Senin, 19 Maret 2012

Tak Selamanya Diam itu Emas

Dakwah Ahlussunnah - Ketika kedzoliman di mana-mana, kemaksiatan merajalela, kebodohan melanda, ketika akhlak manusia berubah menjadi layaknya hewan karena hawa nafsunya, dan bahkan manusia sudah tidak punya hati nurani lagi, saat itu datang Rosulullah Muhammad diutus oleh Alloh SWT. Beliau datang untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan di zaman sekarang, kondisi tersebut kembali terjadi, masyarakat sangat jauh dari tuntunan agama Islam. Kebathilan dianggap kebenaran. Maka dalam kondisi seperti ini, kita sebagai seorang mu'min tak boleh diam saja. Di kondisi zaman seperti ini, maka para ulama' menjelaskan bahwa dakwah merupakan fardhu 'ain bagi setiap muslim sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Masalah ini dijelaskan dalam dalam surat Ali Imran ayat 110,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ

مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُون

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS: Ali Imran: 110).

Dari surat ini, Alloh SWT mengatakan sendiri, bahwa umat Muhammad adalah umat terbaik, yang selalu menyeru kepada yang ma’ruf dan senantiasa mencegak kemunkaran. Bukan mendiamkan kemunkaran dan kemaksiatan.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa melihat suatu kemunkaran hendalah ia merobah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya (ucapan), dan apabila tidak mampu juga hendaklah dengan hatinya dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Hadits ini menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa kita diminta untuk mencegah kemunkaran sebisa mungkin dan dengan tahapan yang jelas. Pertama dengan tangan, kedua dengan lisan. Baru ketika semua tak mampu dilakukan, maka yang terakhir baru dengan hati, namun perlu diingat bahwa amar ma'ruf nahyi munkar dengan hati adalah selemah-lemahnya Iman.

Pada umumnya kebanyakan di antara kita belum melakukan apa-apa, tetapi memilih yang terakhir. Yang lebih menyedihkan, justru banyak juga di antara kita membiarkan kemunkaran, meski itu di depan mata kita. Kita asyik menjadi umat penonton.

Batasan kewajiban mengubah kemunkaran terikat dengan kemampuan atau dugaan kuat. Artinya, jika seorang memiliki kemampuan untuk menghilangkan kemunkaran dengan tangan maka wajib untuk menghilangkan dengan tangannya. Demikian juga jika diduga kuat pengingkaran dengan lisan akan berfaedah maka wajib mengingkari dengan lisannya. Adapun pengingkaran dengan hati maka wajib bagi semuanya, karena setiap muslim pasti mampu untuk mengingkari dengan hatinya.
Diriwayatkan dalam sebuah hadits;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ بِالطُّرُقَاتِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا مِنْ

مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيهَا فَقَالَ إِذْ أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ يَا

رَسُولَ اللَّهِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

"Dari Zaid bin Aslam dari 'Atha` bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan." Mereka (para sahabat) berkata; "Wahai Rasulullah, Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami untuk bercakap-cakap." Beliau bersabda: "Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut." Mereka bertanya: "Apa hak jalan itu?" Beliau menjawab: "Menundukkan pandangan, menyingkirkan halangan, menjawab salam dan amar ma'ruf nahi munkar." (HR. Buhari, 5761)

Lakukan Amar ma’ruf!

Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu bentuk iqâmatul hujjah (penyampaian hujjah) bagi seluruh umat manusia secara umum, dan para pelaku maksiat secara khusus. Sehingga ketika turun musibah dan bencana mereka tidak bisa berdalih dengan tidak adanya orang yang memberikan peringatan dan nasehat kepada mereka. Mereka juga tidak bisa beralasan dengan hal yanga sama di hadapan Alloh Ta’ala kelak. Sehingga tak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan Dakwah

Alloh Ta’ala berfirman:

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

"Rosul-rosul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasu-rasul itu diutus. Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS an-Nisâ:165)

Karenanya, dengan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar akan terlepas tanggungan kewajiban untuk melaksanakannya (lazim disebut barâtu dzimmah) dari pundak orang-orang yang telah menjalankannya. Namun jika tidak ada yang berinisiatif menegakkan, maka dosanya akan ditanggung semua kaum Muslim. Dengan demikian, maka kedudukan amar ma’ruf dan nahi munkar sesungguhnya bersifat aktif bukan pasif.

Banyak kemaksiatan di sekitar kita. Di jalan-jalan, banyak remaja melakukan maksiat tanpa ada yang menasehati dan memperingatkan. Di pasar, di mall, bahkan di depat pintu rumah kita sekalipun, maksiat meraja lela. Sayang, tak banyak di antara kita “turun” untuk memberi peringatan dan nasehat. Jika itu terus terjadi, maka kelak orang berpendapat, kemaksiatan adalah sesuatu yang baik dan tidak salah.

Inilah saatnya kita beramar ma’ruf. Marilah kita melakukan sesuatu –terutama dalam menengakkan amar ma’ruf dan nahi munkar—di sekitar kita. Sebab tak selamanya diam itu selalu identik dengan “emas”.

Diam akan menjadi emas jika dilakukan pada saat dan tujuan yang tepat. Ada saatnya diam itu baik, ada saatnya pula diam itu menjadi tercela. Harus diam atau bicara, tergantung pada situasi dan kondisi yang kita alami. Meski diam bisa berarti emas, tapi disaat yang lain bisa jadi bicara adalah mutiara. Sebagaimana contoh di atas, ketika melihat kemungkaran, maka bicara tentang kebenaran adalah emas. Rasulullah saw ditanya tentang jihad yang lebih utama, lalu beliau menjawab : “Mengucapkan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud No. 4344. At Tirmidzi No hadits. 2265. Katanya: hadits ini hasan ghorib. An Nasa’i No. 4209, Ibnu Majah, No. 4011. Ahmad No. 10716. Dalam riwayat Ahmad tertulis Kalimatul haq (perkataan yang benar). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam berbagai kitabnya, seperti Shohihul Jami’ No. 1100, 2209, Shahih wa Dho'if Sunan At Tirmidzi No. 2174, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4344, Shahih wa Dho'if Sunan Ibni Majah No. 4011, dan Shahih wa Dho'if Sunan An Nasa’i No. 4209)

Sebagai tambahan wawasan, di sini akan disebutkan bererapa macam diam. Berdasarkan tujuannya, diam bisa mengandung banyak arti, dan juga bisa mengandung banyak konsekuensi, bisa pahala atau pun dosa tergantung pada saat apa diam itu dilakukan, apakah dilakukan pada saat harus diam atau justru dilakukan pada saat harus bicara.

Macam-macam diam

1. Diam bodoh
Diam karena tidak tahu. Hal ini lebih baik dan lebih aman daripada memaksakan diri untuk bicara padahal kita tidak memiliki pemahaman terhadap apa yang dibicarakan. Jika memang tidak tahu lebih baik mengatakan "Allohu a’lam, Saya tidak tahu" daripada salah bicara karena sok tahu.

2. Diam malas
Diam pada saat orang lain memerlukan perkataannya, dia memilih diam karena sedang bad mood untuk bicara atau karena tidak PD untuk bicara. Dalam keadaan seperti ini maka bicara adalah mutiara. Bicara menjadi lebih baik daripada diam karena orang memerlukan apa yang seharusnya dia katakan.

3. Diam sombong
Diam karena menganggap remeh orang lain. Diam seperti ini adalah diam yang tercela. Ia merasa tak perlu bicara karena menganggap orang yang mengajak bicara tidak selevel dengannya. Padahal di hadapan Alloh semua manusia adalah sama, yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Rosululloh telah memberi ancaman kepada orang yang sombong, dalam sebuah hadits, Rosululloh bersabda : "Tidak akan masuk surga orang yang dalam lubuk hatinya terdapat perasaansombong ( arrogan) walaupun cuma sebesar atom" (HR. Bukhari Muslim)

4. Diam Khianat
Diam pada saat dibutuhkan kesaksiannya. Misalnya orang yang memilih diam padahal dia bisa menjadi saksi atas kejahatan yang dilakukan seseorang dan tidak mau bersaksi di pengadilan sehingga penjahat yang sebenarnya tidak dihukum. Atau diam padahal dia bisa memberi kesaksian untuk menyelamatkan seseorang dari tuduhan yang tidak benar. Diam seperti ini adalah diam yang tercela karena membiarkan terjadinya kedholiman atas orang lain. Padahal Alloh Berfirman : "..Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil" QS. Al-Baqoroh: 282

5. Diam Marah
Diam yang dilakukan pada saat marah. Diam ini bisa menjadi baik jika ditujukan untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan perkataan yang keji untuk melampiaskan kemarahannya. Atau bisa juga bertujuan untuk memboikot seseorang agar ia sadar dengan kesalahannya dan menyesali perbuatannya. Sebab ketika itu Rosululloh dan para sahabatnya pernah memboikot Ka'ab bin Malik r.a. dan dua orang sahabat Rosul lain yang tidak ikut perang tabuk, yakni dengan tidak mengajak mereka bicara, bahkan menjawab salam pun tidak.

Akan tetapi hal tersebut tidak selamanya tepat diterapkan di setiap kondisi dan waktu, adakalanya seorang yang bersalah jika didiamkan maka akan semakin parah, sehingga diam dalam menghadapi orang dengan tipe seperti ini adalah keliru.

6. Diam aktif.
Diam ini merupakan hasil pemikiran dan perenungan niat yang membuahkan keyakinan bahwa dengan sikap menahan diri untuk diam akan menjadi maslahat/kebaikan lebih besar dibandingkan dengan bicara.
Misal : menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat, menahan diri untuk tidak bicara mengenai suatu berita yang belum jelas kebenarannya. kalaupun benar maka diam untuk tidak menyebarkan aib adalah lebih baik. Hal ini sebagaimana Alloh berfirman, "Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). (QS. Al-Isra’ [17] : 53) Dan sebagaimana sebuah hadits, Rosululloh bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, maka hendaknya berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari).

Demikianlah penjelasan kali ini, maka jelaslah bagi kita. Diam tak selamanya emas. Ada saatnya kita harus diam, dan ada saatnya pula kita harus bicara.

Dari Berbagai Sumber

1 komentar:

◄ Newer Post Older Post ►

Pasang Iklan 150x150 px

Artikel Terbaru

Komentar Terbaru

 

Copyright 2011 Dakwah Ahlussunnah is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by Template Blogger