diantara dua handphone itu. Maka dimanapun mereka berada, syetan tetaplah musuh yang nyata.

Wahai saudariku..., bila kau menginginkan SMS-SMS itu, tengoklah inbox-mu. Bukankah di sana tersusun dengan manis SMS-SMS dari saudarimu. Saudari-saudarimu yang dengan begitu banyak aktivitas, amanah, kelelahan, dan kesedihan masih sempat mengirimkan semangat perjuangannya padamu. Lihatlah dengan phone book HP mu, bukankah di sana masih banyak tertera nama-nama para ustadzah yang bisa kau konsultasikan segala permasalahanmu?

Namun saudariku para mujahidah, tak semua harus berakhir kelam. Kala sepasang Jundulloh berusaha meredam semua rasa yang bergejolak di dadanya. Jihadnya adalah menjaga lisannya dari mengungkapkan rasa itu pada siapapun. Disimpannya rasa itu dalam hatinya, senantiasa dibersihkannya dari dalam hatinya, diupayakan untuk ia sembuhkan, meski berat terasa. Ia begitu tsiqoh, cinta murninya hanya untuk satu-satunya pendamping hidup sejatinya kelak.

Kala seorang ikhwan bersegara menggenapkan diennya untuk mencegah fitnah yang kian menghampirinya. Kala para aktivis kian pandai berghodul bashar, menjaga hati dan mengendalikan riak-riak cinta yang secara fitrah hadir menggoda. Cinta sejatinya masih menjadi sandaran utama. Adakah Alloh ridha akan prosesnya ?

Mungkin ini salah satu hikmah yang ada dibalik kisah Fatimah dan Ali bin Abi Thalib . Selepas Rasululloh menikahkan mereka, terkuaklah satu pernyataan yang tertulis dalam sirah, bahwa ada satu ikhwan yang selama ini Fatimah kagumi dan ikhwan itu adalah Ali bin Abi Thalib. Ternyata rasa yang tersembunyi begitu rapi itu juga dirasakan oleh Ali bin abi Thalib, tentang seorang akhwat yang ia kagumi yang kemudian Alloh takdirkan menjadi istrinya. Luar biasa, bahkan syetan tak dapat mengetahui hal itu.

Padahal tidak sulit, andai Fatimah mau, ia dapat dengan mudah menceritakan perasaannya pada ayahnya yang sangat menyayanginya. Namun karena iffahnya (kesucian dirinya), sepenuh jiwa ia berjihad menahan perasaannya. Demikian pula Ali, andai Ali mau, dia bisa saja menyampaikan perasaannya pada Fatimah atau menyatakan niat baiknya pada Rasululloh. Namun dia berjihad menjaga rasa itu, kerendah hatiannya membuatnya merasa tak pantas mendampingi seorang wanita ahli surga yang juga putri tercinta Rasulnya. Hingga akhirnya Alloh, Rasululloh, dan dakwah Islam yang menyatukan mereka berdua. Hingga terkuaklah rasa saling kagum itu selepas ijab Kabul.

Luar biasa. Andai mereka tidak berjodoh, mungkin kisah ini takkan pernah tertulis dalam sirah. Mereka membawanya dalam sekeping hati yang dalam, yang menjadi rahasia antara mereka dan Rabbnya, bahwa pernah ada satu kagum yang tak tersampaikan… SubhanAlloh

Saudariku yang menghendaki menjadi bidadari surga, kemanakah sekeping hati akan dibawa berlari… Perjalanan cahaya ini masih teramat panjang. Pencarian kan kekasih sejati, tidak berakhir di pelaminan. Pencarian ini takkan pernah usai sampai maut mempertemukan dirimu dengan sang Kekasih. Kala Dia menatap dirimu dengan penuh cinta. Dan dirimu teramat berbahagia, melebih kebahagiaan akan surga yang dijanjikan. Kala cintamu berlabuh pada muara terindah yang abadi antara dirimu dan Rabb-mu… Hmmm... cinta telah membuat seorang AzSya melantunkan sya'irnya:

Inilah cinta...

Kala Nusaibah dan Al Khansa

Rela menginfakkan keluarganya dan berdarah-darah demi menjaga Rasululloh

Inilah cinta…

Cinta yang membuat manusia biasa menjadi manusia-manusia langit

Cinta yang membuat kekasih kita Rasululloh

Di akhir hidupnya terus berkata umati…umati…umati

Inilah cinta yang terang

Cinta yang berbuah jannati

Cinta para pecinta sejati

Oleh : Ganjaroso

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger